Thursday, August 15, 2019

Esensi Hidup


Apa yang aku pikirkan tentang hidup?

Pertama kali yang terlintas di benakku adalah hidup itu singkat. Sangat singkat. Di umurku yang sudah mendekati 30 tahun ini, aku merasa belum melakukan dan mengalami banyak hal.


Hidupku sepertinya terlalu banyak dilenakan oleh kesenangan-kesenangan sebentar yang memalingkan wajahku dari tujuan yang sebenarnya ingin aku capai. Ketika aku sadar, eh sudah 27 tahun saja. Terdengar insecure memang, tapi ini caraku untuk membersihkan remah-remah perasaan puas diri yang terkadang berserakan di dasar hati.

Selain itu, esensi hidup yang paling kuhargai adalah circle terdekatku. Paling utama sih keluarga. Mereka nomor satu di hidup aku. Hidup di keluarga yang bahagia meskipun tidak sempurna tentu adalah anugerah yang seharusnya sangat aku syukuri. Sehingga ketika masalah datang menimpa terkait keluarga, sembari mencari solusi aku juga  selalu mengingat ini.

Ada terlalu banyak nikmat keluarga yang sudah kucecap, masalah kecil hanyalah kerikil yang akan dapat mudah dilewati. Aku sangat menyayangi mereka. Hidup bersama mereka dan juga semoga di surga nanti kami tetap bersama adalah hal terindah yang sedang dan ingin kujalani.

Circle kedua adalah teman. Teman akrab ya a.k.a sahabat. Well yeah aku tidak punya banyak. Untuk tipe introvert sepertiku, sahabat adalah hal yang sangat berharga. Aku tidak mudah untuk membuka diri kepada orang lain. Tapi untuk mereka ada hal-hal yang dengan senang hati kuceritakan.

Di luar kedua circle tersebut, aku merasa bebas untuk tidak menggantungkan hidupku kepada mereka. Kecuali ya ada term and condition dari kedua belah pihak. Aku malas mengurusi hidup orang lain, sama malasnya ketika hidupku juga mulai disorot oleh orang asing.

Aku seperti enggan peduli dengan apa yang terjadi di luar circle-ku, dengan begini aku jadi tidak berminat menggosip. Juga selama campur tanganku tidak diperlukan dalam sisi positif, aku biasanya tidak pernah menyentuh wilayah orang lain. Mengetahui permasalahan orang lain itu menurutku kayak menuh-menuhin kepala gitu loh, jadi alih-alih kepo kalau bisa mendengar orang punya masalah saja aku tidak mau.

Dan ketika ada permasalahan, selain menyelesaikannya secara teknis, aku juga lebih mementingkan kedamaian bersama agar tidak ada urusan lain di kemudian hari. Aku malas ber'sentuhan' dengan orang asing. Lagi pula, apa gunanya ribut coba? Hidup terlalu sebentar untuk mengoleksi dosa.

Hal lain dari hidup yang sering kurenungi adalah kematian. Aku tahu setiap orang akan mati. Semua kehidupan akan berakhir. Khawatir, tentu saja. Tapi kemana aku harus membaginya? Toh yang lain juga akan mengalami hal yang sama. Terlebih karena waktunya yang tak dapat ditebak, kematian diri sendiri atau orang-orang terdekat tentu akan menjadi hal yang tidak mengenakkan.

Oleh karena itu aku berhati-hati dalam menjalani hidup di dunia ini. Akan ada alam lain yang menyambut kita setelah kehidupan yang fana. Aku yakin. Ketika memikirkan ini, ambisi dunia pasti akan segera mengendur dan menemukan batasannya.

Hal terakhir yang bisa kubagi tentang esensi hidup bagiku adalah bahwa aku tipe planner. Aku sudah memetakan diri hingga beberapa tahun ke depan. Ingin ngapain, di mana, bersama siapa. Bahkan juga dalam urusan finansial. Karena aku mengenali diriku sendiri yang perfectionist ini, maka aku tak khawatir akan menjadi stres ketika tidak dapat melaksanakan rencana-rencana tersebut. Intinya aku hanya lebih nyaman saja dengan hidup yang lebih terencana.

Jadi ya, itu pendapatku tentang hidup. Kefanaan yang tidak lama ini harus direnungi agar berarti. Agar kita tahu bagaimana inginnya kita. Bagaimana kita ingin dikenang nanti.[]

Artikel Terkait

25 komentar:

Rima Angel said...

Aku pun enggan memperdulikan kehidupan diluar circle dan menganggapnya hampir tidak ada. Sebodo amat itu karena dengan begitu hidup terasa lebih bahagia bagiku.

Putri Santoso said...

Aku juga merasa kalau hidup itu singkat banget. Tau-tau uda 1/4 abad. Dan merasa banget aku belum banyak bermanfaat buat orang lain. Bahkan ada hal nekad yg aku rencanain kak. Jual rumah, jual aset dan pergi ke zona lain. Belajar mulai hidup dari nol lagi. Mungkin karena dr kecil aku terbiasa pindah dan bepergian.
Walaupun di juluki : si putri yg punya temen se Indonesia, tapi kaya masih nothing gitu buat keluarga aku, buat diri sendiri.

irabooklover said...

Yes! Sama Mbak, saya juga malas kepo dan ga suka dikepoin.

Dulu saya juga tipe planner. Senang saja bikinnya walaupun tak jarang ada yg tidak bisa terlaksana. Sekarang saya jarang bikin plan karena sok sibuk XD terima kasih sudah mengingatkan, jd kangen bikin rencana-rencana lagi ^^

Lidya Basrindu said...

Sama mbak, sekarang di umur 23 jalan 24 teman juga sudah tidak terlalu banyak yang dekat dan kalau ngumpul juga bahasanya sudah jauh dari gosip karena ya buat apa juga kan yah? Haha, terus juga sering mikir nanti kalau mati bakal dikenang gimana ya? Sedih sih kalau mikirin kematian huhu :')

Enny Ratnawati said...

hmmm merenungi hidup ya. kadang saat sendiri suka kepikiran bayak hal juga. apalagi soal kematian, suka membayangkan banget, saat apa ya pas dipanggil kelak dll nya..
sama, aku juga tipe yang malas terlalu ikut campur sama urusan orang alias cuek aja hehehe. sayangnya, aku bisa marah banget bila ada orang yang iseng " ngejahatin" padahal kita merasa nggak ada masalah sama mereka. OMG..
Tapi sementara merasa nyaman sih dengan yang dijalani dan berharap berthn kedepan lebih berguna buat bnyak orang. karena hidup yang singkat banget tadi..nggak terasa banget..

Melisa Carollina said...

Kadang karena asik dengan kesibukan yg sekarang kita bisa lupa fokus utama keinginan kita, tp mmg benar utk org introvert rsanya satu shabat sangat berarti hehe

antung apriana said...

aku juga tipe yang tidak terlalu peduli dengan dunia luar dan kadang memiliki dunia sendiri. sepertinya memang orang introvert rata-rata begitu yaa

Ruli retno said...

Yaelah baru 27 ya ternyata.. masih cocok jadi adek aku ya.. hihihi.. aku setuju banget hidup ini singkat dan kok rasanya gitu2 aja..aku aja yang uda kepala 3 masih sering kerasa baper kalo mikirin hidup singkat ini

Mia Yunita said...

dalem banget ini renungan hidupnya. pengen sih aku tu kaya orang-orang yang mapping plan terkait hidup. usia segini planning meraih ini itu. tp akunya kadang stuck di tengah jalan, merelakan yang terjadi nggak sesuai harapan. yg ada sibuk berkutat dg apa yang dihadapi, planningnya paling menjadikan hal-hal yang dilalui sebagai pengalaman & pelajaran dalam hidup. biar tambah kuat.

Rizky Ashyanita said...

Aku kayanya suka yg let it flow gitu, gak tau kenapa ya udahlah ya hehe


Salam,

www.rizkyashya.com

Finaira Kara said...

Sama Mbak, kalau aku sih mikirnya, setelah kematian nanti, aku diingat sebagai sosok yang seperti apa?
Selain itu, kan, menghindari gosip juga menghindari dosa, juga menjaga hati biar fresh dan nggak selalu komentarin hidup orang.
Kalau soal kepo, aku sendiri masih kepo sama hidup orang lain, sebatas kepo untuk mencari inspirasi, kalau orangnya sendiri hendak memberi informasi. Dan memang kadang sengaja menggali.

Suka banget dengan tagline blognya, Mbak.

iluvtari said...

rasanya baru kemarin aku taruhan kelereng dg teman di kelas, waktu itu jakarta lg heboh reformasi. nah sekarang tau2 buah reformasi sudah sampe sini. listrik naik, bpjs naik. ruar biasa prank dunia ini!

Lina W. Sasmita said...

Saya kerap merenungi kematian. Terutama ketika di sekeliling, para tetangga satu persatu dipanggil ke hadirat-Nya. Ada ketakutan yang kerap menghantui. Ketakutan karena betapa telah menyia-nyiakan usia sehingga luput dari berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya.

Ahmad Lamuna said...

Hidup itu tahu-tahu. Tahu-tahu sudah terlewat. Karenanya kita perlu lebih mawas diri. Semoga kita bisa untuk terus belajar

kokonata said...

Kita bisa berencana, namun Allah saja yang menentukan. Maka dari itu baiknya punya rencana A, B, C. Apapun yang terjadi, insya Allah itulah yang terbaik bagi kita

Marfa U said...

aku baru merasakan hidup itu emang bener kudu punya rencana yaa, dulu sih males kaya hidup kok jadi diatur itu, ternyata justru kalau nggak terarah malah nggak enak, maish masa transisi sih

Jiah said...

Merenungi hidup, aku juga mikir udah ngapain aja di usia ini. Sudah bermanfaat belum? Sudah bahagia kah? Dan bagaimana aku dikenang nantinya. Kan ngeri kalau orang2 bicarain keburukan kita setelah gak ada

Farhandika Mursyid said...

Semua yang ada di dunia ini tidak ada yang abadi, Mbak. Pasti ada awal, ada juga akhir. Itulah esensi hidup, tinggal pikirkan saja apa tujuan kita untuk hidup di sini, dan apakah yang kita sudah lakukan ini sesuai dengan garis hidup yang kita tuju itu.

Setuju juga, kesenangan sementara membuatku lupa akan tujuan hidup yang sesungguhnya. Tentunya, aku belum bisa ceritakan ini ke siapapun. Hanya aku, orang tua, sahabat dekat, dan Tuhan saja yang tahu itu.

Rhoshandhayani KT said...

Iya mbak. Aku juga ngerasa gitu. Ngapain lah aku selama ini. Banyak santainya daripada berjuangnya. Bingung. Ini hal yg harus disyukuri atah patut diwaspadai?

Tukang jalan jajan said...

klo aku tipe yang suka membuar circle baru kak. melakukan perjalanan panjang, menikmati banyak hal termasuk bertemu dengan orang baru, selain berencana aku juga selalu membuat goal jangka pendek, panjang dan menengah lalu tak lupa memasukkan bahagia disana

Eny kadinda Aprilya said...

Eny udah 23 ini apa kabar 😂😂 apa yg sudah dicapai dan apa saja yg sdh dikerjakan, kadang masih bingung ingin pencapaian seperti apa mbaa

Dikki cantona said...

Kehidupan bersama satu circle itu enak banget ya kak selalu ada teman teman yang support kita.

Akan tetapi kalo untuk yang diluar circle rqsanya gimana gitu rasanya males banget

Tika Samosir said...

Esensi hidup ini pernyataan yang think to much banget. Karena kita memiliki akal dan kepribadian yang unik jadi banyak hal yang dapat kita lakukan.

@blogger_eksis said...

So far, aku suka dengan esensi hidupnya.
Meski aku bukan sosok yang introvert ya..

Cuma kembali lagi sebagai seorang muslim, esensi hidup kita itu untuk beribadah kepada Allah SWT. Jadi, apapun yang kita dapat harus selalu disyukuri karena bahagia itu sederhana selama kita bisa bersyukur dengan apa yang kita punya :)

lendyagasshi said...

Dulu...pas belum menikah, banyak target yang ingin dipenuhi.
Sekarang,
setelah punya anak, target untuk bertumbuh bersama.

Jadi memang hidup harus punya goals yaa...biar seru gituu..

Post a Comment

Say something nice, for a change.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates