Tuesday, July 28, 2020

Makna Idul Adha: Mengasah Mental Berbagi dan Meningkatkan Ketakwaan pada Allah SWT

Idul Adha adalah hari raya kedua terbesar bagi umat Islam. Sayangnya, meskipun termasuk hari raya besar kemeriahannya menurutku tidak seheboh Idul Fitri. Memang sih Idul Fitri ada di urutan pertama, tapi beda antusiasmenya itu menurutku jomplang sekali. Mulai dari hari liburnya yang sebentar, hingga bentuk perayaannya yang kurang meriah.

Mari kita tengok timeline medsos pada Hari Raya Idul Adha. Selain postingan tentang salat Ied, foto yang bertebaran di media sosial adalah sekitar prosesi penyembelihan hewan kurban, acara kumpul-kumpul membuat sate bersama keluarga, atau ada yang sedang berhaji mengabadikan momen sakral di Tanah Suci.

Tapi ya Idul Adha sekali lagi perayaannya tidak sehingar-bingar Idul Fitri. Bukan aku ingin Idul Adha juga mengalahkan 'pamor' Idul Fitri, jika tidak bisa sama 'memperlakukannya' setidaknya tidak menyepelekannya.

Untungnya, tahun ini (2020) Idul Adha jatuh pada hari Jumat. Libur (kerjaku) hari Sabtu Minggu bisa digunakan untuk libur Idul Adha. Tidak seperti tahun lalu ketika Idul Adha jatuh pada hari Minggu, it’s mean nggak ada libur sama sekali karena Senin ya langsung balik kerja.

Ibadah Haji dan Kurban di Masa Pandemi

Minimnya jumlah libur Hari Raya Idul Adha ini berimbas pada banyak orang yang tidak terakomodasi untuk melakukan mudik dan berkumpul dengan keluarga. Sehingga berefek kepada kekurangmeriahannya acara ini. Satu lagi yang menambah sunyi Idul Adha tahun ini adalah karena pandemi Covid-19 yang menyebabkan tidak diberangkatkannya jamaah calon haji asal Indonesia ke Tanah Haram. 

Biasanya kan ada aja tuh keluarga, teman, atau kenalan yang kena giliran naik haji. Bisa silaturahim ke rumah yang bersangkutan sebelum atau sesudah keberangkatan. Sekarang, boro-boro silaturahim rumah ke rumah, jabat tangan saat ketemu di jalan pun dengan sadar mulai dihindari. Apalagi sebabnya jika bukan virus Corona. 

Berkurban pun sekarang mungkin akan dipenuhi dengan berbagai protokol kesehatan agar tidak meningkatkan jumlah kasus positif. Mungkin dalam proses penyembelihan dan pembagian daging kurban, penerapan jaga jarak antar orang akan dilakukan. Sterilisasi alat dan tempat juga tentu akan dilaksanakan secara ketat. Belum lagi kebersihan pribadi seperti menggunakan masker atau face shield serta cuci tangan pakai sabun.

Idul Adha memang identik dengan ibadah haji dan ibadah kurban. Jika seseorang melakukan salah satu di antara dua hal ini, Idul Adhanya mungkin akan terasa lebih berkesan. Tapi tidak semua orang sanggup melakukannya karena keterbatasan biaya dan kesempatan. 

Memaknai Idul Adha 

Lalu apa yang bisa dilakukan untuk merayakan Idul Adha agar lebih bermakna? Setidaknya bagi yang belum berkesempatan untuk menjalankan ibadah haji dan kurban. Semoga maknanya bukan 'hanya sekadar' salat Ied di masjid terdekat.

Setelah salat di masjid kembali ke rumah, kalau tidak ada undangan pembagian daging kurban di sekitar tempat tinggal maka tidak ada hal spesial lain yang bisa dilakukan. Apalagi misalnya sedang jauh dengan keluarga, duh rasanya pasti sepi sekali.

Tidak seperti pada Idul Fitri, kebiasaan silaturahmi dan saling mengunjungi tidak banyak dilakukan orang pada Idul Adha. Hal ini kembali lagi mungkin terkait dengan waktu libur yang tidak panjang.

Padahal Idul Adha bukan sembarang hari raya, ada banyak makna yang bisa diresapi. Yuk kita cermati makna-makna yang terkandung dari Idul Adha ini.

Napak Tilas Sejarah Nabi Ibrahim

Jika menengok ke belakang terkait Idul Adha, kita akan menemukan beberapa part kehidupan Nabi Ibrahim. Pertama, saat Bapak Para Nabi ini diperintahkan oleh Allah SWT untuk menempatkan istri dan putranya, Siti Hajar dan Ismail, di suatu lembah sunyi nan gersang dan tandus.

Nabi Ibrahim tidak tahu apa maksud sebenarnya dari wahyu Allah yang menyuruh menempatkan istri dan putranya yang masih bayi itu di tempat yang asing dan sangat jauh dari tempat tinggalnya. Namun karena ketakwaannya, ia menerima perintah itu dengan penuh ikhlas dan tawakal. Begitu pula Siti Hajar, ia begitu ikhlas menerima takdir dari Allah. Andai kau seorang Hajar apakah kau bisa seikhlas itu menerima cobaan ditinggalkan berdua bersama bayi di tempat asing oleh suami tercinta tanpa perbekalan apapun?

Sepeninggal Nabi Ibrahim, Hajar dan Ismail mencoba bertahan untuk hidup. Diceritakan oleh Ibnu Abbas ketika Siti Hajar kehabisan air minum hingga tidak bisa menyusui nabi Ismail, beliau mencari air kesana kemari sambil lari-lari kecil (Sa’i) antara bukit Sofa dan Marwah sebanyak 7 kali. Untuk membantunya, Allah mengutus malaikat Jibril dengan membuat mata air zam-zam. Siti Hajar dan Nabi Ismail pun memperoleh sumber kehidupan.

Akhirnya lembah yang dulu gersang itu, mempunyai persediaan air yang melimpah ruah. Datanglah manusia dari berbagai pelosok ke tempat Siti Hajar dan Nabi Ismail untuk membeli air. Rejeki datang dari berbagai penjuru sehingga makmurlah lembah yang hingga saat ini dikenal dengan Kota Mekah itu. Kota tersebut sekarang didatangi oleh banyak umat muslim dari seluruh dunia untuk melaksanakan ibadah haji. Salah satu rukun haji yang dilakukan adalah mencontoh kegiatan berlari Siti Hajar dalam mencari air yaitu sa’i.  

Sejarah kedua terjadi ketika Nabi Ismail berumur 7 tahun. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih Nabi Ismail. Tak butuh waktu lama bagi Nabi Ismail juga untuk menyetujuinya.

“Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai Bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS As-saffat: 102)

Seandainya aku adalah Ismail entah apa yang aku rasakan. Ketawakalan mereka berdua menunjukkan bahwa mereka memang layak dinobatkan sebagai nabi. Sebagai imbalan keikhlasan mereka, Allah mencukupkan dengan penyembelihan seekor kambing sebagai kurban ganti Ismail. Untuk memperingati dan mencontoh keteladanan kedua nabi tersebut, pada setiap hari Raya Idul Adha umat Muslim melaksanakan pemotongan hewan kurban.

Ketakwaan yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim pada dua kisah di atas harus kita teladani. Dalam berbagai lini kehidupan, takwa kepada Allah harus diterapkan. Cobaan kita mungkin tidak sebesar apa yang dialami oleh Nabi Ibrahim. Tapi untuk manusia biasa, biasanya kita akan mudah terpuruk tanpa ketakwaan. Dengan menyandarkan segalanya pada Allah, semua akan terasa lebih mudah.

Mengasah Mental Berbagi

Idul Adha adalah momen saling berbagi. Bisa ditunjukkan oleh ibadah kurban. Daging hasil penyembelihan dibagikan kepada semua orang yang ada di sekitar tempat penyembelihan tersebut. Sehingga pada momen ini semua orang bersuka cita bisa mengonsumsi daging yang sama.

Jika tahun ini kita belum bisa berkurban, minimal kita sudah punya niat untuk menabung agar bisa membeli hewan kurban. Konon, dengan berkurban secara filosofis kita akan membuang sisi kebinatangan yang ada pada diri kita. Tahu kan ya sifat-sifat binatang? Menyusahkan banget kalau terus dipelihara. Misalnya egois, iri, dengki, tidak peduli dengan orang lain. Semacam itulah.

Selain itu dari segi ibadah, pahalanya sangat besar di sisi Allah. Dari sisi kemanusiaan, kita juga dapat membantu saudara-saudara kita yang selama ini tidak biasa makan daging sapi atau kambing. Apalagi di masa pandemi seperti ini. Jangankan makan daging sapi atau kambing, beli ikan saja pun mungkin ada keluarga yang tidak mampu. 

Jika belum bisa berkurban sendiri satu ekor kambing atau sapi, bisa juga dimulai dengan bersedekah sejumlah rupiah untuk tujuan kurban ke badan-badan yang menyalurkan dana kurban. Insyaallah dana yang kita salurkan meski sedikit akan menjadi sepotong dua potong daging bagi perut saudara kita yang sedang kelaparan di seluruh pelosok negeri. 

Mengobarkan Semangat Berhaji

Semangat haji juga perlu kita tumbuhkan dalam diri kita. Meski kita belum punya cukup uang untuk mendaftar haji, tapi setidaknya kita sudah bertekad dan menabung sedikit demi sedikit untuk mencapainya. Akan ada jalan dari Allah untuk memudahkan jika kita sudah berniat kuat untuk berhaji.

Ibadah haji bukan hanya untuk orang-orang yang sudah tua. Semakin muda berangkat haji, maka semakin bagus. Ibadah haji adalah ibadah yang cukup banyak mengandalkan fisik sehingga sangat cocok jika dijalankan oleh para pemuda.

Mengapa pula kita perlu berhaji? Haji termasuk ke dalam Rukun Islam yang berarti wajib dikerjakan oleh setiap muslim. Meskipun terdapat embel-embel bagi yang mampu, tapi kita tetap harus memampukan diri. Karena Allah tidak akan mengubah nasib kita jika kita tidak berusaha.

Rangkaian ibadah haji juga memiliki makna yang sangat luas. Bisa menjelajah tanah para nabi bukankah adalah sesuatu yang istimewa? Itu bisa didapatkan dengan pergi berhaji. Bisa beribadah di tempat-tempat mustajab, bukankah itu sesuatu yang privilege?

Tidak semua orang merasa terpanggil untuk melakukannya. Padahal ada jaminan Allah akan mengabulkan doa orang yang pergi berhaji karena doa-doa mereka panjatkan di tempat mulia. Belum lagi dari sisi pahala, masyaallah banyaknya.

Mari tekadkan diri untuk menjalani dua ibadah besar saat Idul Adha, yaitu berkurban dan berhaji.

Bagaimana, apakah pikiran kita sudah terbuka mengenai pemaknaan perayaan Idul Adha? Maknanya yang begitu dalam semoga tidak tertutup hanya karena liburnya kurang panjang atau aktivitas saat Idul Adha yang monoton. Semoga pada Idul Adha di tahun-tahun berikutnya kita sudah bisa melaksanakan dua ibadah besar di atas. Amin. []

Sumber: https://www.amalkurban.com/sejarah-dan-makna-idul-adha/

Artikel Terkait

8 komentar:

Fie_07 said...

Aamiin ya rabb... semoga ya kak. Sangat banyak sekali teladan yang diberikan oleh keluarga Ibrahim a.s ini.

unggulcenter said...

ga kerasa.. beberapa hari lagi sejak komentar ini ditulis.. di masa pandemi, smoga tetap berjalan lancar dan jadi salah satu sarana untuk kita introspeksi dgn adanya kondisi yg tak pernah diperhitungkan ini.. aamiin..

Nurul Fitri Fatkhani said...

Saya salut dengan masyarakat kita yang mau berbagi dan empati kepada yang lain. Bahkan di masa pandemi seperti sekarang, masih banyak masyarakat yang mau berbagi. Seperti dengan ikut berqurban di Hari Raya Iedul Adha ini

Jiah Al Jafara said...

Idul Adha tuh emang gak seramai Idulfitri. Dulu malah pernah sakit di hari itu. Jadi beneran santai karena paling pergi solat Ied. Kalaupun ada kurban, biasanya kan di masjid. Pas nyembelih dan ngaturnya di rumah, baru agak ada kegiatan

Enny Ratnawati said...

Tiap mau idul Adha gini memang terkenang lagi soal pengorbanan nabi Ibrahim, semoga kita bisa nyontoh ya pengorbanan beliau denganikut qurban juga..
Soal haji juga demikian. Walau tahun ini nggak ada jamaah dari indonesia, semoga kita juga bisa melaksanakannya kelak. InshaAllah

irabooklover said...

Pas banget Mbak,tahun ini sy cuma bisa nyumbang sekian rupiah untuk ibadah qurban,hiks. Tapi semoga nanti bisa melaksanakan ibadah haji dan qurban sekaligus di hari raya Idul Adha berikut2nya, aamiin.

Tukang Jalan Jajan said...

banyak sekali ilmu yang didapat dari tulisan ini. Semoga pandemi ini jadi membuat iman dan taqwa kita semakin tinggi dan naik kelas lagi

Eko Prasetyo said...

Amiin,
Klo tidak ada biaya untuk berhaji, lebih baik berqurban aja..

Post a Comment

Say something nice, for a change.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates