Tuesday, November 20, 2018

Mengapa Menulis di Blog?

Sebagai bloger, aku sudah sering ditanya dengan pertanyaan seperti judul di atas. Jawabanku macam-macam, karena ya ternyata aku punya banyak alasan untuk menulis di blog. Sebenarnya, beberapa tahun lalu aku juga pernah menulis dengan tema sejenis. Mari kita lihat, apakah ada perbedaan isi yang signifikan saat kutulis kembali pada akhir tahun 2018.

Mengapa aku menulis di blog? Setidaknya, tiga alasan utama ini yang membuatku memilih blog sebagai media menulis.

Blogging is Easy
Ya, blog sebagai media menulis di internet termasuk dalam kategori mudah dalam pengoperasionalannya. Setidaknya bagiku yang gaptek ini, blog sangat mudah diakses dan dijalankan. Apalagi blogspot, platform favorit bloger sedunia. Sejak awal diajarin saat mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi di kelas dua SMA, aku langsung ‘ngeh’ dan memutuskan untuk terus mengisinya hingga sekarang. Sifatnya yang online dan langsung publish pun membuatku suka. Jadi, mengapa aku menulis di blog? Karena blog adalah media yang anti ribet. 

Sunday, November 18, 2018

[Fiksi] Kemenangan Pangeran Samudera


Galuh Kalingga duduk dengan gelisah di atas balai bambu di depan rumahnya. Sudah sejak pagi tadi, ia bolak-balik masuk ke dalam rumah hanya untuk melihat ibunya lalu keluar lagi melihat gerombolan orang di kejauhan.

“Bu, apakah ayah baik-baik saja?” tanyanya sekali lagi ketika masuk ke dalam rumah.

“Doakan saja, Nak. Kabarnya hari ini perang dilakukan hanya antara Pangeran Tumenggung dan Pangeran Samudera. Ayahmu di sana hanya untuk menyaksikan,” jawab Astika, ibunya Galuh Kalingga. Ia sedang khusyuk duduk sambil menangkupkan kedua belah tangan di depan dada, berharap agar Dewa menyelamatkan suaminya.

Galuh Kalingga mendengus, ia tidak peduli dengan kedua pangeran yang sedang bertikai tersebut. Ia hanya memikirkan keselamatan ayahnya yang sudah satu minggu tidak pulang dari medan perang.

Salah seorang tetangganya kemarin pulang tinggal nama. Ia adalah ayah dari 3 anak, paling sulung seusia dengan Galuh Kalingga. Keluarganya sedih sekali, mereka meratap betapa tidak adilnya perang kerajaan karena telah mengorbankan kehidupan rakyat jelata. 

Friday, November 16, 2018

Teori Evolusi I

Para ilmuwan menggunakan istilah hominid untuk merujuk pada berbagai kelompok manusia yang punah, primata yang berjalan tegak seperti nenek moyang kita atau kerabat mereka. Fosil pertama sisa hominid ditemukan pada tahun 1856 di Lembah gua Neander di Jerman. Setelah banyak perdebatan, diketahui bahwa sisa-sisa tulang dicatat oleh seorang tentara Rusia yang meninggal dalam perang sebelumnya di Perancis. 

Setelah penemuan tulang serupa di lokasi lain di seluruh Eropa, terlihat jelas bahwa bumi telah dihuni pada satu waktu dengan "orang" yang menyerupai manusia namun memiliki perbedaan mencolok. Mereka disebut Neanderthal, sesuai nama situs di mana mereka pertama kali ditemukan. Tengkorak mereka memiliki bentuk yang berbeda dari manusia modern, juga berat, tulang punggung atas mata, dan tulang mereka lebih tebal, dengan indikasi otot terpasang lebih besar. Para Neanderthal digambarkan dalam media massa populer sebagai seseorang yang tampak kasar. Pada kenyataannya, jika Anda melihat salah satu makhluk seperti itu berjalan menyusuri jalan memakai jeans dan T-shirt, mungkin kamu tidak akan berbalik dan memperhatikan. Neanderthal hidup antara 35.000 sampai 135.000 tahun yang lalu. 

Bukti pertama dari hominid yang akan menyebabkan Anda untuk memperhatikan mereka jika Anda melihat mereka menyusuri jalan, ditemukan pada tahun 1891 oleh Eugene Dubois, seorang dokter tentara di Belanda yang ditempatkan di Hindia Belanda (Indonesia). Setelah tiba di pulau Jawa, Dubois menemukan sisa-sisa mamalia punah. Pada hari selanjutnya, ia menemukan kembali gigi belakang (molar) yang dia pikir pasti milik kera. Beberapa meter setelah tempat tersebut, ia juga menemukan sebuah tengkorak yang memiliki karakteristik anatomi mirip manusia dan kera. Tahun berikutnya, sekitar 15 meter dari tempat ia menemukan tengkorak, Dubois menemukan tulang paha (femur) dari dalam tanah yang sangat mirip dengan manusia modern. Yang paling penting, bentuk tulang paha menunjukkan bahwa pemilik telah berjalan tegak. Dubois menyimpulkan bahwa ia telah menemukan "mata rantai yang hilang". Dia menyusun potongan-potongan "Manusia Jawa" ke dalam kotak dan kembali ke Eropa. 

Sebagian besar dunia ilmiah menyambut klaim Dubois dengan skeptis. Sir Arthur Keith, salah satu ahli paleontologi yang paling menonjol, memiliki pendapat yang berbeda. Setelah meneliti fosil, Keith menyimpulkan bahwa, meskipun ukuran tempurung otak Manusia Jawa (bagian dari tengkorak yang menutupi otak) tidak jauh lebih besar dari kera, tengkorak menunjukkan bahwa itu adalah milik manusia. Keith begitu yakin kesamaan yang terdapat antara tengkorak tersebut dengan tengkorak manusia modern, sehingga ia merekomendasikan Manusia Jawa ditempatkan ke dalam genus yang sama seperti manusia modern. Akhirnya, penemuan Dubois dinamakan sebagai Homo erectus. Namun, Dubois tidak pernah menerima pandangan Keith bahwa Manusia Jawa harus diklasifikasikan sebagai Homo (manusia modern). Sebagai tanggapan, Dubois mengubur tulang “mata rantai yang hilang” di bawah papan lantai dari ruang makan, hingga 30 tahun kemudian. 

Selama 30 sampai 40 tahun ke depan, sejumlah fosil lain yang ditemukan mirip dengan Manusia Jawa dan juga spesies H.erectus. Yang paling penting adalah penemuan Manusia Peking, yang ditemukan di sebuah gua dekat Peking, China. Seperti Manusia Jawa,  Manusia Peking memiliki tempurung otak, mirip kera kecil, tebal, tulangnya berat, punggung, tulang menonjol di atas mata, dan rahang bawah dengan gigi mirip manusia. Yang paling penting, itu menunjukkan bahwa Manusia Peking telah berjalan dengan postur tegak, menggunakan alat-alat batu, dan memasak makan malam di atas api. Manusia Jawa dan Manusia Peking hidup sekitar setengah juta tahun yang lalu.

Penemuan fosil kedua ditemukan secara tidak sengaja, yang diidentifikasi merupakan fosil dari H. erectus. Merupakan penemuan dengan tengkorak sempurna oleh seorang ahli fosil amatir pada 1912 di sekitar Piltdown, Inggris. Tengkorak tersebut dikenal milik orang Piltdown dengan otak besar (besarnya sama dengan manusia modern) dan menyerupai rahang monyet, karakteristik yang membedakan antara orang jawa dan peking. Orang Piltdown memperkenalkan penafsiran garis evolusi. Beberapa ahli fosil meremehkan orang Piltdown karena dianggap tidak masuk akal. Orang Piltdown mendapat dukungan dari Arthur Keith dan ahli antropologi inggris yang berpendapat bahwa perkembangan otak yang besar mungkin telah terjadi pada awal pembentukan karakteristik yang nampak selama garis evolusi manusia yang terus berlangsung.

Penemuan fosil yang membingungkan pada 1924 oleh Raymond Dart, orang Australia dari fakultas medis di Johannesburg, Afrika Selatan. Dart menemukan fosil di tambang batu kapur sekitar Afrika Selatan yang dikenal dengan sebutan Taung. Dia menanyakan kepada pemilik tambang tentang apakah kekuatan kapur itu menyerupai fosil. Dua kotak besar dikirim kerumahnya. Dart menuangkan semua potongan batu-batu ke dalam suatu tempat. Sebagai seorang ahli Neuronanatomi, dia seketika dapat mengenali bahwa batu tersebut adalah tengkorak, dilengkapi dengan petunjuk adanya aliran dan pembuluh darah. Lapisan pasir dan kapur membuat air meresap ke dalam tengkorak manusia purba yang berada di dalam tambang dan membatu, karena waktu yang sangat lama. Meskipun demikian ukuran otak menunjukan karakteristik sifat manusia. Baru-baru ini Dart memulai penelitian tentang apa yang membungkus tengkorak, dia percaya bahwa masih ada sisa fosil lainnya akibat dari proses peledakan selama operasi peledakan.

Diantara isi kotak, Dart menemukan sisa-sisa rahang bawah dan tengkorak, bagian depan yang ditutupi oleh bahan bertatahkan, sehingga mustahil untuk melihat wajah. selama beberapa bulan, Dart hati-hati memilih jauh di kerak dan perlahan-lahan terbuka dan terlihat wajah yang menakjubkan, itu adalah wajah seorang "kera" muda dengan gigi yang menunjukkan karakteristik manusia mencolok (lihat angka 34-8 dan 34-9). Tengkorak itu sedikit lebih besar daripada kera, dan pembukaan dalam tengkorak yang memungkinkan masuknya sumsum tulang belakang berada dalam posisi yang berbeda dari kera, menjelaskan bahwa individu telah berjalan tegak. Berdasarkan fosil lainnya di dalam kotak, Dart menyimpulkan bahwa tengkorak itu sekitar 1 juta tahun. Dia bernama makhluk Australopithecus africanus (Australo = Australia, pithecus = kera), tetapi menjadi dikenal sebagai Anak Taung.

Tanpa menunda, Dart menulis artikel tentang fosilnya dan mengirimkan ke surat kabar ternama majalah inggris Nature, dan artikelnya tersebut diterbitkan. Terulanglah kembali suatu kejadian di dunia ilmiah yang meragukan. Even Keith, teman dari Dart, memberikan ide (hanya berdasarkan kesamaan orang Piltdown) bahwa pembesaran otak adalah salah satu langkah pertama dalam evolusi manusia dan menyatakan bahwa fosil yang ditemukan di Taung bukan manusia tapi kera yang punah.

Pada tahun 1931, Dart melakukan perjalanan ke London untuk menghadiri pertemuan antropologi dengan harapan meyakinkan rekan-rekannya dengan klaimnya. Presentasi Dart menimbulkan kekaguman lebih daripada saat penemuan Manusia Peking di China. Selain itu, Dart adalah seorang pembicara yang buruk, yang bukti-bukti terbatas pada tengkorak tunggal, ia gagal untuk membuat banyak dampak. Putus asa, ia pergi untuk makan malam dengan teman-teman sementara istrinya membawa Fosil Taung kembali ke hotel. Ketika istrinya naik taksi berkeliling London, fosil tersebut tertinggal di kursi belakang taksi. Sang sopir melihat paket tersebut dan menyerahkannya ke polisi. Beruntung, Dart sempat mengambil paket tersebut dari tangan polisi sebelum mereka melihat apa isi di dalam bungkus paket tersebut.

Ahli biologi menyatakan fakta kehidupan dengan “Teori evolusi”, Ahli kimia menyatakan denngan “Teori Atomik”, dan Ahli Fisika menyatakan dengan “Teori Gravitasi”. Teori-teori tersebut mempunyai kelebihan masing-masing, tergantung dengan bukti-bukti yang ditemukan. Sebagai contoh adalah keragaman tanah. Hal tersebut oleh ahli biologi dipakai untuk membuat hukum Theodosius Dobzhansky (tidak ada yang masuk akal dalam asal-usul kehidupan kecuali teori evolusi).

The Effect of Human Activities on Environment

Abstract

[Rindang Yuliani]

Key words: Environmental damage, human activities, forest, industry

Some human activities can cause environmental damage. Mines which do not pay attention to environmental sustainability in the absence of rehabilitation of former mine pit are the biggest cause of environmental damage. Indiscriminate felling of forests, which do not pay attention to the balance of the ecosystem is a trigger for environmental damage. Hunt of wildlife is other human activity which would result in shortage until the extinction of animals. Disposal of inorganic garbage in fault place is a phenomenon can cause environmental damage too because the decay time-consuming hundreds of years.  The last cause of environmemntal damage is a variety of chemical waste which comes out of the industries. All is a time bomb which will gradually destroy the humans. Making the world of education as a medium to spread the love environment "virus" is a very good idea for keeping natural environment. Planting one tree in every yard of the house is also an alternative solution which can be done.

Increasingly, environmental damage is more severe. Environmental damage is not free from human intervention under the pretext of destroying nature to use it for life. The impact of human intervention is very large. Just kill yourself, damage the environment with the natural hurt and could be slowly killing nature. Since nature has provided what the human need for this. Then from where humans can live, if nature as the source of life eventually die? 

Some human activities can cause environmental damage. Mines which do not pay attention to environmental sustainability in the absence of rehabilitation of former mine pit are the biggest cause of environmental damage. Indiscriminate felling of forests, which do not pay attention to the balance of the ecosystem is a trigger for environmental damage. Hunt of wildlife is other human activity which would result in shortage until the extinction of animals. Disposal of inorganic garbage in fault place is a phenomenon can cause environmental damage too because the decay time-consuming hundreds of years.  The last cause of environmemntal damage is a variety of chemical waste which comes out of the industries. All is a time bomb which will gradually destroy the humans. 

Facts of environmental damage are caused by human activities are too many. For example is deforestation which reduces the absorption of carbon by trees increase of carbon emissions by 20% and changes the local micro-climate and hydrological cycle, thus affecting soil fertility. Yet soil contains as many as 24 billion tons of carbon and CO2 emissions of Indonesia's forests contributed 2.6 billion tons per year, although it also contains 19 billion tons of carbon. 

Environmental damage was rise by the boom of industries. Smoke-black smoke poured from the factory chimneys. Chemical wastes discharged into the river just like that, to the sea or into the ground. Number of vehicles which pollute the air more and more crowded urban areas. Electric generating machinery, production machinery and various other machinesto spread the heat into the environment. All of that contributed to environmental damage. The most alarming symptom of the industrial revolution  is the increased temperature of the earth’s surface. Ideally, the average of temperature on Earth is about 16’C. However, centuries ago recorded the temperature of the Earth's atmosphere rose 0.6 'C. It is estimated that this phenomenon is not immediately anticipated, the earth will experience a more serious increase, of 0.8'C - 3'C.

There is should a serious efforts to repair environmental damage and cultivate love of the environment from all sides. Making the world of education as a medium to spread the love environment "virus" is a very good idea. Because in this world (world of education), there are millions of Indonesian children who study and will become major people in the various fields in the future. Because the factors of the decision makers for environmental harm is also noteworthy. 

Actual legislation on environmental issues has been widely made and approved only the 'mafia environment' is also still much to act on. For example is UU No. 32 Tahun 2009 about the protection and environmental management. The perpetrators who violate provisions of the law, the shrimp will get the punishment that has been listed there. Other legislation on the environment is Keputusan Bapedal Nomor 08 Tahun 2000 about regarding public involvement and information disclosure process of the Environmental Impact Assessment (EIA). Expected with the presence of this rule, will make any company that will open mining area or forest management can open and involve all parties, especially the community and environmentalists. Policy makers and providers of licensing is also expected to "clean" from all forms of black cases, the expense of the environment for the sake of material gains alone.

Planting trees is the easiest solution which can be done at this time. Forest, an ecosystem which is mostly composed of trees and as the lungs of the world, now is widely used by humans as an economic resource, ignoring the ecological side. Hence the need for reforestation efforts towards the forests bare. Movement to plant a thousand trees should not just slogans issued only to fly. Planting one tree in every yard of the house is also an alternative solution which can be done. 

Various studies have shown one acre of Green Open Space (Ruang Terbuka Hijau) is filled with large trees produce 0.6 tons of O2 for 1.500 inhabitants/day, absorb 2,5 tons CO2/year (6 kg CO2/stem/year), saving 900 m3 of ground water/year, transferring water 4000 liters/day, lowering the temperature 5°C-8°C,  reduce noise 25-80% and reduce 75-80% wind power. Each car is issued gas emissions can be absorbed by four mature trees (height 10m to the top, stem diameter over 10 cm, canopy width, thick-leaved).

The impact of environmental damage caused by human has triggered the Global Warming. Forest management is at fault and cause the tropical forests were destroyed and did not provide significant benefits both for the government as well as for residents in the vicinity. The entrepreneurs who make profits are arbitrarily destroyed the forest became a place to store water and produce oxygen for living organisms and the living flora and fauna. Mismanagement led to catastrophic flooding and other environmental impacts, the people who are poor and remain poor even deeper into poverty because of its forests have been destroyed. Increase in the global temperature can not be prevented anymore and that climate change may already be happening now. Besides the main cause is the presence of excessive consumption. Not by 80% of poor in 2 / 3 parts of the world, but by 20% of the population that consumes 86% richer than all the world's resources. Kerosene into gas can also be taken as an example that the government's unpreparedness in the infrastructure as well as socialization, causing many villagers use firewood again by reaching the forest, because they are difficult to obtain cooking gas and kerosene, and gas prices continue to soar. Election Campaign can cause environmental damage too, because the election could be a contributor of funds contributed by the employers of illegal logging as a money laundering efforts.

Until this happens when do environmental damage? Maybe when all the resources which exist in the environment have been exhausted, the new man will clean up to repair the damage that has already occurred.[]

References:

Afandi Kusuma. 2009. Lingkungan Hidup, Kerusakan Lingkungan, Pengertian Kerusakan Lingkungan dan Pelestarian.
http://afand.abatasa.com
Accessed on September, 21th 2011

Rizki. 2008. Manusia Merusak Bumi.
http://rizkibeo.wordpress.com
Accessed on September, 21th 2011

Muhammad Fadly Fadh. 2011. Selamatkan Bumi Kita.
http://www.facebook.com/pages/selamatkan-bumi-kita
Accessed on September, 21th 2011

[Fiksi] Alat Anti Malas Lang Ling Lung

Lang Ling Lung baru saja membuat penemuan baru yaitu sebuah alat anti malas. Paman Gober yang mendengar kabar tersebut langsung ke rumah Lang Ling untuk membelinya. 

“Lang Ling Lung, katanya kamu baru saja menemukan alat anti malas. Aku ingin membelinya, berapa harganya?” tanya Paman Gober tanpa basa-basi.

“Benar, Paman. Sebentar, alat ini masih dalam proses finishing setelah uji coba terakhir kemarin. Besok mungkin sudah bisa dipasang di rumah Paman. Harganya 1500 Dolar Bebek,” jawab Lang Ling Lung panjang lebar.

“Wah, mahal sekali. Tapi, baiklah. Ini uangnya,” kata Paman Gober setelah mengambil segepok uang dari sakunya. “Oya, besok pasang alatnya di gudang uangku saja tidak di rumah.”

“Siap Paman!” kata Lang Ling Lung sambil sibuk memperbaiki beberapa bagian dari sebuah alat.

“Cara kerja alatnya bagaimana?” tanya Paman Gober sambil mendekat ke arah Lang Ling Lung.

“Konsep alatnya menggunakan pemindaian telapak tangan. Kedua tangan harus diletakkan di atas layar ini,” jelas Lang Ling Ling sambil menunjuk bagian yang dimaksud. “Selama 1 menit, alat akan mengirim sinyal untuk menstimulasi telapak tangan agar selalu bergerak. Hal inilah yang akan merangsang semangat rajin kepada orang yang bersangkutan.”

“Bagus. Alat ini pasti akan sangat cocok dengan Donal,” kata Paman Gober puas.

Donal Bebek memang bekerja di gudang uang milik Paman Gober. Tapi sifat malasnya yang keterlaluan sering membuat kesal Paman Gober. Dengan adanya alat anti malas dari Lang Ling Ling ini, Paman Gober berharap  Donal bisa bekerja lebih rajin.
**

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali alat anti malas sudah dipasang Lang Ling Lung di dekat pintu masuk gudang uang sesuai perintah Paman Gober. Ketika Donal datang, Paman Gober menyuruhnya untuk memindai kedua telapak tangannya.

“Anggap saja presensi masuk kantor,” kata Paman Gober pada Donal sambil terkekeh. Ia memang sengaja tidak memberi tahu Donal jika itu adalah sebuah alat anti malas.

Donal mengangguk saja dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas layar alat tersebut. Ajaib, setelah itu Donal menjadi lebih rajin. Berkas-berkas keuangan Paman Gober menjadi lebih rapi, ruangan pun lebih bersih. Paman Gober yang seharian itu sengaja berada di gudang uang untuk melihat hasil kerja alat anti malas, menjadi puas.

“Lang Ling Lung memang hebat,” gumamnya.

Hari-hari berikutnya keadaan tersebut terus berulang. Paman Gober pun merasa tenang mempercayakan gudang uang kepada Donal.
**

Dua minggu kemudian, Paman Gober mendapat telepon dari salah seorang nasabah bahwa penjaga gudang uangnya alias Donal kedapatan sedang tidur di jam kerja. Paman Gober berang lalu langsung menuju gudang uangnya.
Sesampainya di sana, terlihat beberapa nasabahnya sedang mengantri dan Donal sedang asyik tidur di meja kerjanya.

“Donal, bangun!” teriak Paman Gober di dekat telinga Donal.

Donal segera tersadar dari tidurnya dan terkejut mendapati Paman Gober yang sudah ada di dekatnya. Belum sempat ia berkata satu patah kata pun, Paman Gober sudah memerintahkannya untuk melayani para nasabah yang sedang mengantri.

Satu jam kemudian, pekerjaan Donal melayani nasabah selesai. Paman Gober menunggunya untuk menuntut penjelasan mengapa ia bisa teledor seperti tadi.

“Dua minggu terakhir aku capek sekali,” keluh Donal. “Selalu ada pekerjaan di gudang uang ini. Tidak ada habis-habisnya.”

“Kamu kan bisa mengerjakannya besok hari,” kata Paman Gober melunak setelah mendengar penjelasan Donal.

“Tapi rasanya tubuhku selalu ingin menyelesaikan seluruh pekerjaan saat itu juga,” kata Donal. “Bahkan rasanya aku tak ingin istirahat.”

Itu pasti karena efek alat anti malas Lang Ling Lung, Paman Gober langsung sadar. “Hari ini kamu memindai tangan ke alat di depan tidak?” tanya Paman Gober pada keponakannya tersebut.

Donal menggeleng. “Aku tidak pulang semalaman karena harus menghitung uang masuk kemarin yang banyak sekali jumlahnya. Karena aku tidak lewat pintu depan, jadi aku malas memindai tangan,” ucapnya jujur.

Oh, jadi karena itu Donal ketiduran hari ini pikir Paman Gober. Ia lalu berkata, “Di sisa hari ini kamu boleh libur. Pulanglah sana!”

“Benar, Paman?” tanya Donal tak percaya.

Paman Gober mengangguk. Ia berpikir keras sambil mengamati Donal yang berjalan keluar dari pintu gudang uang. Ia lalu memutuskan untuk ke rumah Lang Ling Lung.

“Ada apa, Paman?” tanya Lang Ling Lung yang sedang berjongkok di antara alat-alat yang bentuknya tidak dimengerti oleh Paman Gober.

Paman Gober lalu menceritakan kasus Donal. Lang Ling Lung segera duduk di kursi tak jauh dari Paman Gober. Ia berpikir sejenak.

“Alat tetaplah sebuah alat,” katanya sambil meneguk air putih. “Otak manusia sebenarnya jauh lebih canggih daripada alat apa pun.”

“Maksudnya?” tanya Paman Gober tertarik.

“Bagaimanapun, seandainya Donal menggunakan otaknya untuk stimulasi menghilangkan rasa malas pasti lebih bagus karena masih ada kendali terhadap tubuh.” Lang Ling Lung memberi jeda pada penjelasannya agar Paman Gober bisa pelan-pelan memahami.

“Lanjutkan,” pinta Paman Gober.

“Sedangkan yang terjadi adalah sikap rajin pada Donal dua minggu terakhir ini distimulasi oleh alat yang tidak bisa dikontrol kuantitasnya. Ia hanya bisa menerjemahkan perintah ‘jangan malas’ dengan aksi ‘terus bekerja’ tanpa merasa perlu istirahat. Kasihan juga sebenarnya Donal.” Lang Ling Lung menghela napas menyadari kekurangan penemuannya.

“Jadi, bagaimana solusi untuk kasus ini?” Paman Gober yang mulai paham ingin semuanya dapat berjalan dengan baik.

“Sebaiknya Paman secara personal memberi pengertian kepada Donal tentang pentingnya mengelola rasa malas,” saran Lang Ling Lung.

“Baiklah, mungkin agak berat tapi setidaknya efek samping seperti tadi tidak terjadi lagi. Lalu, bagaimana dengan alat anti malasnya?” tanya Paman Gober.

“Gunakan saja jika Donal sudah sangat keterlaluan malasnya,” kata Lang Ling Lung sambil terkekeh.

“Tentu saja,” dengus Paman Gober. “Aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk membelinya.”[] 

Wednesday, November 14, 2018

[Fiksi] Catatan Kecil Mey


Seminggu sudah berlalu pasca hari naas tersebut. Ya, aku menyebutnya sebagai hari naas. Karena hasil pengumuman yang di luar ekspekstasiku, aku merasa sial. Apakah aku sudah berhasil moving on seperti yang disarankan Adit? Entahlah, sepertinya belum sepenuhnya.

Aku sedang berada di perjalanan menuju kantor. Ya, kantor lama yang sebenarnya sudah ingin kutinggalkan. Tidak ada yang salah di sana, pekerjaannya sesuai latar belakang pendidikanku, rekan-rekan kerja menyenangkan, serta gaji yang lumayan. Hanya saja aku bosan.

Seperti yang pernah Adit bilang, sepertinya aku butuh tantangan agar merasa bersemangat. Aneh ya, tapi itu yang aku rasakan. Sayup-sayup terdengar lagu Adera dari earphone di telingaku, liriknya kok ngena banget ya di aku.

[Fiksi] Date Chronicle

"Masih marah?" selidik Ryan ke wajah istrinya.

Dwita diam saja. Tentu saja ia masih kesal. Kejadian tadi masih membekas di ingatannya.

"Aku kan sudah minta maaf, please berhenti marahnya." Ryan menggenggam tangan Dwita di sampingnya.

Meski tak menolak genggaman Ryan, Dwita masih bergeming. Ia benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa Ryan merusak acara dating mereka hanya karena menonton live pertandingan sepak bola.

gogirlmagz.com
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates