Monday, September 16, 2019

Review Birama Rona Budaya

Birama Rona Budaya adalah kumpulan cerpen karya alumni Ramadhan Writing Challenge (RWC) 2018. RWC merupakan program tantangan menulis setiap hari selama bulan Ramadan yang diadakan oleh Komunitas One Day One Post (ODOP). Aku sendiri ikut RWC tahun 2019, tetapi aku tidak ikut antologinya. Saat itu aku sedang banyak deadline menulis lainnya.

Judul: Birama Rona Budaya
Penulis: ODOP Community
Penerbit: Embrio
Tahun terbit: 2018
Nomor ISBN: 978-602-53061-6-7

Benang merah kumpulan cerpen di buku ini adalah budaya Indonesia. Kekayaan budaya Indonesia memang harus diabadikan, salah satunya lewat cerita pendek. Salah satu ceritanya berjudul Birama Nada Bambu yang ditulis oleh Ajie A. Mahendra. Bercerita tentang seorang anak yang terkagum-kagum dengan sebuah ruang musik yang semua isinya terbuat dari bambu.



Kata ‘birama’ dalam judul cerita ini diambil untuk menjadi salah satu kata penyusun judul buku ini. Aku sampai mencari arti kata birama untuk menerjemahkannya meski sudah kuduga artinya agak mirip dengan kata irama seperti penulisan dan pengucapannya.

Secara umum, cerita-cerita di dalam buku ini sangat sederhana. Mungkin karena aku sudah lama tidak membaca cerpen sehingga tidak merasa itu sebagai sebuah kekurangan. Sekarang aku jadi merasa lebih permisif dengan cerita yang sederhana.

Sesederhana apapun cerita pasti ada hal yang bisa disampaikan oleh penulis kepada pembacanya. Seperti paragraf yang kukutip dari salah satu cerita berjudul Pesta Lomban karya Abdul Fatah tentang filosofi kupat ini.

“Kupat terbuat dari beras yang dibungkus dengan daun kelapa. Orang Jawa menyebutnya janur. Konon, janur merupakan singkatan dari Ja’a Nuur, yang berarti telah datang cahaya. Sedangkan putihnya nasi yang terbungkus janur menandakan putihnya hati di hari nan fitri.” – Halaman 127

Secara fisik aku suka desain bagian dalam bukunya, ada ilustrasi abstrak pada setiap halaman judul dan itu masih nyambung dengan gambar di sampul depan.

Aku suka dengan sebagian besar cerita dalam buku ini karena temanya yang menarik. Ada banyak budaya dari berbagai daerah yang baru kuketahui dari cerita-ceritanya. Contohnya tentang kawin lari dan kawin culik yang ada di Lombok. Aku baru tahu tradisi tersebut setelah membaca cerita dari Mutia Rachmat yang berjudul Culik Apa Lari, Ya?

Beberapa cerita terasa menggantung dan kurang jelas, seperti pada cerita Bermula dari Jaro yang ditulis oleh Naila Zulfa. Kapan dan bagaimana si tokoh Dini dan Abdul menikah dan punya anak? Di dalam cerita langsung melompat ke konflik.

Di cerita yang lain aku menemukan kejanggalan dalam penokohannya. Sebutlah dalam cerita Tak Mau Tetapi Harus karya Astika Rosita Afriliana. Tokohnya bernama Indah, ia menggunakan sudut pandang orang pertama dalam penulisannya. Dari ceritanya dapat diketahui bahwa si Indah ini masih balita, ada beberapa kata yang merujuk bahwa ia digendong mama papanya dan dipakaikan baju.

Sayangnya, sudut pandang orang pertama yang digunakan penulis membuat cerita ini cukup kacau. Tahu dari mana balita tentang adat pernikahan suku Bugis dan tetek bengeknya? Well yeah, ini koreksiku sebagai pembaca.

Kekurangan lain dari buku ini adalah banyaknya salah ketik. Hampir di setiap cerita aku menemukan typo. Aku juga terganggu dengan jenis huruf yang digunakan untuk menuliskan nama penulis di bagian Tentang Penulis. Itu adalah jenis huruf yang susah dibaca dan nama orang bukan kata yang bisa ditebak ejaannya.

Meski begitu, aku salut dengan Komunitas ODOP yang berhasil menerbitkan buku 186 halaman ini. Tema budaya yang diangkatnya membuat pilihan literasi tentang budaya Indonesia semakin beragam. []

Artikel Terkait

13 komentar:

Lutfi Yulianto said...

Wah ... terima kasih atas ulasannya, Mbak.
Semoga ke depannya bisa lebih baik lagi ...

Yoharisna said...

Tema etnik memang punya daya tarik tersendiri ya kk. Anyway, tulisan kk keren. Mau juga di kritik dan saran tulisanku supaya lebih baik. Terimakasih kk

maria8181 said...

Salam kenal mbak. Saya baru tahu kalau komunitas ODOP telah menerbitkan buku. Hebat !

Fentaqul said...

Ini resensi buku ya kak? aq jadi pengen baca buku lagilagu yang lain selain buku pelajaran sekolah

Farhandika Mursyid said...

Hmmm.. menarik juga, aku lagi koleksi buku kumpulan cerpen nih soalnya. Apalagi, diskusi di sini membahas tentang berbagai budaya dari berbagai tempat. Mantep lah!

Diah Kusumastuti said...

Beberapa kali baca buku terbitan indie, memang editannya kurang rapi ya, Mbak. Typo itu paling banyak muncul. Trus kalau antologi cerpen, ada beberapa cerita yang kurang menarik atau nggak logis seperti yang mbak Rindang sebutkan. Tapi temanya oke sih ya buku ini :)

Khoirur Rohmah said...

Aku udah lama nggak nulis cerpen *poor me* apalagi bikin review begini mbak. huhuu.
Jdi kumpulan cerpen yg isinya beberapa cerita dari budaya yg ada di beberapa daerah di Indonesia ya mbak. Kalau aku baca juga sih, tentu juga bakalan tahu jenis2 budaya di nusantara nih heeee
Makasih reviewnya ya mbak

Jiah Al Jafara said...

Buku kroyokan memang agak PR ya soal typo dan seleksi karyanya. Tapi cukup seru. Aku pun rindu punya antologi. Sudah seribu purnama kayanya

Eny kadinda Aprilya said...

Wah Eny tertarik nih sama buku yg ada bahas budaya, boleh dong numpang baca wkk soalnya kalo beli buat sekali aja syg 😭 tapi Eny penasaran

Sandzarjak said...

Bisa nih jadi koleksi buku di rumah. Saya suka banget baca buku kumpulan cerpen dan novel, kebetulan.

Marfa U said...

wah ini buku yang bagus dan potensial ya berarti, harapannya nanti cetak selanjutnya sudah revisi kembali akan kekurangan2nya jadi bisa lebih ciamik ya :D

lendyagasshi said...

Membaca cerpen itu sama seperti membaca petualangan sang penulis dalam mengembangkan ide cerita. Semenarik mungkin, agar orang makin penasaran dan gak bosen sama buku kumcer begini.

Tika Samosir said...

Keren nih ya one day one post dibuat jadi sebuah buku.
Jadi penasaran isi bukunya seperti apa.

Post a Comment

Say something nice, for a change.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates