Monday, October 15, 2018

[Puisi] Kamu

Kamu bilang gerimis turun tadi pagi
Sedang aku tak menghidu petrichor sama sekali
Kau mulai merasa nyaman
Dengan aroma hujan yang kau nikmati sendiri

Kamu bilang benci dengan langit
Karena hujan, badai, dan segala hal buruk bisa datang dari atas sana
Aku tertawa, karena tahu kau tidak sungguh-sungguh
Di suatu malam kupernah melihatmu bercerita pada bintang tentangku

Kamu berlari untuk mengejar langkahku
Aku harus sesekali beristirahat agar kita bisa bertemu dalam satu waktu
Kubilang tak perlu terburu-buru
Aku masih perlu memastikan hati terlebih dahulu

Sudah sejak lama kau tahu bahwa rindu dapat mengacau waktu
Hari porak poranda ketika hati tak satu
Lalu bagaimana lagi, katamu
Engkau harus mengejaku

Peluk aku lewat buku-buku
Selami aku dari suratan kalimat
Temukan aku di balik dirimu sendiri
Selayaknya engkau, aku pun tahu itu

Sunday, October 14, 2018

Apa Kabar Kursus Menjahit?

Well, bagi yang belum tahu, aku dulu pernah ikut kursus menjahit di sebuah yayasan pelatihan kerja. Apakah menjahit merupakan passion-ku sehingga aku memutuskan untuk kursus menjahit? Setelah menilik kondisiku sekarang, aku dengan mantap mengatakan bahwa aku aku tidak memiliki passion menjahit.

Namun, kuakui aku sedikit tertarik dengan kegiatan menjahit. Little bit. Yang mengenalkanku dengan kursus menjahit ini adalah seorang teman kerja yang sudah terlebih dahulu ikut kursus menjahit. Aku sendiri sebelumnya sama sekali tidak bisa menjahit menggunakan mesin jahit, meskipun punya di rumah. Itu punya mama dan jarang dipakai. Mama sendiri bukan orang yang terlalu ahli dalam jahit menjahit, enggak afdal rasanya kalau belajarnya cuma sama mama.

Saat pertama masuk kursus, aku disuruh mencatat beberapa materi tentang pola pakaian sederhana. Aku juga belajar bagaimana cara mengukur ukuran tubuh orang untuk membuat pakaian. Setelahnya baru diadakan praktik dengan alat dan bahan yang disediakan penuh oleh yayasan. Praktik pembuatan pakaian ini cukup ribet menurutku, hitung-hitungannya harus presisi antara sebelah kiri dan kanan, muka dan belakang, serta atas dan bawah. Selain itu perbandingan antara ukuran bagian tubuh yang satu dengan ukuran bagian tubuh yang lain juga mesti seimbang.

Oleh karena itu, aku menyimpulkan bahwa menjahit adalah pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tinggi. Cocok sebenarnya dengan sifatku. Namun, aku tidak punya banyak waktu. Sedangkan untuk menjahit satu pakaian saja, aku membutuhkan waktu lama. Selain karena aku memang belum lihai, sisi perfeksionisku menjadi penyebab utamanya. 

Mama dan tanteku yang juga bisa menjahit setelah melihat bagaimana metode menjahitku geleng-geleng kepala. Ribet sekali, komentar mereka. Mereka sendiri belajar otodidak dan jarang pakai hitung-hitungan tepat sepertiku. Pola pakaian yang mereka jahit biasanya menjiplak dari pakaian yang sudah jadi. Pantas saja, kadang ada beberapa penjahit yang tidak memerlukan ukuran tubuh pelanggannya tapi minta contoh baju yang muat di tubuh pelanggan saja.

Seandainya aku tidak bekerja di luar rumah, aku mungkin pasti akan menekuni bidang jahit menjahit ini. Namun, dengan kesibukanku yang bekerja Senin-Jumat hingga sore rasanya hal tersebut mustahil. Pulang dari kantor, belum apa-apa juga sudah capek.

Lalu, bagaimana nasib kursus menjahitku sekarang? Terhenti di tengah jalan alias mandeg. Masih ada beberapa pola yang belum kupelajari sedangkan aku sudah terlalu lelah untuk masuk kelasnya. Karena tempat kursusnya di rumah si pemilik yayasan, jadi sebenarnya enggak masalah kapanpun aku bisa datang selama mereka ada di rumah. Btw, yang ngajarin ini suami istri yang sama-sama pandai menjahit.

Jujur saja sampai saat ini aku masih belum punya mood yang bagus untuk kembali kursus. Pertama, karena ingat betapa ruwetnya proses menjahit. Ini sudah jelas menandakan bahwa aku tidak punya passion di bidang tersebut. Kedua, karena waktu kursusnya itu Sabtu-Minggu yang notabene merupakan hari keluarga dan istirahat. Lagipula waktu siangnya (pukul 13.00-17.00) itu kalau pun aku tidak kemana-mana pasti malas karena merupakan waktu terenak untuk tidur siang. Belum lagi kalau cuacanya hujan atau terik sekali. Tobat, aku pasti malas sekali.

Faktor lainnya, jarak yang terlalu jauh sekitar 17 km, sama seperti jarak rumah ke kantor membuatku tambah malas dan menambahkannya di alasan untuk mangkir di jadwal pertemuan. Dan alasan yang terakhir, karena aku tidak punya teman saat kursus. Ada sih teman -yang mengenalkan aku kursus itu- tapi dia sudah sampai tahap hampir selesai dan ternyata dia juga sering bolos. Kadang, kami janjian untuk mengusir rasa malas sendirian. 

Sekarang, mungkin sudah sekitar satu tahun aku tidak pernah ke tempat kursus. Sebenarnya kepikiran juga karena sayang uang kursusnya yang cukup mahal sudah kulunasi. Ilmunya juga belum sempurna kudapat, sampai sekarang aku masih belum terlalu berani bikin baju sendiri terutama dari kain yang ada polanya. Kalau dari kain yang polos masih sedikit berani. Baju seragam apapun sekarang masih suka minta jahitin orang lain. Hiks.

Apakah setelah kursus menjahit ada perbedaan dari diriku? Ini jelas. Aku jadi lebih kenal dengan dunia menjahit, lebih familiar dengan alat-alatnya, dan yang jelas jadi lebih mengapresiasi para penjahit. Untuk keahlian, lumayanlah aku sudah percaya diri reparasi sendiri baju-baju milik pribadi. DIY menggunakan mesin jahit juga kadang kalau punya banyak waktu luang.

Dari hasil kursus, aku sudah menghasilkan beberapa pakaian. Itu karena didampingi sama ibu pelatih, sih. Mau bikin project sendiri takut enggak selesai-selesai karena aku sukanya sok sibuk. Semoga suatu hari nanti aku kembali bersemangat untuk kursus menjahit. Aamiin.[]

Hiburan Ramah di Luar Rumah pada Malam Hari

Di suatu malam Minggu, aku dan suami kebingungan mau cari hiburan ke mana. Really? Ya, kadang perasaan ingin menghibur diri itu ada. Menghibur diri di sini maksudnya mencari hiburan di luar rumah pada saat malam hari (terutama saat weekend, karena kami sama-sama pekerja). Masalahnya adalah, di kota kecilku ini tak ada hiburan yang cocok dengan seleraku.

Kenapa aku mesti menulis kata ramah di sini. Ya karena supaya jangan ada yang mengartikan hiburan ini hiburan yang mengarah ke maksiat, sih. Maksudku, jenis hiburan yang positif terutama untuk wanita. Jenis hiburan ini berfungsi mengembalikan semangat orang-orang yang capek dan jenuh dengan rutinitas.

Di kotaku, Kota Barabai sudah mulai menjamur beberapa kafe dan rumah makan yang ramah anak muda. Namun, karena aku dan suami sudah agak makan di luar jadi rasanya biasa saja. Itulah hiburan paling affordable dan tersedia di sini. Lagipula, kafe juga tidak sepenuhnya cocok dengan gaya kami. Kami ke tempat makan biasanya karena pengen nyari makan dan tahu sendiri lah ya makanan di kafe sepertinya didesain enggak untuk mengenyangkan perut. 

Jadi, deretan kafe sudah dicoret dari daftar tempat tujuan kami mencari hiburan di malam hari. Mungkin lain cerita untuk para pasangan belum halal alias pacaran, mereka masih suka sekali nongkrong menghabiskan waktu di kafe. Bagi yang sudah menikah, nongkrong di kafe rasanya bakal kehabisan gaya karena kalau mau ngobrol panjang lebar ya sudah bisa di rumah. 

Sebenarnya, tempat yang paling oke buat nongkrong malam dan menikmati alam adalah lapangan kota. Namun, di Barabai tempat terbuka seperti Lapangan Dwi Warna bukan menjadi destinasi utama warga. Kalau melihat lapangan Murjani atau alun-alun kidul di Jogja, Dwi Warna tentu kebanting sekali. Ada sih deretan penjual makanan di salah satu tepi lapangan tapi sedikit dan pilihan makanannya terbatas. Mungkin faktor karena sudah bosan juga kali ya, jadi mencari hiburan ke sana bukan pilihan yang oke lagi buatku. 

Lapangan Dwi Wrnanya sendiri menurutku cukup sepi dari kunjungan warga kota di malam hari. Terkadang kulihat hanya ada beberapa anak-anak geng motor yang nongkrong di sana. Pengunjung berupa keluarga atau geng perempuan muda masih jarang, bahkan di malam Minggu.

Mungkin karena fasilitas hiburan di sana kurang oke, jadi warga juga malas menghabiskan Sabtu malamnya ke sana. Seenggaknya ada sepeda hias yang bisa disewa berkelompok gitu atau sekalian bianglala besar seperti yang ada di alun-alun Kota Batu deh. Kalau seperti itu bisa kupastikan lapangan kota bakal ramai.

Lapangan Dwi Warna hanya ramai ketika pagi Minggu karena diadakan car free day mingguan di sana. Itu pun didominasi oleh para penjual kuliner (dan pembelinya). Aku dan suami jarang ke sana karena waktunya pagi sekali, Minggu pagi itu waktunya gegoleran di kasur. Hoho. Dan juga jaraknya jauh sekali dari rumah, rasanya seperti pergi kerja di hari Minggu. Enggak banget ini. Lagipula, fasilitas olahraganya masih minim. Cuma ada jogging track, belum ada perlatan gym permanen dari besi seperti yang ada di lapangan Murjani. 

Event berupa expo cuma diadakan satu kali setahun dan aku tak pernah merasa Barabai Expo keren. Hanya formalitas dan sekadar pameran pembangunan tanpa sesuatu yang unik. Lagi-lagi lebih didominasi oleh pedagang kuliner, persis seperti pasar malam. Dulu waktu aku masih kecil, ada beberapa wahana permainan setiap expo. Aku paling hobi naik bianglala. Setelah aku dewasa, eh permainan-permainan seru tersebut malah sudah tidak ada lagi.

Event lain berupa konser malah agak sering menurutku. Yang terbaru ini ada Sabian Gambus dan Bondan. Yang lain aku lupa, tapi yang jelas artis nasional semua. Masalahnya aku enggak suka hadir ke konser, berisik. Jadi skip deh mencari hiburan dengan ke konser. Oya, pernah deh sekali aku nonton konsernya Fatin Shidqia Lubis, itu pun karena di acara penutupan Musabaqah Tilawatil Quran se-Kalsel. 

Mau cari hiburan apalagi di Barabai? Jangan tanya mall, tempat karaoke, atau bioskop. Sudah jelas tidak ada. Aku sebenarnya pengen banget ada counter game macam Timezone ada di sini, biar bisa jejingkrakan pump-up atau menggila di bom-bom car tanpa dilihat orang aneh. Di sini yang tersedia cuma permainan buat anak-anak berupa istana balon atau odong-odong. Mau naik odong-odong? Ogah.

Atau nih ya, hiburan impian yang paling ingin kumiliki di kota ini adalah perpustakaan 24 jam atau minimal toko buku yang lengkap deh. Malam mingguan jadi lebih keren kalau bisa berkunjung ke sana. Tunggu aku kaya ya, nanti kubuatin satu buat Barabai. I’m promise.

Sebenarnya ada satu pilihan lain lagi buat hiburan di malam hari yaitu olahraga indoor. Di kota-kota besar kan lumrah ya nge-gym atau zumba malam-malam. Barabai punya apa? Aku enggak riset beneran kalau tentangini. Setahuku, sudah ada tempat gym dan gedung olahraga untuk main bulutangkis di Barabai. Namun, perlu persiapan khusus sih kalau mau datang ke tempat-tempat tersebut. Pertama, menyiapkan pakaian dan alat olahraganya. Kedua, aku juga harus siap berinteraksi dengan banyak orang baru. Dan itu enggak mudah buat aku karena hitungannya kayak masuk ke komunitas baru. 

Jadi bagaimana, kemana aku harus mencari hiburan malam keluar rumah jika fasilitas yang tersedia di sekitar masih begini-begini saja? Hiburan di rumah sepertinya memang jauh lebih mengasyikkan dengan berkumpul dengan keluarga atau membaca buku–buku koleksi. Namun, ya kadang bosan juga. Makanya kadang aku pengen keluar sesekali.

Ada yang ingin memberiku alternatif hiburan ramah di luar rumah pada malam hari?[]  

Makam Syekh H. M. Arsyad Al-Banjari [Datu Kalampayan]

Halo, ketemu lagi di pojok Travelling blog ini. Kali ini aku akan bercerita tentang salah satu destinasi religi yang ada di Kalimantan Selatan. Orang-orang Banjar pasti sudah tahu tentang tempat ini yaitu Kalampayan. Aku sendiri sebenarnya masih bingung cara penulisan kata ‘Kalampayan’ yang benar bagaimana, karena banyak variasi yang tertulis di papan nama dan halaman internet. Mulai dari Kalampayan, Kalampaian, Kelampayan, Kelampaian, Pelampayan, hingga Pelampayan. Btw, itu nama desa lokasi makam seorang ulama besar berdarah Banjar yang dijuluki sebagai Datu Kalampayan.

Iya, kali ini destinasi travel yang akan kubahas berupa makam. Tenang, tempatnya bagus kok tidak menyeramkan seperti makam biasanya. Di Bumi Banjar, makam para ulama memang lumrah dijadikan destinasi wisata. Bukan untuk meminta doa pada kuburan loh ya, hanya berziarah dengan mendoakan beliau-beliau yang sudah pergi terlebih dahulu menghadap Ilahi. Biasanya, keluargaku dan sebagian besar masyarakat Banjar ziarah ke Kalampayan atau makam ulama lainnya untuk ‘merayakan’ keberhasilan sesuatu. Dengan mengajak tetangga atau anggota keluarga besar ke sana, bentuk syukuran atas keberhasilan yang diperoleh diharapkan bisa menjadi berkah.

Aku sendiri sudah beberapa kali berziarah ke Kalampayan, sepuluh kali sepertinya tidak kurang. Karena ya itu tadi, keluarga atau tetangga lumayan sering mengajak ke sana. Btw, Syekh H. M. Arsyad Al-Banjari siapa sih? Kok makam beliau tak pernah sepi dari peziarah? Dikutip dari laman Wikipedia, Syekh H. M. Arsyad Al-Banjari adalah seorang ulama fiqih penganut mazhab Syafi’i terbesar pada zamannya di wilayah Kerajaan Banjar. Berusia 102 tahun (1710-1812), beliau menulis banyak kitab dan yang paling terkenal berjudul Sabilal Muhtadin. Berarti usia makam beliau yang sering dikunjungi itu sudah sekitar 206 tahun. Wow! 

Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, makam Syekh H. M. Arsyad Al-Banjari ini terletak di Desa Kalampayan, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Lokasi makam beliau direnovasi menjadi sebuah bangunan dan berada satu kompleks dengan masjid. Tidak hanya makam beliau yang terdapat di sana, ada banyak makam para ulama lainnya juga yang ada di kompleks pemakaman ini.

Pemandangan khas yang akan menyapa para pengunjung ketika baru datang adalah banyaknya para penjual kembang. Kembang yang kumaksud adalah rangkaian bunga hidup yang biasanya terdiri atas jenis bunga kenanga, mawar, melati, atau cempaka. Beberapa jenis bunga tersebut dirangkai dalam sebuah pelepah pisang yang sudah dipotong sekitar 30x5 cm2. Bunga-bunga tersebut dijual oleh para pedagang di sekitar makam kepada para peziarah agar meletakkannya di atas atau di dekat makam ulama yang dikunjungi.

Dulu, mungkin sekitar sepuluh tahun yang lalu, selain penjual bunga aku masih menjumpai para anak kecil dan beberapa orang dewasa meminta-meminta di sekitar kompleks makam. Mereka tidak berhenti menguntit para pengunjung sebelum diberi uang. Hal tersebut tentu sangat mengganggu sekali. Oleh karena itu mungkin hal tersebut dilarang oleh pihak yang berwenang, karena terakhir kali aku ke sana pemandangan tersebut sudah tidak ada lagi.

Kompleks makam yang menjadi satu dengan masjid ini cukup besar. Ketika masuk, para pengunjung harus meletakkan alas kaki terlebih dahulu di tempat yang disediakan. Setelah melewati lorong-lorong, barulah pengunjung dapat menjumpai bangunan makam. Ada beberapa makam yang besar dan banyak dikunjungi oleh peziarah, makam yang paling ramai tentu adalah makam Datu Kalampayan. Di makam-makam tersebut biasanya para peziarah akan membaca surat Yaasin dan berdoa untuk sang ulama. Aku juga pernah melihat satu rombongan yang mengadakan semacam talqin lalu kemudian berdoa bersama. Pengunjung lain di luar rombongan tersebut biasanya otomatis mengikuti kegiatan tersebut.

Jika berkunjung ke sana pada waktu salat, biasanya masjid menjadi penuh oleh orang-orang yang ingin bersembahyang. Hal yang menarik di dekat teras masjid ada sebuah tempat mandi yang airnya diberi bunga-bunga kenanga. Sebagian besar orang percaya jika air tersebut dapat mensucikan tubuh karena sudah diberi doa oleh para penjaga air tersebut. Mereka tidak memungut bayaran, tapi para pengunjung biasanya memberi seikhlasnya untuk mereka. 

Air-air tersebut biasanya digunakan untuk mencuci muka atau kaki bagi para pengunjung dewasa. Beberapa pengunjung yang lain malah memandikan anak-anak di bawah usia 8 tahun di tempat pemandian tersebut. Tujuannya macam-macam, mulai dari agar penyakit hilang, anak menjadi cerdas, hingga tubuh menjadi suci. Airnya juga bisa dibeli loh, satu plastik berukuran 1 liter aku ingat dulu dijual seharga 2 ribu rupiah. Entah itu harga penjualan atau dulu cuma mengasih seikhlasnya, aku lupa.

Fenomena unik dan menarik lainnya adalah adanya emperan yang banyak dikerubungi oleh para pengunjung. Aku bingung mau menyebutnya apa, tapi dari tulisan di sekitar emperan tersebut tertulis bahwa itu adalah tempat petugas penjaga kubah yang mungkin masih merupakan zuriat Datu Kalampayan. Orang-orang yang berkerubung ke sana biasanya minta bacakan doa ke air yang mereka bawa atau beli di sana. Selain itu, di sana juga ada telur rebus yang sudah didoakan sehingga para pengunjung tinggal beli. Air dan telur tersebut biasanya dikasih untuk anak-anak dengan doa hal-hal terbaik untuk mereka. Selain dua hal tersebut, aku kurang mengetahui apa lagi yang ada di emperan tersebut.

Dulu waktu aku masih kecil, di dalam bangunan komplkes pemakaman tersebut ada beberapa juru foto yang menawarkan jasa mereka kepada para pengunjung. Aku dan keluarga juga pernah menggunakannya untuk mengabadikan kenangan bahwa dulu pernah berkunjung ke Kalampayan. Berfotonya di luar area makam sih, tapi pas dicetak nanti di fotonya ada keterangan kalau itu di kompleks makam Datu Kalampayan. Seiring perkembangan zaman, profesi juru foto di sana sepertinya sudah mulai tergantikan oleh smartphone pribadi milik para pengunjung. Beruntungnya, tidak ada pengunjung yang rusuh berfoto-foto di sekitar makam. 

Jalan pulang menuju pintu gerbang yang sama berbeda dengan jalan masuk. Rutenya sudah diatur sedemikian rupa sehingga setelah para pengunjung selesai berziarah, di lorong menuju keluar mereka akan menjumpai pedagang-pedangang aksesoris. Dulu, waktu kecil aku suka sekali mampir di tempat ini. Ada banyak barang yang dijual di sana, mulai dari aksesoris religi sampai mainan anak-anak. Aku ingat, dulu aku dan adik pernah membeli tutunjuk Al-Quran, rehal (meja Al-Quran), tasbih, dan bahkan gelang. 

Well, untuk kamu yang belum pernah ke sana semoga informasi yang aku sampaikan di atas bermanfaat. Enggak ada salahnya berkunjung ke makam, tapi ingat jangan sampai mengarah ke perbuatan syirik ya.[]

Sial

“Seseorang hanya perlu satu kesialan untuk menyadari bahwa hidup itu tidak mudah.”

Aku kini merasakannya. Minggu lalu, aku didera kesialan dengan menjadi saksi rusaknya sebuah alat penting di kantor. Jadi ceritanya begini, saat itu aku dapat giliran bertugas di lapangan bersama dua juniorku. Seharusnya, hari itu salah satu seniorku bisa ikut tapi karena ada suatu hal mendadak jadi batal ikut. Seniorku yang satunya lagi sudah ke lapangan satu hari sebelumnya. Fix, aku sendirian yang handling semuanya. Bukan pertama kali begini sih, hanya saja hari itu aku sedang sial.

Sehari sebelumnya, aku sudah cek peralatan yang akan digunakan di lapangan. Semuanya oke, termasuk alat yang rusak ini. Hari H tiba, kami berangkat dan sampai di lokasi. Alat tersebut masih mau menyala ketika kutekan tombol on. Sambil menunggu dia warming up aku mengecek alat yang lain apakah sudah terpasang dengan benar atau belum. Pas balik lagi ke alat tersebut, kondisinya sudah mati. Awalnya aku tenang-tenang saja, karena beberapa kali sebelumnya di lapangan aku sudah pernah melihat kasus ini. Penyebabnya ada di kabel, sambungannya dengan adaptor hampir copot dan mempengaruhi aliran listrik. Hal ini karena kabel tersebut selalu digulung ketika dimasukkan ke dalam kotak.

Namun, aku mulai panik karena lama sekali terus mencoba si alat tak mau menyala juga. Karena keterbatasan alat untuk memperbaiki kabel tersebut, (biasanya harus digunting dan disambung kembali, jadi kabelnya semakin pendek) kami pun menyerah dan berharap ketika ke kantor si alat sudah bisa diperbaiki. Aku yakin masalahnya ada di kabel atau adaptor, karena ketika kabel digerak-gerakkan alat itu masih  merespon dengan bergetar seperti ketika akan menyala. Namun, getarannya berhenti jika kabel dilepas dari tangan.

Pulang dari lapangan, si kabel kami perbaiki. Hasilnya tetap nihil, alatnya masih menolak untuk menyala. Fix, rusaknya mungkin di adaptor duga kami. Kami lalu mencoba untuk mencolokkan charger laptop ke alat tersebut karena bentuk dan ukurannya agak mirip. Waktu dicolok ke alat, ternyata tongolannya lebih besar dari lubang yang terdapat di alat jadi tidak bisa masuk dengan sempurna. Meski begitu, dari si alat kami merasakan getaran seperti ia akan menyala. Namun, layar tetap tidak menyala.

Karena aku yang terakhir menggunakan, aku jadi merasa bertanggung jawab untuk mengurusi perbaikannya. Jadi si adaptor dan kabel beserta alat kubawa ke toko komputer, tujuannya untuk mencari charger laptop yang ukurannya sama dengan charger alat tersebut. Sampai di toko komputer, mas-mas yang menjaga toko tersebut bilang, charger laptop dengan besar daya yang sama dengan charger alat tersebut enggak mungkin ada. Nilai output-nya kekecilan untuk laptop. Oleh karena itu, aku minta tolong kabel atau adaptornya aja yang diperbaiki kalau bisa. Si mas menyanggupi. 

Keesokan harinya, ketika aku datang kembali ke toko tersebut, adaptor beserta kabel sudah diperbaiki. Kabelnya sudah rapi dan arus listrik yang terukur sudah sesuai dengan besarnya di adaptor. Namun, saat dicolokkan ke alat, alatnya masih nggak bisa nyala. Duh, piye …. Aku tambah bingung.

Bersama seorang senior di kantor, aku kemudian mendatangi tukang servis alat-alat listrik. Berharap masih kabelnya yang bermasalah. Namun, ketika dicek kabelnya ternyata memang sudah bagus, arus listriknya sudah jalan. Berarti kata si tukang servis, ada sesuatu pada alatnya.

Si alat kemudian dibongkar. Enggak ada hal yang ganjil secara teknis, kecuali baterainya yang mulai aus. Oleh karena itu, aku dan kakak senior mencari baterai yang sesuai besar daya listriknya yaitu baterai tipe chargeable. Bukan barang biasa dan cukup menguras tenaga untuk mencarinya, meskipun akhirnya dapat juga.

Baterai kemudian dipasang dan alat kembali dicoba dinyalakan. Sialnya, sang alat masih ngambek. Duh, harus bagaimana lagi? Kalau membaca manual book-nya untuk servis resmi mesti kirim balik barang ke pabriknya, di US sana. Hoho. Itu enggak mungkin, mahalan biaya ongkir kali ya daripada biaya servis. Lagipala, umur si alat sudah tua. Dari manual book diketahui bahwa pembuatannya pada tahun 2011, sedangkan maintanance untuk alat tersebut tidak pernah dilakukan.

Tukang servis bilang, penyebab satu-satunya yang tersisa adalah IC-nya rusak. Wow, ini bahaya sih. Soalnya smartphone-ku pernah mengalaminya. IC bagi sebuah alat elektronik itu serupa nyawa. Biaya penggantiannya hampir sama dengan biaya beli baru. Karena penasaran, aku bertanya apa penyebab IC rusak. Tukang servis menjawab, bisa karena kepanasan atau si IC pernah ‘kaget’ karena arusnya melebihi yang dipersyaratkan. 

Aku lalu teringat bahwa sebelumnya kami pernah mencoba mencolok alat dengan charger laptop yang jelas daya arus listriknya lebih besar. Boleh jadi sih itu penyebab rusaknya IC dan kalau mau ditilik lebih dalam lagi, alat ini sering digunakan di luar ruangan pada cuaca panas. Padahal kalau mau lebih teliti, di manual book-nya tertera kalau alat ini sebenarnya diperuntukan bagi indoor. 

Si mas-mas tukang servis juga bilang, meskipun alatnya mau nyala, yakin sensornya masih bekerja dengan benar? Kok aku baru terpikir ya. Pernah suatu hari kami menyalakan alat ini di sebuah pertambangan dengan cuaca sangat terik, hasilnya nol semua. Padahal indikasi secara fisik nilai yang seharusnya tertera di layar itu mustahil nol. Dari sana saja sebenarnya sudah ketahuan bahwa sebenarnya alat ini galat. Tidak diragukan lagi, perawatan dan servis berkala adalah kunci utama untuk memperpanjang usia fungsi sebuah alat.

Sialnya, kenapa dia pas ‘tutup usia’ harus dengan aku. Aku jadi panik dan merasa harus bertanggung jawab sendiri jadinya. Belum lagi adanya beberapa klien yang minta pengujian parameter yang dihasilkan oleh alat itu, aku jadi agak merasa bersalah karena harus terpaksa menolak pengujian karena alat rusak. 

Jadi sekarang bagaimana? Aku diminta survei beberapa alat yang fungsinya sama dengan alat ini. Aku jadi bersemangat, meski aku tahu untuk biaya pembeliannya enggak bisa didapatkan oleh kantor dengan mudah. Semoga segera ada jalan keluar untuk permasalahan ini. Supaya aku enggak kepikiran terus dan berhenti merasa sial ketika ada pembicaraan tentang si alat.[]

Friday, October 12, 2018

Kacau

Beberapa hari ini aku agak kacau. Sebelumnya, karena ada alat yang rusak di kantor dan aku gagal memperbaikinya. Sebelumnya lagi, karena ada serangan pikiran-pikiran negatif akibat suatu peristiwa. Kali ini, masalahnya menurutku cukup serius.

Otak dan hatiku bersatu memikirkan dan merasakan hal yang aneh dan mustahil. Aku memang bermasalah dengan obsesi. Sejak dulu, keinginanku aneh-aneh. Selama masih dalam koridor norma dan agama, biasanya aku akan meladeninya. Dan ya sebagian besar aku berhasil mendapatkannya. 

Kali ini pikiran dan perasaanku tak bisa ditolerir, mendesak sekali. Seolah jika tak kuturuti akan meledak. Memang sih aku masih pengendali sepenuhnya atas diri dan tindakanku. Namun, aku bisa apa jika pikiran dan perasaan ini terus merongrong dan mengganggu pola hidupku?

Jujur saja, aku yang begitu teratur, 4 hari ini menjadi porak poranda. Ada banyak to do list yang tak kukerjakan karena menghabiksan waktu dengan memikirkan dan merasakan keanehan tersebut. 

Hari-hariku tidak produktif dan aku terus memikirkan dan merasakannya di manapun. Stuck. Secara logika, ini sama sekali tidak sehat bagiku. Namun, batinku berteriak, ini menyenangkan!

Aku harus berusaha mengenyahkan obsesi absurd ini. Caranya? Mungkin aku harus mencari kegiatan fisik yang menarik agar otak dan hatiku kelelahan berpikir dan merasa. Aku ingin naik bianglala atau berenang atau main outbond.

Tambah absurd saja ya? Beneran sereceh itu keinginanku, enggak tahu kenapa, pokoknya pengen saja. Mungkin karena selama ini aku berada dalam tekanan keteraturan dan target-target kerja yang kubuat sendiri. Jadi pikiran aneh tersebut datang sebagai bentuk pelarian kreativitas karena fisikku beraktivitas terlalu teratur.

Terlalu manja juga sih sebenarnya kalau aku menunggu mewujudkan piknik dulu baru mengizinkan pikiran dan perasaan aneh ini hilang. Sebaiknya aku harus membasminya sesegera mungkin. Meski kutak yakin cukup kuat karena beberapa kali aku bahkan memimpikannya dalam keadaan tidak sadar. Itu meh banget sih buat aku, artinya hal ini memang sudah masuk ke level paling dalam dan aku baru menyadarinya.

So, menurutku sepertinya lebih susah menahan diri untuk tidak melakukan apa yang diinginkan padahal mampu daripada berjuang mencapai sesuatu karena belum mampu. Ini menyiksa sekali. Sungguh.[]

Tuesday, October 9, 2018

[Mini Biografi] Alfian

Namanya Alfian, seorang laki-laki yang terlahir yatim dari rahim perempuan setengah baya. Ayahnya, Juraid, meninggal saat ia berusia 3 bulan dalam kandungan. Ibunya, Siti Aliyah, berusia sekitar 40 tahunan ketika melahirkannya. Hari itu tanggal 10 Maret 1968, menjadi hari paling bersejarah baginya. Ia menyapa dunia sebagai bungsu dari 4 bersaudara.

Saat itu, Bangsa Indonesia sudah merdeka dari penjajahan Belanda dan Jepang. Namun, sistem kehidupan dan ekonomi masyarakat belum sepenuhnya merdeka. Rakyat kecil masih harus berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang nyaman. Begitu pula yang dirasakan oleh Alfian, sebagai anak kecil yang hidup dengan kondisi tidak menguntungkan tentu keadaan sangat berat. Ibunya hanya seorang petani di sebuah desa kecil di Kalimantan Selatan.

Setelah menamatkan SD di kampung, ia kemudian melanjutkan SMP di Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Di sini ia ikut dengan kakak keduanya yang sudah menikah dengan seorang lelaki yang memiliki banyak usaha. Jadi, selain sekolah ia juga membantu kakak iparnya. Mulai dari beternak macam-macam binatang hingga berkebun berbagai jenis tanaman. Kehidupan sangat keras ia jalani di sana.

Ketika SMA, ia pindah ke Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kali ini ia juga ikut menumpang di rumah kakak perempuan sulungnya yang juga sudah menikah. Meski begitu, ia membiayai kehidupannya sendiri. Ia bekerja di banyak hal untuk memenuhi kebutuhannya.

Selepas SMA ia pun mencari kerja. Ia mendapatkan berbagai pekerjaan serabutan di Banjarbaru. Pada saat lebaran, ia pulang ke kampung halaman untuk menengok ibunya. Di kampung, ia terpikat dengan seorang gadis yang masih terkait jalinan keluarga dengannya. Tidak lama kemudian, pada tahun 1991 mereka menikah. Ya, ia menikah pada usia 23 tahun. Cukup muda untuk ukuran seorang lelaki.

Mereka kemudian hidup di Banjarbaru. Satu tahun kemudian, ia dikaruniai anak pertama dengan jenis kelamin perempuan. Pekerjaannya, meski tidak tetap tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan anak istrinya. Ia pernah bekerja sebagai pegawai di sebuah instansi pemerintah, tapi tidak berlangsung lama karena bosan. Ia lebih memilih bekerja di perusahaan pertambangan dengan posisi sebagai driver.

Ia dan keluarga kecilnya sempat pindah ke Kota Samarinda (lagi) saat istrinya mengandung anak kedua. Ketika hari melahirkan tiba, mereka pulang kampung. Anak kedua mereka laki-laki lahir dengan selamat di rumah mertuanya. Ketika si bungsu sudah cukup umur, mereka kembali merantau ke Landasan Ulin, Kalimantan Selatan. Ia kembali bekerja dengan beberapa kali mengganti seragam perusahaan. 

Pada suatu waktu, ia dan keluarganya kembali pindah ke Banjarbaru. Di sini, putri pertamanya mulai masuk sekolah TK. Kehidupan yang menyenangkan ia jalani meski keadaan ekonomi keluarganya tidak bisa dibilang berlebihan.

Di tahun 1998 ketika krisis ekonomi melanda seluruh Indonesia dan putrinya akan masuk SD, ia memutuskan untuk pulang kampung. Kali ini ia memilih tinggal di rumah orangtuanya yang memang hidup sendiri. Anak pertamanya pun sekolah di SD di kampung tersebut. Di kampung, ia tidak memiliki pekerjaan tetap yang dapat mencukupi kehidupan keluarganya. Sehingga ia mengalah untuk merantau seorang diri dan anak-anak serta istrinya tetap tinggal di kampung untuk bersekolah. Untuk menambah pendapatan, istrinya membuka warung di dekat SD yang memang dekat dengan rumah mereka. 

Saat anak pertama mereka kelas dua SD, mereka akhirnya dapat membangun rumah sendiri di sebelah rumah orangtuanya. Ia tetap pulang pergi merantau setiap 2-3 bulan sekali. Merantaunya pun jauh sekali, seringnya ke pedalaman provinsi tetangga. Pada suatu waktu, ia sempat kehilangan pekerjaan selama hampir 6 bulan. Pada waktu yang lain, ia juga pernah terserang penyakit mistis dan dirawat oleh keponakannya yang seorang dokter di Samarinda.

Waktu terus berlalu, ia hanya bertemu dengan keluarganya paling banyak 10 kali dalam setahun. Satu kali cuti rata-rata hanya memakan waktu sekitar satu minggu. Hingga kedua anaknya lulus kuliah dan sama-sama bekerja. Ia masih terus bekerja untuk mengisi kegiatan. Pekerjaannya memang sudah mulai mudah dan jabatannya di sebuah perusahaan tambang juga cukup menjanjikan. Ia diangkat menjadi karyawan senior dengan gaji lumayan.

Namun, desakan dari keluarga yang menginginkan ia pulang kampung saja terus merongrongnya. Pada tahun 2017, ibunya meninggal di Samarinda, di rumah kakak perempuannya. Setelah itu, pertengahan tahun 2018 akhirnya ia memutuskan untuk resign. Berkumpul dengan keluarga dan mengurus kebun serta ternak di sekitar rumahnya sekarang menjadi kegiatannya sehari-hari.

Mungkin terlihat tidak ada yang istimewa dari kehidupan seorang Alfian. Namun, perjuangan dan kerja keras tak pernah henti adalah hal yang patut dicontoh dari sosok ini. Semoga kisah hidupnya dapat menjadi pelajaran. Aamiin.[]

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates