Beberapa waktu lalu, speaking club yang aku ikuti membahas tentang active listening. Awalnya aku mengira materi tersebut akan membahas hal-hal yang sudah sering kudengar sebelumnya seperti menatap lawan bicara, tidak memotong pembicaraan, dan memberikan respons yang sopan. Namun ternyata aku mendapat refleksi yang panjang saat pulang.
Selama ini aku merasa bahwa cara belajarku lebih dekat dengan konsep active learning. Aku terbiasa mencatat, menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah kumiliki, dan berusaha memahami suatu materi secara mendalam. Namun setelah mendengar penjelasan tentang active listening, aku mulai menyadari bahwa sebagian besar proses belajar yang kulakukan selama ini sebenarnya juga ditopang oleh kemampuan mendengarkan secara aktif.
Aku teringat sebuah cerita dari hari pertama kuliah S1. Suatu ketika, seorang teman mengatakan bahwa ia memperhatikanku sejak awal perkuliahan. Alasannya karena aku duduk di barisan depan dan mengangguk-anggukkan kepala ketika dosen menjelaskan materi. Sampai temanku menceritakan hal tersebut, aku tidak pernah sadar kalau aku memiliki kebiasaan tersebut. Aku hanya merasa bahwa mengangguk membantu diriku tetap fokus pada apa yang sedang dijelaskan.
Kini, setelah mengenal konsep active listening, aku mulai memahami bahwa kebiasaan itu mungkin bukan sekadar gerakan refleks. Bisa jadi, itu adalah salah satu caraku untuk tetap hadir sepenuhnya dalam proses belajar.
Hearing vs Listening
Salah satu hal yang menarik dari materi yang kupelajari adalah penjelasan mengenai perbedaan antara hearing dan listening. Dalam kehidupan sehari-hari, keduanya sering dianggap sama, padahal sebenarnya berbeda.
Hearing adalah proses biologis yang pasif. Kita mendengar suara karena telinga kita berfungsi dengan baik. Selama ada suara dan tidak ada gangguan pada sistem pendengaran, proses ini akan terjadi secara otomatis. Sebaliknya, listening adalah keterampilan yang dipelajari dan dilakukan secara sadar. Mendengarkan membutuhkan perhatian, energi, fokus, serta kehadiran mental dalam sebuah percakapan atau situasi belajar (Rost & Wilson, 2013). Dengan kata lain, semua orang bisa mendengar, tetapi tidak semua orang benar-benar mendengarkan.
Perbedaan ini terlihat jelas dalam situasi sehari-hari. Pernahkah kita selesai mengikuti rapat, kuliah, atau diskusi, lalu menyadari bahwa kita tidak benar-benar mengingat apa yang baru saja dibahas? Secara fisik kita hadir. Telinga kita mendengar setiap kata yang diucapkan. Namun perhatian kita mungkin sedang melayang ke hal lain. Pada saat itulah yang terjadi adalah hearing, bukan listening.
Carl Rogers dan Richard Farson (1957), yang memperkenalkan konsep active listening, menjelaskan bahwa mendengarkan secara aktif berarti berusaha memahami makna utuh dari pesan yang disampaikan seseorang, termasuk perasaan yang menyertainya. Mendengarkan bukan hanya menangkap kata-kata, tetapi juga mencoba memahami dunia dari sudut pandang orang yang sedang berbicara.
Active listening setidaknya memiliki tiga pilar utama: non-verbal presence, reflective listening, dan inquiry (Rogers & Farson, 1957; Bodie, 2011).
Pilar pertama adalah non-verbal presence. Kehadiran kita ditunjukkan melalui bahasa tubuh seperti kontak mata, posisi tubuh yang menghadap pembicara, ekspresi wajah yang sesuai, atau anggukan kecil yang menunjukkan bahwa kita mengikuti alur pembicaraan. Sebelum kita mengucapkan sepatah kata pun, lawan bicara sudah menangkap sinyal mengenai apakah kita benar-benar memperhatikan mereka atau tidak.
Pilar kedua adalah reflective listening. Pada tahap ini, kita tidak hanya menerima informasi, tetapi juga menunjukkan bahwa kita memahami apa yang sedang disampaikan. Salah satu caranya adalah dengan melakukan parafrase atau merangkum kembali inti pembicaraan menggunakan kata-kata kita sendiri. Tujuannya bukan untuk mengulang, melainkan untuk memastikan bahwa pemahaman kita sesuai dengan maksud pembicara.
Pilar ketiga adalah inquiry. Ini adalah kemampuan untuk mengajukan pertanyaan yang membantu pembicara mengembangkan ceritanya. Pertanyaan yang baik tidak menginterogasi, tetapi menunjukkan rasa ingin tahu yang tulus terhadap apa yang sedang dialami atau dipikirkan oleh orang lain.
Kebiasaan Ingin Merespons dan Mengambil Panggung
Semakin aku memikirkan konsep ini, semakin aku menyadari betapa seringnya kita gagal mendengarkan secara aktif. Bukan karena kita tidak peduli, melainkan karena pikiran kita terlalu sibuk menyiapkan respons.
Dalam banyak percakapan, kita sering kali lebih fokus pada apa yang akan kita katakan berikutnya daripada apa yang sedang disampaikan oleh lawan bicara. Michael Nichols (2009) menyebutkan bahwa salah satu hambatan utama dalam mendengarkan adalah kecenderungan manusia untuk memusatkan perhatian pada dirinya sendiri. Kita ingin didengar, dipahami, dan diakui. Akibatnya, saat orang lain berbicara, kita diam-diam sedang menyiapkan cerita atau pendapat kita sendiri.
Misalnya, seseorang berkata, "Aku panik banget pagi ini karena kartu e-money-ku hilang."
Lalu respons yang muncul adalah, "Oh iya, aku juga pernah kehilangan kartu e-money. Waktu itu aku sampai harus bikin baru."
Tanggapan tersebut tidak salah. Bahkan mungkin dimaksudkan untuk menunjukkan empati. Namun tanpa disadari, fokus percakapan langsung berpindah dari pengalaman orang pertama menuju pengalaman diri sendiri.
Padahal active listening mengajak kita untuk tetap tinggal sejenak dalam cerita orang lain.
Alih-alih langsung menceritakan pengalaman serupa, kita bisa mengatakan, "Wah, pasti bikin panik ya. Hilangnya kapan? Sudah ketemu belum?"
Respons seperti ini memberi ruang bagi lawan bicara untuk melanjutkan ceritanya. Kita menunjukkan bahwa kita benar-benar tertarik pada pengalaman mereka, bukan sekadar menunggu giliran untuk berbicara.
Manfaat Jangka Panjang Active Listening
Ada satu refleksi lain yang kusadari setelah mempelajari tentang active listening. Selama ini aku menganggap manfaat mendengarkan secara aktif hanya berkaitan dengan kemampuan menerima informasi dan menjaga fokus. Namun ternyata dampaknya jauh lebih luas daripada itu.
Ketika kita benar-benar hadir dalam sebuah percakapan, orang lain akan menyadarinya.
Dalam lingkaran pertemanan yang kecil, hal tersebut dapat mempererat hubungan karena orang merasa dihargai dan dipahami. Mereka akan lebih nyaman berbagi cerita, berdiskusi, atau meminta pendapat kita di kemudian hari. Rasa percaya yang muncul sering kali dibangun dari pengalaman sederhana yaitu merasa didengarkan.
Dalam forum yang lebih besar, efeknya juga menarik. Seorang pembicara biasanya dapat mengenali siapa saja audiens yang benar-benar memperhatikan. Bahkan sebelum seseorang mengangkat tangan untuk bertanya, bahasa tubuhnya sudah mengirimkan sinyal keterlibatan. Kontak mata, ekspresi yang responsif, catatan yang dibuat, atau anggukan kecil sering kali membuat seseorang lebih mudah diingat oleh pembicara dibandingkan puluhan peserta lain yang hadir secara fisik tetapi tidak menunjukkan keterlibatan.
Aku mulai menyadari bahwa kebiasaan mendengarkan dengan sungguh-sungguh mungkin memiliki dampak jangka panjang yang tidak langsung terlihat. Dari sana bisa muncul percakapan lanjutan, hubungan profesional baru, peluang kolaborasi, atau jejaring yang manfaatnya baru terasa bertahun-tahun kemudian.
Pada akhirnya, pelajaran terbesar yang kubawa pulang dari materi active listening bukanlah tentang teknik komunikasi semata. Bagiku, active listening adalah latihan untuk hadir sepenuhnya di suatu momen.
Ketika belajar, ia membantuku memahami informasi dengan lebih baik. Ketika berbicara dengan orang lain, ia membuatku lebih memahami perspektif yang berbeda. Dan ketika berada dalam sebuah komunitas, ia menjadi cara sederhana untuk membangun hubungan yang lebih bermakna.
Mungkin itu sebabnya aku selalu mengangguk-angguk ketika mendengarkan penjelasan dosen sejak dulu. Bukan karena aku berusaha terlihat rajin, melainkan karena tubuh dan pikiranku sedang bekerja sama untuk tetap hadir.
Dan di tengah dunia yang semakin bising, penuh notifikasi, dan dipenuhi keinginan untuk segera merespons, kemampuan untuk benar-benar mendengarkan mungkin menjadi salah satu bentuk perhatian paling langka yang bisa kita berikan kepada orang lain. []
Referensi
Bodie, G. D. (2011). The active-empathic listening scale (AELS): Conceptualization and evidence of validity within the interpersonal domain. Communication Quarterly, 59(3), 277–295.
Nichols, M. P. (2009). The lost art of listening: How learning to listen can improve relationships (2nd ed.). Guilford Press.
Robertson, K. (2005). Active listening: More than just paying attention. Australian Family Physician, 34(12), 1053–1055.
Rogers, C. R., & Farson, R. E. (1957). Active listening. Industrial Relations Center, University of Chicago.
Rost, M., & Wilson, J. J. (2013). Active listening (2nd ed.). Routledge.






Posting Komentar
Posting Komentar