Aku tidak punya banyak orang yang benar-benar dekat. Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin orang-orang yang bertahan di lingkaran terdekatku sudah terfilter dengan sendirinya. Bukan karena aku sengaja memilih mereka berdasarkan kriteria tertentu, melainkan karena waktu, pengalaman, dan berbagai peristiwa membuat hubungan-hubungan itu tetap bertahan.
Aku menyadari bahwa setiap orang yang dekat denganku ternyata memiliki peran yang berbeda. Peran itu tidak pernah kami sepakati. Tidak pernah ada percakapan yang berbunyi, "Mulai sekarang kamu yang mengingatkanku kalau aku mulai malas," atau "Tolong cegah aku kalau aku mulai melakukan hal yang tidak bermanfaat." Semua mengalir begitu saja, tetapi keberadaannya terasa nyata.
Aku menyebut mereka sebagai accountability buddy, yaitu orang yang memperkuat motivasiku untuk bertanggung jawab terhadap tujuan atau komitmen yang telah dibuat. Kehadirannya saja sering kali sudah cukup untuk membuatku berpikir dua kali sebelum menyerah.
Ada seseorang yang membuatku berpikir dua kali sebelum melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Bukan karena ia sering menasihati atau melarangku, tetapi karena aku tahu nilai-nilai yang ia pegang atau hanya karena aku malu saja kalau ketahuan sama dia melakukan hal aneh. Ketika aku hendak menghabiskan waktu untuk sesuatu yang sia-sia, entah mengapa aku membayangkan bagaimana ia akan memandang keputusan itu. Bayangan sederhana tersebut sering kali sudah cukup untuk membuatku mengurungkan niat.
Ada pula orang yang menjadi acuan ketika aku merasa sedang kehilangan semangat untuk melakukan hal-hal yang baik. Jika ia masih bisa meluangkan waktu untuk membaca buku, aku merasa tidak punya banyak alasan untuk terus menunda membaca. Jika ia tetap datang ke kajian atau kegiatan yang sudah direncanakan, aku ikut terdorong untuk hadir. Aku tidak sedang berlomba dengannya. Aku hanya merasa lebih mudah bergerak ketika melihat ada orang yang sudah lebih dulu berjalan.
Aku ternyata cukup mudah bernegosiasi dengan diriku sendiri. Ketika sebuah komitmen hanya kubuat untuk diriku sendiri, aku bisa menemukan alasan untuk menundanya. Aku bisa berkata bahwa hari ini sedang lelah, cuaca kurang mendukung, atau kegiatan itu bisa dilakukan besok. Hampir selalu ada pembenaran yang terdengar masuk akal.
Sebaliknya, ketika aku sudah membuat janji dengan orang lain untuk melakukan sesuatu yang baik, ruang untuk bernegosiasi menjadi jauh lebih sempit. Bukan karena mereka akan marah jika aku membatalkannya. Bukan pula karena mereka akan menghukumku. Aku hanya tidak ingin menjadi orang yang mengingkari janji. Ada rasa tidak enak jika membuat orang lain menunggu, dan ada keinginan untuk menjadi seseorang yang bisa dipercaya.
Mungkin ini adalah caraku meng-hack diriku sendiri agar tidak punya celah untuk bermalas-malasan. Aku jadi menyandarkan sebagian komitmenku kepada mereka. Aku tahu semangatku tidak selalu stabil. Ada hari-hari ketika melakukan sesuatu yang baik terasa ringan, tetapi ada juga hari ketika rasa malas datang tanpa alasan yang jelas. Pada hari-hari seperti itu, kehadiran orang lain sering kali menjadi penyangga agar aku tetap melakukan apa yang sebenarnya sudah kuanggap penting.
Dalam psikologi, ada konsep yang menjelaskan mengapa hal seperti ini bisa terjadi, yaitu implementation intentions. Peter Gollwitzer menjelaskan bahwa niat akan lebih mudah berubah menjadi tindakan ketika diwujudkan dalam rencana yang konkret seperti menentukan kapan, di mana, dan bagaimana sebuah tindakan akan dilakukan (Gollwitzer & Sheeran, 2006). Dalam pengalamanku, ada satu unsur lain yang ternyata sama pentingnya yaitu bersama siapa. Meski dalam banyak waktu dan kesempatan, aku sangat tidak masalah untuk melakukan hal-hal wajib dan menurutku penting hanya bersama diriku sendiri.
Membuat janji untuk bertemu seseorang di perpustakaan, menghadiri kajian bersama, atau sekadar membaca buku di waktu yang sama membuat sebuah niat terasa lebih nyata dibandingkan ketika semua itu hanya kusimpan di dalam kepala. Orang-orang itu mungkin tidak pernah merasa sedang mengawasiku, tetapi keberadaan mereka membuat komitmen yang kubuat menjadi lebih sulit untuk diabaikan.
Dalam penelusuran literatur, aku juga menemukan konsep social support yang menjelaskan bahwa hubungan sosial dapat menjadi sumber dukungan yang membantu seseorang mempertahankan perilaku yang sehat dan adaptif (House, 1981). Selama ini aku sering membayangkan dukungan sebagai nasihat, motivasi, atau bantuan ketika sedang menghadapi masalah. Padahal, dukungan bisa hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana. Kehadiran seseorang yang konsisten menjalani nilai-nilai yang ia yakini ternyata dapat memengaruhi cara kita mengambil keputusan, bahkan tanpa ia menyadarinya.
Aku bersyukur dipertemukan dengan orang-orang seperti itu. Orang yang membuatku berpikir ulang sebelum melakukan hal yang tidak bermanfaat. Orang yang membuatku merasa sayang jika melewatkan kesempatan untuk melakukan kebaikan. Orang yang tanpa banyak bicara menjadi pengingat bahwa hidup bisa dijalani dengan lebih disiplin, lebih bertanggung jawab, dan lebih bermakna.
Mereka mungkin tidak pernah tahu bahwa mereka memiliki peran sebesar itu dalam hidupku. Aku pun tidak pernah secara sadar menempatkan mereka pada posisi tersebut. Peran itu muncul dengan sendirinya, seiring waktu, seiring kedekatan yang terbangun, dan seiring aku semakin mengenali diriku sendiri.
Mungkin setiap orang memang perlu memiliki lingkungan yang membuatnya lebih mudah menjadi pribadi yang ia inginkan. Bukan lingkungan yang terus-menerus mengingatkan atau menghakimi, melainkan lingkungan yang keberadaannya saja sudah cukup untuk membuat kita berpikir dua kali sebelum mengambil keputusan.
Kalau selama ini aku mengira kekuatan terbesar untuk bertumbuh adalah motivasi, sekarang aku mulai percaya bahwa dalam berjalan kita juga membutuhkan orang lain untuk menguatkan atau bahkan hanya sekadar menemani. []
Daftar Bacaan:
Gollwitzer, P. M., & Sheeran, P. (2006). Implementation intentions and goal achievement: A meta-analysis of effects and processes. Advances in Experimental Social Psychology, 38, 69–119. https://doi.org/10.1016/S0065-2601(06)38002-1
House, J. S. (1981). Work stress and social support. Addison-Wesley.





Posting Komentar
Posting Komentar