Sunday, October 14, 2018

Hiburan Ramah di Luar Rumah pada Malam Hari

Di suatu malam Minggu, aku dan suami kebingungan mau cari hiburan ke mana. Really? Ya, kadang perasaan ingin menghibur diri itu ada. Menghibur diri di sini maksudnya mencari hiburan di luar rumah pada saat malam hari (terutama saat weekend, karena kami sama-sama pekerja). Masalahnya adalah, di kota kecilku ini tak ada hiburan yang cocok dengan seleraku.

Kenapa aku mesti menulis kata ramah di sini. Ya karena supaya jangan ada yang mengartikan hiburan ini hiburan yang mengarah ke maksiat, sih. Maksudku, jenis hiburan yang positif terutama untuk wanita. Jenis hiburan ini berfungsi mengembalikan semangat orang-orang yang capek dan jenuh dengan rutinitas.

Di kotaku, Kota Barabai sudah mulai menjamur beberapa kafe dan rumah makan yang ramah anak muda. Namun, karena aku dan suami sudah agak makan di luar jadi rasanya biasa saja. Itulah hiburan paling affordable dan tersedia di sini. Lagipula, kafe juga tidak sepenuhnya cocok dengan gaya kami. Kami ke tempat makan biasanya karena pengen nyari makan dan tahu sendiri lah ya makanan di kafe sepertinya didesain enggak untuk mengenyangkan perut. 
Jadi, deretan kafe sudah dicoret dari daftar tempat tujuan kami mencari hiburan di malam hari. Mungkin lain cerita untuk para pasangan belum halal alias pacaran, mereka masih suka sekali nongkrong menghabiskan waktu di kafe. Bagi yang sudah menikah, nongkrong di kafe rasanya bakal kehabisan gaya karena kalau mau ngobrol panjang lebar ya sudah bisa di rumah. 

Sebenarnya, tempat yang paling oke buat nongkrong malam dan menikmati alam adalah lapangan kota. Namun, di Barabai tempat terbuka seperti Lapangan Dwi Warna bukan menjadi destinasi utama warga. Kalau melihat lapangan Murjani atau alun-alun kidul di Jogja, Dwi Warna tentu kebanting sekali. Ada sih deretan penjual makanan di salah satu tepi lapangan tapi sedikit dan pilihan makanannya terbatas. Mungkin faktor karena sudah bosan juga kali ya, jadi mencari hiburan ke sana bukan pilihan yang oke lagi buatku. 

Lapangan Dwi Wrnanya sendiri menurutku cukup sepi dari kunjungan warga kota di malam hari. Terkadang kulihat hanya ada beberapa anak-anak geng motor yang nongkrong di sana. Pengunjung berupa keluarga atau geng perempuan muda masih jarang, bahkan di malam Minggu.

Mungkin karena fasilitas hiburan di sana kurang oke, jadi warga juga malas menghabiskan Sabtu malamnya ke sana. Seenggaknya ada sepeda hias yang bisa disewa berkelompok gitu atau sekalian bianglala besar seperti yang ada di alun-alun Kota Batu deh. Kalau seperti itu bisa kupastikan lapangan kota bakal ramai.

Lapangan Dwi Warna hanya ramai ketika pagi Minggu karena diadakan car free day mingguan di sana. Itu pun didominasi oleh para penjual kuliner (dan pembelinya). Aku dan suami jarang ke sana karena waktunya pagi sekali, Minggu pagi itu waktunya gegoleran di kasur. Hoho. Dan juga jaraknya jauh sekali dari rumah, rasanya seperti pergi kerja di hari Minggu. Enggak banget ini. Lagipula, fasilitas olahraganya masih minim. Cuma ada jogging track, belum ada perlatan gym permanen dari besi seperti yang ada di lapangan Murjani. 

Event berupa expo cuma diadakan satu kali setahun dan aku tak pernah merasa Barabai Expo keren. Hanya formalitas dan sekadar pameran pembangunan tanpa sesuatu yang unik. Lagi-lagi lebih didominasi oleh pedagang kuliner, persis seperti pasar malam. Dulu waktu aku masih kecil, ada beberapa wahana permainan setiap expo. Aku paling hobi naik bianglala. Setelah aku dewasa, eh permainan-permainan seru tersebut malah sudah tidak ada lagi.

Event lain berupa konser malah agak sering menurutku. Yang terbaru ini ada Sabian Gambus dan Bondan. Yang lain aku lupa, tapi yang jelas artis nasional semua. Masalahnya aku enggak suka hadir ke konser, berisik. Jadi skip deh mencari hiburan dengan ke konser. Oya, pernah deh sekali aku nonton konsernya Fatin Shidqia Lubis, itu pun karena di acara penutupan Musabaqah Tilawatil Quran se-Kalsel. 

Mau cari hiburan apalagi di Barabai? Jangan tanya mall, tempat karaoke, atau bioskop. Sudah jelas tidak ada. Aku sebenarnya pengen banget ada counter game macam Timezone ada di sini, biar bisa jejingkrakan pump-up atau menggila di bom-bom car tanpa dilihat orang aneh. Di sini yang tersedia cuma permainan buat anak-anak berupa istana balon atau odong-odong. Mau naik odong-odong? Ogah.

Atau nih ya, hiburan impian yang paling ingin kumiliki di kota ini adalah perpustakaan 24 jam atau minimal toko buku yang lengkap deh. Malam mingguan jadi lebih keren kalau bisa berkunjung ke sana. Tunggu aku kaya ya, nanti kubuatin satu buat Barabai. I’m promise.

tribunnews.com

Sebenarnya ada satu pilihan lain lagi buat hiburan di malam hari yaitu olahraga indoor. Di kota-kota besar kan lumrah ya nge-gym atau zumba malam-malam. Barabai punya apa? Aku enggak riset beneran kalau tentangini. Setahuku, sudah ada tempat gym dan gedung olahraga untuk main bulutangkis di Barabai. Namun, perlu persiapan khusus sih kalau mau datang ke tempat-tempat tersebut. Pertama, menyiapkan pakaian dan alat olahraganya. Kedua, aku juga harus siap berinteraksi dengan banyak orang baru. Dan itu enggak mudah buat aku karena hitungannya kayak masuk ke komunitas baru. 

Jadi bagaimana, kemana aku harus mencari hiburan malam keluar rumah jika fasilitas yang tersedia di sekitar masih begini-begini saja? Hiburan di rumah sepertinya memang jauh lebih mengasyikkan dengan berkumpul dengan keluarga atau membaca buku–buku koleksi. Namun, ya kadang bosan juga. Makanya kadang aku pengen keluar sesekali.

Ada yang ingin memberiku alternatif hiburan ramah di luar rumah pada malam hari?[]  

Artikel Terkait

11 komentar:

Rhoshandhayani KT said...

Wuah Barabai sepi banget ya mbak?

Aku di Lumajang, Alhamdulillah gak sepi-sepi banget
Ada taman kota alias Alun-Alun Lumajang yang meriah banget
Ya kalau dilihat kayak tempat wisata gitu, jadi rame banget
tapi ya memang alun-alunnya bagus banget sih
Ramah untuk semua umur

Liza Fathia said...

Kalau di di tempatku sekarang, enggak ada hiburan malam. Kafe2 juga sedikit dan menunya kurang menarik. Walhasil, pulang kantor aku langsung plg ke rumah dan ga kekemana2 lagi

hai ulya said...

Kebetulan disini udah banyak kafe dan tempat nongkrong keluarga. Sayangnya aku belum berkeluarga (haha) dan ngga suka keluar malam. Rasanya singkat gitu lho mba kalo malem. Jadi waktunya terbatas. Enakan di rumah. Hehe

Nova Violita said...

Sama di daerahku juga susah untuk cari hiburan..dan tempat wisata jauh banget..paling muter naik motor...ya kalo nggak cuma makan kulineran gitu tapi pilihan juga gak banyak...taman juga gak ada....

Ruli Retno Mawarni said...

Wah kalo ada perpus 24 jam di kotaku di jamin anakku gak pulang2 tuh. Hahahaha tapi asli memang nyenengin ya kalo ada perpus 24 jam

Jiah said...

Aku jarang keluar malam dan di alun2 ya emang gitu2 aja, kurang lebih sama kaya di tempat Mbak Rindang. Bosan kalau nongkrong2 aja

Dian Farida said...

Hihi aku dulu pas kerja mah ga sempat nyari hiburan malam. Sampai rumah udah tepar, lalu tidur dan tiba-tiba udah pagi lagi Mbak. Jadi aku enggak bisa kasih saran. Pas udah resign, hiburan malam sama suami ya nonton film barengan di laptop, sambil makan mi rebus bareng. Mungkin itu aja sih saranku:)

Tukang Jalan Jajan said...

Dipontianak juga ada kawasan utama yang dijadikan car free day dihari mimggu kak. Aku sih ngga joghing klo kesana. Emang sibuk buay njajan hehehehe

Lendy Kurnia Reny said...

Dulu pas masih single malah gak bisa keluar rumah semaunya...
Jadi juga nyaris jarang menikmati hiburan di luar rumah kecuali sama Ibu atau Babe atau mas.

Sekarang udah nikah, malah bisa keluar malam sama keluarga tentunya.
Sekedar makan sate atau makan jagung bakar pinggir jalan.

Rinda Gusvita said...

Kalau aku sih kurang suka keluar malam. Palingan ke bioskop midnite hihi atau nge-gigs. Kalau lagi g ada gugs yaaa better at home. Anak rumahan wkwkwkw

hellofika said...

dari kecil tinggal di kota besar. jadi bingung mau kasih saran apa.. hihihi

mungkin bercengkrama dgn keluarga aja. atau bikin bbq dinner di teras rumah.. asyik jg kan

Post a Comment

Terimakasih telah berkomentar dengan baik 🙆 Ditunggu kunjungan selanjutnya.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates