Sebagian besar hidup kita sebenarnya terdiri dari hari-hari biasa.
Hari-hari ketika kita bangun pagi, menjalani rutinitas, mengerjakan tugas, bekerja, kuliah, mengurus berbagai keperluan, lalu pulang untuk beristirahat sebelum mengulangi semuanya lagi keesokan hari. Tidak ada peristiwa besar. Tidak ada pencapaian yang spektakuler. Tidak ada momen yang tampak layak untuk dicatat dalam sejarah hidup kita.
Tapi benarkah hari-hari biasa itu benar-benar biasa?
Pertanyaan ini muncul setelah aku dengan rutin selama setahun terakhir ini merefleksikan setiap mingguku. Jika dilihat sekilas, hampir setiap minggu tidak ada perbedaan yang berarti. Aku belajar, mengerjakan tugas, mengikuti kelas, menjaga kesehatan, berolahraga, dan bertemu beberapa teman. Tidak ada yang luar biasa.
Tetapi ketika aku mencoba melihatnya kembali dari kejauhan, ada banyak momen kecil yang justru terasa hangat dan membekas. Momen-momen yang sebelumnya tidak kurencanakan. Momen-momen yang terjadi begitu saja di sela-sela rutinitas.
Pengalaman tersebut mengingatkan saya pada satu kalimat yang aku dengar dari seorang psikolog dalam sebuah acara yang baru-baru ini kuikuti:
Ada hal-hal yang tidak biasa di hari-hari kita yang biasa.
Kalimat itu sederhana, tetapi semakin ke sini, rasanya semakin terasa relevan. Mungkin selama ini bukan hidup kita yang kurang menarik. Mungkin kita hanya terlalu sibuk untuk memperhatikannya.
Savoring
Pemikiran tersebut membawaku pada sebuah konsep dalam psikologi positif yang disebut savoring. Konsep ini diperkenalkan oleh Fred Bryant dan Joseph Veroff melalui buku Savoring: A New Model of Positive Experience.
Menariknya, konsep savoring lahir dari sebuah pertanyaan yang cukup mendasar. Selama bertahun-tahun, psikologi banyak membahas bagaimana manusia menghadapi pengalaman negatif. Ada berbagai teori tentang stres, kecemasan, kehilangan, dan mekanisme untuk mengatasinya. Namun Bryant dan Veroff melihat adanya kekosongan dalam kajian tersebut.
Jika kita memiliki banyak teori tentang cara menghadapi penderitaan, mengapa kita tidak memiliki perhatian yang sama besar terhadap cara menikmati kebahagiaan?
Dari sanalah lahir konsep savoring.
Secara sederhana, savoring dapat dipahami sebagai kemampuan untuk memperhatikan, menghargai, menikmati, dan memperpanjang pengalaman positif yang kita alami. Yang menarik, savoring bukanlah upaya untuk menciptakan kebahagiaan baru. Savoring adalah kemampuan untuk menyadari kebahagiaan yang sebenarnya sudah ada di sekitar kita.
Bryant menjelaskan bahwa savoring dapat terjadi dalam tiga orientasi waktu.
Pertama adalah anticipation, yaitu menikmati sesuatu bahkan sebelum peristiwa tersebut terjadi. Kita mungkin pernah merasakan kegembiraan saat menunggu liburan, menanti pertemuan dengan orang yang kita sayangi, atau mempersiapkan sebuah acara yang sudah lama dinantikan. Dalam situasi seperti itu, kebahagiaan tidak hanya muncul ketika peristiwa berlangsung, tetapi juga selama proses menunggu dan membayangkannya.
Kedua adalah savoring the moment, yaitu menikmati pengalaman ketika pengalaman tersebut sedang berlangsung. Bentuk savoring ini muncul ketika kita benar-benar hadir dalam sebuah momen. Misalnya ketika menikmati percakapan yang hangat, membaca buku yang menarik, berjalan santai di pagi hari, atau sekadar merasakan kenyamanan berada di sebuah tempat yang menyenangkan. Pengalamannya mungkin sederhana, tetapi perhatian yang kita berikan membuat pengalaman tersebut terasa lebih hidup.
Ketiga adalah reminiscing, yaitu menikmati kembali pengalaman yang sudah berlalu. Saat kita mengenang perjalanan yang menyenangkan, melihat foto lama, atau menulis refleksi mingguan, kita sebenarnya sedang menghidupkan kembali emosi positif yang pernah kita rasakan. Dengan kata lain, pengalaman baik tidak selalu berhenti ketika peristiwanya selesai. Ia dapat terus memberi makna ketika kita mengingatnya kembali.
Ketika melihat kembali minggu-minggu yang sudah lewati, aku menyadari bahwa ketiga bentuk savoring tersebut hadir tanpa kusadari.
Ada hal-hal yang kunantikan dan ternyata menyenangkan untuk dipersiapkan. Ada momen-momen sederhana yang ternyata terasa berkesan ketika aku benar-benar hadir menjalaninya. Dan ada pula pengalaman-pengalaman kecil yang baru terasa bermakna ketika aku duduk dan merefleksikannya di akhir minggu.
Di sinilah aku merasa konsep savoring menjadi sangat relevan dengan kehidupan orang dewasa.
Semakin dewasa, hidup kita cenderung semakin jarang diisi oleh peristiwa-peristiwa besar. Kita tidak setiap bulan mengalami wisuda. Kita tidak setiap minggu pergi berlibur. Kita juga tidak setiap hari merayakan pencapaian besar.
Jika kebahagiaan hanya kita letakkan pada momen-momen luar biasa, maka sebagian besar hidup akan terasa biasa saja.
Padahal sebagian besar hidup memang berlangsung dalam keseharian.
Di ruang tunggu.
Di meja kerja.
Di perpustakaan.
Di perjalanan.
Di warung makan.
Di percakapan singkat.
Di sela-sela kesibukan yang sering kita anggap tidak penting.
Mungkin karena itu, salah satu keterampilan hidup yang semakin terasa penting bagiku bukan hanya kemampuan untuk bekerja keras atau mencapai tujuan, tetapi juga kemampuan untuk memperhatikan.
Karena apa yang kita perhatikan akan membentuk bagaimana kita mengalami hidup.
Ketika perhatian kita hanya tertuju pada target berikutnya, kita akan selalu merasa bahwa kebahagiaan berada di masa depan. Sebaliknya, ketika kita belajar memperhatikan apa yang sedang terjadi saat ini, kita mulai menyadari bahwa banyak hal baik sebenarnya sudah hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Mungkin kehidupan yang baik bukanlah kehidupan yang selalu dipenuhi oleh peristiwa besar, melainkan kehidupan yang mampu menemukan makna dalam hal-hal kecil yang sering terlewatkan.
Ada hal-hal tidak biasa di hari-hari yang biasa.
Ada cerita di balik rutinitas.
Ada kehangatan di balik kesibukan.
Ada kebahagiaan di balik peristiwa-peristiwa sederhana yang sering kali luput dari perhatian.
Karena pada akhirnya, hidup tidak hanya terjadi pada hari-hari besar yang kita tunggu. Hidup juga terjadi hari ini: di tengah rutinitas yang tampak biasa, di sela-sela tugas yang harus diselesaikan, dan dalam momen-momen kecil yang mungkin tidak akan pernah menjadi berita besar, tetapi cukup untuk membuat hidup terasa lebih hidup.
Mungkin itulah yang ingin diajarkan oleh savoring kepada kita, bahwa kebahagiaan tidak selalu perlu dicari jauh-jauh. Kadang ia sudah ada di depan mata, menunggu untuk diperhatikan, dinikmati, dan disyukuri. []





Posting Komentar
Posting Komentar