Berburu Durian di Desa Bi'ih

36 komentar

Bermula dari ramainya pemberitaan di media sosial tentang adanya wisata kebun durian di Kabupaten Banjar ini, suamiku mengajak aku dan keluarga untuk ke sana. Dia memang pecinta durian kelas berat, sehingga semangat banget mau berkunjung ke sana. Berbekal petunjuk dari google map, kami pun menuju lokasi wisata yang dimaksud.

Dari bundaran Banjarbaru ke lokasi tertulis di maps perkiraan waktu tempuh sekitar 35 menit. Faktanya, hampir satu jam perjalanan kami baru sampai di lokasi. Jauh? Banget. Menurutku sih ya, karena belum pernah ke desa ini sebelumnya.



Jalan menuju ke Desa Bi'ih ini kecil banget. Cuma muat satu mobil. Kalau berpapasan ya salah satu mobil mesti ngalah turun ke bahu jalan yang kadang selisih ketinggiannya dengan badan jalan bikin was-was penumpang. Padahal mobil yang datang ke sini banyak banget. Oya, petunjuk google maps kugunakan hanya sampai 15 menit sebelum lokasi karena keterbatasan sinyal dan jalur yang sudah mulai tidak banyak belokan. Selain itu petunjuk ke Desa Biih juga sudah banyak. Gak bakal tersesat. Yang aneh, ada dua pos masuk. Di pos masuk pertama kita bayar, jadi kami mengira sudah dekat. Ndilalah ternyata masih sekitar 15 menit lagi baru sampai. Setelah dekat lokasi, ternyata ada pos lagi. Kayaknya ini yang resmi deh karena ada kertas retribusinya.

Makan durian

Sampai di parkiran, tanahnya becek. Kita mesti jalan kaki 200 meter lagi buat sampai ke kebun duriannya. Ternyata oh ternyata pohon duriannya nggak banyak. Yang banyak malah pohon karet. Yang lebih banyak lagi adalah orang yang berjualan durian. Murah? Relatif sih. Kalau dibandingkan dengan harga durian di Barabai ya tentunya murah di sini. Untuk ukuran yang sama, kalau di Barabai harganya 30rb di sana bisa dapat 20rb dan bahkan bisa ditawar 50rb dapat 3. Seneng banget dong. Apalagi pas makan duriannya ramai-ramai di sana.

Lagi asyik-asyiknya berburu durian ke beberapa lapak penjual, eh ada durian jatuh dari pohonnya. Duh, untung nggak kena orang yang di bawah which is lagi banyak-banyaknya. Paling aman sih duduk-duduk di gazebo dari kayu yang ada di sana, aman karena ada atapnya.

Sepenilaian aku nih ya, lokasi wisata baru ini masih banyak kekurangannya. Padahal yang datang banyak banget. Mungkin karena weekend waktu aku ke sana, jadi ya pengunjung membludak sekali. Berikut daftar minusnya lokasi wisata ini menurutku, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk perbaikan bagi pengelola.

Kebun durian yang berubah menjadi pasar durian

Check this out:
1. Tempatnya becek
2. Pemandangannya biasa saja, I mean pohon duriannya nggak sebanyak ekspekstasiku. Karena aku tinggal di kampung, jadi area kebun durian ini menurutku mirip pekarangan belakang rumah saja yang dijadikan pasar durian.
3. Harga duriannya tidak jauh lebih murah daripada di luar.
4. Fasilitas seperti toilet belum ada.

Untuk mengimbangi review, tentu nggak bagus dong kalau hanya melist kekurangan. Kelebihan tempat wisata ini juga banyak, yaitu:
1. Suasana pedesaannya dapet banget, karena memang jauh masuk ke dalam dari kota. Pun sepertinya berada di atas ketinggian karena saat menuju ke sana, beberapa kali naik tanjakan. Untuk warga kota, rekreasi alam ke sini pasti worth it banget.
2. Bisa pilih durian sepuasnya dengan jenis dan ukuran yang beragam. Pecinta durian sudah pasti wajib datang ke sini.
3. Sudah ada spanduk dan backdrop buat foto-foto. Zaman now gitu lho, bagi para pengunjung muda berfoto di papan nama tempat adalah bukti keeksisannya di dunia maya.

Bagian depan wisata durian

4. Bagi yang muslim lokasinya dekat dengan mushala, jadi nggak khawatir kalau ke sana pas waktu shalat.
5. Ada banyak buah lain juga yang dijual di sana selain durian meski rajanya tetap durian. Buah-buah tersebut antara lain cempedak, rambutan, dan kapul.

Di perjalanan pulang, kami terjebak macet karena banyaknya antrian mobik yang akan masuk ke lokasi wisata, sedangkan kondisi badan jalan sempit sekali. Untunglah para parking man bekerja keras, sehingga setelah setengah jam kami bisa keluar dari zona macet yang sangat panjang. Selama macet, kami dengan serunya menebak-nebak asal para pengunjung ini dari nomor plat kendaraannya. Hasilnya kami menemukan fakta bahwa pengunjung-pengunjung tersebut berasal dari dari Marabahan, Banjarmasin, Hulu Sungai, hingga Kalteng. Jauh-jauh ya.


Ada backdropnya lho

Selama macet itu juga, kami jadi menikmati pemandangan di kanan kiri supaya tidak bosan. Di depan sebuah rumah warga terdapat pohon durian yang berbatang rendah dan buahnya bisa dijangkau, ada banyak orang yang ngantri buat berfoto. Di pekarangan yang lain, terdapat pohon pisang unik karena memiliki tandan buah yang panjang hingga menjulur ke tanah. Jumlah buahnya mungkin mencapai ratusan. Di sini juga banyak orang yang berfoto. See, lagi-lagi eksistensi di dunia maya adalah hal penting bagi sebagian orang.

Pilih terus duriannya, Mas

Nah, jadi apakah kamu ingin menikmati sensasi makan durian langsung di bawah pohonnya? Yuk, datang ke Desa Bi'ih di Kecamatan Karang Intan ini. Jangan lupa, siapkan mental buat menghadapi kemungkinan yang tak terduga. 
Rindang Yuliani
Rindang Yuliani adalah seorang sarjana sains yang sedang menikmati proses sebagai bloger. Rindang juga sedang meladeni obsesinya untuk mendapatkan beasiswa S2 dan menerbitkan buku pertamanya. Wanita kelahiran 6 Maret ini juga selalu berusaha mengakrabi Tuhan melalui hobinya yaitu membaca, menulis, dan jalan-jalan.

Related Posts

36 komentar

  1. Waaaa murah banget itu. Duh jadi pengen durian tp wisatanya cukup jauh ih. Huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayolah Rim, worth it kok kalau sudah sampai ke sana

      Hapus
  2. Wuih, aku belum kesini nih mbak. Pengen banget cuma nggak kesampaian. Katanya puas banget ya makanannya disini? Kemarin pas di Jawa aku belinya 40rb sebiji durian kecil itu buat mengobati hasrat ingin memiliki (apalah ��) balik ke Banua rasanya surgawi banget makan duren. Lebih murah gini. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih murah di sini berarti ya durian daripada di Jawa. Mumpung pulang, puas2in makan durian deh di sini Leha

      Hapus
  3. Ini yang di guntung payung itu bukan sih? Sayangnya aku bukan penggemar durian jadi nggak terlalu kepengen ke tempat ini. hehe

    BalasHapus
  4. Aku baca info awal yg becek dan gak ada toilet uda ilfil. Tapi begitu baca ada cempedak, kapul, ahhhhh.. Langsung pengen kesana..hahaha

    BalasHapus
  5. naaaah ini kemarin ada di televisi infonya kwkwkw. Aku belakangan beli durian yang sudah dalam box. Habisnya sering dapat zonk kalau beli utuh hehehe. Tapi boleh juga nih ke sana

    BalasHapus
  6. Waduh murah banget ya mba, durian ini memang primadona yang selalu ngangenin ya mba, jadi pengen ke sana juga 😚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuklah Ya ke sana buruan, ntar musimnya lewat.

      Hapus
  7. Perihal pengelolaannya masih belum profesional banget ya mbak, masih perlh dibina. Udah berdiri berapa bulan mbak? Mungkin masih newbie juga ya, dan masih baru, jadi masih ala kadarnya

    Soal retribusi yg dua kali, boleh dilaporin mbak, ke pihak yang berwajib. Di kotaku orang2 juga sengaja ngasih retribusi 2 kali. Kan nyebelin. Biasanya yang pertama itu bayar ke kampung, yang keduanya itu yg pengelola wisata

    Duh ya gitu dah mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tempat ini memang ramai setiap tahun saat musim durian. Tapi baru tahun ini dikelola dengan embel2 sebagai tempat wisata.

      Hapus
  8. Ngeri juga ya kalau tiba2 ada durian jatuh pas ada orang lewat. disini durian dikasih tali, jadi ga bakalan jatuh ke tanah kalau udah mateng.

    Semoga ada perbaikan dari pengelola biar pengunjung nyaman dan banyak yang datng. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, mantap itu ada tindakan pencegahan dari pemilik pohon sehingga tidak membahayakan yg sdg berada di bawah pohon.

      Hapus
  9. Waahhh kusuka bangey dureeeen. Harganya miriplah sama di sini untuk ukuran besar. Apalagi kalau nemu yang jatuhan, terus udah dimakan tupai sedikit, itu enak banget. Legit, sedikit pahit dan dagingnya lembut

    BalasHapus
  10. Wuiih durian jatuhan, aku suka, dan anakku yang sulung pun suka banget durian, dulu pas di rumah bapak masih ada pohonnya suka makan durian jatuhan, sayang seiarang pohonnya udah ditebang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Istilahnya durian jatuhan ya? Kalau di tempatku durian jatuan, mungkin sama aja artinya tapi beda pelafalan.

      Hapus
  11. Saat saya masih di kalimantan belum sempat pergi ke daerah ini. Kalau di Bogor ada yang namanya warso farm. Durian memang mengundang selera :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, Mas Adi di Kalimantan bagian mana dulu tinggalnya?

      Hapus
  12. Hmm,,, meski pun masih kurang sana sini, tapi ide dari wisata durian udah mantap koq, kreatif banget.
    layak dijadiin destinasi kalo mampir ke banjar,
    Nunggu durian runtuh itu yang asik.. hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget. Harus banget ke sini kalau ke Banjar.

      Hapus
  13. di sini durian juga mahal...malah beli ke sekitar lokasi lebih mahal.
    apalagi pedagang yg jualan di pinggir jalan. mereka tak mau turun harga
    soalnya mereka tahu pengendara yg lewat rata rata pake mobil yg beli
    klu nyebut kebun durian ingat di kampung halaman
    masa kecil yg indah nunggu durian jatuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di tempat saya waktu anak2 juga suka menunggu durian jatuh, tapi saya tak pernah ikut.

      Hapus
  14. Surga pisan yak buat pecinta durian walau macet atau belum ada toiletnya. Semoga kebunnya juga nggak rusak dari banyaknya pengunjung ya hihihi. Kalau aku sih nggak suka durian langsung aneh aja rasanya, kecuali kalau sudah bentuknya es atau sop gitu meheheh :3

    BalasHapus
  15. Durian memang sepertinya menjadi buah favorit dan memang terasa nikmat jika dimakan bersama-sama. Namun, sayang, melihat durian sendiri aku sempat merasa trauma, karena pernah kesenggol dan terjatuh kakiku di atas durian waktu SD, kayaknya itu pada saat Lebaran di kampung ayahku. Itu sempat membuatku menangis sangat kencang dan aku pun mulai menjauh dengan namanya durian. Sayangnya, "mind control" itu masih berlaku sampai sekarang. Meskipun, saya suka durian yang diolah, seperti dodol durian ataupun es krim durian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, padahal buah durian yang langsung di makan enak lho.

      Hapus
  16. Wisata durian...??? Wowo ini bisa makan puas..ya..
    Kalo lagi pengen mabok durian...pergi kesini he2
    Sensasi makan Deket pohon langsung emang beda sih..dibanding makan di rumah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, memang beda sensasi makan langsung di bawah pohonnya.

      Hapus
  17. Spesifikasinya didurian. Bentar lagi dibuatin tugu durian yang gede sehingga orang langsung tahu ya. Mudah2an sampah buah dan pengunjung dapat dikelola dengan baik sehingga desanya tetap nyaman dan hijau

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, tambah satu masukan lagi nih buat pengelola.

      Hapus
  18. Hihihi.. kayak pekarangan belaknag rumah :D
    Iya tuh harusnya diperbanyak lagi ya pohon duriannya, biar makin bagus pemandangannya. Trus dikasih jalan paving di sebagian kebun, buat jalan para pengunjung, biar alas kaki gak kena becek semua. Hehehe.
    Btw suami saya juga penggemar durian, Mbak. Pasti pengen ke tempat seperti ini andaikan dekat :)

    BalasHapus
  19. Nah, betul itu mbak jalan paving kayaknya yang perlu cepat dibuat.

    BalasHapus

Posting Komentar