Lebih dari Sekadar Skripsi

13 komentar
Kali ini aku akan bercerita tentang pengalamanku mengerjakan skripsi saat kuliah S1. Aku berkuliah di Jurusan Biologi Fakultas MIPA. Masa perkuliahanku berjalan mulus, hambatan-hambatan kulewati dengan cukup mudah. Kerikil-kerikil kecil perlahan mulai membesar ketika memasuki masa skripsi. Sama sekali tidak kuprediksi. 

Pada awalnya, aku mendapat tawaran tema skripsi dari dosenku, Pak B, di akhir semester 6. Kupikir, boleh nih biar akhir semester 7 nanti aku sudah kelar kuliah dan impian lulus 3,5 tahun bisa terwujud. Ternyata, tidak semudah itu Gengs!


Yang membuat aku semakin yakin dengan tawaran penelitian itu adalah ketika dosen pembimbing akademikku, sebutlah Pak C, juga mendukung. Spesialisasi Pak C ekologi, aku juga sangat berminat ke sana. Sedang Pak B, sebenarnya fokus beliau lebih ke mikrobiologi, kelompok mata kuliah yang sebenarnya 7 semester kuliah kuhindari selama tidak wajib. Aku sudah pernah membahas ini di postingan yang lain, silakan klik di sini.

Namun, karena tema penelitianku komprehensif dan lintas bidang termasuk ekologi, membuatku mantap memutuskan untuk bergabung dalam tim skripsi ini. Aku dapat partner cowok bernama Z, aku lupa asal-usul mengapa kita berdua yang dipilih. Btw, aku dan Z satu angkatan. Z lumayan berminat ke arah mikrobiologi dan cukup banyak mengambil mata kuliah bidang mikrobiologi. Jadi saat roaming ngerjain pembahasan yang berkaitan tentang mikrobiologi, Z orang pertama yang aku ganggu.

Pengerjaan skripsi diawali oleh uji pendahuluan, membuat aku dan Z yang masih punya banyak mata kuliah saat itu cukup kerepotan mengatur waktu. Kami harus siap menyisipkan waktu setiap hari ke laboratorium untuk meeting dan prepare everything bersama dosen pembimbing kami. 

Dosen pembimbing kami ada dua, selain Pak B ada Pak A yang berasal dari Fakultas Pertanian. Sudah pernah kubilang kan kalau tema penelitianku lintas bidang? Penelitianku sendiri sebenarnya adalah bagian kecil dari proyek penelitian kedua dosen ini. Setiap data yang aku dan Z hasilkan akan membawa pada satu kesimpulan besar. 

Karena Pak A adalah dosen dari fakultas yang berbeda dengan kami, jadi intensitas pertemuan kami lebih jarang dengan beliau. Berbeda dengan Pak B, beliau seperti menghuni laboratorium mikrobiologi kampus 24/7 sehingga lebih mudah ditemui. Boleh dibilang juga pada masa-masa penelitian itu kami hampir selalu nongkrong di lab, bahkan pada weekend. Bisa ditebak, aku jadi jarang pulkam pas di semester akhir kuliah.

Meski begitu Pak A adalah ketua umum proyek penelitian ini dan menjadi pembimbing pertama dalam skripsiku, sehingga untuk pengambilan keputusan besar harus berdasarkan persetujuan beliau. Untuk menemui beliau, biasanya kami harus ke Fakultas Pertanian. Cukup sering, sehingga seluk beluk kampus pertanian tidak lagi asing. Apalagi kami juga pernah pinjam tempat rumah kaca dan laboratorium di sana, bahkan sampai harus mengubek-ubek referensi di perpustakaannya. Well, rasanya seperti menjadi mahasiswa pertanian di akhir kuliah. 

Sebanyak Buih di Lautan

Ada banyak rintangan yang kami alami selama pengerjaan skripsi ini. Rintangan tersebut bukan hanya tentang pengerjaan skripsi yang mengandung kemungkinan untuk gagal karena ya namanya eksperimen tidak ada yang punya kans 100%, tapi juga masalah di luar penelitian yang masih berhubungan dengan skripsi. Bahkan kadang malah masalah eksternal ini lebih besar yang membuat hidupku terasa sangat rumit waktu itu.

Beberapa hal teknis yang pernah jadi momok dalam perskripsian kami antara lain adalah pencacahan tandan kosong kelapa sawit (tkks) yang akan digunakan sebagai salah satu jenis pupuk kompos. Kami melakukan pencacahan manual dengan menggunakan tangan dan parang. Bayangkan saja, tangan kecilku ini bertemu parang, asing sekali. Kaku dan membuat nyeri berminggu-minggu.

Hingga sekarang, tiap lewat rumah kaca tempat kami mencacah tkks dulu membuat otakku membuka memori nyeri-nyeri sedap. Alam bawah sadarku mengenalinya sebagai nostalgia yang tidak menyenangkan. 

Untuk mendapatkan tkks sendiri kami harus ke perkebunan sawit yang ada di Pelaihari. Sebuah kesempatan langka sih bisa berkunjung ke perusahaan sawit sebesar itu, skala nasional dan yang di Pelaihari itu adalah PTPN XIII. Sekilas kami melihat proses setelah kelapa sawit dipetik dan dipisahkan dari tandannya. Serba otomatis, meski untuk pemanenan masih menggunakan tenaga manusia.

Kembali ke rumah kaca, pada tahap selanjutnya kami harus melakukan fermentasi bahan kompos yang terdiri dari tkks dan rumput serta starter dari bakteri yang kami biakkan. Proses fermentasinya ini harus dilakukan dalam chamber gelap. Masalahnya adalah wadah yang tersedia di pasaran berwarna terang bahkan hampir transparan. Hal tersebut membuat kami harus melakukan pengecatan terhadap chamber tersebut dengan cat warna gelap. 

Jumlahnya banyak sekali, menyesuaikan banyak perlakuan yang akan kami berikan pada lubang tanam dan anakan kelapa sawit nanti. Well, kombinasi dari setiap treatment sendiri sudah banyak. Kalikan dua, untuk masing-masing aku dan Z. Pengecatan, meski memakan waktu lama, tapi tak butuh tenaga ekstra sehingga tidak membuatku mengeluh.

Aku lupa apa proses yang mengharuskan kami untuk datang setiap hari ke rumah kaca tersebut, hingga kami mesti pakai shift-shift dulu. Pengadukan atau apa gitu. Kegiatan lain yang cukup berkesan dan membuatku seperti menjadi petani modern adalah kegiatan menimbang pupuk kimia. Iya, meski menggunakan kompos, pada penelitian ini kami juga menyertakan sedikit pupuk kimia dengan takaran-takaran tertentu.

Di laboratorium sendiri kerjaan kami tak kalah banyak, mulai dari shaking tanah, membuat media biakan untuk bakteri, menginokulasi bakteri dari tanah. Jika sudah tumbuh si bakteri harus diidentifikasi pula. Untuk itu aku mesti membuka kitab tebal para bakteriolog. Enggak cukup sampai di situ, di tengah-tengah perjalanan fungi juga ikut bergabung. Membuatku harus seperti Amoeba agar bisa membelah diri dan mengerjakan keduanya dengan sama baiknya.

Untuk identifikasi yang lebih akurat, dilakukan uji-uji tambahan untuk mengetahui karakteristiknya. Uji-uji yang mudah seperti pewarnaan Gram dan sumber karbon bisa kami lakukan sendiri. Tapi untuk beberapa parameter lain, kami sampai harus ke laboratorium eksternal karena di lab kampus tidak menyediakan reagent dan semacamnya untuk mendukung uji yang dimaksud. Untuk melengkapi metode, Pak B dan Z sampai harus ke LIPI Bogor. Di sana isolat kami diuji menggunakan Biolog Microbial ID System. 

Untuk sampel gas rumah kaca (GRK) kamijuga menguji di laboratorium eksternal di Pulau Jawa, menggunakan alat kromatografi gas. Sampel atau contoh gas diambil menggunakan syiringe. Bisa dibilang kami mabuk syiringe waktu itu saking banyaknya, bahkan sampai dicurigai digunakan untuk apa oleh apotek yang menjual. Belum lagi, setiap syiringe harus dibungkus menggunakan alumunium foil agar tidak terkena cahaya matahari. Pengujiannya 2 minggu sekali dan dilakukan dalam jangka waktu 3,5 bulan. Hoho.

Jangan lupakan juga kami harus menguji karekteristik tanah berupa pH, kelembaban, C-organik, dan N-Total. Untuk itu kami mesti ke lab kimia which is bagi anak Biologi peralatan dan metodenya cukup asing. Aku bahkan sampai pernah bikin baki yang terbuat dari plastik meleleh karena labu mendidihnya tidak kudinginkan terlebih dahulu di lemari asam. Aku khawatir sekali saat itu karena berpotensi dapat menyebabkan kebakaran. Hiyy. Thanks to tenaga laboratorium kimia yang banyak membantu. 

Ada banyak hal lain yang sudah aku lupa mengenai teknis metode penelitian ini, makanya random sekali mention-nya. Entah faktor sudah faktor 5 tahun berlalu atau otak bawah sadarku yang lebih memilih lupa sebagai mekanisme mental defense. Agar tidak terlalu bingung, mengapa kerjaanku terdengar seperti banyak sekali, rangkumannya ada pada judul skripsiku berikut: 

Efek Pemberian Kompos pada Lubang Tanam Kelapa Sawit terhadap Emisi Gas dan Keragaman Bakteri serta Fungi Tanah.

Tantangan di Lapangan

Aku tipe anak lapangan sejak kuliah, bahkan juga sebelumnya. Makanya ikut ekskul pramuka dan waktu kuliah ambil ekologi. Untungnya pada penelitian skripsiku juga ada bagian yang harus ke lapangannya.

Lokasi lapangan kami berjarak 2 jam dari kampus. Biasanya kami berangkat pakai mobil dosen, tapi pernah juga rombongan naik sepeda motor. Jalan yang kami lewati tidak selalu mulus, sekarang mungkin sudah diaspal dengan baik tapi sebagian besar dulu masih berupa tanah berkerikil. Bahkan, ketika membawa peralatan seabrek-abrek kami pernah naik mobil pick up. Seru! 

Lokasi pengambilan sampel kami terletak di tengah-tengah sawah kering yang sayangnya motor dan tentu saja mobil tidak bisa sampai ke sana. Ada jembatan kayu mengerikan yang tidak bisa dilewati oleh kendaraan-kendaraan tersebut. Bahkan menyeberang hanya dengan membawa diri saja sudah bikin sport jantung, apalagi kami sering harus membawa peralatan tempur. Sungai kecil yang dilewati jembatan tersebut sepertinya cukup dalam dan permukaannya jauh dari jembatan. Benar-benar jembatan neraka, kalau mengutip kata teman-teman.

Dari jembatan tersebut kami mesti jalan kaki, mungkin 1 km. Kondisi tanahnya tidak terlalu solid saat diinjak. Jadi mesti hati-hati. Belum lagi jika cuaca kurang bersahabat, cerah banget atau hujan sekalian. Duh, double-double penderitaannya. Waktunya tidak bisa diganti, jadwal untuk pengambilan sampel gas dan tanah harus sesuai dengan perencanaan. Beruntungnya ada sebuah pondok kecil yang disebut sebagai pondok derita oleh anak-anak. Hehe.

Pada saat ke lapangan, kami mendapat bantuan dari sepasang kakak tingkat yang sebelumnya juga ikut penelitian dengan Pak A dan Pak B. Selain itu, ada mahasiswa dari Fakultas Pertanian bimbingan Pak A yang juga ikut serta dalam penelitian ini, hitungannya mereka berdua kakak tingkat sih tapi juga masih menggarap penelitian. 

Bonus, ada satu mahasiswi bimbingan Pak A juga dari Fakultas Pertanian. Dia seangkatan dengan kita, karena dia cewek jadi aku bisa lebih dekat dengannya dibanding yang lain. Hai Y, kalau kamu baca postingan ini, kabari aku ya. Kita loss contact setelah semua lulus. 


Kegiatan di Luar Penelitian

Kegiatan penyerta di luar penelitian tapi masih terkait dengan skripsi juga kujalani selama dua tahun tersebut. Dua dosen pembimbing kami ini kebetulan aktif di organisasi luar kampus yang sama. Ketika organisasi ini mengadakan acara, biasanya kami di-hire sebagai panitia tambahan. Seru sih, aku yang memang anak organisasi, suka-suka aja diajak berpartisipasi.

Selain itu kami juga harus membantu penelitian punya dosen yang lainnya. Kali ini lebih seru, mengukur emsisi gas yang dihasilkan oleh sapi. Iya, sapi. Chamber-nya dari kaca sebesar sapi yang bersangkutan. Lokasi penelitiannya lebih jauh daripada lokasi penelitianku. Tambah seru.

Kami juga pernah nginap di salah satu hotel di Marabahan untuk mengejar waktu pagi pengambilan gas di pagi hari. Karena harus subuh sekali kalau mau berangkat di hari yang sama dari kampus. Dengan begitu kami bisa jalan-jalan singkat di Kota Marabahan yang berada di pesisir Sungai Barito.

Bahkan kita pernah bepergian keluar kota untuk acara pernikahan kakak tingkat yang juga dulu di bawah bimbingan skripsi Bapak B. Saat itu menurutku sangat menyenangkan, karena kita bisa mampir di tempat wisata juga. Acara makan-makan jangan ditanya, sering sekali. Karena kebetulan Dosen B kita enggak pelit jajan-jajan,. Haha. 

Laporan Skripsi

Kalau boleh dibilang, laporan skripsiku itu adalah buku solo pertamaku yang menguras energi dalam pengerjaannya. No typo-typo club. Sudahlah aku strict duluan dengan teknis penulisan, tambahan pula dosenku perfectionist dalam hal isi. 

Total halamannya ada 90 halaman, itu pun menurutku ada banyak hal terutama metode yang tidak dimasukkan secara detail di dalamnya. Misal, untuk pengerjaan C-Organik tanah hanya disebutkan menggunakan metode bla bla bla, tanpa disertai kalimat teknisnya. Btw, untuk daftar pustaka sudah memakan 7 halaman sendiri. Sejak penelitian awal, jurnal yang berkaitan dengan tema skripsi harus selalu kuakses. Belum lagi buku-buku setebal bantal itu, pernah berminggu-minggu nginap di kamar kost.

Yang bikin tambah deg-degan adalah 3 orang dosen pengujiku high class, doktor semua. Well, pembimbingku salah satunya profesor sih. Tetap saja saat sidang semuanya harus dihadapi sendirian. Belajar mati-matian dong aku. Setelah seminar rasanya lega banget. 

Kesedihan yang Tersisa

Ternyata aku membutuhkan dua tahun untuk menggarap skripsi. Jika bisa dibulatkan, pengerjaan usul penelitian satu tahun, satu tahunnya lagi untuk pengerjaan hasil penelitian. Musnah sudah impian lulus cepat. 

Dengan kegiatan-kegiatan yang sudah kujabarkan di atas, masuk akal jika menghabiskan waktu selama 2 tahun. Tahu kan gimana cara kerja penelitian di laboratorium, uji-gagal-ulang atau uji-tunggu-hasil. Proses-proses tersebut adalah salah satu hal yang membuat skripsiku lama kelarnya.

Aku sempat sedih tidak bisa bareng wisuda bersama 3 sahabatku yang memulai penelitian setelah aku. Kebetulan mereka bertiga satu proyek dari dosen yang sama. Alhasil, waktu yang digunakan oleh mereka untuk bersama-sama lebih sering, aku sendiri yang nggak matching. Tapi untunglah mereka sahabat yang baik, jadi ketika ingin kumpul mereka biasanya menyesuaikan dengan jadwalku.

Hikmah dari Semuanya

Kegalauanku tersebut tidak berlangsung lama karena aku merasa ada banyak hal lain yang membuatku bersyukur. Ngikutin dosen kesana kemari selama dua tahun bikin koneksiku meluas, terutama dari kalangan akademisi. Bahkan sampe bisa ketemu dosen dari Hungaria ketika ada simposium internasional. Dan harus kuakui skill lab-ku nambah selama penelitian.

Nulis cerita ini bakal susah sih kalau aku belum berdamai dan merelakan masa-masa itu sebagai pembelajaran bagiku. Sekarang aku sudah lepas, jadi yang kurasakan saat menulis ini hanyalah kelegaan yang memuaskan. 

Meski bukan salah satu pengalaman terindah yang pernah kualami, tapi aku bersyukur pernah mengalami masa-masa ini.

Setiap orang punya ceritanya masing-masing. Dulu saat down banget, aku bilang sama partnerku. Di masa depan, kita akan menertawakan masa-masa ini. Masa ketika kita berjuang untuk sebuah gelar sarjana. Hari ini meski tidak tertawa, aku bisa mengingat semua pengalaman tersebut dengan senyuman. Sungguh sebuah pengalaman berharga. Bahkan rasanya aku kangen berkuliah lagi. Haruskah aku daftar S2 setelah ini? Let’s see. []

Rindang Yuliani
Rindang Yuliani adalah seorang sarjana sains yang sedang menikmati proses sebagai bloger. Rindang juga sedang meladeni obsesinya untuk mendapatkan beasiswa S2 dan menerbitkan buku pertamanya. Wanita kelahiran 6 Maret ini juga selalu berusaha mengakrabi Tuhan melalui hobinya yaitu membaca, menulis, dan jalan-jalan.

Related Posts

13 komentar

  1. skripsi ini memang menguras tenaga, waktu dan pikiran, semua berjuang untuk hasil yang terbaik, apalagi kalau penelitiannya sampe keluar kota
    ada cerita kenangannya ya mb kalo gini

    BalasHapus
  2. luar biasa mbak :) perjuangan ya skripsi tuh hehehe

    BalasHapus
  3. Jadi inget tahun 2013 aku pernah penelitian di lab kampus mba, karna membantu penelitian doktoral dosen mikrobiologi ku mba... Trus sampai tehakhirnya aku caricari t mencit ke bvet, dan ke beberapa tempat lain, karna lumayan banyak mencit yg dibutuhkan.

    Sama banget dengan mba rindang, akupun skripsi sempat galau sampai menangis2, sampai rasa buntu otak g bisa mecahin masalah saat bertemu spss . Dan sekarang kalu ingat waktu itu, cuma bisa tertawa ngakak, kok bisa dulu aku se galau itu

    BalasHapus
  4. Wow, if think about skripsi. Soon i have ache nih. Hahaha. Keep fighting kakak

    BalasHapus
  5. Ribet emang urusan skripsi, beruntung yg dosennya baik dan pengertian. Tapi setelah melalui semuanya, nikmat banget dong!

    BalasHapus
  6. Jadi ingat saat riset Kandungan Protein dalam Ampas Tahu saat kuliah dulu. Nggak ingat sama hasil atau nilainya. Tapi proses risetnya terkenang selalu

    BalasHapus
  7. Ah bener banget di balik skripsi yang bikin aku kurus, 1 hal yang pasti pengetahuan dan skill bertambah ya

    BalasHapus
  8. "Di masa depan, kita akan menertawakan masa-masa ini"
    kalo hati sedang susah, tapi pikiran sedang waras, aku juga mikir gitu. nanti di akhirat kita bakal ngetawain masalah2 kita di dunia, seremeh itu!

    BalasHapus
  9. Ada banyak cerita ya pastinya di balik skripsi setiap sarjana. Pastinya semuanya memberikan kenangan tersendiri bagi kita

    BalasHapus
  10. Wah, saya jd kangen masa-masa praktik laboratorium di FMIPA. Saya cuma pernah belajar di laboratorium biologi selama 1 semester di FMIPA. Waktu itu cuma berasa serunya aja sih, karena penelitiannya masih standar dasar buat kami anak-anak prodi sebelah, hihihi. Waktu itu sedih banget karena tak punya akses lagi untuk masuk ke lab biologi setelah semester I berakhir.

    BalasHapus
  11. Hahaha, ada temen aku deh jadinya. Jamannya skripsi memang bikin stres, apalagi yg ampe 2 tahun. Kl penelitianku in vitro & in vivo. Ngambil benih kacang yg ditanam ke pelaihari, entah desa apa namanya lupa. Jadi kl ada yg nanya kenapa nggak nerusin S2? Uwwuu rasanya pengen jitak tu orang deh.

    BalasHapus
  12. Ternyata memang rencana awal belum tercapai ya Mbak, dengan segala hal rintangannya, Alhamdulillah bisa selesai.


    Masa-masa skripsi emang seru, hihi. Saya pernah hujan-hujanan ke rumah dosen hanya unuk minta koreksi skripsi. Alias minta dicoret-coret wkwk.

    Sama nih pengen kuliah S2 juga, tapi kapan ya haha

    BalasHapus
  13. Aku paham bener rasanya seru banget bereksperimen di lab mba
    Aku dulu anak KIR. Pulang sekolah nongkrong di lab buat bikin karya ilmiah. Sampai dibilang caper. Hahaha
    Btw aku baru mba rindang jurusan biologi. Keren mba!

    BalasHapus

Posting Komentar