Monday, August 20, 2018

Aku dan Kenangan Paling Berkesan

Bagiku, kenangan paling berkesan di dalam hidupku adalah ketika aku masih kecil. Saat itu usiaku masih sekitar 4-5 tahun, karena pada waktu itulah aku bisa mengingat dengan baik hingga sekarang.

Dulu, keluarga kecil kami masih tinggal di Kota Banjarbaru, tempat lahirku. Tak heran, saat aku berkuliah ke kota itu, aku merasa pulang ke rumah sendiri.



Moment-moment kebahagiaan yang paling senang kuingat adalah saat aku berangkat sekolah TK diantar mama. Jarak rumah dan sekolahku waktu itu cukup jauh, mama mengantarku menggunakan sepeda. Melewati jalanan yang jika kulewati sekarang ini rasanya membuatku ingin menangis.

Dulu, di dekat rumah kami terdapat hutan pinus yang lebat dan rindang. Di bawah naungan pohon-pohon tersebutlah aku menghabiskan masa kecil dengan berlari-lari dan berteman dengan teman di sekitar rumah.

Dulu, di halaman belakang rumahku tumbuh pohon belimbing. Di sanalah aku dan teman sebaya bermain masak-masakan dan permainan anak perempuan lainnya. Di halaman depan, terdapat pohon rambutan. Di sanalah pernah digantung sebuah karung yang berisi seekor trenggiling. Namun, besok harinya ketika dilihat, karung tersebut sudah kosong. Sejak itulah aku menganggap bahwa trenggiling adalah hewan mistis.

Rumahku dulu dekat dengan sebuah sekolah menengah atas. Setiap kali lewat di depan kompleks sekolah tersebut, aku selalu berpikir betapa enaknya menjadi kakak-kakak remaja. Dengan seragam olahraga TK berwarna hijau-kuning aku berpikir betapa serunya nanti kalau sudah besar diperbolehkan pacaran. Haha.

Ada banyak jawaban yang kukeluarkan ketika apa cita-citaku saat masih kecil dulu. Paling dominan, profesi yang kuincar adalah dokter dan guru. Namun, ketika aku bertanya sendiri pada hatiku, aku menemukan bahwa mungkin aku ingin jadi artis saja. Mengingat risiko yang kecil dan kehidupan menyenangkan artis yang terlihat dari luar. Pemikiran yang absurd sekali, sungguh.

Kenangan bersama orangtuaku yang memang menunjukkan kasih sayang mereka dengan jelas membuatku semakin bahagia. Saat-saat di mana aku ikut ke tempat kerja papa, ikut mandi di irigasi, atau bermain di taman adalah hal yang benar-benar sakral kujaga dalam ingatan.

Meskipun itu hanya kenangan.

Namun, kenangan yang indah dan bahagia seperti yang kumilikibtersebut membuatku tidak mudah terpuruk di saat sekarang walau beban hidup ketika dewasa mulai berat.

Sunday, August 12, 2018

Garis Waktu : Sebuah Perjalanan Menghapus Luka

Aku baru saja selesai membaca ebook Garis Waktu milik Fiersa Besari. Empat jempol kuhadiahkan untuk karya penulis sekaligus pemusik ini. Fiersa yang kerap disapa Bung, bagiku adalah seorang jenius sastra dan musik di saat yang bersamaan. Buku ini adalah karya tulisnya yang pertama kubaca. Sedangkan lagu-lagunya sudah pernah kudengarkan hampir semua.

Judul : Garis Waktu
Penulis : Fiersa Besari
Penerbit : Mediakita
Tahun Terbit : 2016

Friday, August 10, 2018

Life Freedom vs Financial Freedom

Apa yang akan kamu lakukan jika uang bukan lagi masalah buatmu?

Jika aku yang mendapat pertanyaan tersebut aku akan menjawab, aku akan membeli buku lebih banyak, menulis tanpa batas, dan travelling lebih sering. Ketiganya adalah passion-ku yang lambat laun mulai berkurang intensitasnya karena waktu luangku yang tak banyak dan uang yang masih diprioritaskan untuk hal lain.

Adalah mimpi besarku untuk dapat hidup dengan melakukan apapun yang kusuka tanpa rasa bersalah. Jika itu dapat terwujud, maka itulah arti kemerdekaan yang sesungguhnya bagiku. Kabar buruknya, kebebasan hidup biasanya berbanding terbalik dengan kebebasan finansial. Bukan, bukan aku takut tidak bisa bebas secara finansial. Namun, aku jelas khawatir jika kebebasan finansial menjadi penghalang terbesar untuk mencapai kebebasan hidup.



Diakui atau tidak, jalan hidup yang saat ini kita ambil biasanya bermuara pada satu hal yaitu uang. Uang adalah alasan sebagian besar orang melakukan sesuatu, sebagian kecil lainnya akan mengatakan passion sebagai pijakannya. Tak dapat dipungkiri, uang memang dapat membuat kita dapat bertahan hidup, makan tiga kali sehari, memakai pakaian yang layak, dan tinggal di rumah yang aman. Setelah sibuk mengejar uang, di sisa hari barulah kita akan memenuhi panggilan jiwa untuk melakukan hobi atau berkumpul dengan keluarga.

Mereka yang memiliki life freedom biasanya adalah para pemuda(i) yang belum bekerja dan belum berkeluarga. Mereka masih dapat bebas melakukan kegiatan tanpa batas waktu, tanpa takut dikejar setoran, tanpa takut akan dipecat, tanpa takut akan kekurangan makanan. Mereka masih bersemangat berorganisasi, melakukan hobi dengan teman sekomunitas, mengekspresikan ide tanpa mengharapkan imbalan. Di sisi lain, sebagian besar dari mereka belum bebas secara finansial dan itu bukan kabar baik untuk menyongsong masa depan yang menyenangkan.

Kelompok lainnya mungkin memiliki kemerdekaan secara finansial, mereka dapat memenuhi apa saja hajat hidup diri dan keluarga. Namun, waktu dan raga mereka tergadai untuk melakukan pekerjaan yang dibayar. Jika tidak ada passion di dalamnya, maka mereka adalah orang-orang yang resmi terpenjara dalam rutinitas. Sedang berbahagialah mereka yang bekerja dengan passion, setidaknya jiwa mereka merdeka meski letih raga. 

Lalu, bagaimana jalan keluar yang terbaik? Agar kita dapat merengkuh keduanya, life freedom and financial freedom. Di mana pun posisi kita saat ini, kita punya hak untuk memerdekakan diri dari segala bentuk penjajahan atas rasa bahagia. Berikut adalah beberapa tips yang bisa kubagi dan sedang kupraktikkan untuk mencapai kedua kemerdekaan tersebut. 

# Bekerja dengan passion
Bahkan jika kamu sudah tercebur ke bidang yang tidak disukai, setidaknya cobalah untuk mencintainya. Karena dengan begitu beban mental saat bekerja tidak terlalu berat. Bagi yang belum mendapatkan pekerjaan, pilihlah yang sesuai dengan passion-mu agar bekerja terasa seperti bermain.

# Luangkan waktu
Sisihkan waktu untuk menekuni hobi dan berkumpul dengan keluarga. Kedua aktivitas ini adalah makanan jiwa yang paling hakiki. Kebahagiaan akan paling mudah dicapai saat jiwa sudah ‘kenyang’.

# Tutup telinga
Dunia makin ke sini makin jahat. Gempuran media sosial makin memperkeruh suasana. Nyinyiran khas netizen terhadap kondisi yang kita alami kadang membuat kita tambah gusar. Karena hidup terlalu singkat untuk membiarkan orang lain mengatur apa yang harus kita lakukan, maka abaikan saja ‘dalil-dalil’ mereka yang sok maha benar itu.

# Investasi
Ini adalah salah satu poin untuk menggapai kebebasan finansial. Ada banyak cara berinvestasi, kita bisa belajar dari mana saja. Yang penting kita tidak membiarkan penghasilan kita menguap begitu saja. Pilihlah investasi yang mendatangkan passive income, sehingga saat kita bersenang-senang melakukan hobi, uang akan masuk ke rekening pada waktu yang bersamaan.

# Buat program
Rencanakan program untuk bersenang-senang dan laksanakan. Misal travelling setahun sekali, budget beli buku sekian rupiah per bulan, dan lain sebagainya. Menikmati hidup jangan menunggu tua. Pertama, belum tentu kita masih hidup sampai tua. Kedua, tenaga dan perasaan saat muda dan tua tidak sama. 

# Kendalikan gaya hidup
Apa yang membuat hidup terasa sangat berat? Salah satunya adalah gaya hidup yang tinggi, sedangkan penghasilan tidak mencukupi. Jangan turuti gengsi yang tak ada habisnya. Beli barang sesuai fungsi, bukan hanya karena branded. Jika kita masih dikendalikan gengsi, maka selamanya kita tidak akan pernah menjadi orang yang merdeka.

Jadi, sudah siap merdeka tanpa merasa bersalah? Aku siap, meski sekarang belum. Tapi setidaknya, aku sudah tahu apa yang aku mau, dan siap menjalankan langkah untuk mendapatkannya. Lalu, bagaimana kemerdekaan hidup versimu? []

Friday, August 3, 2018

Yuk, Sambut Asian Games dengan Semangat Optimisme!

Tahun 2018 sepertinya memang ditasbihkan sebagai tahun olahraga ya. Dimulai dengan Piala Dunia di bidang sepakbola yang baru saja berakhir dengan Prancis sebagai juara dunia, hingga Indonesia Open di bidang badminton yang baru berakhir tanggal 8 Juli kemarin. Bulan Agustus ini, perhelatan ajang olahraga terbesar d Asia pun digelar, Asian Games. Tahun ini giliran Indonesia yang bertindak sebagai tuan rumah.

Asian Games XVIII

Pada Asian Games kali ini, perayaannya identik sekali dengan angka 8. Sejak diadakan pertama kali pada tahun 1951, Asian Games tahun yang diadakan pada tahun 2018 ini adalah Asian Games ke-18. Acara pembukaan event olahraga tingkat Asia ini pun diadakan pada tanggal 18-8-18. Wah, bertabur 8 ya.

Meski bukan insan olahragawan, aku yang terkena influence kemeriahan Asian Games ini juga ikut mencari tahu tentang Asian Games yang bertema “The Energy of Asia” ini. Ternyata kegiatan pra-pembukaan sudah mulai dilaksanakan yaitu Estafet Obor. Estafet Obor yang dilaksanakan sejak tanggal 17 Juli 2018 ini dimulai dari India sebagai tempat perhelatan pertama ajang Asian Games. Obor tersebut kemudian dibawa ke lokasi api abadi yang terletak di Mrapen, Jawa Tengah pada tanggal 18 Juli 2018. Estafet obor ini akan terus berlangsung dan melewati beberapa kota di Indonesia hingga selesai tepat pada tanggal 17 Agustus 2018 di Monumen Nasional (Monas), Jakarta.


Pada acara pembukaan Asian Games nanti, api ini akan dibawa ke Stadion Gelora Bung Karno. Karena dibuka tepat sehari setelah perayaan Hari Kemerdekaan RI, pasti semangat nasionalisme bangsa Indonesia sedang hangat dan membara. Seperti api abadi dari Mrapen, semoga semangat nasionalisme dan optimisme kita baik sebagai penonton, atlet, atau penyelenggara Asian Games ini tidak pernah padam.

Asian Games ke-18 ini akan dilaksanakan dari 18 Agustus 2018 hingga 2 September 2018. Indonesia sebenarnya bukan pertama kali ini menjadi tuan rumah Asian Games. Pada tahun 1962, Indonesia tepatnya Kota Jakarta juga sudah pernah menjadi tuan rumah ajang olahraga terbesar di Asia ini. Pada tahun 2018 ini, ada satu kota tambahan sebagai tempat pelaksanaan Asian Games yaitu Palembang karena fasilitas olahraganya yang cukup lengkap. Selain di dua kota tersebut, beberapa cabang olahraga juga akan menggunakan fasilitas olahraga yang ada di Provinsi Jawa Barat dan Banten. 

Opening Ceremony dipastikan bakal meriah
Sebagai penonton kita tentu harus support para atlet dengan usaha yang kita bisa. Misal menulis status tentang apresiasi terhadap para atlet kita yang sedang bertanding, jika pun ada yang gagal jangan mencemooh karena setidaknya mereka sudah melakukan yang terbaik. Masih ingat tentang cerita Muhammad Zohri dan Fauzan Noor yang memenangkan kejuaraan dunia di bidang olahraga lari 100 meter dan karate? Tanpa support maksimal pun ternyata mereka mampu memenangkan pertandingan, apalagi jika didukung secara penuh moril dan materil.

Selain itu dari sisi seorang traveller, aku juga berharap semoga ajang ini dapat memperluas jangkauan pariwisata Indonesia di mata dunia, setidaknya di tingkat regional Asia. Tidak main-main, menurut Wikipedia akan ada sekitar 15.000 atlet yang ikut bertanding di perhelatan akbar ini. Lebih dari setengahnya pasti warga negara asing yang mungkin baru pertama kali ke Indonesia. Dengan adanya ajang ini, semoga devisa negara dari bidang pariwisata semakin meningkat.

Pariwisata Indonesia menjadi daya tarik menarik bagi peserta Asian Games dari negara lain

Semoga sukses untuk tim atlet Indonesia dan untuk panitia pelaksana ajang olahraga terbesar di Asia ini. Kita harus optimis bahwa Indonesia pasti berjaya di Asian Games ini baik sebagai tuan rumah maupun juara. Aamiin.[]
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates