Thursday, August 22, 2019

Review Novel Kambing dan Hujan

Kali ini aku akan mereview satu buah buku yang baru saja selesai kubaca. Sebenarnya dari judul dan covernya, aku merasa tidak ada yang istimewa dari buku ini. Bergambar sebuah botol berwarna putih dan ada gambar kambing di dalamnya, tidak membuatku tertarik. Aku hanya sedang kehabisan bacaan saja saat itu.


Judul: Kambing dan Hujan
Penulis: Mahfud Ikhwan
Penerbit: Bentang
Tahun terbit: 2015

 Namun ternyata prolog yang kubaca sekilas mampu mencuri hatiku. Di dalam prolognya diceritakan tentang sebuah percobaan pelarian diri seorang perempuan yang mencoba mengajak kekasihnya. Belum terlalu jelas rintangannya seperti apa, tapi jelas pelik sekali sehingga si perempuan memutuskan untuk kabur.


Di bab pertama diceritakan bagaimana mereka berdua bertemu di atas bus. Meski itu bukan pertemuan pertama yang sebenarnya karena sebelumnya mereka sudah sama-sama kenal. Mereka tinggal di desa yang sama sehingga mustahil untuk tidak saling mengetahui.

Di bab pertama ini, akar konflik mulai terlihat. Ternyata meski berasal dari satu desa, ternyata mereka berada di dua kelompok yang berseberangan. Si perempuan bernama Fauzia, merupakan orang selatan dan Mif, si pria adalah orang utara. Selatan dan utara merujuk pada dua masjid yang berada di Desa Centong, nama desa mereka.

Di tengah-tengah buku diceritakan bahwa jamaah kedua masjid ini memiliki perbedaan pandangan mengenai beberapa teknis ibadah. Diketahui kemudian bahwa masjid selatan merupakan pengikut Nahdlatul Ulama, sedangkan masjid utara adalah pengikut Muhammadiyah.

Corong konflik di novel ini sebenarnya adalah milik Pak Is dan Pak Fauzan, nama kedua orangtua Fauzia dan Mif. Mereka bersahabat sejak kecil, tapi ‘terpaksa’ saling menjauh karena perbedaan persepsi. Maka semakin peliklah urusan cinta kedua sejoli itu. Apakah keduanya mampu bersatu dengan perbedaan yang sangat besar tersebut?

Tema yang diangkat penulis sekilas mungkin memang hanya terlihat seperti roman, tapi nyatanya lebih berat dari itu. Latar belakang tema yang menghiasi novel inilah yang berat. Menjabarkan perbedaan pemahaman antara orang NU dan Muhammadiyah dalam beribadah bukanlah hal yang mudah.

Bagiku ini sangat menarik. Di kehidupan nyata saja, perbedaan-perbedaan antara kedua organisasi ini sering bergesekan. Bagaimana jika ada di satu kampung atau bahkan di satu keluarga?

“Ini bukan lagi tentang masjid yang berbeda atau ormas yang saling bersaing, Mif. Ini tentang luka hati yang dalam dan tersimpan puluhan tahun.” – Halaman 165

Tokoh-tokoh yang ada di novel ini memiliki karakter masing-masing yang kuat. Mif yang sabar dan Fauzia yang manja menurutku sebenarnya bukanlah tokoh utama. Seperti yang kutulis di atas, orangtua merekalah yang memiliki cerita dan mewariskannya kepada Mif dan Fauzia. Bu Yatun, ibunya Fauzia, juga memiliki arti penting dalam cerita ini karena diketahui bahwa beliau pernah menjadi cinta pertama Is remaja.

Dengan begitu banyak kemungkinan konflik, novel ini begitu seru untuk dinikmati. Konflik paling puncak adalah perkelahian antara Mif dan Fuad, kakak Fauzia, di balai desa. Meski juga tidak di semua bagian terdapat konflik. Bagian yang mendominasi dari novel ini sebenarnya adalah flash back cerita Is dan Fauzan saat remaja. Sehingga novel ini menggunakan alur maju mundur.

Novel ini menggunakan pov campuran. Pada bagian narasi menggunakan sudut pandang orang ketiga, sedangkan di bagian menceritakan masa lalu kebanyakan pov yang dipakai adalah sudut pandang orang pertama.

Novel ini ber-setting tempat di Desa Centong, Jawa Timur dan setting waktu sekitar tahun 2000-an dan beberapa flash back ke tahun 1990-an. Sehingga penggambaran suasana dan budaya di novel ini juga mengacu pada waktu dan tempat tersebut.

Gaya bahasa yang digunakan penulis mengalir dan enak dibaca. Meskipun banyak menggunakan istilah dalam bahasa Jawa, tetapi novel dengan 324 halaman ini masih nyaman untuk diikuti.

Dengan segala banyak kelebihan yang dimiliki novel ini, tidak heran jika ia bisa menjadi Pemenang I Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014. Latar belakang penulis yang merupakan lulusan Sastra Indonesia dan bekerja di penerbitan menurutku sangat mendukung terciptanya novel yang luar biasa ini.

Ada banyak amanat yang tersebar di novel ini. Paling utama adalah tentang bagaimana tidak perlu menentang orangtua meski berseberangan. Perbedaan juga tidak seharusnya menjadi bahan bakar seteru, tapi harus disikapi dengan bijak.

Tentang bagaimana cara juga menentukan hasil juga ada di novel ini, untuk mencapai hasil yang baik juga seharusnya dilakukan dengan cara yang baik.

“Menyajikan kopi kepada tamu itu baik, tapi tentu saja jangan dengan menyiramkannya ke muka.” – Halaman 145

Selain itu, berbeda dengan kebanyakan novel teenlit yang temanya tentang perjuangan cinta. Cara penyelesaian di novel ini sangat islami, mungkin memang si tokoh sempat ingin melarikan diri tapi tetap menjaga batasan. Di novel-novel teenlit dengan kasus tidak direstui orangtua, biasanya jalan ceritanya sering melanggar norma-norma agama dan masyarakat.

Kesan lain yang kurasakan tentang novel ini adalah tentang euforia memboyong ponakan bayi ke rumah keluarga dekat. Hal itu juga berlaku di keluargaku, makanya aku merasa sangat relate sekali dengan cerita ini. Sekarang saja, kami sedang keranjingan membawa bayi ke rumah yang kebetulan ada dua di keluarga besarku.

Secara umum, novel ini banyak menyumbang wawasan baru kepada otakku yang jarang terpapar dengan tema perbedaan pandangan dalam agama seperti ini. Semoga lain kali aku ketemu novel bergizi seperti ini lagi.[]

Artikel Terkait

14 komentar:

Lutfi Yulianto said...

Sama sepertiku, Mbak. Sama sekali aku ngggk teertarik dngn buku. Covernya kurang menarik, judulnya juga. Hehe. Kirain tentang peternakan gitu. Eh, teernyata keren banget gini isinya. Makasih, Mbak. Pengen baca jadinya ...

https://heninyi.blogspot.com/2019/09/belajar-menulis-puisi.html said...

Pandangan pertama tak menggoda setelah dibuka ternyata wow....

https://heninyi.blogspot.com/2019/09/belajar-menulis-puisi.html said...

Pandangan pertama tak menggoda, setelah dibuka ternyata wow... 0

el.fauzyahodop7 said...

Asli gak mudeng kl lihat covernya.. Terimakasih mb tlh mereview buku ini. Semoga suatu waktu bisa ketemu buku ini

Finaira Kara said...

Belum pernah baca buku ini, tapi sudah ada di dalam almari. Alias buku yang lama dibeli, tapi belum juga terbaca sampai buku-buku baru sudah kian menumpuk di atasnya. Seharusnya aku baca ini dalam waktu dekat, setelah baca review Mbak.

Ahmad Dzikrullah said...

Sepertinya novelnya menarik buat dibaca, apalagi jadi pemenang sayembara pasti ceritanya keren tuh..

Ilham Sadli said...

Ini kayaknya menarik ceritanya. Settingnya terutama mengenai adanya perbedaan pandangan mengenai perihal ibadah dalam satu desa. Udah kayak blok timur dan barat

Tika said...

Bukunya dicetak ulang ya mbak? Aku dulu nyari tahun 2015 udah habis, akhirnya pinjem temen. Dan gak nyesel udah minjem. (Lah, minjem nyesel mana ada? )

iluvtari said...

aku malah tertarik banget dg covernya, hehe. pengin baca tapi tunggu yg ada ini habis dulu.

Syilvi said...

Wah, kalau Bapaknya Mif dan Ibunya Fauzia jadi menikah bisa-bisa jadi seperti mertua saya yang berasal dari satu kota, berserangan utara dan selatan dengan perbedaan teknis agama. Tapi akan lahir suami saya, bukan lahir Mif dan Fauzia yang saling cita.Hehehe.... Sepertinya saya juga perlu baca novel ini....

Ahmad Lamuna said...

Kata pepatah dont jaj e buk bai it kaver. Tapi novel dan kumcer terbitan bentang memang jaminan mutu

kokonata said...

Berarti Kambing dan Hujan itu punya makna tersendiri, ya... Jadi penasaran pengen baca juga

Endah Asmowidjoyo said...

Seru banget emang buku ini. Saya ketawa dan anngis di sepanjang film. Beli karena penasaran sama kata "kambing" huhuhu

APRIL TUPAI said...

aku cukup tertarik karena novel ini menang sayembara dkj, tapi isinya cukup "berat" gak sih? takut gak bisa menikmati hehehe

Post a Comment

Say something nice, for a change.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates