Friday, October 19, 2018

[Fiksi] Princess 3

Suara pintu berderit di suatu pagi. Aku terkejut karena silau oleh cahaya yang datang dari pintu yang terkuak. Tunggu, bukankah hari ini sekolah libur?

“Kenapa harus ke sini Minggu pagi sih, aku tuh masih ngantuk. Besok-besok juga kan masih bisa,” omel sebuah suara perempuan.

“Biar sekalian jalan pagi di taman kota setelah ini, udaranya masih segar. Lagipula kalau hari kerja, kamu mau dilihatin murid-murid dan guru-guru baru yang enggak kenal kita?”

Aku ingat mereka! Mereka adalah Princess and her Prince yang dua tahun lalu berpamitan padaku untuk pergi dari sini. 

Princess seolah tak mendengar pertanyaan dari Alfa, ia malah berseru, “Aku kangen sekali dengan aroma buku-buku di sini!”

Alfa tertawa, “Welcome back to our corner!” Ia meraih tangan Princess ke arahku. Mereka akan melakukannya lagi, aku merasakan dejavu.

“Ya ampun, kamu! Aku juga kangen,” kata Princess sambil memelukku.

“Awas debu, Sayang,” Alfa mengingatkan.

Meski cemberut, Princess melepaskan pelukannya lalu mengelus-elusku dengan tangan kirinya.

“Ya sama aja, ngelus pakai tangan pun bisa kena debu juga,” Alfa menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ini bersih kok, sepertinya Bu Ratna merawatmu dengan baik ya?” tanya Princess padaku. Aku mengangguk, meski kutahu Princess tak melihatnya.

“Jadi, kenapa kamu mengajakku ke sini sepagi ini?” Kali ini pertanyaan Princess jelas untuk Alfa.

“Aku hanya ingin membahagiakanmu, dengan membawamu kembali ke tempat yang dulu sangat kau sukai,” jawab Alfa.

Princess tersenyum, “Terima kasih. Aku selalu bahagia, asal berada di sampingmu.”

“Terima kasih kembali karena telah rela melepas semua yang kau miliki demi kumiliki.”

“Aku tidak pernah benar-benar melepaskan mereka. Toh, aku masih bisa mengunjungi papa mama sesekali. Mengajar pun masih bisa kulakukan di tempat-tempat baru meski tidak formal seperti di sini.”

“Kamu terbaik.” Tiba-tiba Alfa memeluk Princess. “Kamu harus menjalani hari-hari penuh tantangan demi menemaniku, terkadang aku merasa sangat egois.”

Princess menggeleng sambil meregangkan jarak di antara mereka. “Tidak banyak orang yang bisa menjalani hidup dengan melakukan cita-cita hati mereka, dan aku ingin kau menjadi salah satu yang spesial itu.”

Mata Alfa mengatakan segalanya, ia merasa sangat beruntung memiliki Princess. “Dan kehadiranmu semakin menambah spesial kehidupanku. Anak kita juga harus sespesial ibunya,” katanya berbinar. 

“Oh, I’m forget to introduce our little Princess to you.” Princess kembali memegang tubuhku, kali ini ia mendekatkan dirinya ke arahku.

“Mau kubantu?” Alfa bertanya tapi langsung mengangkatku tanpa menunggu jawaban dari sang istri. Ia memposisikan diriku tepat di samping perut Princess yang sedikit membuncit.

“Hai, Nak. Kenalkan, namanya Globby. Dia yang membuat ayahmu gila berkeliling dunia dengan menjadi relawan dan motivator. Dia juga yang hampir memisahkan kami, karena impian ayahmu begitu kuat sehingga ingin meninggalkan ibu di sini.”

Alfa tertawa terpingkal-pingkal mendengarkan sesi perkenalan absurd dari Princess. Aku tersenyum miring mendapati aku ternyata pernah dianggap Princess sebagai penghalang cinta mereka. Sial.

“Kita keluar sekarang ya, sudah habis kan kangennya?” Alfa kembali meletakkanku di tempat semula, di atas meja pajangan pada pojok ruangan.

Princess mengangguk, “Jangan sampai Pak Satpam mengira kita mau mencuri ya saking lamanya di sini.” 

Sekali lagi Alfa tergelak lalu menuntun istrinya keluar melewati pintu yang sama. Kalian, kembali lagi lah kapan-kapan, aku akan menunggu.[]

[Fiksi] Princess 2

Hari ini, aku resmi menjadi objek kegelisahan seorang Princess. Aku tahu dari caranya memegang dan memutar-mutar tubuhku. Setelah menghela napas berat ia berkata, “Kamu enggak bisa begitu, Alfa.”

“Aku harus begini,” jawab Alfa lirih. Sepertinya, aku juga akan menjadi saksi bisu sebuah perpisahan hari ini.

Raut wajah Princess sudah akan terlihat menangis, ketika Alfa berkata, “Ssst, jangan sedih. Ini untuk kebaikanmu.”

“Kamu enggak tahu apa yang terbaik untukku,” Princess berkata sambil berusaha  mempertahankan intonasi suaranya agar masih terdengar normal.

“Aku tahu dan inilah yang sedang aku lakukan.” Aku mendengar keraguan dari nada suara Alfa. 

“’It’s hurt me,” Princess menggelengkan kepalanya, “and you!”

“Aku enggak bisa egois membawamu pergi dari sini. Menjauhkanmu dari keluarga dan passion mengajarmu itu adalah pilihan terakhir yang akan kulakukan dalam hidup.”

“Tapi aku lebih bahagia jika bisa pergi bersamamu,” Princess tidak menyerah. Aku yakin dia sudah memiliki sifat keras kepala sejak lahir. 

“Princess, dengar, kamu adalah satu-satunya yang orangtua kamu miliki. Mereka akan sangat enggan melepaskan putri tercinta mereka pergi berkeliling dunia bersama orang yang baru mereka kenal kurang dari satu tahun.”

“Alfa, apa kamu mencintaiku?” Princess mengabaikan ‘nasihat’ Alfa, meski ia tahu itu benar.

Alfa bergeming membuat Princess menghela napas.

“Jika tidak, katakan saja. Setidaknya aku tahu alasanmu cukup kuat untuk tidak membawaku ikut serta dalam petualanganmu.”

Alfa menggeleng, “Kamu cukup tahu seberapa besar cintaku.”

“Dan aku mulai tidak yakin, bisa jadi itu pula yang kau katakan pada gadis yang kau temui di setiap tempat yang kau singgahi.”

Alfa mendekatiku, menunjuk ke salah satu titik di tubuhku. Memutarku sedikit, lalu menunjuk ke satu titik lagi. “Aku masih harus ke dua tempat lagi sebelum memutuskan untuk berlabuh selamanya …,” ia meraih tangan Princess, “ke hatimu.”

“Aku tidak menuntutmu untuk berhenti, Alfa. Kamu boleh pergi kemana pun, selamanya, asal aku ikut.” Princess menarik tangannya pelan, bukan karena ia marah, tapi lebih karena ia sungkan dilihat oleh para pengunjung lain ruangan ini.

“Ini tuh daerah konflik, aku enggak mau kamu kenapa-napa kalau ikut aku.”

“Kamu mau aku kenapa-napa sambil nunggu kamu di sini, iya?” tanya Princess sambil mengerling jahil, “Dilamar orang, misalnya.”

“Enggak, aku enggak mau!” Tak bisa diragukan, dari nada suaranya, Alfa sangat tidak ingin hal tersebut terjadi.

Princess tersenyum, ia tahu kali ini ia menang.

“Kalau begitu, Minggu nanti ngobrol sama papa ya? Tenang, aku temenin.”

Alfa mengangguk lambat-lambat sambil menatapku tajam.


To be continued ....

Tuesday, October 16, 2018

[Fiksi] Princess 1

“Kamu mau aku membawamu?” tanya seorang lelaki yang berdiri di sampingku.

Wanita di depannya mengangguk.

Si lelaki tertawa, “Aku bahkan belum akan pergi.”

“Kamu pasti pergi suatu hari nanti,” kata si wanita dengan wajah cemberut, “Dan bila hari itu datang jangan lupa mengajakku.”

Sang lelaki tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, “Akan kupikirkan nanti.”

“Alfa! Jawaban macam apa itu?” Si wanita hampir saja berteriak jika ia tidak ingat saat itu ia berada di ruangan publik yang butuh ketenangan. Ia kemudian memutar-mutar tubuhku.

“Kamu itu enggak bisa diam, kamu pasti akan ke sini, ke sini, bahkan ke sini!” Desisnya sambil menunjuk-nunjuk beberapa bagian tubuhku.

Alfa hanya tertawa, “Baiklah Princess, dugaanmu tak salah. Tapi bisakah kita tidak membahas itu hari ini. Sisa waktu kita tinggal 5 menit,” katanya setelah melirik arloji di tangan kanannya.

Wanita Princess itu mengalah, ia mengubah topik pembicaraan mereka hingga bel tanda masuk kelas berbunyi. Sebelum keluar ruangan, ia masih sempat saja menowel tubuhku sekilas dengan jarinya yang lembut.
**

“Kenapa kita harus selalu bertemu di sini?” tanya Alfa di awal kedekatan mereka. Mereka duduk di dekat tempatku berada.

“Karena, aku suka saja. Kamu tidak suka?”

Alfa menggeleng, “Tidak, aku tidak masalah. Hanya penasaran saja. Mengapa tidak di kantin atau janji di luar jam sekolah misalnya?”

Princess tertawa, “Apa, kamu mengajakku berkencan? Kamu mesti minta izin langsung dengan papa dulu –dan dan itu sulit. Kalau di sini rasanya cocok saja, meski ya kita tidak bisa berbicara terlalu keras. Di kantin terlalu ramai, aku tidak suka berisik.” Kemudian ia menyadari sesuatu, lalu cepat-cepat menambahkan, “Eh tapi, bukan berarti aku mencari tempat yang sepi untuk mengajakmu berduaan ya. Itu kita masih bisa melihat anak-anak dan Bu Ratna tidak sampai lima meter jauhnya dari kita.”

Alfa tertawa, “As you wish, Princess.”

“Princess?” Kening si wanita bertaut karena heran. 

“Boleh aku memanggilmu begitu? Sepertinya itu kata yang tepat untuk menggambarkanmu.”

Princess mengangguk pelan, ia tak bisa semu merah di pipinya. “Aku suka, meski tahu ini kekanakkan.” Tangan Princess terus memutar-mutar tubuhku, aku tahu ia sedang menghindari bertatapan langsung dengan sang pujaan hati.

Alfa tersenyum. “Kamu tidak takut digosipkan pacaran di sekolah?”

“Memangnya kita pacaran?” Princess balik bertanya hingga tak sadar kembali menghadap ke arah Alfa.

“Ya, ini hari pertama kita,” sahut Alfa enteng. “Dan, akhir pekan nanti aku akan minta izin kepada papamu untuk mengajakmu keluar.” Ia kemudian berjalan ke arah pintu keluar tanpa menunggu Princess bangkit dari kursinya.

Princess membutuhkan waktu sepersekian detik untuk mencerna perkataan Alfa. Ketika tersadar, ia langsung melepaskan pegangannya pada tubuhku dan hampir saja menggeserku dari tempat semula. “Alfa!”

Berkat teriakannya, ia sukses mendapatkan pelototan dari Bu Ratna dan bonus tatapan aneh dari para siswa. Beruntung, bel yang cukup nyaring berdentang menyelamatkan wajahnya.

[To be continued ….]

Monday, October 15, 2018

[Puisi] Kamu

Kamu bilang gerimis turun tadi pagi
Sedang aku tak menghidu petrichor sama sekali
Kau mulai merasa nyaman
Dengan aroma hujan yang kau nikmati sendirian

wix.com

Kamu bilang benci dengan langit
Karena hujan, badai, dan segala hal buruk bisa datang dari atas sana
Aku tertawa, karena tahu kau tidak sungguh-sungguh
Di suatu malam kupernah melihatmu bercerita pada bintang tentangku

Sunday, October 14, 2018

Apa Kabar Kursus Menjahit?

Well, bagi yang belum tahu, aku dulu pernah ikut kursus menjahit di sebuah yayasan pelatihan kerja. Apakah menjahit merupakan passion-ku sehingga aku memutuskan untuk kursus menjahit? Setelah menilik kondisiku sekarang, aku dengan mantap mengatakan bahwa aku aku tidak memiliki passion menjahit.

Namun, kuakui aku sedikit tertarik dengan kegiatan menjahit. Little bit. Yang mengenalkanku dengan kursus menjahit ini adalah seorang teman kerja yang sudah terlebih dahulu ikut kursus menjahit. Aku sendiri sebelumnya sama sekali tidak bisa menjahit menggunakan mesin jahit, meskipun punya di rumah. Itu punya mama dan jarang dipakai. Mama sendiri bukan orang yang terlalu ahli dalam jahit menjahit, enggak afdal rasanya kalau belajarnya cuma sama mama.

www.amazon.com

Hiburan Ramah di Luar Rumah pada Malam Hari

Di suatu malam Minggu, aku dan suami kebingungan mau cari hiburan ke mana. Really? Ya, kadang perasaan ingin menghibur diri itu ada. Menghibur diri di sini maksudnya mencari hiburan di luar rumah pada saat malam hari (terutama saat weekend, karena kami sama-sama pekerja). Masalahnya adalah, di kota kecilku ini tak ada hiburan yang cocok dengan seleraku.

Kenapa aku mesti menulis kata ramah di sini. Ya karena supaya jangan ada yang mengartikan hiburan ini hiburan yang mengarah ke maksiat, sih. Maksudku, jenis hiburan yang positif terutama untuk wanita. Jenis hiburan ini berfungsi mengembalikan semangat orang-orang yang capek dan jenuh dengan rutinitas.

Di kotaku, Kota Barabai sudah mulai menjamur beberapa kafe dan rumah makan yang ramah anak muda. Namun, karena aku dan suami sudah agak makan di luar jadi rasanya biasa saja. Itulah hiburan paling affordable dan tersedia di sini. Lagipula, kafe juga tidak sepenuhnya cocok dengan gaya kami. Kami ke tempat makan biasanya karena pengen nyari makan dan tahu sendiri lah ya makanan di kafe sepertinya didesain enggak untuk mengenyangkan perut. 

Makam Syekh H. M. Arsyad Al-Banjari [Datu Kalampayan]

Halo, ketemu lagi di pojok Travelling blog ini. Kali ini aku akan bercerita tentang salah satu destinasi religi yang ada di Kalimantan Selatan. Orang-orang Banjar pasti sudah tahu tentang tempat ini yaitu Kalampayan. Aku sendiri sebenarnya masih bingung cara penulisan kata ‘Kalampayan’ yang benar bagaimana, karena banyak variasi yang tertulis di papan nama dan halaman internet. Mulai dari Kalampayan, Kalampaian, Kelampayan, Kelampaian, Pelampayan, hingga Pelampayan. Btw, itu nama desa lokasi makam seorang ulama besar berdarah Banjar yang dijuluki sebagai Datu Kalampayan.

Makam Datu Kalampayan

Sial

“Seseorang hanya perlu satu kesialan untuk menyadari bahwa hidup itu tidak mudah.”

Aku kini merasakannya. Minggu lalu, aku didera kesialan dengan menjadi saksi rusaknya sebuah alat penting di kantor. Jadi ceritanya begini, saat itu aku dapat giliran bertugas di lapangan bersama dua juniorku. Seharusnya, hari itu salah satu seniorku bisa ikut tapi karena ada suatu hal mendadak jadi batal ikut. Seniorku yang satunya lagi sudah ke lapangan satu hari sebelumnya. Fix, aku sendirian yang handling semuanya. Bukan pertama kali begini sih, hanya saja hari itu aku sedang sial.

coaching-netz.info

Friday, October 12, 2018

Kacau

Beberapa hari ini aku agak kacau. Sebelumnya, karena ada alat yang rusak di kantor dan aku gagal memperbaikinya. Sebelumnya lagi, karena ada serangan pikiran-pikiran negatif akibat suatu peristiwa. Kali ini, masalahnya menurutku cukup serius.

Otak dan hatiku bersatu memikirkan dan merasakan hal yang aneh dan mustahil. Aku memang bermasalah dengan obsesi. Sejak dulu, keinginanku aneh-aneh. Selama masih dalam koridor norma dan agama, biasanya aku akan meladeninya. Dan ya sebagian besar aku berhasil mendapatkannya. 

Kali ini pikiran dan perasaanku tak bisa ditolerir, mendesak sekali. Seolah jika tak kuturuti akan meledak. Memang sih aku masih pengendali sepenuhnya atas diri dan tindakanku. Namun, aku bisa apa jika pikiran dan perasaan ini terus merongrong dan mengganggu pola hidupku?

www.gulalives.co

Tuesday, October 9, 2018

[Mini Biografi] Alfian

Namanya Alfian, seorang laki-laki yang terlahir yatim dari rahim perempuan setengah baya. Ayahnya, Juraid, meninggal saat ia berusia 3 bulan dalam kandungan. Ibunya, Siti Aliyah, berusia sekitar 40 tahunan ketika melahirkannya. Hari itu tanggal 10 Maret 1968, menjadi hari paling bersejarah baginya. Ia menyapa dunia sebagai bungsu dari 4 bersaudara.

Saat itu, Bangsa Indonesia sudah merdeka dari penjajahan Belanda dan Jepang. Namun, sistem kehidupan dan ekonomi masyarakat belum sepenuhnya merdeka. Rakyat kecil masih harus berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang nyaman. Begitu pula yang dirasakan oleh Alfian, sebagai anak kecil yang hidup dengan kondisi tidak menguntungkan tentu keadaan sangat berat. Ibunya hanya seorang petani di sebuah desa kecil di Kalimantan Selatan.

http://sms-for-u.mihanblog.com

Setelah menamatkan SD di kampung, ia kemudian melanjutkan SMP di Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Di sini ia ikut dengan kakak keduanya yang sudah menikah dengan seorang lelaki yang memiliki banyak usaha. Jadi, selain sekolah ia juga membantu kakak iparnya. Mulai dari beternak macam-macam binatang hingga berkebun berbagai jenis tanaman. Kehidupan sangat keras ia jalani di sana.

Monday, October 8, 2018

Bagaimana Cara Mengendalikan Pikiran Negatif?

Baru-baru ini aku tersadar bahwa aku sepertinya terlalu sering berpikir negatif. Sepertinya, sifat perfeksionis dan preventif yang kumiliki memberikan andil yang besar dalam hal ini. Padahal, persepsi negatifku terhadap sesuatu/seseorang bisa mempengaruhiku dalam bersikap. Ini tentu tidak baik sama sekali. Baik untuk kesehatan jiwaku maupun untuk penilaian orang lain terhadapku. Oleh karena itu, aku berniat untuk mengendalikan kecenderungan pikiran negatif ini.

Meskipun harus diakui pikiran-pikiran jenis ini tak dapat dilibas 100%, aku hanya perlu mengendalikannya agar hati tenang dan hubungan sosial tidak terganggu. Karena seburuk apapun pikiran negatifku, itu hanya akan menjadi milikku jika tidak kukeluarkan. Namun, jika sudah ada yang mendengar, membaca, atau melihat pikiran tersebut maka itu sudah menjadi milik banyak orang. Kabar buruknya, mereka pun bisa memberikan feed back apa saja sesuai keinginan mereka.


Sunday, October 7, 2018

2nd Anniversary Female Blogger of Banjarmasin

Tanggal 6 Oktober 2018 kemarin, Female Blogger of Banjarmasin (FBB) genap berusia 2 tahun. Untuk merayakannya, sehari setelahnya diadakanlah syukuran yang dihadiri oleh para anggota. Bertempat di Restoran Rustric Bistro, lantai 2 Fave Hotel Banjarmasin, acara ini berlangsung dari siang hingga sore.

Selamat ulang tahun FBB yang ke-2

Aku pun turut datang untuk menghadiri perayaan tahunan ini. Tahun lalu, aku belum bergabung dan berarti aku belum sampai satu tahun gabung dengan komunitas ini. Namun, rasanya kebersamaan dengan para anggota di satu grup WhatsApp selama kurang lebih 10 bulan terakhir ini sangat hangat. Dan yang lebih penting, komunitas ini banyak membantuku ‘tumbuh’ sebagai seorang bloger.


Saturday, October 6, 2018

Piknik ke Pantai Turki

Salah satu pantai yang sedang hits di Kalimantan Selatan adalah Pantai Turki. Aku dan teman-teman pun tak ingin ketinggalan. Setelah stalking foto-foto orang yang sudah pergi ke sana, kami memutuskan untuk piknik ke Pantai Turki pada tanggal 9 Maret 2018. Laut biru dan langit lepas yang terekam dalam foto-foto tersebut membuat kami memiliki ekspekstasi yang tinggi terhadap pantai yang terletak di wilayah Kabupaten Tanah Laut ini.

Langit cerah yang mengiringi perjalanan kami menuju Pantai Turki seolah mendoakan agar pengalaman menyenangkan akan menyambut kami setiba di tujuan. Bermodalkan peta Mbah Google –karena semuanya belum pernah ke sana, kami pun mulai menyusuri jalan provinsi dari Kabupaten Hulu Sungai Tengah hingga Tanah Laut. Tiba di Kota Pelaihari yang merupakan ibukota Kabupaten Tanah Laut, kami masih harus melanjutkan perjalanan ke arah Kabupaten Tanah Bumbu.

Friday, October 5, 2018

Daftar Tes CPNS Pasca Bencana

Seperti yang sudah kita tahu, tepat satu minggu yang lalu, telah terjadi gempa dan tsunami yang melanda tiga kabupaten/kota di Sulawesi Tengah. Ketiga kabupaten/kota tersebut adalah Palu, Donggala, dan Sigi. Infrastruktur kota dan perumahan warga luluh lantak, bahkan listrik baru dapat dinyalakan kembali beberapa hari kemudian.

Pada tulisan kali ini, aku tidak akan menyoroti bagaimana nasib semua korban bencana alam di sana. Namun, aku akan lebih fokus kepada pada job seeker yang menjadi korban gempa dan tsunami di Palu dan sekitarnya. Job seeker yang kumaksud disini adalah mereka yang berminat menjadi PNS. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, PNS masih merupakan salah satu pekerjaan yang aman dan nyaman.

Thursday, October 4, 2018

(B)untung Enggak Ada Sinyal

Aku tinggal di pedesaan. Jaringan internet adalah barang mahal di sini. Bukan karena aku tak mampu membeli, tapi karena memang tak dapat dibeli. Kecuali aku punya banyak uang untuk membangun tower pemancar sinyal salah satu provider internet.

Tidak memiliki akses yang baik terhadap jaringan internet terkadang membuatku sangat buruk. Aku jadi mudah bete karena pekerjaanku sering bergantung kepada sinyal ini. Satu-satunya alasan yang dapat membuatku pindah rumah mungkin adalah buruknya jaringan internet ini. Padahal aku sudah suka semua hal tentang rumah dan lingkunganku sekarang, kecuali sinyalnya.

https://rsinewsupdate.wordpress.com

Wednesday, October 3, 2018

From A to Z: Fakta tentang IWITA


Ada yang sudah pernah mendengar nama IWITA? Aku sendiri baru mendengar nama IWITA beberapa bulan yang lalu saat organisasi perempuan ini mengadakan Roadshow Serempak di Kota Banjarmasin. Jika ada yang masih asing dengan IWITA, yuk kenalan dulu. Mari baca ‘kamus’ IWITA berikut, from A to Z: fakta tentang IWITA.

A: Awareness adalah salah satu slogan IWITA yang mengedepankan kesadaran perempuan akan manfaat teknologi informasi dan komunikasi untuk pengembangan pribadi.

B: Berkedudukan di Jakarta, IWITA setidaknya sudah memiliki 10 daerah operasional di seluruh Indonesia.

C: Channel Youtube IWITA adalah IWITA Jakarta. Di channel ini IWITA berbagi banyak kegiatan mereka dari seluruh Indonesia.

Tuesday, October 2, 2018

Review September 2018

September sudah berlalu dengan begitu cepat. Kehidupanku tenang, tapi tidak membosankan. Bagaimana ya cara menjelaskannya, mungkin karena aku bahagia. Meski ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan keinginanku, tapi aku mencoba ikhlas dan berusaha lebih fokus bersyukur terhadap hal-hal yang sudah aku miliki. Itu cukup, dan inilah hal-hal yang terjadi padaku selama Bulan September.

Keluarga
Aku senang bisa hidup dekat dengan keluarga. Bersyukurlah aku karena bukan termasuk anak rantau. Keluarga suami juga tidak terlalu jauh, jadi lebih mudah dan praktis untuk kunjung-mengunjungi. Di bulan September, tidak ada event khusus bagi kami untuk berkumpul. Namun, di beberapa kesempatan kami bisa berkumpul sebentar. Tambah seru karena ada si kecil Davin.

Our favorite!

Monday, October 1, 2018

Kampung Pelangi Banjarbaru

Menjamurnya kemunculan kampung-kampung pelangi di Pulau Jawa, ternyata juga merembet hingga ke Kalimantan. Salah satunya ada di Kota Banjarbaru, kotaku tercinta. Sayang, kemunculannya tepat setelah aku lulus kuliah, sekitar tahun 2016. Sehingga aku tak dapat mengunjungi sering-sering, padahal lokasi dekat sekali dengan rumah kosku dulu. Hingga sekarang aku baru ke sana sebanyak dua kali.

Kampung Pelangi Banjarbaru

Berlokasi di Kelurahan Guntung Paikat, Kota Banjarbaru, kampung pelangi yang satu ini memiliki bentuk memanjang. Ya, karena tepat merentang di tengah-tengah kampung terdapat Sungai Kemuning yang menjadi nafas kehidupan warga. Sungai kecil ini dulunya agak kotor, perumahan di sekitarnya pun kumuh. Namun, setelah Kampung Pelangi Banjarbaru diresmikan keadaan tersebut berubah menjadi lebih bersih dan indah. 

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates