Tuesday, January 15, 2019

Wisata Susur Sungai ke Pulau Kembang


Pada liburan kemana akhir tahun kemarin? Keluar kota atau bahkan keluar negeri? Aku dong liburan di dekat-dekat saja, bangga banget yak. Selain karena mendadak, budget terbatas, juga karena waktu yang tersedia cuma weekend. Itu pun masih ‘perlu’ bolos kerja di hari Senin karena terjepit dengan tanggal 1 Januarinya yang jatuh pada hari Selasa.

Kali ini aku travelling bareng teman sekantor. Enggak bosen gitu, lo lagi lo lagi? Enggaklah, karena teman-teman kantorku orangnya asyik-asyik dan seumuran gitu. Mungkin juga karena faktor merasa senasib sepenanggungan di kerjaan, jadi pengen senang-senang (baca:kelayapan) bareng juga.


Destinasi wisata yang kami pilih kali ini adalah Pulau Kembang. Bukan objek wisata baru sih, kami memilihnya karena sebagian besar dari kami belum pernah ke sana. Secara administratif, Pulau Kembang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Namun, starting point biasanya dari Kota Banjarmasin.

Rute ke Pulau Kembang

Well, kami sendiri kemarin bertolak dari Siring Pierre Tendean Banjarmasin. Yup, kami menentukan meeting point di sana setelah sebelumnya menginap di beberapa tempat yang berbeda. Fyi, kota tempatku berdomisili berjarak sekitar 5 jam perjalanan dari Banjarmasin. Sedangkan waktu paling oke berwisata susur sungai ke Pulau Kembang adalah pagi hari. Oleh karena itu kami berangkat sejak satu hari sebelumnya dari rumah.

Di dermaga yang terdapat di tepi Sungai Martapura tersebut terdapat penyedia jasa kelotok atau kapal yang bisa membawa wisatawan ke Pulau Kembang. Ada beberapa tarif yang tertulis di sana sesuai tujuan, aku lupa detailnya. Yang jelas saat itu kami memilih menyewa satu kapal tujuan Pulau Kembang dan Pasar Terapung Kuin untuk 11 orang dengan harga 450K. Aku dan teman-teman berdelapan, sisanya ada keluarga kecil yang terdiri atas pasangan muda dan satu putera kecil mereka.

Sebenarnya ukuran kapal yang kami sewa cukup besar, muat untuk lebih dari 20 orang. Biayanya juga mungkin lebih murah karena bisa dibagi dengan banyak individu. Tapi kami senang-senang saja bisa ‘menguasai’ kapal dengan waktu yang tidak terbatas. Kapal lain dengan ukuran sama, yang kami temui di perjalanan, setidaknya diisi sekitar 30 orang. Mereka sepertinya naik ke kapal tersebut dengan sistem ‘jika penuh berangkat’, macam angkot yang ngetem. Dengan sistem seperti itu, biaya mungkin lebih murah. Cocok bagi yang berwisata sendirian atau hanya berdua.

Penghuni kapal 'eksekutif'

Sepuluh menit pertama perjalanan susur sungai ke Pulau Kembang membawa kami melewati sungai-sungai kecil di pusat Kota Banjarmasin. Aku dan teman-teman berusaha mengingat-ingat, ini di jalan apa ya karena letak sungainya persis di sebelah jalan. Jadi kami lewat tepat di belakang rumah penduduk. Aku pernah baca jurnal tentang konsep Water Front City. Dulu, katanya bagian depan rumah penduduk di Banjarmasin menghadap ke sungai karena sungai memang merupakan jalur transportasi utama. Persis seperti jalan beraspal zaman sekarang. Namun, dengan berkembangnya jalur darat sekarang rumah penduduk sebagian besar sudah menghadap ke arah jalan tidak lagi ke sungai.

Efeknya, sungai kemudian dianggap menjadi ‘halaman belakang’ yang bisa diabaikan kebersihan dan keindahannya. Hal ini masih banyak terlihat waktu kami susur sungai kemarin. Beruntungnya, sekarang sudah ada program kampung wisata berupa Kampung Hijau di Sungai Bilu, Banjarmasin. Jadi bagian belakang rumah penduduk dicat berwarna dominan hijau untuk memperindah pemandangan di sepanjang tepi sungai. Harus dong ya, karena wisata paling menjual di Banjarmasin itu kan susur sungai ini. Selain itu agar slogan Banjarmasin Kota Seribu Sungai juga tidak tercederai dengan penambahan kata ‘kotor’ di belakangnya.

Ada banyak jembatan yang kami lewati kolongnya di sepuluh menit pertama perjalanan susur sungai. Jadi setiap ada jembatan di depan, paman pengemudi berteriak ‘turun!’ dari belakang setirnya. Pasalnya, kami senang duduk di atap perahu dan kursi di buritan kapal yang agak tinggi. Kalau ngeyel, kepala bisa kena bagian bawah jembatan. Aku berpikir, gimana ya kalau permukaan air sungai sedang tinggi sehingga ruang yang tersisa antara permukaan air dan bawah jembatan tidak muat untuk dilewati kapal? Dari kayu ulin penopang jembatan aku melihat bekas batas permukaan air yang cukup tinggi. Sayang, aku tak sempat menanyakannya ke paman pengemudi.

Dari sungai yang sempit, akhirnya kami tiba di sebuah persimpangan. Seperti jalan juga, di sungai ada rambu-rambunya. Kalau terus, kurasa kami akan tiba di hulu Sungai Martapura. Tapi kemarin itu kami berbelok kiri yang tak lama kemudian mengantarkan kami ke sebuah muara sungai luas nan lebar. This is Sungai Barito! Mengingat tidak akan ada lagi jembatan yang mengancam, kami pun ramai-ramai menikmati pemandangan sungai ini dari atap perahu. Sambil mengambil foto tentunya.

Fix, ini liburan!

Sejauh mata memandang yang ada hanya air dan air. Saat itu sebenarnya aku agak takut mengingat info tentang gelombang tinggi yang terdapat di laut bagian selatan Kalimantan. Well ya, waktu itu masih hangat kabar bencana Selat Sunda. Aku berdoa di dalam hati agar kami semua selamat hingga pulang. Aku yang antisipatif ini mulai merekam di mana letak live vest agar ingat jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Alhamdulillah, tidak ada kejadian yang berarti. Ombak cukup bersahabat saat kami berlayar di atasnya.

Kami lewat di sisa-sisa Pasar Terapung Kuin. Ya, sisa-sisa karena hanya terdapat satu dua kelotok dengan muatan yang sudah mulai habis akibat transaksi dengan para pembeli. Waktu masih sekitar 7.30, berarti jam aktif pasar tradisional ini berkisar dari setelah salat Subuh hingga kurang dari jam 7. Itulah mengapa kami memilih berangkat pagi-pagi walaupun pada akhirnya tidak berjumpa dengan destinasi tersebut. 

Welcome in Pulau Kembang! 

Sementara itu, Pulau Kembang sudah mulai kelihatan. Menara pantaunya yang seperti mercusuar terlihat mencolok menandakan pulau tujuan sudah dekat. Ngomong-ngomong, menara tersebut mengingatkanku pada Aquaman. Haha. Perlahan tapi pasti, kapal yang kami tumpangi merapat ke dermaga Pulau Kembang. Kami pun melompat dari atap kapal agar bisa menginjakkan kaki di pulau para monyet ini.

Hah, monyet? Yup, Pulau Kembang terkenal karena keberadaan monyetnya sebagai penghuni. Dulu mungkin populasinya sangat banyak sehingga orang-orang notice dengan keberadaan mereka. Meski ketika aku berkunjung kesana kemarin, jumlah monyet yang muncul tidaklah luar biasa. Kelak ketika kuceritakan pada mama tentang kunjunganku ke sana, beliau tertawa. “Mending ke kebun karet punya mama, di sana banyak sekali monyet nakal yang suka mencuri air minum dan bekal makanan,” kata mama. Hiks.

Selamat datang, Gaes!


Yah, ekspekstasi memang tidak melulu sesuai harapan. Berharap bertemu banyak monyet, malah zonk. Btw, waktu menulis ini aku baru kepikiran. Nama dan ciri khas pulau ini sama sekali enggak nyambung. Tak ada sedikit pun kembang atau bunga yang tumbuh di pulau ini, setidaknya yang terlihat di mataku. Kenapa namanya tidak Pulau Monyet saja ya? Duh, aku lupa menanyakannya ke tour guide waktu di sana.

Oya, jangan dibayangkan tour guide-nya bapak-bapak atau adik-adik remaja ya. Di Pulau Kembang, tour guide-nya emak-emak tulen pakai tongkat guna mengusir monyet yang nakal. Para ibu tour guide ini langsung mengikuti para pengunjung yang masuk ke Pulau Kembang tanpa diminta. Mereka menjelaskan ini itu selama di perjalanan dan lumayan buat jadi juru foto. Di akhir perjalanan, mereka akan meminta fee seikhlasnya. Selain menjadi tour guide, acil-acil yang ada di sana juga berjualan makanan kesukaan monyet seperti pisang dan kacang. Para pengunjung biasanya membeli untuk merasakan sensasi memberi makan monyet langsung di habitatnya.

Jadi setelah mendarat di dermaga Pulau Kembang, kami membayar tiket masuk sebesar 5 ribu rupiah per orang. Kami kemudian disambut oleh jembatan-jembatan dari kayu dan batu sebagai pijakan. Ternyata di Pulau Kembang ini tanahnya berupa rawa Gaes, sehingga tidak memungkinkan untuk diinjak secara langsung. Para wisatawan yang berkeliling di sini mau tak mau jadinya mengikuti jalur yang terdapat di atas jembatan batu atau kayu ini saja.

Di bagian depan setelah pintu masuk terdapat bangunan semacam gazebo. Ada dua patung monyet berwarna putih disertai kain-kain berwarna kuning di atas meja yang berada di tengah-tengah bangunan. Seorang teman melongok ke bagian belakang patung, ternyata ada semacam sesajen berupa kopi dan tetek bengeknya. Jadi agak mistis kalau melihat yang seperti ini.

Di depan patung monyet

Perjalanan dimulai, kesan pertama yang kutangkap dari Pulau Kembang adalah ekosistem mangrovenya yang mendominasi. Akar-akar napasnya muncul di permukaan tanah yang berair. Entah di bagian dalam pulau ini, apakah tumbuhan mangrove juga masih banyak atau ada tumbuhan lain yang juga mendominasi. Karena kurasa, berwisata di Pulau Kembang hanya mengitari salah satu sisi terluar pulaunya saja, tidak sampai masuk apalagi mengelilingi seluruh pulau.

Kesan lain yang kutangkap dari pulau ini adalah banyaknya sampah plastik bekas kemasan kacang atau camilan lain. Mungkin para pengunjung memberi makan monyet beserta bungkusnya ya sehingga sang monyet yang memang tidak pernah tahu bagaimana cara membuang sampah yang benar melemparkannya sembarang. Kalau kulit kacang atau kulit pisang, okelah itu masih bisa terurai. Tapi sampah plastik? Ini menurutku merupakan PR besar bagi para pengelola untuk membuat Pulau Kembang menjadi lebih bersih.

Ngomong-ngomong tentang makanan monyet, ada sebuah tempat khusus di Pulau Kembang yang sepertinya berfungsi sebagai tempat memberi makan monyet. Waktu kami lewat, di sana bertebaran makanan monyet entah apa berbentuk bulat-bulat berwarna putih. Ketika lewat untuk yang kedua kali, aku tak tahan untuk memeriksa sendiri apa sebenarnya jenis makanan yang berserakan ini. Dalam jarak dekat, akhirnya aku mengenali jenis makanan ini yaitu camilan bernama pilus yang berbentuk seperti kacang telur tapi tidak ada kacangnya.

Hujan yang mungkin datang sebelumnya membuat ukurannya membesar karena menyerap air. Melihat jumlahnya yang banyak terhampar tersebut, aku yakin para monyet enggak terlalu suka camilan manusia ini. Apalagi pas kami di sana, tak satupun monyet yang sedang nongkrong di tempat khusus makan tersebut. Kayu yang menjadi lantai tempat tersebut juga agak bolong-bolong, sehingga ketika memeriksa ke sana kami harus memilih pijakan dengan hati-hati.

Menurutku harus ada ‘renovasi’ di Pulau Kembang ini agar wisatawan yang datang ke sana semakin banyak lagi. Entah dari segi kebersihan atau fasilitas, jika dikelola dengan lebih ‘kekinian’ aku yakin geliat wisata susur sungai ke pulau ini akan semakin meningkat. Mengenai fasilitas, beruntungnya di sana toilet umumnya cukup bersih sehingga pengunjung tidak kesusahan jika ingin buang air.


Di antara rimbunnya mangrove Pulau Kembang

Setelah berkeliling singkat, karena lokasinya juga tidak terlalu luas, kami memutuskan untuk mengakhiri perjalanan kami di Pulau Kembang. Mbak-mbak dari keluarga kecil yang sekapal dengan kami bilang ke kami kalau ada penawaran khusus dari si paman pengemudi, karena tadi kami tidak sempat melihat Pasar Terapung Kuin. Hanya dengan 600K, kami bisa berkunjung ke satu pulau wisata lagi. Pulau Bakut namanya. Aku dan teman-teman setuju saja, apalagi ketika si mbaknya bilang jika mereka akan bayar 200K dan kami sisanya. Terhitung hanya 50K perorang untuk membayar wisata susur sungai ke dua pulau.

Seru kan ceritaku tentang wisata susur sungai ke Pulau Kembang. Tunggu ceritaku tentang wisata susur sungai ke Pulau Bakut di postingan selanjutnya ya.[]

Artikel Terkait

23 komentar:

Isnania said...

Seru banget ya😇😍

Novarina DW said...

Wah... Emak-emak memang strong ya. Jadi tour guide segala. Sayang nggak ada foto sama mereka nih. Jadi penasaran ^^

Muhamad Septian Wijaya said...

Kenapa namanya pulau kembang mba??

utari ninghadiyati said...

Ah sayang ya banyak sampah. Jadi merusak pemandangan. Andai bersih pasti lebih nyaman

Antung apriana said...

Beberapa tahun lalu aku juga pernah ke pulau kembang ini. Memang monyetnya nggak banyak-banyak banget sih ya. Tapi pas jalan di titian itu tetap aja agak takut pas ada monyet di tengah jalan. Heu

Enny Ratnawati said...

yesss..pulau kembang yaa..aku baru2 ni ada juga sekeluarga kesana. per org 35rb hehehe..kalau dibawah 10 thn gratis. hehe..mayan bedua suami cuman 70 rb .anak2 gratis.tapi seruu tuh piknik bareng temen kantor euy..

Mia said...

Jadi kangen naik klotok. Kalo ke pulau kembangnya, aku agak trauma dengan monyet. Truma masa kecil. Waktu ke Bali dulu, ada monyet yang pernah nggandulin kepalaku. Entah apa yang disasarnya, ikat rambutku yang ada hiasan bonekanya kah atau kacamataku kah. Pokoknya trauma....

dina yulini fahdina said...

aku belum susur sungai, huhu..Wah baru tau jadi dulu teras rumah penduduk arah ke sungai ya. sekarang sudah bagian belakang rumah yang kesungai, berasa gak enak diliat sih sebenarnya karena ada yang buang sampah rumah tangga dan sampah lain nya, wkwkk...coba yaa seandainya teras nya ada dua didepan dan belakang

Zulaeha said...

Aduh aku gemes banget soal pengunjung yang buang plastik sembarangan itu. Kadang peraturan yang sengaja sudah ditempel pakai huruf besar-besar juga tidak diindahkan. Bingung juga ya ini PR besar di semua tempat wisata :(

Ruli said...

Duh aku uda lama banget gak susur sungai, padahal deket ya. Sekian tahun. Gara2 anak krucil2 ini papah nya takut kecebur dsb bahaya. Hahaha.. Padahal penasaran juga sama kampung hijau itu

Noni Rosliyani said...

Kirain kalau Pulau Kembang bakal banyak Kembangnya. Hahaha.. Ternyata banyak mangrove-nya yaa.. Seru emang, jalan-jalan sama temen kantor. Apalagi kalau udh kerja gini, temen deketnya ya temen-temen kantor. Hehehe

Noni Rosliyani said...

Kirain Pulau Kembang bakal banyak kembangnya bermekaran. Ternyata banyak mangrovenya yaa.. :D

Jiah said...

Kalau susur sungai gini emang enaknya berbanyak orang biar bisa patungan bayarnya. Itu mangrove berarti udah rimbun banget ya Mbak. Dan aku udahi saja ke hutan yg banyak monyetnya. Mereka agak galak, segala macam diambil

vira elyansyah said...

Untuk biaya tour guide si mamak-mamak tadi berkisar berapa kak?

Di Pulau kembang apa ada penginapan? Terus apakah selama menyusuri pulau kembang perahu yang mengantar akan menunggu kita? Atau kita akan naik perahu yang berbeda saat pulang?

Unggul Sagena said...

yeayy kalimantan memang banyak surga wisata tersembunyi. Lanjutkaaan!

Dian Farida said...

Bagus ya Mbak sebenarnya, apalagi ada bakau nya. Coba disampaikan sama pengurus wisata agar memperhatikan kebersihan dll

lendyagasshi said...

Asyiknyaa...
Berpetualang bersama sahabat.

Enaknya jalan rame-rame tuhh gini yaa...
Susah - senang ditanggung bersama.
Termasuk biaya sewa kapal, jadi lebih murah meriaaah.

Rhoshandhayani KT 💕 said...

Wuah liburan bener sih ini
Enak banget kalo seharian susur sungai dan jelajah sekitar

Kapan ya di Lumajang ada susur sungai kayak gini juga...

April Hamsa said...

Oh jd kalau mau liat transaksi di pasar Kuin harus pagi2 bener ya mbak?
Aku termasuk yang takut dengan susur sungai di Kalimantan soalnya gak kyk di JAwa, sungai di Kalimantan lebar2 gede2 hehe

Sally Fauzi said...

Wisata yang seruuu...harga tiket masuk gak mahal ya mbak, terjangkau. Kebayang kalau dinamain pulau monyet, jadi seram gak mbak....

Peri Hardiansyah said...

Refreshing sambil lihat yang ijo-ijo sama air, bikin hati jadi adem ya.

Diah Kusumastuti said...

Aduh Mbak kenapa banyak yang lupa ditanyakan? Hahaha. Aku pun kadang gitu juga sih :)
Iya penasaran kenapa namanya Pulau Kembang bukan Pulau Monyet.
Soal guide yg emak-emak bawa tongkat, bikin ketawa sekaligus emmm.. gimana ya.. menurutku lebih baik para remaja aja kali ya :)

Nova said...

Penghuni kapal "eksklusif" nya cantik2 banget..
Refreshing naik kapal gini seru pastinya..apalagi kalo baru tau atau pengalaman pertama....

Menyusuri sungai...alami banget..ah jadi pengen ngikut juga .

Post a Comment

Say something nice, for a change.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates