Setiap kali aku mendengar orang bercerita tentang keluhan hidup yang terasa flat. Selama ini aku hanya bisa mengangguk pelan sambil diam-diam bersyukur bahwa aku belum pernah ada di tempat itu. Hidupku selama ini terasa cukup penuh dengan hal yang aku suka, alasan untuk antusias, excitement yang datang dari dalam, bukan dari luar.
Tapi belakangan ini aku mulai merasakan hal itu. Aku tidak bisa menunjuk satu momen spesifik di mana semuanya mulai terasa berbeda. Tidak ada satu kejadian besar, tapi tanpa disadari, sampai suatu hari aku merasa excitement-ku hilang.
Bukan berarti aku tidak bisa tertawa, tidak bisa menikmati momen, tidak bisa hadir dalam percakapan. Tapi ada semacam api kecil yang membuat aku bangun pagi dengan rasa ingin tahu, yang bikin aku antusias menjalani hari bahkan ketika hari itu tidak menjanjikan hal istimewa, entah sejak kapan, meredup.
Dan yang paling membingungkan aku tidak tahu harus sedih atau tidak. Karena hidupku, secara objektif, baik-baik saja. Tidak ada yang benar-benar salah. Tidak ada yang perlu diratapi. Tapi justru itu yang membuatnya sulit dijelaskan bagaimana kamu mengeluhkan sesuatu yang tidak punya alasan yang cukup kuat untuk dijadikan alasan?
Dan yang membuatku lebih tidak nyaman aku tahu sebagian ini dipengaruhi oleh lingkungan. Orang-orangnya. Sistemnya. Energi kolektif di sekitarku yang sedang tidak baik-baik saja. Ada yang pahit, ada yang melelahkan, ada yang pelan-pelan mengikis semangat kalau tidak hati-hati.
Tapi aku tidak mau terlalu mudah menyalahkan itu. Karena selama ini aku bangga dengan satu hal, aku bisa bertahan bersemangat meski di luar sedang tidak berpihak. Aku pernah ada di lingkungan yang lebih pahit dari ini, dari sisi orang-orangnya dan sistemnya, dan aku tetap bisa menemukan alasan untuk terus bergerak, terus tumbuh, terus merasa hidup.
Jadi kalau sekarang api itu meredup, aku tidak sepenuhnya bisa menuding ke luar. Ada sesuatu yang juga terjadi di dalam. Dan aku belum sepenuhnya tahu apa.
Mungkin ini yang namanya kelelahan yang tidak kelihatan dari luar. Bukan burn out yang sampai tidak bisa bangun atau tidak bisa berfungsi. Tapi lebih seperti mesin yang masih jalan. Ada sesuatu yang bergesekan di dalam, dan aku belum tahu bagian mana yang aus.
Yang aku tahu sekarang aku mulai mengerti kenapa orang mencari pelarian. Doom scrolling yang tidak ada habisnya. Kumpul bersama orang lain hingga kemalaman, hingga lupa waktu, hingga pulang dengan tubuh lelah tapi kepala sedikit lebih kosong dari tadi. Hiburan instan yang tidak benar-benar mengisi, tapi setidaknya mengalihkan.
Aku pernah menilai itu terlalu cepat dengan asumsi kenapa tidak mencari sesuatu yang lebih bermakna? kenapa lari ke hal-hal yang tidak membangun? Sekarang aku lebih pelan dalam menilai.
Karena aku mengerti sekarang bagaimana rasanya ketika kamu tahu apa yang seharusnya baik untukmu, tapi kamu tidak punya energi untuk menjangkaunya. Ketika membaca buku yang bagus terasa terlalu berat. Ketika mengerjakan hal-hal yang berarti terasa seperti mendaki dengan kaki yang sudah lelah. Dan ketika itu terjadi, hal-hal yang mudah dan segera, betapapun dangkalnya, terasa seperti satu-satunya yang terjangkau.
Ini bukan kelemahan karakter. Ini kelelahan yang belum ketemu namanya.
Dan mungkin, pelarian itu adalah cara tubuh dan pikiran berkata aku butuh sesuatu yang tidak menuntut apa-apa dari aku dulu, sebelum aku bisa kembali. Yang jadi masalah hanya ketika pelarian itu menjadi rumah ketika kita berhenti kembali sama sekali.
Aku menulis ini bukan karena sudah punya jawabannya. Aku belum tahu apa yang sedang terjadi persis, atau kapan ini akan berubah, atau apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Aku bahkan tidak yakin apakah ini fase yang akan berlalu dengan sendirinya, atau sesuatu yang perlu aku aktif cari jalan keluarnya.
Aku tidak mau berpura-pura tidak merasakannya. Karena selama ini aku terbiasa menjadi orang yang bersemangat. Dan ada godaan untuk mempertahankan citra itu, bahkan ketika dalamnya sedang tidak sejalan. Tapi kepura-puraan itu melelahkan dengan caranya sendiri, seperti memakai baju yang sudah tidak pas tapi tetap dipaksakan karena kamu sudah terlanjur dikenal dengan baju itu.
Jadi untuk saat ini, aku hanya ingin jujur bahwa hidupku terasa flat. Dan itu sangat tidak nyaman.
Tapi ada satu hal kecil yang pelan-pelan aku sadari, bahwa aku masih bisa menyadarinya. Masih bisa merasakannya. Masih bisa duduk, menulis, dan berkata dengan jujur bahwa sesuatu sedang tidak pada tempatnya.
Dan mungkin itu sendiri sudah sesuatu. Bukan jawaban atau solusi. Tapi semacam kompas kecil yang masih bergerak, yang menunjukkan bahwa di balik semua yang terasa redup ini, ada bagian dari aku yang masih mencari arah. Yang belum menyerah untuk menemukan kembali apa yang dulu membuatku merasa hidup.
Aku belum tahu apa yang ada di seberangnya. Tapi setidaknya, aku sudah berhenti berpura-pura tidak ada di sini. Dan mungkin, dari sinilah semuanya bisa mulai bergerak lagi. []





Posting Komentar
Posting Komentar