Sunday, August 12, 2018

Garis Waktu : Sebuah Perjalanan Menghapus Luka

Aku baru saja selesai membaca ebook Garis Waktu milik Fiersa Besari. Empat jempol kuhadiahkan untuk karya penulis sekaligus pemusik ini. Fiersa yang kerap disapa Bung, bagiku adalah seorang jenius sastra dan musik di saat yang bersamaan. Buku ini adalah karya tulisnya yang pertama kubaca. Sedangkan lagu-lagunya sudah pernah kudengarkan hampir semua.

Judul : Garis Waktu
Penulis : Fiersa Besari
Penerbit : Mediakita
Tahun Terbit : 2016

Garis Waktu bercerita tentang sebuah perjalanan rasa seorang ‘aku’. Penggambarannya terhadap rasa jatuh cinta sebegitu pas. Pun tentang patah hati, Fiersa Besar sangat tepat merangkum kegelisahan hati si ‘aku’. Sejak mulai mengenal si gadis pujaan, hingga bersama, lalu berpisah semuanya rapi terletak dalam satu garis waktu.

Lihatlah kata-kata cinta yang digambarkan si ‘aku’ dalam buku ini.

“Cinta tidak pernah datang tiba-tiba; ia akan mengendap-ngendap menyusup ke dalam urat nadimu, meledakkan jantungmu, lalu meninggalkanmu terbakar habis bersama bayang-bayangnya.” (hal 16)

Pada bab-bab tentang patah hati, aku berpikir mengapa patah hati bisa semenyesakkan ini ya? Luka yang dihasilkan oleh cinta yang begitu dalam biasanya memang sangat pedih. Meski di akhir kata, ada keikhlasan yang coba dibagi penulis.

“Dan karena hati akan sakit lagi, bukan berarti kita harus berhenti jatuh hati.” (hal 175)

Tidak ada setting tempat tertentu dalam novel ini, hanya waktu yang terus maju. Si ‘aku’ dan perempuan yang dicintainya adalah dua tokoh utama dalam buku ini. Meski beberapa kali tokoh aku juga bercerita tentang ayah dan ibunya. Tak bisa dicegah, sebagian besar pembaca pasti akan  menuduh ‘aku’ adalah Fiersa sendiri. Tapi aku akan tetap menulisnya sebagai ‘aku’ karena mungkin saja ada bagian fiksi yang ia tambahkan di sini.

Meski tema utama buku ini adalah tentang perasaan cinta si “aku”, pesan moral yang tersirat dan tersurat dalam buku ini juga banyak.

“Mereka bertanya, untuk apa bertahan menjadi pemimpi, sementara kenyataan menawarkan harta yang lebih melimpah? Aku tertawa pedih. Mereka menanyakan seolah hanya untuk kekayaan kita diciptakan.” (hal 113)

“Di hidup kita yang cuma satu kali ini, apa perlu membuang waktu dengan mengurusi yang tidak perlu, menghakimi yang kita tidak tahu, dan memusuhi hal yang tidak kita mengerti?” (hal 100)

“Kakimu bisa kau taruh di tempat tertinggi, tapi apakah hatimu bisa kau taruh di tempat yang terendah?” (hal 119)

Ada gambar di setiap awal bab sebagai ilustrasi yang dapat membuat pembaca lebih relaks karena isi babnya sedikit sesak.

Karena aku kenal dengan lagu-lagu Fiersa duluan. Maka di beberapa bab aku membayangkan lagunya saat membaca. Di beberapa bab malah ada lirik yang terselip di sana. Dan tentu saja ost Garis Waktu yang begitu kusuka.

Kau yang terbaik, juga terburuk. Kau yang mengajari arti patah hati. Kau beri harap, lalu kau pergi. Garis waktu tak kan mampu menghapusmu. (hal 209)

Buku berjumlah 218 halaman ini sukses membuatku berkelana dalam kata-kata yang kaya imaji, diksinya begitu mengena dan tentu saja aku suka sekali gaya bahasanya. Persis seperti gaya bahasa Fiersa pada caption akun media sosialnya.

Pesan utama buku ini menurutku adalah bahwa kita harus mengikhlaskan apa pun yang tak bisa kita dapat di dunia ini, agar dapat terus melanjutkan hidup.

“Tuhan tidak pernah terlalu sibuk untuk mendengarkan doa kita.” (hal 195)

Artikel Terkait

14 komentar:

Milda Ini said...

Udaj lama.ga baca e book.dan novel. Seringnya baca sinopsis kayak gini. Ada ga novel yang tipis kak, apa judulnya

Ali Muakhir said...

Bikin galau nggak ya, baca novel ini?

Mira Kaizen said...

“Kakimu bisa kau taruh di tempat tertinggi, tapi apakah hatimu bisa kau taruh di tempat yang terendah?”

Dalem banget mbk...hihi

Nindi Fanswari said...

baca sinopaisnya aja udah galau, apalagi baca langsung novelnya. keren mba sinopsisnya

Dewi Rieka said...

Aku ngga sabaran baca yang mendayu-dayu ginii hiks maunya yang ada actionnya wkwkw

Fauziah Rachmawati said...

penasaran ma novelnya...

Ahmad Lamuna said...

Whistlist. Garis Waktu. Catet.

Lina W. Sasmita said...

Fiersa ini pernah muncul di televisi nggak sih Kak?

Fauziah said...

Wiiiw jadi pingin beli nih.. Pake alokasi buki bulan depan.. Hehe

ilham sadli said...

Minta dong ebooknya kalau boleh kak 😊😊 jadi pengen baca

M Ivan Aulia Rokhman said...

buku ini sangat bagus untuk menyembuhkan hati yang tergejala pada sakit hati.

Antung apriana said...

Wah penulisnya pintar banget ya merangkai kata-kata puitis

Junita Susanti said...

Wah.. kyaknya bukunya keren. aku bakal baper deh kalo baca... hehe
jadipenasaran pingin baca juga kak

Efenerr said...

Perlu baca juga nie keknya.

Post a Comment

Terimakasih telah berkomentar dengan baik 🙆 Ditunggu kunjungan selanjutnya.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates