Mengapa kita sering merasa belum cukup, bahkan ketika sebenarnya kita sudah banyak berkembang?
Awalnya aku mengira jawabannya terletak pada target yang belum tercapai atau daftar pekerjaan yang belum selesai. Namun semakin lama aku merefleksikannya, semakin aku merasa bahwa akar persoalannya bukan semata-mata tentang pencapaian. Yang sering kali melelahkan justru adalah jarak antara diri yang nyata dan diri yang kita bayangkan.
Aku yakin hampir semua orang memiliki gambaran tentang versi terbaik dirinya.
Versi yang bangun pagi tanpa menekan tombol snooze. Versi yang rutin berolahraga, disiplin mengatur waktu, mampu fokus berjam-jam tanpa terdistraksi, rajin membaca buku, pandai mengelola emosi, dan selalu mengambil keputusan yang tepat. Versi yang produktif sekaligus tenang. Ambisius tetapi tetap seimbang. Berprestasi tanpa kehilangan waktu bersama orang-orang terdekat.
Lalu kita melihat diri kita hari ini.
Masih menunda pekerjaan. Masih sulit menjaga konsistensi. Masih terdistraksi media sosial. Masih merasa kurang percaya diri pada situasi tertentu. Masih melakukan kesalahan yang sama.
Di titik itulah sering muncul rasa kecewa. Kita merasa gagal menjadi versi diri yang seharusnya.
Padahal, jika dipikirkan kembali, mungkin yang membuat kita lelah bukanlah diri kita sendiri, melainkan jarak yang terus-menerus kita ukur antara kenyataan dan harapan.
Mengapa Jarak Itu Terasa Begitu Nyata?
Dalam psikologi, kondisi ini dijelaskan melalui Self-Discrepancy Theory yang dikembangkan oleh Edward Tory Higgins (1987). Higgins menjelaskan bahwa setiap orang memiliki beberapa representasi tentang dirinya.
Yang pertama adalah actual self, yaitu diri kita sebagaimana adanya saat ini dengan segala kemampuan, kebiasaan, dan keterbatasannya.
Yang kedua adalah ideal self, yaitu diri yang kita impikan. Sosok yang mencerminkan harapan, cita-cita, dan kualitas yang ingin kita miliki.
Kemudian ada ought self, yaitu diri yang menurut kita seharusnya kita menjadi. Berbeda dengan ideal self yang lahir dari keinginan pribadi, ought self sering kali dibentuk oleh tuntutan lingkungan seperti keluarga, budaya, pekerjaan, bahkan media sosial.
Menurut Higgins (1987), semakin besar jarak antara actual self dengan ideal self, semakin besar kemungkinan seseorang merasakan kekecewaan, ketidakpuasan, atau kesedihan. Sementara jarak antara actual self dan ought self lebih sering memunculkan rasa bersalah, cemas, atau tertekan karena merasa belum memenuhi kewajiban. Aku pribadi tidak bermasalah dengan ought self ini sehingga aku hanya akan fokus membahas tentang actual self dan ideal self.
Menariknya, teori ini menunjukkan bahwa sumber ketidaknyamanan kita sering kali bukan berasal dari kondisi objektif, melainkan dari perbandingan yang terus-menerus kita lakukan di dalam kepala.
Ketika "Seharusnya" Menjadi Beban
Aku menyadari bahwa kata yang paling sering membuatku lelah bukanlah belum, melainkan seharusnya.
"Seharusnya aku sudah selesai."
"Seharusnya aku bisa lebih disiplin."
"Seharusnya aku tidak melakukan kesalahan itu."
"Seharusnya aku sudah berada di titik yang lebih jauh."
Kalimat-kalimat itu terdengar seperti motivasi. Padahal, jika diucapkan terus-menerus, ia perlahan berubah menjadi kritik yang tidak pernah selesai.
Ironisnya, standar yang kita gunakan untuk menghakimi diri sendiri sering kali bukanlah standar manusia yang nyata, melainkan manusia yang hidup di dalam imajinasi.
Versi ideal kita tidak pernah merasa lelah. Ia tidak pernah sakit. Ia tidak pernah mengalami hari yang buruk. Ia selalu tahu keputusan terbaik. Ia tidak pernah kehilangan motivasi. Ia tidak pernah salah.
Sementara diri yang nyata harus hidup dengan berbagai keterbatasan. Ada hari ketika energi sedang penuh, tetapi ada juga hari ketika bangun dari tempat tidur saja sudah terasa berat. Ada rencana yang berjalan sesuai harapan, tetapi ada pula situasi yang sama sekali berada di luar kendali.
Membandingkan keduanya tentu bukan perbandingan yang adil.
Ideal Self Bukan Musuh
Meski demikian, bukan berarti kita harus membuang ideal self. Justru sebaliknya. Versi diri yang kita impikan memiliki fungsi yang penting. Ia memberikan arah.
Bayangkan seseorang yang ingin menjadi penulis. Mungkin hari ini ia belum menerbitkan buku. Namun gambaran tentang dirinya sebagai seorang penulis membuatnya terus belajar, terus menulis, dan terus memperbaiki kualitas karyanya.
Tanpa ideal self, kita mungkin kehilangan orientasi. Yang perlu diubah bukanlah keberadaan versi ideal tersebut, melainkan hubungan kita dengannya.
Beberapa tahun sebelum Higgins memperkenalkan Self-Discrepancy Theory, Hazel Markus dan Paula Nurius (1986) telah mengemukakan konsep Possible Selves. Menurut mereka, setiap orang memiliki gambaran tentang dirinya di masa depan. Gambaran ini mencakup diri yang kita harapkan menjadi (hoped-for self), diri yang kita perkirakan akan menjadi (expected self), hingga diri yang kita takutkan menjadi (feared self).
Dari sudut pandang ini, versi diri yang kita impikan sebenarnya bukanlah musuh. Ia adalah kompas. Ia membantu kita menentukan arah dan memengaruhi keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari.
Seseorang yang membayangkan dirinya menjadi dosen mungkin akan lebih terdorong membaca jurnal. Seseorang yang membayangkan dirinya menjadi pelari akan lebih mudah memilih bangun pagi untuk berolahraga. Bukan karena ia sudah menjadi orang tersebut, melainkan karena ia sedang bergerak menuju identitas itu.
Dengan demikian, ideal self tidak perlu dihilangkan. Yang perlu diubah adalah cara kita memperlakukannya. Daripada menjadikannya sebagai hakim yang terus mengkritik, mungkin lebih baik menjadikannya sebagai kompas yang menunjukkan arah perjalanan.
Kompas tidak pernah marah karena kita belum sampai tujuan. Ia hanya memberi tahu ke mana langkah berikutnya perlu diarahkan.
Mengukur Perkembangan dengan Cara yang Lebih Adil
Namun, ada satu hal yang belakangan kusadari. Versi diri yang ideal memang penting sebagai penunjuk arah. Tetapi ia bukanlah alat ukur yang baik untuk menilai perkembangan diri.
Karena bagaimana mungkin kita membandingkan diri yang nyata dengan seseorang yang hanya hidup di dalam imajinasi?
Seperti yang kusebutkan, versi ideal tidak pernah kelelahan. Tidak pernah kehilangan motivasi. Tidak pernah sakit. Tidak pernah menghadapi situasi yang tidak sesuai rencana. Sementara diri kita yang sekarang harus hidup dengan semua keterbatasan itu. Perbandingan tersebut hampir pasti akan membuat kita merasa kurang.
Aku kemudian mencoba mengubah titik pembandingnya. Daripada terus bertanya, "Mengapa aku belum menjadi orang yang kuinginkan?" Aku mulai bertanya, "Apa yang sekarang sudah bisa kulakukan, yang dulu belum bisa kulakukan?"
Pertanyaan itu terasa jauh lebih adil.
Aku mungkin belum menjadi penulis yang produktif, tetapi aku menulis jauh lebih konsisten daripada beberapa tahun yang lalu.
Aku mungkin belum sepenuhnya disiplin mengatur waktu, tetapi aku sudah lebih mengenali kebiasaan-kebiasaan yang membuatku kehilangan fokus.
Aku mungkin belum mencapai semua target yang kuimpikan, tetapi cara berpikirku hari ini jelas berbeda dibandingkan diriku beberapa tahun yang lalu.
Kemajuan itu ternyata ada.
Hanya saja selama ini aku terlalu sibuk melihat ke depan sampai lupa sesekali menoleh ke belakang.
Pandangan ini selaras dengan gagasan bahwa perkembangan diri akan terasa lebih bermakna ketika kita mengevaluasi kemajuan berdasarkan perjalanan kita sendiri, bukan semata-mata berdasarkan standar ideal atau pencapaian orang lain.
Di sisi lain, James Clear (2018) mengingatkan bahwa perubahan besar hampir selalu berawal dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Kita sering kali terobsesi pada hasil akhir, padahal identitas dibangun melalui tindakan-tindakan sederhana yang diulang setiap hari.
Pertumbuhan manusia memang jarang terjadi dalam lompatan besar. Ia lebih sering hadir dalam perubahan-perubahan kecil yang nyaris tidak terasa. Bangun lima belas menit lebih pagi. Lebih berani mengemukakan pendapat. Lebih tenang menerima kritik. Lebih cepat bangkit setelah mengalami kegagalan. Lebih mampu memahami diri sendiri dibandingkan tahun lalu. Perubahan-perubahan kecil itu mungkin tidak membuat kita merasa sudah menjadi versi ideal. Namun, perubahan itu menunjukkan bahwa kita bukan lagi orang yang sama seperti kemarin.
Berdamai dengan Jarak
Mungkin tujuan hidup bukanlah menghilangkan jarak antara diri yang nyata dan diri yang ideal. Karena setiap kali kita berhasil mencapai satu versi ideal, kemungkinan besar kita akan menciptakan versi ideal yang baru. Standar akan terus bergerak seiring bertambahnya pengalaman, pengetahuan, dan mimpi yang kita miliki.
Jarak itu mungkin memang akan selalu ada. Yang bisa berubah adalah cara kita memaknainya. Alih-alih melihatnya sebagai bukti bahwa kita belum cukup baik, kita bisa melihatnya sebagai tanda bahwa kita masih memiliki ruang untuk bertumbuh.
Perjalanan menuju versi diri yang lebih baik tidak harus diwarnai dengan rasa benci terhadap diri yang sekarang. Justru mungkin pertumbuhan yang paling sehat terjadi ketika kita mampu menerima diri apa adanya, sambil tetap memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk berkembang. Karena pada akhirnya, hidup bukanlah perlombaan antara diri kita yang sekarang dengan diri yang sempurna di dalam kepala. Biarkan ideal self tetap menjadi kompas yang menunjukkan arah.
Tetapi ketika ingin mengukur kemajuan, bandingkanlah dirimu hari ini dengan dirimu di masa lalu. Mungkin kita belum sampai di tujuan. Namun bukan berarti kita masih berada di titik yang sama. Karena tujuan bertumbuh bukanlah menjadi sempurna. Melainkan menjadi sedikit lebih baik daripada diri kita yang pernah ada. []
Clear, J. (2018). Atomic habits: An easy & proven way to build good habits & break bad ones. Avery.
Higgins, E. T. (1987). Self-discrepancy: A theory relating self and affect. Psychological Review, 94(3), 319–340. https://doi.org/10.1037/0033-295X.94.3.319
Markus, H., & Nurius, P. (1986). Possible selves. American Psychologist, 41(9), 954–969. https://doi.org/10.1037/0003-066X.41.9.954





Posting Komentar
Posting Komentar