Menikmati Proses. Meladeni Obsesi. Mengakrabi Tuhan.

Jetlag Euforia: Menikmati Masa Transisi Sebelum Kembali Berlari

Posting Komentar

Belakangan ini, aku merasa sedang berada di sebuah fase yang sulit dijelaskan. Bukan sedang liburan. Bukan juga sedang kehilangan arah. Rutinitasku memang belum benar-benar kembali seperti biasanya, tetapi aku juga tidak merasa cemas karenanya. Justru ada perasaan yang cukup menyenangkan. Rasanya seperti baru saja menyelesaikan sesuatu yang cukup besar, lalu diberi kesempatan untuk bernapas sejenak sebelum memulai babak berikutnya.

Aku kemudian mencoba memberi nama untuk fase ini: jetlag euforia.

Tentu saja ini bukan istilah ilmiah. Ini hanya istilah yang muncul begitu saja di kepalaku karena rasanya memang mirip dengan jetlag. Ketika seseorang berpindah zona waktu, tubuhnya membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Ia sudah tiba di tempat tujuan, tetapi ritme biologisnya belum benar-benar mengikuti. Kurang lebih seperti itulah yang kurasakan.

Bukan karena berpindah negara, melainkan karena baru saja menyelesaikan satu fase yang selama beberapa waktu terakhir menguras cukup banyak energi, perhatian, dan ruang di kepala. Sekarang fase itu sudah selesai. Namun ritme hidup yang baru juga belum benar-benar dimulai. Ada ruang kosong yang tiba-tiba terbuka. Tapi aku tidak merasa ingin buru-buru mengisinya.

Kalau beberapa tahun lalu mengalami situasi seperti ini, mungkin aku sudah membuka aplikasi kalender dan mulai menyusun target baru. Mencari kegiatan tambahan. Mengisi setiap celah waktu agar tetap merasa produktif.

Sekarang rasanya berbeda. Aku justru menikmati ruang kosong itu. Kalau ada waktu membaca, ya aku membaca. Kalau ada kesempatan bertemu teman, ya aku bertemu. Kalau tubuh meminta lebih banyak istirahat, ya aku beristirahat.

Bukan karena aku kehilangan ambisi. Justru karena aku tahu, sebentar lagi ritme hidup akan kembali padat. Akan ada tugas baru, tanggung jawab baru, dan berbagai hal yang kembali memenuhi kalenderku. Untuk saat ini, aku hanya ingin menikmati apa yang sedang disuguhkan semesta.

Recovery Experience

Rasa penasaran membawaku mencari tahu apakah pengalaman seperti ini pernah dibahas dalam dunia akademik. Ternyata ada beberapa konsep yang terasa sangat dekat.

Yang pertama adalah recovery experience, sebuah konsep dalam psikologi kerja yang banyak dikembangkan oleh Sabine Sonnentag. Recovery experience menjelaskan bahwa setelah seseorang melewati periode dengan tuntutan yang tinggi, tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk memulihkan sumber daya yang telah banyak digunakan.

Sering kali kita menganggap istirahat sebagai keadaan pasif. Seolah-olah ketika kita tidak sedang menghasilkan sesuatu, berarti kita tidak sedang berkembang.

Padahal penelitian menunjukkan hal yang sebaliknya. Masa pemulihan justru membantu seseorang mengembalikan fokus, energi, kreativitas, hingga kesejahteraan psikologisnya. Istirahat bukan lawan dari produktivitas. Istirahat adalah bagian dari produktivitas itu sendiri.

Mungkin karena itu, kali ini aku tidak lagi merasa bersalah ketika menjalani hari yang lebih ringan. Aku tidak sedang menyia-nyiakan waktu. Aku sedang memulihkan diri agar siap menjalani fase berikutnya.

Liminality

Konsep kedua yang membuatku banyak berpikir adalah liminality. Istilah ini berasal dari antropologi. Arnold van Gennep memperkenalkan gagasan tentang fase-fase transisi dalam kehidupan manusia, kemudian Victor Turner mengembangkannya lebih jauh. Liminality menggambarkan keadaan ketika seseorang sudah meninggalkan fase lama, tetapi belum sepenuhnya memasuki fase yang baru.

Contohnya adalah seseorang yang baru saja lulus kuliah tetapi belum mulai bekerja. Atau seseorang yang baru selesai mengerjakan proyek besar dan belum mendapatkan proyek berikutnya. Di fase ini, ritme yang lama sudah berakhir, sementara ritme yang baru belum terbentuk.

Kalau dipikir-pikir, sebagian besar perubahan besar dalam hidup memang menyisakan ruang seperti ini. Ruang yang sering kali membuat kita gelisah. Karena kita terbiasa mengukur hidup melalui aktivitas, target, dan pencapaian. Ketika semua itu berhenti sementara, kita menjadi bingung harus menjadi siapa. 

Namun semakin kubaca, semakin kusadari bahwa liminality bukanlah ruang kosong yang harus segera dilewati. Justru di sanalah banyak proses penting terjadi. Di masa transisi, kita memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak, merefleksikan perjalanan yang telah dilalui, lalu mempersiapkan diri memasuki babak berikutnya dengan lebih utuh.


Aku jadi teringat bagaimana selama ini aku begitu menyukai hidup yang terstruktur. Aku senang membuat rencana. Aku senang memiliki jadwal. Aku senang mengetahui apa yang harus kulakukan setiap hari. Tetapi sekarang aku juga belajar bahwa hidup tidak hanya terdiri dari target-target yang harus dicapai. Ada jeda yang perlu dinikmati. Ada ruang yang tidak harus segera diisi. Ada masa ketika kita tidak perlu terburu-buru bergerak hanya karena takut dianggap tidak produktif.

Barangkali kita memang tidak diciptakan untuk terus berlari. Tubuh memiliki ritmenya sendiri. Pikiran juga demikian. Dan mungkin, jiwa pun membutuhkan musim-musim tertentu untuk mengendapkan semua yang telah dialami.

Aku tidak tahu berapa lama fase ini akan berlangsung. Mungkin hanya beberapa hari. Mungkin beberapa minggu. Yang jelas, aku tidak ingin melewatinya sambil terus memikirkan apa yang akan datang berikutnya.

Aku ingin hadir sepenuhnya. Menikmati jeda ini sebagaimana adanya. Karena aku percaya, tidak semua pertumbuhan terjadi ketika kita sedang bergerak cepat. Ada pertumbuhan yang justru terjadi ketika kita melambat. Ketika kita memberi ruang bagi tubuh untuk pulih. Memberi ruang bagi pikiran untuk tenang. Dan memberi ruang bagi hati untuk benar-benar menyadari bahwa satu babak telah selesai.

Mungkin itulah yang sedang kurasakan. Jetlag euforia, karena untuk sesaat, hidup memberiku kesempatan menikmati ruang di antara dua babak. Dan aku tahu, ruang itu juga bagian dari perjalanan. []


Referensi

Bryant, F. B., & Veroff, J. (2007). Savoring: A new model of positive experience. Lawrence Erlbaum Associates.

Sonnentag, S., & Fritz, C. (2007). The Recovery Experience Questionnaire: Development and validation of a measure for assessing recuperation and unwinding from work. Journal of Occupational Health Psychology, 12(3), 204–221. https://doi.org/10.1037/1076-8998.12.3.204

Turner, V. (1969). The ritual process: Structure and anti-structure. Aldine Publishing.

van Gennep, A. (1960). The rites of passage (M. B. Vizedom & G. L. Caffee, Trans.). University of Chicago Press. (Original work published 1909)

Rindang Yuliani
Hi, I'm Rindang Yuliani. I'm a writer, a civil servant, and living in Barabai, South Borneo. I love reading and I'm interested in travelling. My first book is Escape, Please!

Related Posts

Posting Komentar