Monday, October 29, 2018

Berjuang di Pulau Buru

Bukan, ini sama sekali bukan salah satu cerita tentang travellingku. Lagipula, aku belum pernah ke Pulau Baru. Dengar namanya pun dari buku sejarah sebagai tempat pengasingan Bung Karno. Jadi, postingan ini tentang apa dong?

Dua bulan yang lalu, aku bergabung dengan sebuah program dari komunitas One Day One Post (ODOP). Sesuai nama komunitasnya, programnya mewajibkan seluruh peserta untuk memposting satu tulisan satu hari di blog pribadi.



Aku sendiri ikut karena ingin menantang diri sendiri, bisa atau tidak menulis setiap hari. Aku tahu diriku cukup malas dan butuh dorongan dari luar agar bisa lebih semangat bergerak. Di samping itu, aku punya banyak bahan yang belum sempat ditulis karena kemageranku. Cerita perjalanan, review buku, unek-unek, atau bahkan liputan event.

Berkat ODOP, semua bahan tersebut sebagian besar sudah berwujud menjadi tulisan. Meskipun aku tahu, kualitasnya masih kurang karena ditulis dengan tergesa-gesa. Nanti mungkin akan kulihat balik dan kukoreksi kembali sebelum kubagikan ke khalayak ramai. Iya, selain ke grup ODOP aku agak sungkan membagikan link tulisan-tulisan prematur tersebut sebelum kutinjau ulang.

Namun bagaimanapun, aku harus berterima kasih banyak kepada para penanggung jawab (PJ) ODOP. Berkat mereka, semangat menulisku terlecut. Apalagi bentuk programnya bukan hanya one day one post, tapi juga ada sesi materi yang membuatku tambah ilmu tentang tulisan.

Jadi, hubungannya dengan Pulau Buru apa Rindang? Wait, aku belum cerita sampai ke sana. Di awal pembentukan ODOP Batch 6, (Iya, aku termasuk dalam anggota angkatan ke-6. Berarti sudah ada 5 angkatan di atas aku. Duh, kerennya ODOP bisa kontinu.) jumlah peserta ODOP ada banyak sekali. Aku enggak pegang data ini. Dari sejumlah banyak tersebut menjadi kelompok kecil biar lebih mudah monitoringnya.
Nama-nama kelompok kecilnya diambil dari nama-nama pulau terpencil di Indonesia, yaitu Pulau Buru, Pulau Natuna, Pulau Bungin, dan Pulau Harapan. Nah, aku masuk ke kelompok Pulau Buru. Dari sekitar 30-an orang kalau nggak salah hanya tersisa sekitar belasan yang bertahan. Kok bisa?

Sistem ODOP mengharuskan setiap anggotanya untuk menulis satu hari sekali, jika dalam seminggu dia absen menulis lebih dari dua kali maka dia akan di-kick dari grup ODOP di minggu selanjutnya. Horor nggak tuh. Aku, meski enggak rajin nulis setiap hari, seminggu dapet aja 7 tulisan. Selalu. Well, berkat ODOP akhirnya aku tahu kemampuanku. Bisa kok ternyata nulis sering asal ada trigger yang kuat.

Jadi kita di ODOP ini, khususnya aku dan teman-teman di Pulau Buru itu benar-benar berjuang. Namanya sibuk dan segala macam tetek bengek kehidupan lainnya, pasti semuanya merasakan. Namun, yang berjuang dengan tetap menyisihkan waktu untuk menulis pasti akan bertahan.

Oya, dari semua PJ ODOP, aku punya dua PJ favorit. Kebetulan, keduanya ngemong di Pulau Buru. Yang pertama, tentu saja Kak Sakifah. Kakak yang satu ini syabaar banget. Luar biasa deh. Ditodong pertanyaan atau pernyataan apa pun di Pulau Buru, masih bisa anteng dia. Di grup ODOP sendiri, kayaknya dia lebih dewasa dari yang lain. Sifatnya loh ya, ngobrol enggak lebih dari materi yang sedang dibahas. Enggak sering OOT. Soalnya aku agak males kalau baca grup ribut yang isinya lebih banyak percakapan unfaedah.

Kakak PJ favoritku yang kedua adalah Kak Herrisa. Sama kayak Kak Sakifah, pembawaan Kak Herissa di grup cukup kalem juga. Sesekali dia bantu Kak Sakifah ngerekap postingan mingguan. Hal berkesan yang membuatku notice dengan kakak yang satu ini adalah ketika di suatu malam saat materi, dia menyampaikan tentang penulisan non-fiksi. Aku yang awalnya enggak ngeh tentang pembagian jenis-jenis tulisan, jadi lebih benderang pengetahuannya.

Aku tahu, tulisan nonfiksi itu banyak jenisnya. Tapi aku baru tahu seterang itu ternyata perbedaan antara artikel, opini, dan essai. Setelah dijelaskan kak Herrisa malam itu, aku jadi lebih paham dan mengetahui ternyata unsur pembentuk tulisan nonfiksi bisa sespesifik itu. Mungkin saja aku pun pernah membaca di mana tentang hal tersebut. Namun, berkat penjelasan kak Herrisa ilmunya lebih nyantol di otakku.

Ada beberapa kesan lain yang kurasakan selama mengikuti ODOP, salah satunya adalah ketika karyaku dibedah. Seru banget mendengar pendapat orang lain tentang tulisan kita. Oya, di ODOP setiap minggunya peserta disuruh mengerjakan tantangan. Tantangannya seru-seru. Untungnya bisa memilih, meski tantangan terakhir nggak bisa milih karena harus mengerjakan dua jenis tantangan sekaligus yaitu fiksi dan non-fiksi.

Eh, di akhir program ODOP ini ada penjurusan loh. Aku masih bingung mau pilih yang mana. Ilmu dan praktikku lebih banyak di nonfiksi, tapi aku ingin belajar fiksi juga lebih banyak. Gimana dong? Hoho.

Sekian dulu curhatanku kali ini. Kakak-kakak PJ yang baca surat ini pasti bakal bosan karena enggak ada faedahnya, melulu kesan pribadiku sendiri saja terhadap ODOP, enggak ada untuk pribadi mereka masing-masing. Maaf ya. Tapi beneran, aku berterima kasih banyak untuk kalian. Berkat kalian, aku berhasil membangunkan singa di dalam diriku. Keep writing. []

Artikel Terkait

25 komentar:

Lutfi Yulianto said...

Baru mampir ke blog ini. Keren banget. Pantes lah bertahan sampai akhir program. Semoga lulus ya, Mbak :)

Suden Basayev said...

Horeee bentar lagi kelulusan!

Muhamad Septian Wijaya said...

Semangat dan terua berkarya

HAW said...

Wahh baru sadar namaku disebut 😆 hehe makasih banyak Mbak Rindang, sekarang kita sama-sama jadi murid di kelas fiksi nihh 😆 mari saling menguatkan 💪

Betty Irwanti Joko said...

Salam kenal ya Mbak, aku dari pulau Harapan Jaya heheh

makopako said...

Ngga ada tulisan yg ga punya faedah mb, semuanya pasti ada manfaat. Klo yg baca ga nemu manfaat dari tulisan mba berarti harus baca berkali-kali :D.
Salam kenal dari ex Pulau Natuna xoxo

amieopee said...

tulisan yang menarik, salam kenal dari amieopee dr pulau natuna

Nining Purwanti said...

Alhamdulillah, akhirnya lulus dan sekelas lagi kita ya mbak. Semangat mengasah diri di genre fiksi. 😇

Ivieth Mutia said...

Salam dari pulau bungin

Muthya Sadeea said...

Berasa lucu tiap baca tulisan member odop buat peje. Trmasuk tulisanku sndiri. *Eh🙈

Nurul Hidayah said...

Tulisan yang mengalir apa adanya,setelah aku ikut kepenulisan di ODOP ini, betapa ku sangat menghargai karya teman-teman. Bagiku tetap Indah.

Nurul Hidayah said...

Tulisan yang bagus,mengalir apa adanya semangat dalam kebersamaan ODOP.

Nurul Hidayah said...

Tulisan yang bagus,mengalir apa adanya semangat dalam kebersamaan ODOP.

Lia Anelia said...

Hay teman seperjuangan, ketemun lagi kita di 'kelas fiksi' 😁

Imasniah said...

Yg penting prosesnya. Semoga niat yg baik akan menghasilkan yg baik pula.

Winarto Sabdo said...

Saya meninggalkan jejak di blog ini

Winarto Sabdo said...

Saya meninggalkan hejak di blog ini

Fathin Faridah said...

Kereeeenn yaaa... perjuangannya..

Ariina Zaiida Ilma said...

Keren

Kartika Noorhayati said...

Semangaat Nyaahh

Lovepedia said...

Harus bisa ini, membangunkan singa juga dalam diri biar kyk mb rindang. Hehe

Naila Zulfa said...

halo mbak, sesama kaum buru, heheheh. Mbak Kifa emang kalem banget yak

Anonymous said...

Hi to all, the contents present at this site are actually awesome for people knowledge, well, keep up the nice
work fellows.

Febri Dwi Cahya Gumilar said...

Weit, saya baru tau perihal ODOP itu ._. dulu saya pernah sih, ikutan ODOP gitu, tapi waktu itu one day one page baca Qur'an wkwkw.

Seru juga sih tapi, ada ODOP ini. Bisa bikin terus belajar dan rajin nulis :D

Ruli Retno Mawarni said...

Ikutin passion aja mba. Kalo memang pengen ke fiksi, hajar aja.. Kali dapat pencerahan baru ya kan

Post a Comment

Terimakasih telah berkomentar dengan baik 🙆 Ditunggu kunjungan selanjutnya.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates