Friday, May 1, 2020

Belajar dari Indari Mastuti, Founder Indscript Creative, yang Sudah 13 Tahun Berbisnis dan Berkarya dari Rumah


Beberapa waktu yang lalu aku berkesempatan ikut sesi sharing bersama Indari Mastuti, seorang founder bisnis Indscript Creative. Sesi sharing-nya dilakukan dalam rangka 13 tahun perusahaan ini. Sebenarnya Mbak Indari Mastuti mengundang para bloger untuk kunjungan ke kantor Indscript Creative yang berada di Kota Bandung. Namun karena tidak memungkinkan sehingga kunjungan kantornya dilakukan secara online saja.

Indscript Creative berdiri pada tanggal 8 September 2007. Indscript Creative adalah perusahaan yang bergerak di bidang kepenulisan, bisnis, dan pemberdayaan perempuan. Bisnis dengan jargon 3000% Perempuan Banget ini memang memiliki target agar para perempuan Indonesia bisa berdaya dari rumah.

Perjalanan Awal Indscript Creative

Awal mula Indscript Creative berdiri karena keinginan Mbak Indari menjadi ibu rumah tangga yang seutuhnya. Sejak tahun 2004, Mbak Indari sudah menjadi penulis. Ketika akan menikah di tahun 2007, ia memilih untuk total berprofesi sebagai seorang penulis, melepaskan karirnya secara total di dunia telekomunikasi.

Dengan mantap, Mbak Indari kemudian membangun perusahaan Indscript Creative yang bergerak di bidang agensi naskah. Di awal Indscript Creative berdiri pada tahun 2007 Mbak Indari merupakan satu-satunya penulis di sana. Hingga kemudian penerbit menawari beliau untuk menulis lebih banyak lagi tema-tema buku yang tidak bisa ia kerjakan sendiri karena tidak memiliki latar belakang yang sesuai.

Akhirnya Mbak Indari mengajak seorang penulis lain yaitu Bang Aswi, sekarang menjadi bloger Bandung, untuk bergabung di Indscript Creative. Tidak lama kemudian seiring kebutuhan penulis yang meningkat, masuk dua penulis lain yaitu Anton dan Tati.

Tidak mudah mencari penulis pada masa itu, sebab pada saat itu kebanyakan orang belum tahu dengan agensi naskah. Penulis-penulis Indonesia pada saat itu juga lebih memilih untuk langsung mengirim naskahnya ke penerbit dibandingkan melalui agensi naskah.

Namun Indscript Creative terus mengembangkan diri menjadi sebuah agensi penulis profesional. Mbak Indari terus mencari penulis di tengah keterbatasan media sosial saat itu, mulai dari lewat Friendster hingga Yahoo Grup. Selain itu, Mbak Indari juga terus menulis dan mengembangkan diri di jasa penulisan.

 Agensi Penulis yang Aneh

Indscript Creative pernah dianggap sebagai agensi penulis yang aneh. Mereka menabrak pola pengajuan naskah ke penerbit. Jika biasanya penulis mengirimkan naskah full untuk dilihat, maka Indscript Creative ‘hanya’ mengajukan ratusan judul buku kepada penerbit. Sampai penerbit menduga akan melakukan transaksi membeli kucing dalam karung. Hal ini tentu dapat dipahami karena masih berupa judul, belum ada naskah sedikitpun.

Namun ternyata keanehan tersebut mengundang rasa penasaran dari penerbit. Dari Indscript Creative sendiri sebenarnya sudah menyiapkan naskahnya jika sewaktu-waktu diminta penerbit. Oleh karena itu ketika penerbit memilih dari ratusan judul tersebut, Indscript Creative akan segera memberikan outline dengan contoh penulisannya. Jika acc maka Indscript Creative akan melanjutkan penulisan sesuai dengan deadline yang diminta. Bonusnya naskah sudah siap cetak, ini merupakan pelayanan all in one yang Indscript Creative berikan kepada penerbit.

Konsep Indscript Creative ini menjadi sangat menarik buat penerbit yang tidak memiliki SDM dalam jumlah besar untuk membuat pra cetak buku hingga terbit. Indscript Creative hadir seperti angin segar untuk mereka dengan konsep all in one. Rata-rata dalam satu bulan Indscript Creative mengerjakan 60-100 naskah buku.

Masa-masa Sulit yang Dialami Indscript Creative

Ternyata masa-masa gemilang itu hanya bertahan selama dua tahun pertama. Pada akhir tahun 2019 Indscript Creative yang kebanjiran orderan merasakan oleng. Koordinasi antara bagian marketing dan produksi saat itu belum matching sehingga akhirnya pembuatan naskah buku yang jumlahnya banyak ini kemudian menjadi lost control.

Quality control yang kurang ini membuat Indscript Creative kehilangan banyak pelanggan. Indscript Creative mengecewakan begitu banyak penerbit hingga mengakibatkan perusahaan mengalami kemunduran yang luar biasa.

Hal ini membuat Indscript Creative ada di ambang kebangkrutan sehingga akhirnya banyak sekali kebijakan yang diambil untuk menyelamatkan perusahaan. Melakukan pemberhentian karyawan dan hanya memilih mereka yang memang benar-benar qualified di Indscript Creative adalah salah satu kebijakan terberat yang harus dilakukan saat itu.

Indscript Creative Mencoba Bangkit Kembali


Mbak Indari tidak kehilangan semangat untuk bangkit karena Indscript Creative adalah bidang bisnis yang sesuai dengan passion dirinya. Kehilangan banyak pelanggan membuat ia berpikir untuk lebih banyak belajar lagi tentang bisnis. Bahwa bisnis bukan hanya sekadar mengambil order yang banyak tapi bagaimana melayani kebutuhan pelanggan dengan maksimal. Menjaga kepuasan pelanggan juga perlu dilakukan agar mereka terus menjadi pelanggan yang loyal.

Ada beberapa pelanggan yang bisa diselamatkan, ada juga pelanggan yang akhirnya pergi. Untuk pelanggan-pelanggan yang bisa diselamatkan inilah Indscript Creative memperbaiki kualitas pelayanannya mulai dari permintaan maaf hingga tambahan diskon. Sampai akhirnya Indscript Creative bisa menemukan kembali kepercayaan dari mereka.

Belajar dari Kehilangan

Banyak sekali yang dipelajari Mbak Indari dari sebuah kehilangan dan berada di ambang kebangkrutan. Mbak Indari mulai berpikir bahwa ia harus lebih baik sebagai seorang pebisnis dan harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya lewat bisnis yang ia kelola.


Maka pada saat pelanggan-pelanggan setia Indscript Creative masih membutuhkan naskah yang cukup banyak, pada saat itu ia berpikir kira-kira siapa yang akan ia ajak menjadi seorang penulis agar kualitas jasa mereka semakin meningkat.

Kehilangan juga membuat Mbak Indari belajar memaknai semuanya dengan sederhana. Dulu saat muda, bisnis meroket, serta bisa membeli apa saja, ia lupa diri. Hingga Allah membalikkan kondisi dalam waktu cepat. Perusahaannya oleng tanpa ampun.

Namun tidak ada yang ia sesali dari masa kebangkrutan itu, justru Mbak Indari merasa diselamatkan oleh Allah untuk kembali ke jalan yang lurus. Beliau meyakini bahwa sebesar apapun bisnis yang dimiliki, gaya hidup tak perlu makin meninggi. Gaya hidup sederhana adalah pilihan yang tepat dalam setiap kondisi.

Cara Mbak Indari Bangkit dari Keterpurukan

Mulai Membangun Branding

Pada masa yang tidak menguntungkan tersebut, Penerbit Mizan menawari Mbak Indari untuk menulis biografi pengusaha Brownies Amanda. Pada saat itu ia belum belum berpengalaman untuk menulis buku biografi tapi ia tertantang untuk menerimanya.

Ternyata inilah pengalaman yang kemudian bisa menjadi salah satu kekuatan Indscript Creative di masa yang akan datang. Saat ini, Indscript Creative menjadi salah satu perusahaan yang memimpin di bidang penulisan biografi karena satu per satu klien mereka puas dan akhirnya merekomendasikan jasa Indscript Creative pada relasinya yang notabene orang-orang besar.

Sebut saja biografi Teh Ninih, Ibu Atalia, Ibu Siti Oded, hingga pengusaha-pengusaha kelas kakap bahkan guru besar ditulis oleh Indscript Creative. Semua berasal dari keberanian Mbak Indari menerima peluang yang belum pernah ia kerjakan sebelumnya di tahun 2009.

Mengikuti Kompetisi

Pada pada masa di ambang kebangkrutan Mbak Indari mencoba untuk mencari cara bagaimana bisa mendapatkan uang dalam kondisi utang begitu banyak. Ia berdisuksi dengan suami apakah tepat membuka bisnis baru saat itu. Suami beliau menyarankan untuk menggali potensi yang ada dulu untuk menghasilkan uang.

Mbak Indari berpikir apa potensinya yang bisa menghasilkan uang. Ia kemudian sadar salah satu kelebihannya adalah public speaking dan ia senang membuat planning bisnis. Akhirnya ia masuk ke berbagai kompetisi bisnis sejak tahun 2010 hingga tahun 2012.

Ada 10 penghargaan yang Mbak Indari dapatkan dalam kurun waktu tersebut. Kompetisi pertama yang ia ikuti adalah Perempuan Inspiratif Nova 2010. Dari sana kemudian ia semakin berani untuk mengikuti kompetisi-kompetisi lainnya hingga tahun 2012.


Apa yang terjadi setelah Mbak Indari memenangkan banyak kompetisi? Ternyata branding Indscript Creative menjadi terangkat dengan sangat baik. Karena setiap menjadi pemenang kompetisi ia selalu diliput oleh media baik itu media cetak maupun media elektronik.
 
Mbak Indari kemudian semakin dikenal. Indscript Creative juga mulai mendapatkan banyak klien lagi. Kebanyakan klien tahu dari media yang  mereka baca atau mereka tonton. Jumlah klien meningkat bukan saja di ranah dunia penerbitan, namun hingga perusahaan swasta hingga BUMN, mulai dari pengusaha muda hingga senior pengusaha dan tidak jarang klien Indscript Creative biasa tampil di media bergengsi Indonesia. Branding media memang sangat powerfull.

Belajar dari Mentor Bisnis

Dari berbagai kompetisi  yang Mbak Indari ikuti tersebut ia mulai kenal dengan yang namanya mentor bisnis. Karena di setiap kompetisi itu pasti penyelenggara menyediakan mentor atau coach yang akan membantu para pemenang ataupun finalis-finalis di kompetisi tersebut meningkatkan kapasitas bisnisnya.

Mbak Indari belajar dari satu coach ke coach lainnya. Ia juga mengikuti training bisnis baik berbayar atau pun gratis bahkan hingga ke luar kota. Dari sanalah tumbuh ide-ide baru untuk melakukan perbaikan atau bagaimana melejitkan Indscript Creative dengan inovasi-inovasi baru.

Mbak Indari sudah merasakan betapa inovasi sangat membantu Indscript Creative bangkit dari kebangkrutan. Inilah yang membuatnya tak pernah berhenti berinovasi. Ia tak takut jika inovasinya gagal, ia tidak khawatir jika inovasinya tidak berhasil.

Just do it something new and out of the box!

Lini dan Inovasi yang Ada di Indscript Creative

Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN)

Ketika Mbak Indari melihat dirinya sendiri sebagai seorang penulis dan ibu rumah tangga, ia berpikir bahwa mungkin ibu rumah tangga (IRT) yang lain juga bisa produktif menulis. Maka pada 24 Mei 2010 Mbak Indari mendirikan komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) yang memiliki visi menelurkan penulis-penulis baru di kalangan ibu rumah tangga.


Sekarang usia IIDN sudah hampir 10 tahun. Ibu-ibu Doyan Nulis menjadi pelengkap ketika Mbak Indari merasa kehilangan pada masa terpuruknya. Ia berusaha bangkit dari keterpurukan dengan memberikan manfaat pada lebih banyak orang dalam hal ini perempuan.

Jiwanya terasa berisi ketika bertemu dengan sesama IRT dengan minat yang sama: menulis. Indscript Creative bisa memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi perempuan yaitu dengan menghadirkan mereka di dunia penulisan.

Hingga kini lebih dari 4.000 karya para penulis IIDN tersebar di berbagai penerbit besar di Indonesia mulai dari Gramedia Pustaka Utama, Elex Media, Penebar, dan berbagai penerbit lainnya.

Ibu-ibu Doyan Bisnis (IIDB)

Selain IIDN, pada tahun 2011 Mbak Indari juga membangun Ibu-ibu Doyan Bisnis (IIDB). Komunitas ini khusus diikuti oleh ibu-ibu yang memiliki passion bisnis dari rumah. Mbak Indari hadir di komunitas tersebut sebagai coach dan juga teman sharing dari para IRT dalam membangun bisnisnya.

Indscript Personal Branding

Indscript Personal Branding merupakan layanan mem-branding diri untuk para pengusaha di berbagai media sehingga mampu meningkatkan bisnisnya. Hal ini berdasarkan pengalaman yang Mbak Indari dapatkan selama tahun 2010-2013. Liputan dari berbagai media ternyata memiliki efek yang luar biasa bagi Indscript Creative. Peresmian Indscript Personal Branding pada tahun 2013 juga sekaligus momen pendirian Sekolah Perempuan.


Indscript Direct Selling

Di tahun 2014 Indscript Creative mengeluarkan Indscript Direct Selling, sebuah produk baru di bidang kepenulisan. Biasanya menulis itu untuk buku, Mbak Indari menulis board yaitu sebuah alat bantu konsistensi di bidang apa saja. Indscript Creative menyebutnya metrik dan dreamboard. Ketika produk diluncurkan ternyata laku keras.

Indscript Training Center

Indscript Training Center adalah perpaduan antara Indscript Direct Selling dengan dunia mengajar. Mbak Indari menjadi mentor di dunia online, sharing bagaimana membangun bisnis dari rumah dan pengalamannya bangkit dari kebangkrutan.

Training pertama yang Mbak Indari buat adalah kelas Reparasi Bisnis dan sangat laris. Mbak Indari bisa mengajar hingga 50 lebih orang secara private dan grup-grup yang memiliki anggota cukup banyak. Total alumni Indscript Training Center sekitar 10.000 lebih orang hingga saat ini.

Tak lama dengan berdirinya Indscript Training Center, Mbak Indari menutup layanan Indscript Personal Branding. Ia fokus pada kelas Reparasi Bisnis dengan misi membangkitkan perusahaan-perusahaan yang berada di ambang kebangkrutan atau memiliki begitu banyak masalah.

Mbak Indari memiliki misi agar ibu-ibu pebisnis sepertinya bisa menyelesaikan setiap masalah itu dengan baik dan semuanya bisa bermula dari ilmu yang ia bagikan. Ia yakin bahwa ilmu akan memudahkan setiap langkah.

Emak Pintar

Di tahun 2015 Mbak Indari membangun komunitas Emak Pintar. Awalnya komunitas ini akan menjadi komunitas yang akan menyatukan antara IIDN dan IIDB, yaitu ibu penulis dan ibu pebisnis. Namun dalam perjalanannya Emak Pintar menjadi komunitas tersendiri dengan kekhasan berbeda dari komunitas sebelumnya.

Indblack

Ketika sudah memasuki usia 10 tahun, Mbak Indari merasa bahwa Indscript Creative sudah cukup eksis dan kuat secara sistem. Ia mulai kembali berpikir untuk membangun bisnis baru. Akhirnya muncullah Indblack yang bergerak di dunia fashion dengan pilihan bidang produsen handsock.

Dari sana Mbak Indari bisa memberdayakan ibu-ibu yang ada di sekitar rumah beliau untuk menjadi pengrajin handmade desain handsock. Setelah 3 tahun beroperasi, tepatnya 1 April 2020 Mbak Indari menutup Indblack dan kembali fokus pada bidang penulisan yang ia cintai.

Inovasi dalam Produk Kepenulisan

Di tahun 2018 Mbak Indari kembali melakukan inovasi di bidang kepenulisan bahwa menulis itu tidak selalu harus berbentuk buku. Ia menciptakan hasil penulisan dalam banyak versi, mulai dari workbook, agenda, minibook, hingga di tahun 2019 menelurkan rangkaian guidance book.


Sama seperti sebelumnya sambutan pasar sangat luar bisa, jualan buku selaris kacang goreng. Indscript Creative bisa menjual buku dalam satu hari hingga lebih dari 250 buku. Tak jarang dalam 2 hari bisa melakukan penjualan buku hingga 2.000-an eksemplar. Inovation is worked!

Menjadi Co Founder Kunikita

Reparasi Bisnis membuka jalan Mbak Indari menjadi co founder Kunikita. Awalnya di tahun 2018 founder-nya mengikuti kelas Reparasi Bisnis grup kemudian berlanjut pada kelas-kelas lainnya hingga ke private. Akhirnya ia didapuk menjadi co founder Kunikita setelah perusahaan ini terus bergerak cepat. Dari 5 orang karyawan hingga kini memiliki tim sebanyak lebih dari 50 orang.

Kunikita adalah bisnis ritel yang menjual berbagai kebutuhan Muslimah. Memiliki lebih dari 4.000 jaringan pemasaran di Indonesia dengan produk unggulannya CIOMY, bakso aci khas Garut yang bisa terjual ribuan pcs per hari.

Pada tahun 2018 inilah Mbak Indari mendapatkan penghargaan dari Wali Kota Bandung sebagai Perempuan Penggerak Perempuan dan sebagai Penulis Perempuan.

Bukuin Aja!

Tahun 2019 Mbak Indari melaunching program Bukuin Aja! yaitu program penerbitan indie yang dilengkapi dengan training sebelum menerbitkan buku. Program ini kembali laris.

Antrian penerbitan buku indie terus bergerak dan menghebat bahkan akhirnya Indscript Creative memiliki percetakan sendiri untuk mendukung penerbitan indie. Sudah ada 4 angkatan buku antologi dengan grup khusus lainnya dengan total penerbitan buku indie sekitar hampir 40 judul buku.


Di tahun 2019 ini juga Mbak Indari mengubah nama Indscript Training Center menjadi Indscript Businesswomen University sebagai penguat bahwa program-programnya 3000% untuk perempuan.

Indscript Writing

Indscript Writing adalah lini tertua yang ada di Indscript Writing. Namun begitu lini ini terus berinovasi hingga masih eksis hingga sekarang. Layanan berupa agensi naskah makin menguat ketika Indscript Writing membuka training khusus di bidang kepenulisan untuk menjebol penerbit mayor.

Dalam dua angkatan yang dibuat, naskah yang jebol ke penerbit mayor sudah ada di angka puluhan. Hal ini membuat Mbak Indari optimis melanjutkan pola training dengan output jebol penerbit di Indscript Writing. Beberapa kelas yang dibuka antara lain 7 Hari Nulis Buku, Sekali Nulis Jebol Penerbit, dan Menulis Tanpa Bakat.

Pusat pelayanan Indscript Creative berada pada ikon-ikon yang dibangun Mbak Indari, seperti Miss Indscript, Miss Love, Miss Cunik, dan Miss Writing. Ikon-ikon ini merupakan inovasi di dunia jasa dengan pelayanan yang ramah dan sangat friendly. Bukan tanpa sebab Mbak Indari mem-branding para Miss tersebut dengan bentuk ikon, bukan secara personal. Hal ini agar jika salah satu dari mereka keluar, perusahaan tetap bisa kokoh.

Motivasi Mbak Indari Hingga Indscript Creative Menjadi Sebesar Ini

Motivasi terbesar Mbak Indari dalam mempertahankan Indscript Creative adalah karena dunia tulis menulis merupakan passion-nya. Sehingga ketika kondisi sesulit apapun ia terus berusaha bangkit karena mencintai bidang ini.

Selain itu, ia merasa sangat beruntung memiliki komunitas besar. Jumlah anggota IIDN sekitar 20 ribu orang dan sekitar 64 ribu orang merupakan anggota IIDB. Hal ini membuat ia tetap semangat karena ia merasa tidak boleh menyerah dengan begitu banyak teman dan dukungan di komunitasnya.

Hal lain yang tak kalah penting adalah Indscript Creative adalah bisnis yang menjadi mata pencahariannya. Sehingga mau tak mau ia harus terus membangun bisnis ini untuk stabilitas ekonomi.

Manajemen Waktu Mbak Indari

Mbak Indari mengaku saat ini kesibukannya di dunia bisnis sebenarnya tidak terlalu banyak. Hal-hal teknis sudah ia delegasikan kepada para tangan kanannya. Ia sengaja meng-hire orang-orang milenial (di bawah 25 tahun) yang masih punya banyak waktu luang, energi yang besar, dan otak kreatif yang tak pernah mati.

Orang-orang kepercayaan Mbak Indari ini mengerjakan hampir semua hal sehingga kini Mbak Indari hanya terlibat dalam urun ide dan strategi dalam bisnis Indscript Creative. Yang sekarang masih ia pegang adalah Bukuin Aja! karena ini adalah lini terbaru di Indscript Creative hingga nanti ketemu pola bisnis yang tepat. Lini yang lain sudah ada GM yang mengurusnya dan polanya sudah lebih kuat karena sudah berjalan hampir 13 tahun.

Saat ini Mbak Indari lebih menyibukkan diri dalam belajar, menulis, dan berbagi. 

Ia belajar dengan cara banyak membaca buku dan menonton video di Youtube. Dengan belajar ia tidak pernah kehabidan ide untuk berinovasi. Ia punya tabungan ide yang jumlahnya sangat banyak, ketika ia siap ide-ide tersebut akan dieksekusi satu persatu.

Mbak Indari juga sedang mengerjakan proyek penulisan buku dengan deadline waktu yang ketat. Dalam sebulan ia bisa menerbitkan 2-4 buku, saat ini buku yang ditulisnya adalah serial guidance book dengan tema work at home.

Untuk sesi sharing ia selalu berusaha untuk menyapa para anggota di komunitasnya dan mengisi beberapa kelas online. Di masa pandemi seperti sekarang ia juga memiliki program dua kali live yaitu setiap jam 7 pagi di komunitas IIDB dan setiap jam 16.00 akan live tentang dunia penulisan di IIDN.


Sebenarnya Mbak Indari juga pernah jenuh dengan pekerjaan terutama ketika lelah dengan aktivitas bisnis. Hingga ia menemukan pola yang tepat dengan tetap punya waktu tidur 7 jam dalam sehari, punya me time, dan punya waktu untuk bersama keluarga. Dengan begitu ia merasa happy dan fresh sehingga bisa terus semangat dalam berbisnis.

Dukungan keluarga juga sangat kuat. Suami beliau menangani bagian keuangan di Indscript Creative sehingga boleh dibilang menjadi bagian internal perusahaan. Mbak Indari sendiri lebih ke bagian eksternal perusahaan. Anak beliau yang pertama, yang masih kelas 6 SD, di masa learning from home ini ikut magang menjadi desainer di Indscript Creative.

Indscript Creative Menuju 13 Tahun, Berbagi untuk Sesama

Menuju 13 tahun eksistensi Indscript Creative, Mbak Indari yakin bahwa bisnis ini bukan main-main. Ia merasa harus benar-benar fokus dan memberikan manfaat yang seluas-luasnya kepada masyarakat.

Oleh karena itu sejak tahun ke-10 Indscript Creative, diadakanlah program CSR (Coorporate Social Responsibility) untuk yang membutuhkan. Beberapa bentuk CSRnya adalah dengan pembebasan riba, pemberian hibah modal usaha, donasi lansia, dan berbagai kegiatan donasi lainnya yang diambil dari 10% dari omzet.

Dalam program CSR pembebasan riba akan diseleksi orang-orang yang membutuhkan melunasi utang ribanya dengan mengetahui utangnya digunakan untuk apa dan mengapa tidak bisa melunasinya. Bentuk-bentuk utang yang akan dibantu pelunasannya seperti utang untuk makan dan utang untuk SPP anak. Dulu mereka akan diberdayakan menjadi pengrajin di Indblack.

Sekarang program tersebut sudah dikurangi, program CSR Indscript Creative lebih fokus memberikan hibah untuk memulai usaha dari rumah. Awalnya hanya untuk para tetangga di lingkungan tempat Mbak Indari tinggal. Sekarang sudah bisa merambah via online dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Sekarang lini yang masih sangat aktif di Indscript Creative adalah Indscript Writing di bidang jasa dan agen penulisan, Bukuin Aja! yang merupakan penerbit indie, Kunikita di bisnis kuliner, dan Indscript Businesswomen University di bidang pengembangan diri perempuan.


Mimpi Mbak Indari sangat sederhana yaitu semoga semakin banyak peluang bagi perempuan untuk mengembangkan dirinya baik dalam sisi kepenulisan ataupun dalam sisi bisnis dengan adanya Indscript Creative ini.

Pada tahun 2024 ia berharap memiliki 15.000 jaringan pemasaran yang terdiri dari para perempuan khususnya ibu rumah tangga sehingga mereka bisa menghasilkan dan produktif meski hanya dari rumah.

Keren sekali ya, aku menulis ini sambil merinding. Membayangkan betapa sepak terjang Mbak Indari di dunia bisnis kepenulisan ini tidak bisa dianggap remeh. Hasilnya seperti yang kita lihat, Indscript Creative sudah benar-benar besar. Dan di tahun ke-13 ini ia sudah memberikan manfaatnya kepada banyak perempuan Indonesia. []

Artikel Terkait

34 komentar:

3835 said...

oo ternyata bang aswi pernah join di sini toh. Setuju belajar bukan saja tentang hal positif, kegagalan juga bisa di jadikan ilmu yang penting.

Rudi G Aswan said...

Menarik banget baca kata demi kata perjalanan Indscript dan Teh Indari. Aku dengar namanya kalau ga salah pertama tahun 2009 pas masih kerja di penerbit di Depok dan beliau jadi salah satu pemasok naskah waktu itu. Ga nyangka akhirnya berkembang samapi 4.000 member aktif seluruh Indonesia. Banyak banget lini bisnisnya, terbukti kreatif dan pengin memberdayakan wanita Indonesia. Ibu-ibu juga bisa berkarya yang bermanfaat, bikin buku dan dapat pemasukan. Kebayang deh hectic-nya setiap hari buat Teh Indari. Gimana ceritanya tuh jual buku 2.000 kopi dalam dua hari, gileee. Top deh. Moga dalam 13 tahun berkiprah, komunitas dan bisnis yang dibangun sukses dan diberkati Allah. Makin banyak perempuan yang terbatu, aamiin.

Husnul Khotimah said...

Rindang

Mulia sekali cita cita mbak Indari.. dari artikel ini saya jadi pengen kenal lebih banyak.. selama ini cuma tau dari temen temen blogger, belum pernah nyari info sendiri heheh

Fira Firdaus said...

Wii keren banget mba, bisnisnya dimana-mana, tapi masih bisa punya waktu me time. Pasti melalui penyesuaian dimana-mana termasuk memilih orang-orang yang tepat untuk membantu mengelola bisnisnya

Fandhy Achmad R said...

Jadi jaman sekarang ibu ibu rumah tangga bisa memiliki pekerjaan sampingan sebagai penulis, selain itu hasilnya tentu bisa membantu perekonomian keluarga.

Ibu ibu doyan nulis, saya baru tau setelah membaca tulisan ini. Sungguh saya sudah ketinggalan berita.

TOMI said...

Saya baru dengar dan membaca tentang kisah sukses mba Indari Mastuti dan Indscript Creative disini. Tapi klo bang aswi udah sering ketemu dan ngobrol. Semakin kesini, memang sepertinya penulis dan blogger banyak laki-lakinya daripada perempuan. Semoga akan muncul mba-mba Indari lainnya yang sukses dalam karyanya

Tukang Jalan Jajan said...

luar biasa sih perjuangannya. Mbak Indari berkiprah dan membangun bisnis dengan memperkaryakan wanita. Membuat wanita sejajar dan mampu melakukan apapun dari rumah.
Program perberdayaan yang paripurna

Bambang Irwanto said...

Perjalanan yang panjang sampai akhirnya Indscript Creative ini sampai pada tahun ke 13 ya, Mbak. Pastinya semua berkar kerja keras dan semangat Mbak Indari. Jatuh bangun pernah dirasakan membesarkan Indscript Creative ini. Sangat menginspirasi.

YSalma said...

Selamat untuk Indscrip creatif yang akan memasuki usia 'remaja'. Semoga makin berkembang dengan innovasi-innovasi baru.
Salut untuk mba Indari Mastuti yang pantang menyerah melalui jatuh bangun mengembangkan usahanya ya.

Joko Yugiyanto said...

Sangat inspiratif ibu ini n tiap kota ada para ibu pasti lebih berdaya. Luar biasa

Jiah Al Jafara said...

Kalau aku pertama tahunya itu Ibu-ibu Doyan Nulis. Indscript Creative ternyata lebih tua dan jatuh bangun banget ya. Semoga semakin berjaya dan bermanfaat bagi banyak orang

Oky Maulana said...

Untuk yang udah terbiasa kerja dari rumah pasti menikmati yaaa beda banget sama aku yang lebih seneng kerja dari luar rumah. Stressnya gak ketolongan hahahah

Sam Leinad said...

Menarik sekali membaca perjalanan Indiscript Creative ini. Bagaimana ia dibangun oleh 2 orang saja lalu menjadi besar, sempat jatuh karena kurang bisa menjaga kualitas, dan seterusnya. Sangat inspiratif

Mutiara Sy said...

Kak Indari inspiratif banget ya. Mulai dari ibu rumah tangga, jadi penulis, trus bikin indscript creative. Perjuangannya juga keren banget.

Fenni Bungsu said...

Dari tulisan lalu ke fashion, masya Allah banyak hal positif yang menjadi inspirasi kita bahwa dari passion yang kita cintai bisa juga menghasilkan karya yang bermanfaat

Triani Retno A said...

Memang butuh tekad kuat sih buat bisa konsisten menjalankan bisnis dan berkarya :)

Dee_Arif said...

Klo baca kisah teh indari semakin membuat aku semangat menulis.

Menulis bisa membuat kita berdaya meski dari rumah

Ruli retno said...

Ini sudah kaya biografi singkat beliau ya. Menarik banget baca kisah jatuh bangunnya para pengusaha ini, inspiratif

Munasyaroh Fadhilah said...

Prestasi beliau sungguh luar biasa, walaupun sempat jatuh bangun namun tetap bisa bangkit bahkan lebih maju lagi. Saya perlu belajar banyak nih

Ceu Mumud said...

Memang agak antimainstream sih ya ngajuin naskah cm judulnya doang, tapi mngkin itu slah satu strategy dr indscript

Susi Susindra said...

WOw... seluruh perjalanan hidup (passion & karir) Mbak Indari ada di sini. Jatuh bangun, bergerak dan menginspirasi. Sungguh sosok yang luar biasa.
Terima kasih sudah sharing

lendyagasshi said...

Keren bangeett..
Teh Iin berkarya dan super persisten-konsisten di bidang literasi.
Semoga makin sukses, Indiscript.

Marfa Umi said...

bener-bener bukan main ya ini apalagi sudah 13 tahun dan memiliki bagiannya masing-masing, bagus sih karena jadi bisa memberdayakan ibu-ibu dari rumah jadi ngga perlu mereka yang berkantor saja agar tetap jalan bisnisnya

Dina said...

Keren banget loh ini sepak terjang nya, ternyata beliau pun pernah merasakan jenuh yaa..berarti memang semua orang bakal merasakan jenuh dengan pekerjaan nya, tapi kita tetap harus mencari cara untuk mengatasi nya..luar biasa keren beliau bisa membuat IRT lain menjadi produktif

M. Rizki Riswandi said...

Cerita mbak Indari Mastuti merupakan cerita yang sangat inspiratif. Buat yang pengen jadi penulis atau bahkan mau bangun egensi kepenulisan harus banget baca cerita ini, sangat memotivasi untuk terus berkarya hihihi.

Antung Apriana said...

Ternyata penting banget ya punya mentor dalam berbisnis itu. Salut deh sama pencapaian teh Indari Mastuti

Rima Angel said...

Wah keren-keren semua, ya iya ga bisa bayangin puluhan tahun lalu cari penulis, pasti susah banget sih itu.

Rizky Ashyanita said...

Apakah hanya aku yg baru tau ini? Sunggug kemana saja aku selama inj mbak.
Terimakaaih infonya, aku jd kepo dan akan aku cari tau lagi 🤣

Ria Rochma said...

Ngga terasa sekali Indscript sudah 13 tahun ya, mbak. Aku baru tahu 7-8 tahun yang lalu saat baru memulai menulis blog pribadi.

Meykke Santoso said...

Owh jadi ini founder IIDN ya mbak, keren pisan. Walu harus meniti jaln berliku, kegigihan pasti akan menemukan jalannya. Semoga kekerenannya bisa menular ke anggotanya ya mbak

Catatan Ayah said...

Keren ya...Smg para Emak2 bisa makin produktif

Tia Marty Alzahira said...

Wah aku juga banyak belajar dari teh Iin, dari dulu sampai sekarang, jadi kangen main ke Indscript

kokonata said...

Kayaknya sekarang branding Mbak INdari cenderung ke fashion, deh... Memang baiknya nggak di sati 1 core bisnis aja. Supaya bisa saling subsidi satu sama lain

Fadli Hafizulhaq said...

Saya jarang menemukan ada perempuan, apalagi ibu-ibu, yang kiprahnya macam Mbak Indari ini, tak hanya besar sendiri, ia juga mengajak perempuan-perempuan lain untuk tumbuh dan berkembang

Post a Comment

Say something nice, for a change.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates