Menikmati Proses. Meladeni Obsesi. Mengakrabi Tuhan.

Stres Akut vs Stres Kronis: Apakah Stres Membuat Kita Tumbuh?

Posting Komentar

Aku pernah mendengar pernyataan bahwa stres bisa membuat kita menjadi lebih kuat. Mungkin ada benarnya. Aku bisa mengingat beberapa situasi ketika tekanan justru membuatku bergerak. Ketika punya deadline, misalnya, aku bisa menjadi jauh lebih fokus. Ketika harus mempresentasikan sesuatu, aku terdorong untuk mempersiapkan diri lebih serius. Ketika mengalami masalah dengan seseorang, aku dipaksa memikirkan kembali cara berkomunikasi dan memahami orang lain.

Tetapi aku juga pernah mengalami stres yang rasanya tidak membuatku lebih kuat. Ada masa ketika terlalu banyak hal terjadi dalam waktu yang berdekatan. Satu masalah belum selesai, masalah lain sudah datang. Pekerjaan terus berjalan, pikiran terus aktif, dan rasanya tidak pernah benar-benar selesai. Bahkan ketika sedang tidak mengerjakan apa-apa, kepalaku tetap terasa penuh.

Hal itu membuatku mempertanyakan jika stres memang bisa membuat manusia berkembang, mengapa ada stres yang justru membuat kita merasa semakin terpuruk? Setelah membaca beberapa literatur, ternyata hal itu juga dipengaruhi oleh jenis stres, durasinya, dan apakah kita memiliki kesempatan untuk memulihkan diri.

Secara sederhana, stres adalah respons tubuh dan psikologis ketika kita menghadapi tuntutan atau ancaman yang dianggap membutuhkan penyesuaian. Respons ini melibatkan berbagai sistem dalam tubuh, termasuk sistem saraf otonom dan sistem neuroendokrin. Karena itu stres sebenarnya bukan hanya soal merasa tertekan, tubuh kita juga ikut berubah ketika sedang menghadapi sesuatu yang menuntut perhatian dan respons (O'Connor et al., 2021).

Dan ternyata, tidak semua stres berlangsung dengan cara yang sama. Ada stres yang datang sebentar, membuat kita waspada, kemudian selesai. Ada pula stres yang terus berulang atau tidak kunjung berakhir. Perbedaan sederhana ini ternyata cukup penting.


Stres Akut

Ketika aku tahu besok pagi harus melakukan presentasi, malam ini biasanya aku merasa cemas. Jantung terasa lebih cepat, pikiranku fokus pada presentasi, dan aku terdorong untuk membuka kembali materi yang sudah kubuat. Dalam situasi seperti ini, rasa tidak nyaman tersebut sebenarnya sedang membantuku mempersiapkan diri.

Mungkin inilah gambaran sederhana dari stres akut yaitu respons terhadap tuntutan atau ancaman yang berlangsung relatif singkat. Aku bisa merasakan tekanannya sebelum kejadian, melakukan sesuatu untuk menghadapinya, lalu ketika presentasi selesai, sumber tekanannya juga berakhir.

Konsep allostasis yang banyak dibahas Bruce McEwen membantu menjelaskan proses ini. Tubuh terus melakukan penyesuaian untuk menghadapi perubahan dan tuntutan lingkungan. Dalam jangka pendek, respons stres dapat membantu organisme beradaptasi terhadap situasi yang dihadapi (McEwen, 2004).

Mungkin itu sebabnya beberapa tekanan dalam hidup justru terasa produktif. Deadline membuatku akhirnya mengerjakan sesuatu yang sudah lama kutunda. Presentasi membuatku belajar lebih serius. Percakapan sulit membuatku belajar memilih kata dengan lebih hati-hati. Kegagalan membuatku mengevaluasi strategi yang ternyata tidak bekerja.

Dalam situasi seperti ini, pola yang bisa terlihat adalah tantangan → respons → adaptasi → pembelajaran. Stresnya tidak otomatis membuatku berkembang. Tetapi stres memberikan tuntutan yang kemudian mendorongku untuk melakukan sesuatu, dan dari proses itu pembelajaran mungkin terjadi.


Stres Kronis

Contoh selanjutnya juga pernah kualami. Deadline pertama belum selesai, sudah ada deadline berikutnya. Pekerjaan belum selesai, tetapi pesan masuk terus berdatangan. Konflik dengan seseorang belum selesai, tetapi setiap hari tetap harus bertemu. Masalah finansial tidak hanya muncul sekali, tetapi menjadi kekhawatiran yang terus dibawa dari satu bulan ke bulan berikutnya.

Aku tidak lagi menghadapi satu tekanan yang datang dan kemudian pergi. Aku seperti terus-menerus berada dalam keadaan harus merespons sesuatu. Dari literatur, aku mengetahui konsep ini disebut stres kronis.

Stres kronis merujuk pada kondisi ketika tuntutan atau respons stres berlangsung dalam waktu lama atau berulang sehingga tubuh harus terus melakukan penyesuaian. McEwen menjelaskan bahwa stres pada awalnya dapat membantu adaptasi, tetapi stres yang berkepanjangan dapat menghasilkan allostatic load yaitu semacam akumulasi beban atau wear and tear akibat tubuh terus-menerus beradaptasi terhadap tuntutan (McEwen, 2004).

Literatur yang lebih baru juga menunjukkan bahwa stres kronis berkaitan dengan perubahan pada berbagai sistem biologis, termasuk sistem saraf otonom, regulasi sumbu HPA dan kortisol, serta berbagai proses fisiologis lain yang berhubungan dengan kesehatan (O'Connor et al., 2021).


Stres dengan 2 Level yang Berbeda 

Jadi ada perbedaan yang signifikan antara dua jenis stres ini. Stres akut bisa seperti tubuh yang menekan pedal gas untuk melewati sebuah situasi. Sementara, stres kronis seperti pedal gas itu terus ditekan tanpa kesempatan untuk mengurangi kecepatan. Masalahnya adalah berapa lama mesin bisa terus dipaksa bekerja seperti itu.

Pada orang yang sama-sama stres, sangat mungkin levelnya berbeda. Orang pertama mengerjakan tugas sampai malam karena besok deadline. Ia menyelesaikannya, kemudian tidur, mengambil waktu istirahat, dan beberapa hari kemudian mengevaluasi apa yang bisa diperbaiki.

Orang kedua juga memiliki deadline. Tetapi sebelum deadline itu selesai, sudah ada pekerjaan lain yang menunggu. Ia tidur semakin sedikit. Pesan pekerjaan terus masuk. Setelah satu tugas selesai, muncul tugas berikutnya. Akhirnya ia tidak pernah merasa benar-benar selesai.

Secara kasat mata, keduanya sama-sama sedang bekerja keras. Tetapi tubuh dan pikiran mereka mungkin berada dalam situasi yang sangat berbeda. Pada orang pertama, tekanan memiliki awal dan akhir. Ada tuntutan, ada respons, kemudian ada pemulihan. Pada orang kedua, tuntutan terus bersambung tidak menyediakan waktu untuk pulih.


Hubungan Stres dengan Pertumbuhan Diri

Selama ini aku mungkin menganggap pertumbuhan diri sebagai hasil dari menghadapi kesulitan. Aku mengalami sesuatu yang sulit, aku belajar, dan aku menjadi lebih kuat. Tetapi setelah membaca tentang stres dan pertumbuhan, aku merasa hubungan keduanya tidak sesederhana itu. Kesulitan memang bisa menjadi pengalaman belajar. Tetapi mengalami kesulitan tidak otomatis membuat seseorang bertumbuh.

Ada orang yang setelah menghadapi masalah menjadi lebih memahami dirinya. Ada yang menjadi lebih mampu mengelola emosinya. Ada yang akhirnya berani menetapkan batas dalam hubungan. Ada yang belajar meminta bantuan. Ada yang mengubah cara memandang pekerjaan, hubungan, atau kehidupannya.

Namun ada pula orang yang setelah terlalu lama berada dalam tekanan justru hanya punya satu tujuan yaitu bertahan sampai hari itu selesai. Yang terakhir malah lebih banyak kutemui pada kebanyakan orang di keseharian. Dalam kondisi seperti itu, mungkin bukan pertumbuhan yang sedang menjadi prioritas tubuh dan pikiran, tapi survival yang menjadi prioritas.


Keseimbangan antara Stres dan Ruang Pulih

Dari hasil pembacaan ini, aku menyimpulkan bahwa recovery mungkin sama pentingnya dengan challenge. Kita sering membicarakan bagaimana menjadi lebih produktif, lebih tangguh, lebih mampu menghadapi tekanan. Tapi mungkin kita juga perlu menanyakan setelah menyelesaikan pekerjaan yang melelahkan, apakah kita benar-benar beristirahat? Setelah mengalami konflik, apakah kita punya ruang untuk memproses apa yang terjadi? Setelah melewati periode yang sangat sibuk, apakah kita memberikan kesempatan kepada diri untuk kembali ke ritme yang normal?

Karena pertumbuhan tidak hanya membutuhkan sesuatu untuk dihadapi. Ia juga membutuhkan ruang untuk memproses apa yang sudah kita hadapi. Kalau setiap hari dipenuhi tuntutan baru, sementara tuntutan sebelumnya tidak pernah benar-benar selesai, sumber daya kita perlahan bisa terkuras. Dan ketika sumber daya mental, fisik, emosional, waktu, maupun sosial semakin sedikit, mungkin yang tersisa bukan lagi kapasitas untuk bereksplorasi dan berkembang, tetapi sekadar kapasitas untuk bertahan.

Sebagai kesimpulan, berikut adalah beberapa hal yang menentukan stres dapat menjadi peluang untuk tumbuh.

1. Durasi. Apakah ini masalah yang muncul sesekali atau sudah menjadi keadaan sehari-hari? Stres karena deadline yang datang sekali tentu berbeda dengan tekanan yang terus berulang tanpa jeda selama berbulan-bulan.

2. Intensitas. Seberapa besar tuntutan yang sedang dihadapi? Semakin besar tuntutan yang harus direspons, semakin besar pula energi fisik dan mental yang perlu dikeluarkan untuk menghadapinya.

3. Recovery. Apakah setelah menghadapi stres, kita punya kesempatan untuk beristirahat dan kembali stabil? Tantangan mungkin tidak selalu bisa dihindari, tetapi tubuh dan pikiran membutuhkan jeda agar tidak terus-menerus berada dalam kondisi siaga.

4. Resources. Apakah kita memiliki cukup sumber daya untuk menghadapi stres? Sumber daya itu bisa berupa kemampuan, waktu, kesehatan, pengetahuan, uang, lingkungan yang aman, atau orang-orang yang bisa menjadi tempat bersandar (support system).

Oleh karena itu, menjadi kuat bukan berarti mampu menanggung semakin banyak stres. Menjadi kuat juga berarti tahu kapan harus menghadapi, kapan harus berhenti, kapan harus meminta bantuan, dan kapan harus memberi diri sendiri kesempatan untuk pulih. Sebab mungkin pertumbuhan bukan tentang seberapa banyak tekanan yang mampu kita tahan. Pertumbuhan juga membutuhkan ruang untuk bernapas setelah kita melewati tekanan itu. []


Daftar Bacaan

McEwen, B. S. (2004). Protection and damage from acute and chronic stress: Allostasis and allostatic overload and relevance to the pathophysiology of psychiatric disorders. Annals of the New York Academy of Sciences, 1032(1), 1–7. https://doi.org/10.1196/annals.1314.001

O'Connor, D. B., Thayer, J. F., & Vedhara, K. (2021). Stress and health: A review of psychobiological processes. Annual Review of Psychology, 72, 663–688. https://doi.org/10.1146/annurev-psych-062520-122331

Rindang Yuliani
Hi, I'm Rindang Yuliani. I'm a writer, a civil servant, and living in Barabai, South Borneo. I love reading and I'm interested in travelling. My first book is Escape, Please!
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar