Friday, November 30, 2018

[Fiksi] Life is Simple


Aku ingin bercerita tentang Adit. Dia orang simpel yang pernah kukenal. Waktu aku bertanya apa yang paling ia takutkan di hidup ini, ia menjawab ketakutannya adalah kekurangan uang. Terdengar begitu matrelialitis. Waktu kukatakan padanya, ia hanya tertawa.

“Pikirkan saja, semua kekhawatiran di dunia pasti berujung ke sana.” Adit dengan santai mengunyah permen karet saat kami duduk di kursi taman kota.

Aku masih belum terima saat itu, tidak mengangguk tapi malah mengajukan pertanyaan absurd lain.

“Apa yang paling kamu inginkan saat ini?”

Aku tidak menyebut kata ‘mimpi’ di depan Adit, karena konsep mimpi di kepalanya hanyalah sebagai bunga tidur.

Mengoleksi Barang, Apakah Penting?

Setiap orang menurutku pasti punya koleksi barang kesukaan. Entah itu mainan, pajangan, atau bahkan barang pokok tapi dalam jumlah besar. Pada saat kapan suatu barang bisa disebut koleksi? Menurutku adalah ketika barang tersebut tidak dibutuhkan tapi kita banyak memilikinya. Baju, misalnya, meskipun banyak tapi karena kita membutuhkannya jadi  belum bisa disebut koleksi. Lain halnya jika kita memiliki satu jenis pakaian, misalnya jaket, dalam jumlah banyak padahal hanya dipakai sesekali. Nah, itu menurutku bisa disebut mengoleksi.


Aku pernah menonton acara televisi yang menyiarkan seorang kolektor penghapus pensil. Koleksi penghapus pensilnya sangat banyak dengan bentuk yang lucu-lucu. Ia berburu penghapus sampai keluar negeri. Hal yang membuatku tersenyum adalah ada di antara koleksi penghapus pensilnya yang mengingatkanku pada masa kanak-kanak. Penghapus tersebut berbentuk kotak dan ada huruf tertentu di atasnya disertai dengan gambar yang diawali oleh huruf tersebut dalam bahasa Inggris. Karena langkanya orang yang mengoleksi penghapus pensil di seluruh dunia, maka si kolektor bingung menamai dirinya apa ketika si pembawa acara bertanya apa sebutan untuk kolektor penghapus. Ia kemudian berpikir sebentar dan menjawab Eraserian.

Thursday, November 29, 2018

Lima Rekomendasi Buku Khusus untuk Cewek

Dunia perbukuan semakin tahun semakin semarak.  Berbagai tema muncul dalam sebuah bentuk buku. Sebagai penikmat buku non-fiksi, aku sering membeli dan membaca buku bertema khusus perempuan. Di antara buku-buku tersebut ada 5 buku yang kurekomendasikan bagi para cewek yang juga hobi membaca.


Womenpreneur Checklist
Buku yang ditulis oleh Dian Akbas ini memuat lika-liku persiapan memulai bisnis bagi para perempuan. Mulai dari memilih jenis bisnis apa saja yang cocok hingga mengelola bisnis yang sudah berjalan. Semuanya dipaparkan dalam bentuk checklist yang memudahkan para pembaca perempuan menganalisa hal-hal apa saja yang diperlukan untuk memulai atau mengelola sebuah bisnis.

Wednesday, November 28, 2018

[Fiksi] Melarikan Diri

Kita hanyalah dua orang asing.
Bertemu ketika kereta akan berangkat.
Kita bersepakat.
Melarikan diri ke ceruk gua.
Mendaki bukit, mengakrabkan diri dengan pohon-pohon.
Ke kaki langit.
Berenang di antara gugusan awan.
Berselancar dari puncak samudera.

Kita yang sama-sama penat,
Terkapar bahagia di bebatuan cadas.
Tidak ada ruang berpendingin.
Tapi angin laut menari bersama senja.
Tak ada gedung-gedung.
Dinding batu melindungi kita dari deburan ombak.

Cerita tentang hiruk pikuk kota.
Deru debu dan sedu kelu,
Menjadi napas kita di sana.
Hari ini kita banjir oksigen.
Beramai-ramai masuk paru-paru.

Kita hanyalah dua orang asing.
Bertemu di pelarian mencari merdeka.
Bertukar kisah, menyisiri makna.
Bisakah kita hidup begini selamanya?

Berlari dari satu trotoar ke trotoar lain.
Bersenandung di rapat-rapat.
Berhujan rutinitas.
Demam informasi dan riuh rendah kabar berita.
Setiap hari, aku bermimpi berlari ke matahari.
Bernyanyi di ujung pelangi.

Di tempat asing, aku bertemu denganmu.
Menggenggam jiwa yang sama.
Bisakah kita bertukar nama.
Untuk sekadar memanggil ketika lelah kembali meraja.
Lalu kembali bermufakat.
Melarikan diri.

#prosaliris

My Favorite Bloggers

Sebagai bloger, aku tentu mengenal banyak nama bloger Indonesia lainnya. Di antara mereka ada yang kukenal dekat, ada pula yang hanya kenal lewat blogwalking. Ada yang pernah ketemu langsung, tapi jauh lebih banyak yang belum pernah kopdar. Maklum, aku bloger pelosok. Tidak banyak bloger yang bisa kutemui secara offline. Namun ajaibnya dunia bloger yang memang berbasis di dunia maya membuat jarak seolah terpangkas. Kita bisa jadi merasa dekat karena sering blogwalking ke rumah-rumah maya teman bloger lain.


Nah, selama berinteraksi dengan teman-teman bloger ini aku menemukan banyak inspirasi dari mereka. Inspirasi dari mereka bermacam-macam, mulai dari isi blog mereka yang rapi hingga bahasan blog yang ciamik. Ada banyak bloger sebenarnya yang kusuka, tapi tentu saja kolom postingan blogku jadi terlalu panjang jika aku memasukkan semuanya. Setelah menimbang-nimbang, aku memutuskan untuk memasukkan lima nama bloger berikut sebagai bloger favoritku.

Tuesday, November 27, 2018

Lima Barang yang Selalu Ada di Tasku

Sebagai perempuan yang sering bepergian, aku punya kebiasaan memasukkan barang-barang penting ke dalam tas. Sehingga ketika harus bepergian kemana pun, aku tetap bisa tenang karena membawa barang-barang tersebut. Selain itu jika terjadi hal-hal tidak terduga, aku masih bisa survive. Apa sajakah isi tasku tersebut? Intip, yuk!



Dompet
Seperti sebagian besar orang, dompet bagiku biasanya tidak terpisahkan dari tas. Di dalam dompet ada uang, kartu identitas, dan kartu ATM. Ketiganya tentu sangat bermanfaat dibawa kemana saja.

Monday, November 26, 2018

Lima Warung Makan Favorit di Kota Barabai

Siapa yang suka kulineran? Aku enggak angkat tangan deh karena memang kurang suka. Makan bagiku hanya sebagai kebutuhan, tidak lebih. Namun karena aku jarang punya waktu (dan malas) untuk memasak, aku jadi cukup sering juga makan di luar. Di kota Barabai yang kecil ini, tidak banyak pilihan warung makan dan menu yang menarik. Tapi setidaknya aku punya rekomendasi lima warung makan yang sering kudatangi saat waktu makan tiba.


Warung Makan Sabilal
Terletak di jalan utama Kota Barabai yaitu jalan A. Yani, warung makan ini berlokasi di sebuah ruko tingkat dua. Menu andalan di Warung Makan Sabilal adalah ayam penyet. Jangan khawatir orang yang anti-pedas sepertiku juga masih bisa makan di sini. Aku biasanya pesan ayamnya tanpa sambal. Oya, warung ini buka dari siang hingga malam hari. 

Warung Makan Mie Taslim
Warung ini terletak di pusat Kota Barabai yaitu di sekitar Pasar Murakata, dekat dengan jembatan Masjid Sulaha. Menu di warung ini ada dua yaitu mie goreng dan mie kuah. Tambahan lainnya ada sate, sedangkan air minumnya hanya ada teh hangat. Warung ini hanya buka pada malam hari sejak jam 9 hingga tengah malam. Menu favoritku di sini adalah mie goreng tambah telur rebus. Rasanya enak sekali.

Warung Makan Kremes 99
Lokasinya dekat sekali dengan Masjid Agung Barabai. Menu favoritku di sini adalah ayam asam manis, capcay, dan fuyunghai. Menu lainnya didominasi oleh ayam dan ikan goreng yang ditambah kremes. Warung makan ini buka sejak sore hingga malam.

Warung Makan Solo Balapan
Warung makan ini berlokasi di jalan Kamasan. Sejak aku SMA dulu, warung ini sudah eksis. Menunya hingga kini tetap tidak berganti, yaitu mie ayam, mie goreng, nasi goreng, dan bakso. Menu favoritku di sini adalah mie goreng. Porsinya banyak banget, aku biasanya hanya memesan setengah porsi. Oya, warung makan ini buka sejak menjelang waktu makan siang hingga malam hari.

Warung Makan Kahuripan
Warung makan ini terletak di depan Kampus STAI Barabai. Aku baru beberapa kali ke sana, tapi sudah suka. Pilihan menunya beragam, mulai dari rawon hingga nasi campur. Menu favoritku adalah mie goreng plus hati. Porsinya untuk perutku juga cukup banyak. Aku belum terlalu yakin tentang waktu bukanya,apakah pagi dan malam hari juga buka. Soalnya aku hanya pernah ke sana saat makan siang.

Nah, itulah lima warung makan favoritku di Kota Barabai. Mungkin teman-teman pejalan yang ingin kulineran di Barabai bisa menjajal lidah di lima tempat tersebut. Selamat berburu kuliner![]

Sunday, November 25, 2018

Lima Fakta Tentangku yang Tidak Perlu Kamu Tahu

Well, challenge BPN hari ke-6 ini cukup menantang. Bagi seorang introvert sepertiku, membuka fakta tentang diri sendiri adalah hal yang cukup sulit. Aku membutuhkan waktu lama untuk memilah, fakta apa saja yang harus dibagikan dan sebenarnya tidak perlu diketahui oleh banyak orang.



Setelah berpikir cukup lama, aku memutuskan untuk berbagi lima fakta berikut tentangku. Tidak harus kamu tahu, sih sebenarnya. Tapi jika kamu dekat denganku, kamu pasti notice beberapa fakta ini.

Suka Tidur
Aku tipe orang yang menikmati tidur. Mau malamnya tidur cepat atau begadang, paginya aku tetap bangun dengan ogah-ogahan. Siang pun, kalau aku punya waktu aku pasti akan menyempatkan tidur lagi. 

Tidak Suka Pekerjaan Dapur
Setiap memasuki dapur, aku merasa badmood. Itu sangat tidak sehat bagi mentalku. Entah karena aku hanya malas atau memang setting personal diriku yang anti-dapur, tapi itu cukup membuatku terganggu. Cewek mana coba yang membenci kegiatan didapur? Nope.

Tidak Suka Makanan Pedas
Rasa pedas menurutku hanya akan menghilangkan rasa lain dalam suatu makanan. Lidahku jadi hanya fokus merasakan pedas. Rasa yang kusukai adalah manis dan asam.

Suka Mendengarkan Musik
Semua orang juga mungkin suka mendengarkan musik, tapi aku kayaknya parah. Di setiap kesempatan kalau bisa harus ada musiknya. Bahkan dulu waktu di kos, saat mandi pun aku biasanya menyetel musik. Sekarang, saat bekerja wajib sekali aku mendengarkan musik. Membaca pun, aku masih bisa mendengarkan musik. Apalagi di jalan, wajib banget ada musik.

Suka Membuat To Do List
Setiap hari aku terbiasa membuat to do list agar hari-hariku rapi. Biasanya aku menulisnya di kertas bekas berukuran kecil. Kebiasaan ini sudah kupraktikkan sejak SMP dulu. Rasanya hari-hariku lebih produktif dengan membuat to do list.


Ya, itu tadi lima fakta tentangku yang sebenarnya tidak perlu kamu tahu. Karena tidak ada gunanya juga. Kecuali, kalau kamu mau mentraktirku makan. Pastikan jangan memesan makanan pedas, ya.[]

[Puisi] Menjadi Dewasa

Seorang anak kecil berlari ke sebuah toko mainan
Namun, di dalam ia terkejut
Mobil-mobilan tidak lagi menggiurkan
Bola warna-warni bukan lagi tujuannya datang

Ia takjub mengapa persepsinya berubah
Padahal di rumah ia begitu menginginkannya
Puzzle peristiwa berkilat di kepalanya
Ternyata ia berlari terlalu cepat
Ia sudah dewasa

Yang ia kejar sekarang bukan es krim
Bukan juga balon-balon gas karakter
Matanya sudah terpaku pada nominal angka
Tidak menyisakan tempat untuk sekadar memandang lego

Dalam pelariannya, ia bergumam
Kembalikan aku menjadi anak kecil

[Review Drama Korea] Secretary Kim

Aku baru saja menonton tiga episode drama Korea Secretary Kim. Sejauh ini penilaianku pada dramanya B aja. Aku belum menemukan titik yang membuatku tertarik sekali. Drama ini kutonton karena tertarik dengan review novelnya. Dari review tersebut aku membayangkan bahwa kisah cinta antara Wakil Ketua Lee dan Sekretaris Kim cukup romantis. Tipe-tipe drama yang aku suka.

Namun setelah menonton dramanya, aku menyimpulkan hal berbeda. Dramanya dibuat dengan ada sedikit unsur komedi, ada efek-efek suara lucunya gitu. Dan aku tidak suka. Merusak suasana romantis saja. Tokoh Lee dalam bayanganku adalah seorang cowok cool, tapi di drama ternyata dia sangat konyol meski sok keren. Tapi aku suka dengan yang memerankan Sekretaris Kim, cantik sekali.

Oya, meski dramanya sangat konyol. Menurutku ada beberapa hikmah yang bisa diambil dari drama ini salah satunya adalah kerja kerasnya Sekretaris Kim. Ternyata selama ini ia bekerja keras untuk orang-orang di sekitarnya. Ia memutuskan keluar dari pekerjaannya ketika merasa semuanya sudah aman. Ia ingin mulai mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri.

Totalitasnya dalam bekerja juga patut diacungi jempol. Sebagai sekretaris, ia harus melayani atasannya dengan baik. Jika gaji berupa uang saja mampu membuat seorang sekretaris bersikap loyal terhadap atasannya, maka seharusnya imbalan berupa surga juga dapat membuat seorang istri sangat patuh terhadap suami. Ini pengingat buat diri sendiri, sih. Hehe.

Karena aku masih belum selesai menonton drama ini, maka tak banyak hal yang bisa kukulik. Mungkin nanti setelah aku menamatkannya (kalau sanggup), aku akan segera mengupdate review ini.[]

[Review Novel] Anak Bakumpai Terakhir

Hari ini, Sabtu 24 November 2018 kuhabiskan di rumah saja. Musim hujan membuat semangatku keluar rumah luntur bersama derasnya air dari langit yang bisa turun berkali-kali dalam sehari. Dismenorhae juga memenjaraku di kamar, tak mengizinkanku untuk merasa nyaman di tempat  lain selain di tempat tidur. Aku meringkuk, membaca buku.

Buku yang kupilih hari ini adalah sebuah novel yang kubeli setahun lalu. Baru kubuka dari plastik pembungkusnya dan buru-buru kutinggalkan catatan kepemilikan di halaman pertama. Anak Bakumpai Terakhir judul novelnya. Aku merasa tidak asing dengan kata Bakumpai, nama sebuah suku di Kalimantan. Hal tersebut pulalah yang membuatku dulu memutuskan untuk membelinya. Sayang, aku tidak menemukan biodata penulisnya di dalam novel ini. Rendah hati sekali. Seperti biasa, aku penasaran dengan penulis yang menulis tema-tema lokal seperti ini.

Judul: Anak Bakumpai Terakhir
Penulis: Yuni Nurmalia
Penerbit: Salsabila
Tahun terbit: 2013

Novel ini memuat banyak tema dalam satu kehidupan Aruna, sang tokoh utama. Meskipun ada banyak hal, semuanya mengerucut pada satu hal yaitu kerusakan lingkungan yang terjadi di Kalimantan. Hal yang sangat luas, tapi direfleksikan penulis pada kehidupan seorang Aruna. Aku sendiri sangat tertarik dengan kehidupan Aruna, jika ia memang benar-benar ada dalam kehidupan nyata.

Saturday, November 24, 2018

Review Cerpen "Bertemu batu"

Kali ini aku akan me-review sebuah cerpen dari Gde Aryantha Soethama yang berjudul Bertemu Batu. Cerpen ini diterbitkan di Kompas pada tanggal 18 November 2018. Cerpen ini sangat singkat, hanya lima paragraf dan hanya butuh satu kali scroll layar smartphone untuk menamatkannya. 

Entah ini hanya versi singkatnya atau memang cerpennya sesingkat itu. Bukan hanya singkat dari jumlah kata, tapi juga minimalis dari segi isi. Dengan kependekannya tersebut, cerita dalam cerpen ini tidak usai atau sengaja dibuat dengan ending menggantung. Namun, ceritanya sangat menarik dan detail. Simaklah paragraf pembukanya berikut.

“Bulat sudah tekad lelaki itu pergi ke pegunungan, menembus belantara pohon. Dia sudah jenuh bertemu laut, lelah berjemur di pantai. Sudah dua tahun dia menggali pasir, lalu berbaring membenamkan tubuhnya di lubang galian, hanya sebatas leher dan kepala yang tampak.”

Awalnya aku mengira, dari paragraf tersebut cerita ini tentang seseorang yang bekerja keras. Namun, aku salah. Ternyata isi ceritanya jauh lebih menarik daripada perjuangan mencari rezeki. Dari sini kelihatan jika penulis berhasil membuat sebuah cerita tidak tertebak. Aku pribadi menyukai cerita jenis ini.

Karakter tokoh dalam cerita ini begitu kuat karena penulis menuliskan seluruh kegelisahan tokoh tunggal dalam seluruh kalimatnya. Alur maju-mundur yang digunakan cukup tegas meski terkesan sangat kilat. Ini terlihat dari tekad sang tokoh tentang rencananya sambil mengingat apa yang telah terjadi di belakang.

Setting tempat tidak kelihatan secara eksplisit. Hanya disebutkan bahwa sang tokoh bosan di pantai dan ingin pergi ke hutan. Setting waktu juga bukan unsur intrinsik utama dalam cerpen ini sehingga tidak ditulis detail kapan peristiwa dalam cerpen ini terjadi.

Mengenai judul, aku agak lama baru menangkap maksudnya. Jika pun aku sudah berhasil menerjemahkannya sekarang, masih ada peluang itu juga salah. Frasa ‘bertemu batu’ yang digunakan penulis mungkin ditujukan untuk menggambarkan kebuntuan tokoh dalam menghadapi masalahnya. Sang tokoh yang mulai putus asa dan ingin mengubah usahanya dalam mencapai sesuatu menjadi topik utama dalam cerita ini.

Cerpen ini kaya diksi. Aku senang lamat-lamat membacanya, meski isinya singkat tapi pilihan kata-kata yang digunakan penulis membuat cerpen ini terasa padat. Penulis sepertinya memang sudah terbiasa menulis cerpen sejenis. Hal ini terlihat dari adanya tautan di halaman yang sama dan mengarah ke cerpen lain yang ditulis penulis. 

Satu kata untuk merangkum cerpen ini adalah Daebak!

Cara Memanfaatkan Media Sosial ala Rindang Yuliani

Zaman sekarang, media sosial berfungsi sebagai ruang publik. Ia bisa menjadi pasar, tempat orang-orang berjual beli. Ia juga bisa menjadi publice service yang menyediakan layanan bidang tertentu. Bahkan, media sosial bisa menjadi sebuah sekolah tempat guru dan siswa mentransfer dan menerima ilmu. Fungsi mayoritas dari sebuah media sosial adalah sebagai tempat berkumpul sekelompok orang entah untuk saling menyapa, menjalin hubungan baru, atau bahkan berperang kata.

Aku sendiri bukan maniak media sosial. Hidup tanpa menyentuh internet satu minggu pun sepertinya masih bisa. Namun, dengan fungsinya yang beragam di atas tak dapat kupungkiri bahwa media sosial adalah sebuah kebutuhan di zaman now. Mengapa aku bilang begitu, karena setidaknya ada tiga fungsi utama media sosial bagiku. Check this out!

Media Mendapatkan Penghasilan
Iya, media sosial di zaman sekarang sudah bisa berfungsi sebagai media mendapatkan penghasilan. Informasi berbagai jenis pekerjaan tersebar luas di jejaring media sosial. Bahkan, akun media sosial dengan banyak follower bisa dijadikan sumber penghasilan tersendiri. Aku juga memanfaatkan fungsi ini, sebagian besar job blog dan campaign kecil-kecilan kudapatkan via media sosial. 

Friday, November 23, 2018

Tiga Alasan Bergabung dengan Blogger Perempuan Network

Sebuah komunitas bagi seorang bloger adalah sekolah terbaik. Jika blog adalah rumah maya, maka komunitas bloger adalah sebuah sekolah maya di mana seorang bloger dapat belajar banyak hal dan bertemu teman sesama bloger. Ada banyak komunitas bloger di Indonesia, tinggal pilih sesuai domisili, minat, atau bahkan gender.

www.rindangyuliani.com

Salah satu komunitas bloger yang kuikuti adalah Blogger Perempuan Network (BPN). Aku lupa sejak kapan aku bergabung dengan komunitas tempat berkumpulnya seluruh bloger perempuan di Indonesia ini. Namun, aku punya tiga alasan yang masih kuingat jelas ketika memutuskan bergabung dengan BPN. Apa saja? Baca sampai habis ya.

Thursday, November 22, 2018

[Fiksi] Anniversary

“Selamat tiga tahun, Sayang. Kamu bahagia?”

Status tersebut kuketik dengan perasaan campur aduk, berharap tidak banyak orang yang membacanya. Kontakku di media sosial Whatsapp tidak banyak, lagipula ini tengah malam. Aku akan segera menghapusnya ketika bangun pagi nanti.

Aku sudah bersiap untuk mematikan jaringan data smartphone dan beranjak tidur. Namun, dering nada pesan masuk membuatku urung melakukannya. Adit, wah tidak kusangka dia masih bangun. Dia kan bukan tipe nokturnal.

Behind the Scene Nama Blog Rindang Yuliani

Aku mulai ngeblog sudah cukup lama. Kalau dihitung berdasarkan tahun pembuatan blog, tahun ini umur blogku sudah berusia 10 tahun. Yeay! Aku memang membuat blog ini saat kelas dua SMA ketika ada tugas mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Saat itu terbersit sekilas apa nama dan alamat blog yang cocok untuk kugunakan, Bintang Pamungkas.

Itu bukan nama siapa-siapa. Itu hanya nama yang akan diberikan oleh orangtuaku jika bayi mereka laki-laki ketika aku masih dalam kandungan. Berhubung aku perempuan, nama tersebut batal disematkan padaku. Meskipun anehnya, ketika adikku laki-laki lahir tiga tahun kemudian nama tersebut juga tidak diberikan padanya.


Wednesday, November 21, 2018

My Home Towns are …

Sebuah kota adalah rumah bagi banyak orang. Kota dapat menyimpan kenangan personal di setiap sudutnya. Di jalan-jalan lengang, di pusat kota yang ramai, di sudut taman kota, atau bahkan di sebuah warung makan malam. Kota hidup dan menghidupi penduduknya dengan cerita turun-temurun. Generasi berganti, tapi wajah kota akan tetap sama.

Setiap orang pasti memiliki kota-kota favorit dari beberapa kota yang pernah ia tinggali. Aku sendiri punya tiga kota berkesan yang nyaman untuk kutinggali. Meskipun tidak semuanya berarti secara harfiah, ketiga kota tersebut menjadi kampung halaman bagiku pribadi.


Banjarbaru
Salah satu kotamadya di Provinsi Kalimantan Selatan ini merupakan kota kelahiranku. Awal Ramadhan tahun 1912 Hijriah, aku dilahirkan di rumah sakit Kota Banjarbaru. Rumah semasaku bayi hingga usia 5 tahun berada di area hutan pinus. Mungkin itu salah satu mengapa bapa terinspirasi memberi namaku Rindang.

Sekarang, hutan pinus tersebut dijadikan objek wisata oleh pemerintah kota. Beberapa waktu yang lalu aku berkunjung ke sana, menyusuri tepi perigi kenangan. Berayun di hammock dan pikiranku melayang ke masa kecil yang bahagia. Sangat bahagia.

Setiap pagi, ketika aku sudah memasuki usia sekolah, aku akan dibonceng bersepeda oleh mama. Mama mengayuh sekitar dua kilometer dari rumah hingga TK. Terkadang, kami mampir sebentar untuk sarapan lontong di sebuah warung kecil sebelah kanan jalan. Aku tidak tahu, apakah saat itu warung makan Sari Alam –warung makan favoritku sekarang, sudah ada atau belum. Ada banyak kenangan lain yang terlintas, hingga akhirnya kami sekeluarga pindah ke kampung halaman orang tuaku.

Waktu berlalu, aku tumbuh dan sudah saatya kuliah. Aku kembali memilih Banjarbaru sebagai kota menimba ilmu. Aroma Banjarbaru terlalu kuat di tubuhku, sehingga aku langsung akrab dengan suasanannya di tahun pertama kuliah. Itu sangat membantu mengusir homesick ala introvert sepertiku. Terlebih, ada banyak pribadi baru yang kukenal dalam rentang lima tahun aku berkuliah. Banjarbaru semakin hangat karenanya.

Yogyakarta
Siapa yang tidak jatuh cinta dengan kota ini? Aku yang bahkan hanya bermukim tidak lebih dari dua bulan di sana, selalu menganggap kota ini hommy. Memanggil untuk pulang. Pulang ke mana, pulang ke siapa. Entah. Yogyakarta seperti membuka tangan lebar-lebar untuk setiap pendatang, terutama pelajar.

Begitulah yang terjadi padaku. Aku ke sana untuk belajar bekerja dari Senin pagi hingga Jumat sore. Malam-malamnya adalah waktu kuliner terbaik dengan menjajal berbagai pilihan menu di angkringan dan makan di atas trotoar. Sabtu Minggu kuhabiskan di Alun-alun Kidul, Parangtritis, Bukit Bintang, Merapi, Benteng Vredeburg, Gembira Loka, hingga Malioboro. Belum lagi tur gratis ketika jam kerja karena ada program di lapangan. I love it!

Salah satu hal yang paling kusukai dari Jogja adalah area kotanya yang kecil. Aku yang pecinta peta ini dipuaskan dengan membaca selembar peta berwarna kuning –yang entah kudapat dari mana- dan menjelajahinya dengan sepeda motor hasil pinjaman. Bahkan mungkin aku lebih hapal jalan-jalan kecil di Jogja daripada jalan tikus di Banjarmasin, ibukota provinsiku sendiri. Terlebih, Ring Road menjagaku agar tak keluar jauh dari kota. Aku juga suka konsep arah mata angin untuk menunjukkan tempat, hal yang tidak bisa kutemukan di Kalimantan.

Rute yang menjadi kenangan terbaik selama di Jogja tentu saja adalah jalur yang kulalui setiap hari kerja dari kos ke kantor. Mulai dari jalan Dr. Soepomo dekat UAD, lalu keluar ke jalan besar. Berhenti sebentar jika sedang sial dihadang oleh lampu merah, lalu belok kiri. Terus saja mengikuti jalan, sedikit berkelok hingga melewati rel kereta api. Lokasi kantor yang berada di jalan Bima Sakti nomor 1 sudah tidak jauh lagi. Ketika bertemu dengan pertigaan, lurus saja maka aku akan langsung masuk ke halaman kantor. Kenangan di kepalaku berputar deras ketika aku menulis ini.

Barabai
Seandainya kota adalah organ tubuh, maka Barabai bagiku adalah jantung. Di sinilah keluarga besarku hidup (dan meninggal). Aku pun sepertinya akan melanjutkan tradisi tersebut, belum ada rencana untuk tinggal di luar Kota Barabai. Meski pikiran liarku sebenarnya menginginkanku pergi merantau ke benua-benua jauh untuk menimba ilmu dan mereguk pengalaman baru.

Aku tinggal di Barabai sejak kelas 1 SD hingga kelas 12 SMA. Pergi sebentar, lalu kembali lagi di tahun 2015 untuk bekerja hingga sekarang. Apa yang paling kuingat dari Barabai? Semuanya. Karena aku masih di sini, maka semuanya masih nyata. Belum menjadi kenangan yang kurindukan. Tempat-tempat yang menjadi sejarah tentu saja adalah ketiga sekolahku dan sebuah perpustakaan kota yang sunyi. Tempat nongkrong? Emm, belum ada yang sreg banget di aku.

Sebagai pribadi yang butuh banyak pengalaman dan hiburan, Barabai sebenarnya kurang cocok untukku. Jalanannya yang sepi, kurangnya area publik, minimnya pengelolaan tempat wisata adalah hal-hal yang mudah kuingat tentang Barabai. Namun, Barabai menghidupiku dengan keluarga yang baik, pertemanan yang harmonis, serta kedamaian yang sunyi.

Ada banyak penduduk kota besar yang sepertinya bersedia menukar setengah harta mereka dengan hal-hal tersebut untuk masa pensiun mereka. Aku sudah memilikinya.[]

Tuesday, November 20, 2018

Mengapa Menulis di Blog?

Sebagai bloger, aku sudah sering ditanya dengan pertanyaan seperti judul di atas. Jawabanku macam-macam, karena ya ternyata aku punya banyak alasan untuk menulis di blog. Sebenarnya, beberapa tahun lalu aku juga pernah menulis dengan tema sejenis. Mari kita lihat, apakah ada perbedaan isi yang signifikan saat kutulis kembali pada akhir tahun 2018.

Mengapa menulis di blog?

Mengapa aku menulis di blog? Setidaknya, tiga alasan utama ini yang membuatku memilih blog sebagai media menulis.

Blogging is Easy
Ya, blog sebagai media menulis di internet termasuk dalam kategori mudah dalam pengoperasionalannya. Setidaknya bagiku yang gaptek ini, blog sangat mudah diakses dan dijalankan. Apalagi blogspot, platform favorit bloger sedunia. Sejak awal diajarin saat mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi di kelas dua SMA, aku langsung ‘ngeh’ dan memutuskan untuk terus mengisinya hingga sekarang. Sifatnya yang online dan langsung publish pun membuatku suka. Jadi, mengapa aku menulis di blog? Karena blog adalah media yang anti ribet. 

Ajang Curhat
Aku tipe pribadi yang introvert, jarang bisa curhat dengan orang lain. Pada suatu masa di fase remajaku, aku mengenal diary sebagai alat menyalurkan hobi menulisku yang notabene berisi curhatan. Sialnya, diaryku sering ke’gap’ sama orang rumah. Jadi malas menulis lagi. Sejak kenal blog, aku lebih enjoy menulis di sana. Tidak satu pun tulisan yang kuposting di blog tersebut kubagikan. Ya karena aku ingin menulis saja. Dibaca orang boleh, asal orang tersebut tidak kenal denganku. Aneh ya. Jadi, kalau dulu aku ditanya mengapa menulis di blog? Aku pasti akan menjawab, agar tidak ada orang terdekat yang tahu bagaimana perasaanku.

Berbagi Pikiran, Perasaan, dan Pengalaman
Semakin ke sini aku merasa menulis di blog tambah menyenangkan. Aku sendiri sudah melepas status sebagai ABG galau kebanyakan curhat. Dewasa ini, aku mulai mengisi blog dengan sesuatu yang lebih bermanfaat untuk orang lain. Aku mulai senang berbagi. Aku membagikan pikiranku tentang sesuatu atau tentang sebuah buku yang baru saja kubaca. Aku juga senang membagikan pengalamanku ketika jalan-jalan. Perasaan? Jangan ditanya, aku sudah mulai terbuka sekarang meskipun within boundaries. Jadi, mengapa aku menulis di blog sekarang? Karena aku ingin orang-orang tahu apa yang aku pikirkan, rasakan, dan alami.

Ya, tiga alasan utama tersebut adalah jawaban dari mengapa aku memilih blog sebagai media menulis. Bagaimana denganmu, Kawan? Sebutkan tiga alasan juga ya.[]

Monday, November 19, 2018

[Fiksi] Kemenangan Pangeran Samudera


Galuh Kalingga duduk dengan gelisah di atas balai bambu di depan rumahnya. Sudah sejak pagi tadi, ia bolak-balik masuk ke dalam rumah hanya untuk melihat ibunya lalu keluar lagi melihat gerombolan orang di kejauhan.

“Bu, apakah ayah baik-baik saja?” tanyanya sekali lagi ketika masuk ke dalam rumah.

“Doakan saja, Nak. Kabarnya hari ini perang dilakukan hanya antara Pangeran Tumenggung dan Pangeran Samudera. Ayahmu di sana hanya untuk menyaksikan,” jawab Astika, ibunya Galuh Kalingga. Ia sedang khusyuk duduk sambil menangkupkan kedua belah tangan di depan dada, berharap agar Dewa menyelamatkan suaminya.

Galuh Kalingga mendengus, ia tidak peduli dengan kedua pangeran yang sedang bertikai tersebut. Ia hanya memikirkan keselamatan ayahnya yang sudah satu minggu tidak pulang dari medan perang.

http://bloggbebass.blogspot.com

Salah seorang tetangganya kemarin pulang tinggal nama. Ia adalah ayah dari 3 anak, paling sulung seusia dengan Galuh Kalingga. Keluarganya sedih sekali, mereka meratap betapa tidak adilnya perang kerajaan karena telah mengorbankan kehidupan rakyat jelata. 

Sunday, November 18, 2018

[Fiksi] Merasa Nyaman

"Mey, kamu pernah jatuh cinta?" Itu pertanyaan yang Adit tanyakan padaku saat kami menunggu sebuah film diputar di bioskop.

Aku mengernyitkan kening, memandang minuman dan popcorn di tangannya. Bisa-bisa ada yang beracun di sana sehingga Adit melayangkan pertanyaan seaneh itu. "Kamu sehat?"

Adit mengangguk, tapi masih gigih bertanya hal yang sama. "Pernah nggak?"

"Pernah lah," jawabku enteng.

"Kapan? Sama siapa?" cecarnya.

Saturday, November 17, 2018

[Fiksi] Alat Anti Malas Lang Ling Lung

Lang Ling Lung baru saja membuat penemuan baru yaitu sebuah alat anti malas. Paman Gober yang mendengar kabar tersebut langsung ke rumah Lang Ling untuk membelinya. 

“Lang Ling Lung, katanya kamu baru saja menemukan alat anti malas. Aku ingin membelinya, berapa harganya?” tanya Paman Gober tanpa basa-basi.

“Benar, Paman. Sebentar, alat ini masih dalam proses finishing setelah uji coba terakhir kemarin. Besok mungkin sudah bisa dipasang di rumah Paman. Harganya 1500 Dolar Bebek,” jawab Lang Ling Lung panjang lebar.

“Wah, mahal sekali. Tapi, baiklah. Ini uangnya,” kata Paman Gober setelah mengambil segepok uang dari sakunya. “Oya, besok pasang alatnya di gudang uangku saja tidak di rumah.”

“Siap Paman!” kata Lang Ling Lung sambil sibuk memperbaiki beberapa bagian dari sebuah alat.

“Cara kerja alatnya bagaimana?” tanya Paman Gober sambil mendekat ke arah Lang Ling Lung.

“Konsep alatnya menggunakan pemindaian telapak tangan. Kedua tangan harus diletakkan di atas layar ini,” jelas Lang Ling Ling sambil menunjuk bagian yang dimaksud. “Selama 1 menit, alat akan mengirim sinyal untuk menstimulasi telapak tangan agar selalu bergerak. Hal inilah yang akan merangsang semangat rajin kepada orang yang bersangkutan.”

Lang Ling Lung dan Paman Gober
(http://www.cbarks.dk/thesciencetalkother.htm)

“Bagus. Alat ini pasti akan sangat cocok dengan Donal,” kata Paman Gober puas.

Donal Bebek memang bekerja di gudang uang milik Paman Gober. Tapi sifat malasnya yang keterlaluan sering membuat kesal Paman Gober. Dengan adanya alat anti malas dari Lang Ling Ling ini, Paman Gober berharap  Donal bisa bekerja lebih rajin.
**

Friday, November 16, 2018

The Effect of Human Activities on Environment

Abstract

[Rindang Yuliani]

Key words: Environmental damage, human activities, forest, industry

Some human activities can cause environmental damage. Mines which do not pay attention to environmental sustainability in the absence of rehabilitation of former mine pit are the biggest cause of environmental damage. Indiscriminate felling of forests, which do not pay attention to the balance of the ecosystem is a trigger for environmental damage. Hunt of wildlife is other human activity which would result in shortage until the extinction of animals. Disposal of inorganic garbage in fault place is a phenomenon can cause environmental damage too because the decay time-consuming hundreds of years.  The last cause of environmemntal damage is a variety of chemical waste which comes out of the industries. All is a time bomb which will gradually destroy the humans. Making the world of education as a medium to spread the love environment "virus" is a very good idea for keeping natural environment. Planting one tree in every yard of the house is also an alternative solution which can be done.

gurugeografi.id

Thursday, November 15, 2018

[Fiksi] Catatan Kecil Mey


Seminggu sudah berlalu pasca hari naas tersebut. Ya, aku menyebutnya sebagai hari naas. Karena hasil pengumuman yang di luar ekspekstasiku, aku merasa sial. Apakah aku sudah berhasil moving on seperti yang disarankan Adit? Entahlah, sepertinya belum sepenuhnya.

Aku sedang berada di perjalanan menuju kantor. Ya, kantor lama yang sebenarnya sudah ingin kutinggalkan. Tidak ada yang salah di sana, pekerjaannya sesuai latar belakang pendidikanku, rekan-rekan kerja menyenangkan, serta gaji yang lumayan. Hanya saja aku bosan.

Seperti yang pernah Adit bilang, sepertinya aku butuh tantangan agar merasa bersemangat. Aneh ya, tapi itu yang aku rasakan. Sayup-sayup terdengar lagu Adera dari earphone di telingaku, liriknya kok ngena banget ya di aku.

Wednesday, November 14, 2018

Teori Evolusi I

Para ilmuwan menggunakan istilah hominid untuk merujuk pada berbagai kelompok manusia yang punah, primata yang berjalan tegak seperti nenek moyang kita atau kerabat mereka. Fosil pertama sisa hominid ditemukan pada tahun 1856 di Lembah gua Neander di Jerman. Setelah banyak perdebatan, diketahui bahwa sisa-sisa tulang dicatat oleh seorang tentara Rusia yang meninggal dalam perang sebelumnya di Perancis. 

Setelah penemuan tulang serupa di lokasi lain di seluruh Eropa, terlihat jelas bahwa bumi telah dihuni pada satu waktu dengan "orang" yang menyerupai manusia namun memiliki perbedaan mencolok. Mereka disebut Neanderthal, sesuai nama situs di mana mereka pertama kali ditemukan. Tengkorak mereka memiliki bentuk yang berbeda dari manusia modern, juga berat, tulang punggung atas mata, dan tulang mereka lebih tebal, dengan indikasi otot terpasang lebih besar. Para Neanderthal digambarkan dalam media massa populer sebagai seseorang yang tampak kasar. Pada kenyataannya, jika Anda melihat salah satu makhluk seperti itu berjalan menyusuri jalan memakai jeans dan T-shirt, mungkin kamu tidak akan berbalik dan memperhatikan. Neanderthal hidup antara 35.000 sampai 135.000 tahun yang lalu. 


wikipedia.com

Tuesday, November 13, 2018

[Fiksi] Date Chronicle

"Masih marah?" selidik Ryan ke wajah istrinya.

Dwita diam saja. Tentu saja ia masih kesal. Kejadian tadi masih membekas di ingatannya.

"Aku kan sudah minta maaf, please berhenti marahnya." Ryan menggenggam tangan Dwita di sampingnya.

Meski tak menolak genggaman Ryan, Dwita masih bergeming. Ia benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa Ryan merusak acara dating mereka hanya karena menonton live pertandingan sepak bola.

gogirlmagz.com

Sunday, November 11, 2018

[Fiksi] Bianglala

Lima tahun yang lalu.

"Kamu kenapa sih, ngotot banget pengen naik bianglala?" Adit menatapku jengkel sambil berpegangan erat pada kedua ujung bangku di kotak yang menyerupai kerangkeng itu.

Aku tersenyum, tahu dia sedang melawan fobia ketinggiannya. "Aku ingin mengenang indahnya masa kecil. Dulu, bersama orang tuaku aku sering naik bianglala."

Thursday, November 8, 2018

[Fiksi] Suatu Sore di Stasiun

"Kubilang kan gak perlu nganter sampai sini." Aku merengut kepada lelaki yang baru duduk di sampingku.

"Ya siapa tahu kamu nggak sanggup jalan sampai naik kereta kan," katanya sambil menyengir.

"Sialan," kataku sambil menonjok bahunya.

"Mau?" tanyanya sambil menyodorkan kacang yang baru saja dibelinya dari pedagang asongan yang baru saja lewat di depan deretan kursi kami.

http://daenggassing.com

Aku menggeleng.

"Kenapa, masih sedih?" ujarnya menyelidik wajahku.

Tuesday, November 6, 2018

[Fiksi] Perempuan di Hari Sabtu


Hari libur bagi sebagian besar orang adalah hal yang menyenangkan. Namun tidak bagi seorang perempuan pekerja yang libur di hari Sabtu dan Minggu. Ia tidak suka di rumah. Ia jauh lebih senang bekerja di luar rumah. Menggeluti passion dan menguatkan eksistensinya.

Pada hari Sabtu, ia menjadi penghuni tunggal di rumahnya sendiri. Suaminya pergi bekerja. Ia berada di rumah untuk menunggu imamnya. Berbeda dengan hari Minggu, ia bisa mengajak suaminya keluar dengan alasan apapun.

Senin hingga Jumat adalah hidupnya. Ia bergelung dengan kesibukan yang mengasyikkan. Sabtu, ia harus sendirian. Mengerjakan pekerjaan rumah yang ia sebisa mungkin ia hindari. 
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates