"Siapa pun dapat menyelesaikan pekerjaan sebanyak apa pun, asalkan pekerjaan itu bukan pekerjaan yang seharusnya ia kerjakan pada saat itu." — Robert Benchley, Chips off the Old Benchley (1949)
Beberapa hari ini aku sedang procrastinate satu tugas yang tenggat waktunya hari Jumat. Sampai sekarang, progresnya hampir tidak ada. Anehnya, aku tidak merasa sedang bermalas-malasan. Justru sebaliknya, aku merasa sangat sibuk.
Ada saja hal yang tiba-tiba terasa penting untuk dilakukan. Folder-folder lama yang bertahun-tahun tidak pernah kubuka akhirnya kubereskan. Proyek pribadiku yang sudah lama mangkrak justru selesai pada minggu ini. Bahkan menulis tulisan ini pun bisa dibilang termasuk salah satunya.
Kalau dipikir-pikir, ini semacam blessing in disguise. Seandainya aku tidak sedang menghindari tugas yang deadline-nya hari Jumat, mungkin proyek-proyek tanpa tenggat waktu itu akan tetap tertunda entah sampai kapan.
Tentu saja, pola ini sangat bertentangan dengan prinsip skala prioritas yang selama ini kupelajari. Logikanya, pekerjaan yang paling penting seharusnya dikerjakan lebih dulu. Namun, otakku tampaknya memiliki logika yang berbeda. Semakin penting sebuah tugas terasa, semakin kreatif pula ia mencari pekerjaan lain yang bisa dijadikan alasan untuk tidak mengerjakan tugas tersebut.
Aku cukup mengenal pola ini karena sudah berulang kali mengalaminya. Nanti, beberapa jam menjelang tenggat waktu, kemungkinan besar aku akan bekerja dengan sangat cepat. Tugas itu akan selesai. Bukan karena aku sengaja memilih strategi seperti ini, tetapi karena selama ini memang seperti itulah pola yang terus berulang. Kadang-kadang. Ada banyak hal juga yang kulakukan sesuai skala prioritas.
Menarik bagaimana cara otak mencari pelarian.
Dalam kasusku, bentuknya hampir selalu sama. Mencari makanan atau ngemil. Membuka WhatsApp lalu membaca percakapan yang sebenarnya tidak mendesak. Melihat story orang lain tanpa tujuan tertentu. Membuka Instagram lalu menggulir timeline tanpa tahu sedang mencari apa. Beres-beres meja. Atau, seperti sekarang, menulis di tab yang berbeda. Apa pun itu, asal bukan mengerjakan tugas yang sedang kuhindari.
Structured Procrastination
Aku mencari dan menemukan literatur yang membahas tentang hal ini, yaitu esai berjudul Structured Procrastination yang ditulis oleh filsuf Stanford, John Perry pada tahun 1995. Perry berpendapat bahwa prokrastinasi tidak selalu berarti seseorang tidak melakukan apa pun. Sebaliknya, kebanyakan prokrastinator justru tetap melakukan banyak hal yang produktif. Masalahnya, produktivitas itu diarahkan pada pekerjaan lain yang terasa lebih ringan dibandingkan tugas yang sedang mereka hindari.
Penjelasan itu terasa sangat dekat dengan apa yang sedang kualami. Selama beberapa hari terakhir, aku memang tidak benar-benar berhenti bekerja. Aku hanya mengalihkan energiku ke pekerjaan-pekerjaan lain. Anehnya, beberapa di antaranya memang layak diselesaikan. Seolah-olah otakku sedang berkata, "Kalau tidak mau mengerjakan tugas utama, setidaknya kerjakan hal lain yang tetap membuatmu merasa produktif."
Aku membaca literatur lainnya, tulisan Tim Pychyl, seorang psikolog yang telah lama meneliti prokrastinasi. Ia menanggapi gagasan John Perry dengan sebuah pertanyaan yang menarik. Mungkin strategi seperti ini bukan hanya dilakukan oleh para prokrastinator. Bisa jadi hampir semua orang sebenarnya melakukan semacam project triage: memilih pekerjaan mana yang akan dikerjakan sekarang, mana yang ditunda, dan mana yang dihindari. Bedanya, sebagian orang berhasil mengarahkan penghindaran itu menjadi sesuatu yang tetap menghasilkan kemajuan, sementara sebagian lainnya berakhir pada aktivitas yang sama sekali tidak memberikan hasil.
Aku jadi berpikir, mungkin memang ada perbedaan antara menunda sambil menyelesaikan proyek lain dengan menunda sambil menggulir media sosial selama berjam-jam. Yang pertama mungkin tetap menghasilkan sesuatu. Yang kedua sering kali hanya menyisakan rasa bersalah.
Meski begitu, media sosial tetap menjadi salah satu bentuk pelarian yang paling sering kulakukan.
Pertanyaan-pertanyaan Lainnya
Beberapa waktu lalu aku melihat seseorang di Instagram membagikan tips yang menurutku cukup menarik. Ia menggunakan ponselnya untuk merekam dirinya sendiri yang sedang bekerja dalam bentuk time-lapse. Dengan begitu, selama proses bekerja ia tidak bisa membuka Instagram karena ponselnya sedang digunakan untuk merekam.
Kupikir idenya cukup cerdas. Sayangnya, dalam kasusku masalahnya tidak sesederhana itu. WhatsApp-ku terhubung dengan laptop. Jendelanya selalu terbuka. Tinggal sekali klik. Rasanya jauh lebih sulit untuk benar-benar memutus hubungan dengan dunia luar daripada sekadar menjauhkan ponsel dari genggaman.
Dari situ muncul pertanyaan yang menurutku jauh lebih menarik daripada sekadar bagaimana cara berhenti membuka media sosial. Mengapa kita tetap ingin terhubung dengan dunia luar ketika sebenarnya sedang membutuhkan fokus? Apa sebenarnya yang sedang kita cari?
Apakah kita benar-benar sedang mencari informasi? Atau sebenarnya kita hanya mencari jeda dari pekerjaan yang terasa berat? Apakah kita takut ada pesan penting yang terlewat? Takut tertinggal kabar terbaru? Atau jangan-jangan ada kebutuhan yang lebih mendasar yaitu keinginan untuk memastikan bahwa kita masih terhubung dengan orang lain?
Aku bahkan mulai bertanya pada diriku sendiri mengapa aku cukup sering mengunggah status ketika sedang bekerja atau sedang sibuk. Padahal pekerjaannya sendiri tidak membutuhkan publikasi. Mungkin ada bagian kecil dalam diriku yang sedang berkata, "Aku sedang mengerjakan ini."
Aku belum tahu apakah dugaan itu benar. Rasanya terlalu cepat jika langsung menyimpulkannya. Namun, pertanyaan-pertanyaan itu membuatku semakin tertarik membaca literatur psikologi tentang perhatian, distraksi, regulasi emosi, hingga kebutuhan manusia untuk tetap merasa terhubung.
Mungkin nanti aku akan menemukan bahwa penyebabnya adalah fear of missing out. Mungkin juga bukan. Bisa jadi justru berkaitan dengan cara otak menghindari emosi tidak nyaman yang muncul ketika harus memulai pekerjaan besar. Apa pun jawabannya nanti, aku ingin memahaminya lebih dulu sebelum mencoba mencari solusinya.
Pergeseran Mindset
Selain menjawab pertanyaan mengapa aku (lebih suka) menunda, Structured Procrastination juga menggeser cara pandangku terhadap pekerjaan itu sendiri.
Selama ini aku memiliki gambaran tentang kehidupan yang ideal. Semua tugas selesai sesuai target waktu. Dikerjakan berdasarkan skala prioritas. Daftar pekerjaan semakin hari semakin pendek, sampai akhirnya habis.
Namun semakin kupikirkan, gambaran itu terasa seperti sesuatu yang hampir mustahil. Bukankah setiap kali satu pekerjaan selesai, pekerjaan lain akan datang menggantikannya?
Ada tugas kantor. Ada urusan rumah. Ada proyek pribadi. Ada buku yang ingin dibaca. Ada ide tulisan yang ingin dibuat. Ada pesan yang harus dibalas. Bahkan ketika satu daftar selesai, daftar yang baru sudah menunggu untuk ditulis.
Mungkin memang begitulah realitasnya. Mungkin hidup memang tidak pernah benar-benar kosong dari to do list.
Konsep Structured Procrastination membuatku melihat kemungkinan lain. Bisa jadi yang selama ini kuanggap sebagai penyimpangan justru merupakan bagian dari kehidupan yang normal. Tugas-tugas memang tidak selalu selesai sesuai urutan yang sudah kita susun. Tidak selalu selesai tepat pada waktu yang kita targetkan. Ada pekerjaan yang tiba-tiba melompat antrean karena saat itu energi kita lebih cocok untuk mengerjakannya. Ada juga pekerjaan yang baru benar-benar selesai ketika waktunya memang tiba.
Tentu ini bukan pembenaran untuk terus menunda. Aku tetap ingin belajar memulai pekerjaan lebih awal dan tidak selalu mengandalkan mode sprint menjelang tenggat waktu.
Namun, mungkin aku juga tidak perlu terlalu keras pada diri sendiri ketika hidup tidak berjalan seideal daftar prioritas yang kubuat.
Jangan-jangan yang membuatku lebih stres bukan banyaknya pekerjaan, melainkan ekspektasiku bahwa semua pekerjaan itu seharusnya selesai persis seperti rencana.
Padahal yang lebih realistis mungkin bukan berusaha mengosongkan to do list, melainkan menerima bahwa daftar itu akan selalu ada. Yang bisa berubah bukan keberadaan daftar tersebut, melainkan cara kita berdamai dengannya.
Barangkali, menjadi produktif bukan berarti selalu mengerjakan hal yang paling penting lebih dulu. Kadang, menjadi produktif berarti tetap bergerak, meskipun langkah pertama yang kita ambil ternyata bukan langkah yang sejak awal kita rencanakan. []
Daftar Bacaan
Perry, J. (1995, April 25). Structured procrastination. https://structuredprocrastination.com/
Pychyl, T. A. (2008, April 10). Structured procrastination: When all else fails. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/dont-delay/200804/structured-procrastination-when-all-else-fails
Yohe, G. W. (1980). Current publication lags in economics journals. Journal of Economic Literature, 18, 1050–1055.





Posting Komentar
Posting Komentar