Menikmati Proses. Meladeni Obsesi. Mengakrabi Tuhan.

Saat Hati Berantakan

33 komentar

Saat hati berantakan, segalanya akan terasa tidak tepat. Saat hati berantakan, sentuhan sedikit saja seperti terasa sayatan. Saat hati berantakan, gerimis seolah badai hujan. 



Semuanya terasa salah, semuanya menyebalkan. Fisik tidak bersemangat. Produktivitas jangan ditanya, entah kemana.


Penyebab Hati Berantakan

Dari yang pernah kurasa, kulihat, kudengar, dan kubaca berikut adalah beberapa penyebab utama mengapa hati terasa berantakan.


Kesal pada Orang Lain.


Rasa kesal pada orang lain membuat hati kita terasa menjadi tidak pada tempatnya. Hati kita berubah sifat, ia yang seharusnya lembut menjadi mengeras karena sesak.


Hanya karena satu kesalahan dari orang tersebut, orang lain yang ada di sekitar kita juga terasa ikut salah. Apa yang mereka katakan, ucapkan, dengarkan, semuanya seperti tidak ada yang benar. Apalagi orang yang membuat kita kesal, dia totally wrong di mata kita.


Kita sudah punya tendensi negatif pada mereka. Sehingga sulit untuk membuat hati kita memaklumi bagaimana kondisi mereka, bagaimana perasaan mereka, atau apapun yang seharusnya bisa kita tolerir dari mereka.


Masalahnya adalah kita marah pada mereka, tapi mengapa hati kita yang gelisah? Marah pada orang lain secara tidak sadar adalah perbuatan merusak hati sendiri, membuat hati sendiri porak poranda.


Jadi, memberi maaf untuk orang yang pernah membuat hati kita kesal kadang bukan karena untuk mengakui mereka menang tapi untuk membuat hati sendiri tenang.


Apalagi jika orang yang membuat kita kesal adalah orang dekat, makinlah perasaan kita tidak enak. Padahal ya memang orang terdekat sangat berpotensi membuat kita terluka. Jarak mereka yang dekat dengan kita akan membuat mereka lebih ‘mudah’ menjangkau dan menyakiti kita.


Kiya ingin marah kadang tak bisa, tidak marah kita sendiri yang tersiksa. Jadi saat kesal pada orang dekat, hati kita sedang berada di posisi simalakama. Hati kita ingin marah tapi sekaligus sayang dengan orang tersebut sehingga penderitaan terasa sangat berat. Hati jauh lebih berantakan saat kondisi seperti ini.


Tersesat dalam Hidup Kita Sendiri


Kita clueless, kita tidak tahu berada di mana dan ingin kemana. Kondisi ini benar-benar berantakan sih. Pertanyaan apa tujuan hidupmu, akan sulit sekali kita temukan jawabannya.


Berbeda dengan orang yang tahu betul kemana dia harus menuju, hati mereka cenderung lebih rapi karena punya tujuan hidup. Sedang kita yang hatinya berantakan sangat bingung karena tidak punya tujuan.


Kita tidak tahu melakukan ini untuk apa. Kita bingung setelah ini harus melakukan apa. Kita tidak punya peta sebagai petunjuk kemana harus melangkah. Apakah hidup hanya tentang menikmati waktu yang berjalan tanpa merencanakan bagaimana cara mengisinya? Tentu saja tidak.


Kenali diri sendiri, tanya apa yang paling diinginkan oleh hati. Bagaimana kamu ingin menjalani hari-hari. Di mana kamu paling merasa nyaman, bersama siapa kamu paling merasa senang, apa motivasi terbesarmu punya mimpi. Pertanyaan-pertanyaan sejenis ini yang harus kamu jawab untuk menemukan tujuan hidupmu.


Tidak Mendapatkan Apa yang Diinginkan


Penyebab lain hati berantakan adalah kita tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Kadangkala dalam hidup kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Tidak semua hal dapat berjalan sesuai keinginan kita.


Karena kegagalan ini boleh jadi kita marah pada segala sesuatu yang ada di luar diri kita. Kita kira semesta sama sekali tidak mendukung kita. Hati kita semakin berantakan karena kita tidak berhenti untuk menyalahkan sesuatu di luar kendali kita.


Solusinya tentu saja kita harus menerima kegagalan tersebut dan menyadari bahwa akan ada kesempatan lain atau bentuk keberhasilan lain yang sedang menunggu kita selama mau berusaha.


Gejala Saat Hati Berantakan

Apa yang dilakukan oleh orang yang hatinya berantakan? Mereka akan melakukan apapun untuk membuat hatinya terasa rapi, seolah-olah rapi. Mereka akan melakukan hal-hal menyenangkan yang mereka sangka akan mengembalikan hati ke posisi di mana seharusnya ia berada.


Sayangnya kesenangan ini biasanya berujung ke perbuatan negatif, seperti menyia-nyiakan waktu dan lain sebagainya.


Mereka tidak tahu untuk apa melakukan itu, padahal ada tugas wajib lain yang harus dikerjakan. Mereka bisa jadi hanya ikut-ikutan melakukan sesuatu karena hatinya tidak bisa menimbang dengan jernih dan otaknya tidak bisa berpikir lurus.


Misal mereka merasa travelling akan menyembuhkan luka. Mungkin selama perjalanan mereka bisa melupakan, tapi setelah pulang boleh mereka akan kembali bertemu dengan masalah yang sama.


Misal lagi mungkin mereka pikir saat hangout bersama teman-teman, hatinya akan jauh lebih tenang. Ternyata ketenangan itu hanya sementara. Saat mereka kembali sendiri, keberantakan itu kembali menampakkan wujud aslinya. 


Aku tak akan menyebutkan contoh lain yang negatif karena tanpa situasi buruk pun hal negatif akan mengundang hal negatif lainnya.


Jadi sebaiknya memang saat ingin melakukan hal-hal yang menyenangkan, hati kita sudah full dulu, hati kita sudah rapi dulu. Sehingga tak ada yang perlu ditambal, tak ada yang perlu dibayar, tak ada yang perlu dibereskan setelah selesai bersenang-senang.


Bagaimana Merapikan Hati yang Berantakan?


1. Mendekatkan Diri pada Sang Pencipta

Karena Dialah pemilik hati, maka mudah bagi-Nya untuk membolak-balikkan hati kita yang lemah ini. Mendekatkan diri kita pada-Nya akan membuat hati kita lebih lembut, sesuai fitrahnya.


Lakukan apapun hal yang dapat mendekatkan diri pada-Nya. Ibadah-ibadah wajib tingkatkan kualitasnya, ibadah sunah perbanyak kuantitasnya. Lakukan kebaikan pada sesama, itu cukup membantu merapikan hati. Dari luar kita mungkin terlihat sedang membantu orang lain, padahal itu adalah salah satu kunci untuk mereparasi hati sendiri. Coba saja.


2. Temukan Penyebabnya

Mengetahui penyebab mengapa hati kita berantakan sangat penting agar kita juga bisa melakukan langkah yang tepat agar bisa merapikannya. Jangan malu untuk mengakui bahwa hati kita sedang tidak baik-baik saja. It’s ok. Jujur pada diri sendiri itu baik. 


Jangan sungkan untuk bertanya pada hati, apa yang kamu rasakan saat ini? Apa penyebabnya?


3. Lakukan Solusinya

Jika penyebabnya adalah kebencian pada orang lain, maka maafkanlah mereka. Jika penyebabnya adalah belum punya tujuan hidup, buatlah rencana hidupmu. Jika penyebabnya adalah karena kegagalan, bangkitlah dan coba lagi.


Buang semua gengsi, buang semua keengganan yang membelenggu kita pada ketidaknyamanan hati. Mungkin kita akan terlihat bodoh atau sebagainya, tapi percayalah kondisi hati yang netral tanpa kebencian pada apapun akan membuat hati jauh lebih damai.


4. Minta Bantuan Ahli

Jika tidak bisa mengatasi masalah hati sendirian, jangan ragu untuk mendatangi profesional. Tenaga ahli di bidang psikologi sekarang jauh lebih mudah ditemui karena ruang tanpa sekat bernama internet telah mempermudah kita. Konseling bersama ahli untuk menyembuhkan luka hati bukanlah sesuatu yang buruk. Tidak ada bedanya saat kita sakit fisik dan meminta bantuan dokter untuk menyembuhkannya.


Manfaat Hati yang Tenang

Kita yang pernah merasa hati berantakan, lalu sembuh pasti tahu betapa besar perbedaan kedua kondisi ini. Saat hati berantakan, boro-boro menjalani hidup dengan normal, waktu berjalan saja seolah tidak terasa.


Kita tidak merasa perbedaan antara siang dan malam, apakah sekarang jam 5 pagi atau sedang malam hari, semuanya sama. Sama berantakannya. Makan, minum, tidur, serta mandi menjadi ikut tidak teratur.


Saat hati tenang, memanajemen waktu akan terasa jauh lebih mudah. Kita peka terhadap penunjuk waktu sehingga dapat memanfaatkannya dengan lebih baik.


Saat hati tenang, produktivitas juga pasti lebih meningkat. Karena tak ada yang mengganggu pikiran kita selain pekerjaan di depan mata. Ini akan membuat kita lebih fokus dan totalitas dalam mengerjakan apapun.


Saat hati tenang, akan jauh lebih mudah membantu orang lain daripada saat hati berantakan. Bagaimana bisa membantu orang lain jika hati sendiri sedang remuk redam, salah sedikit malah berpotensi akan menimbulkan masalah baru.


Orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri akan lebih mudah bermanfaat bagi orang lain. Orang yang hatinya tenang akan punya peluang lebih besar menjadi sebaik-baiknya manusia, yaitu bermanfaat bagi sesama.


Proses memperbaiki hati harus dilakukan sepanjang masa. Tidak bisa sekali healing langsung cling.


Semangat untuk kita semua. Semangat memperbaiki hati. Semangat merapikan hati, untuk kehidupan yang lebih baik. Untuk hati yang lebih tenang. [] 

Rindang Yuliani
Hi, I'm Rindang Yuliani. I'm a writer, a civil servant, and living in Barabai, South Borneo. I love reading and I'm interested in travelling. My first book is Escape, Please!

Related Posts

33 komentar

  1. wah ngeri juga ya kalau hati berantakan hee
    dengan 4 cara menyusun hati yang berantakan jadi percaya diri lagi buat kita semangat dengan hati yang nyaman

    BalasHapus
  2. Yap, hati nih luar biasaaaa, gampang bgt terbolak-balik, antara suka benci sebel kesel suka lagiii, ya begitulah :D
    tak heran, Rasul mencontohkan doa "Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbi alaa diniik"

    BalasHapus
  3. Langkah pertama saat hati sakit memang harus mendekatkan diri pada Allah SWT. Pembolak balik hati & pemberi solusi terbaik. Entah melalui self healing diberikan ketenangan, didatangkan manusia yang baik hatinya, atau jawaban lain yang tak disangka-sangka.

    BalasHapus
  4. Kesadaran untuk menemukan penyebab lalu mencari solusi seraya meminta pertolongan Tuhan, itulah obatnya. Biar hati ga berantakan ya Kak, agar hati tenang dan produktivitas meningkat. Terima kasih sudah diingatkan, semoga bisa terus memperbaiki hati dan diri sendiri, memang proses sepanjang masa yang mesti digeluti tanpa mengenal lelah.

    BalasHapus
  5. Kuncinya memang ketenangan ya mbak, kalo uda tenang bisa fokus ke solusi. Makanya kadang di awal pasti di suruh luapkan emosi dulu spy bisa tenang

    BalasHapus
  6. pernah berada di fase ini, keadaan hati yg berantakan, bikin hidup jdi tanpa arah, makasih kak tipsnya

    BalasHapus
  7. Paling gak bisa ngapa-ngapain kala hati berantakan.
    Rasanya beneran ingin menghilang dan gak ingin menyentuh medsos.
    Semoga dengan menemukan langkah healing yang tepat, yang paling diperlukan oleh tubuh, maka hati menjadi kembali bahagia.
    Dan kembali produktif.

    BalasHapus
  8. ini aku beberapa bulan terakhir. rasanya down banget. puncaknya kemarin aku ga buka list bw, krn kok berasa ga mau berinteraksi dulu. tapi pelan2 sekarang mulai pulih sih

    BalasHapus
  9. Hati ambyarrr... Mau ngelakuin sesuatu jadi ga tenang.

    Pernah ngalamin hal itu, mungkin saat ini juga lagi ngalami hal ini.

    Terima kasih mbak tulisannya mencerahkan sekali.

    BalasHapus
  10. Selama pandemi hati agak berantakan...merasa ga mencapai apa yang diharapkan. Terutama terkait anak-anak...tapi menenangkan diri dengan percaya di liar sana pasti banyak yang sedang mengalami hal yang sama
    Yes, semangat untuk kita semua untuk memperbaiki hati, merapikan hati, untuk kehidupan yang lebih baik lagi

    BalasHapus
  11. Waduh jangan sampai deh hati berantakan karena pasti jadi keganggu semuanya termasuk kerjaan juga wah bisa dimarahin bos hehehe

    BalasHapus
  12. Menata hati yang berantakan itu susah-susah gampang sih menurut saya. Terkadang kita sudah tahu solusinya sejak awal, tapi hati sendiri yang belum ingin tergerak buat berubah.

    BalasHapus
  13. Khoirunnas anfauhum linnaass
    Prinsip ini yg kudu selalu kita usung dan camkan dalam hati ya Mba
    Supaya hati kita jg makin damai dan semangat lanjutkan hidup.

    BalasHapus
  14. Huaahh bener banget, healing butuh proses panjang. Nggak bisa langsung cling. Jangan ragu kalau butuh bantuan profesional..

    BalasHapus
  15. Hati yang tenang dan senang adalah obat. Saat hati berantakan memang harus ada effort untuk membersihkan dan merapikan lagi biar tidak menimbulkan efek yang berbahaya ke diri kita.

    BalasHapus
  16. "Proses memperbaiki hati harus dilakukan sepanjang masa. Tidak bisa sekali healing langsung cling."

    Nah, ini yang kadang terjadi, pengennya buru-buru segera selesai masalah di hati. Tapi karena ga bisa, akhirnya menimbulkan overthinking. Harus dipahami bahwa semua membutuhkan proses dan waktu :)

    BalasHapus
  17. hati yang berantakan memang biasanya membuat produktivitas kita terganggu. pekerjaan juga biasanya terpengaruh kalau kondisi hati kita tidak baik. jadi memang ada baiknya kondisi hati yang berantakan ini diperbaiki dulu yaa

    BalasHapus
  18. Jujur aku pernah merasa berantakan karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Bersyukur punya suami yang mau merangkul dan memberikan nasehat agar aku tersadar. Katanya" setidaknya kita sudah berusaha dan niatkan usaha itu karena Allah, insyaAllah akan tetap bernilai ibadah"

    BalasHapus
  19. Pas banget, kak.. Aku sedang membaca buku "Hidup Bahagia Tanpa Berpikir Berlebihan" karya Dokter Tsuneko. Dan di sini juga dijelaskan mesalah hubungan manusia dan manusia yang berpotensi menyebabkan terluka.

    Jadi inget idiom "Jauh bau bunga, dekat bau bangkai."

    BalasHapus
  20. Wah buku yang menarik banget nih mbak. Mau ah Cobain bacanya agar bisa mengobati hati yang berantakan ini juga

    BalasHapus
  21. Saya setuju, mbak... Salah satu penyebab hati berantakan adalah kesal dengan orang. Dulu saya sering memaafkan seseorang karena dia sangat melukai hati saya. Tapi ternyata berulang kali dia tetap menyakiti dan setiap hari saya harus ketemu dia. Tetep keseeel ana bawaannya haha

    BalasHapus
  22. Kalau aku biasanya baca cerita2 yang memotivasi semacam kisah sukses, kisah yg terpuruk tapi dapat bangkit kembali. Biasanya sih hati jadi tertata lagi 🙂

    BalasHapus
  23. Meski kita selalu mengadu kepada Nya, dan merasa masalah atau aib cukup diketahui sendiri, tapi saya sangat setuju kalau kita harus menemukan akar permasalahannya.
    Penyakit-penyakit hati ini kalau dibiarkan akan terus menggerogoti kehidupan ya...

    BalasHapus
  24. Aku pernah ngarasain hati berantakan waktu patah hati belasan tahun lalu, Kak. Berat dan sangat terpukul seolah hidup begitu hampa. Sampai kuberesin hati dengan mendekati Ilahi, banyak baca Quran serius bisa menenteramkan dan tentu saja curhat ke orang yang bisa membantu utk meringankan beban. Akhirnya bisa moveon dengan hati mantap, bisa kelas skripsi dan kerja karena merasa hidup enteng. Makasih ya pengingat dan solusinya!

    BalasHapus
  25. kalau hati sedang berantakan melakukan apapun rasanya salah, memang benar lebih baik memaafkan daripada menumpuk amarah dalam hati

    BalasHapus
  26. Saat hati berantakan kita memang butuh orang lain untuk membantu merapikan ya kak, pergi ke pakar yang tepat bisa jadi solusi

    BalasHapus
  27. Minggu kemarin hatiku berantakan. Rasanya... ga keruan. Berbagai peyebab menumpuk jadi satu sehngga terjadilah. Tak seperti sim salabim tapi memang terasa sangat mendadak.
    Alhamdulillah sudah membaik sekarang

    BalasHapus
  28. Makasih atas tulisannya, Mbak Rindang.. mengingatkanku akan banyak hal. Jadi perbaiki hati dulu, ya. Kalau hati sudah tertata dan tenang, maka akan lebih mudah memberi manfaat buat orang lain.
    Artikel yang bagus 😊👍

    BalasHapus
  29. Betul banget, kudu diketahui penyebabnya biar kita tahu apa solusinya. Selama ini ya aku coba mendekat kepada Ilahi plus cari teman buat sharing, tentunya teman yang dipercaya agar hati ga tambah berantakan kalau dia ember ke mana-mana. Terima tas reminder-nya, Kak. Hati kudu dijaga!

    BalasHapus
  30. Wah terima kasih banget tipsnya kak, ini bisa jadi acuan kalo ada yang nanya gimana cara menata hati yang sedang berkecamuk atau berantakan juga. Ini kalo udah parah banget bisa menimbulkan stress dan berujung berbagai penyakit dan sindrom sih.

    BalasHapus
  31. Kalau aku sih selalu menerapkan self management. Ya salah satu mengelola emosi juga ya. Kalau kecewa dan marah sih manusiawi tetapi tidak boleh berlarut-larut

    BalasHapus
  32. Masalahnya itu kadang, kita menenangkan hati itu gak bisa cepat, sementara solusi harus di temukan lebih cepat. Jadi kadang malah gegabah memutuskan sesuatu saat masih kacau

    BalasHapus
  33. pernah berada di fase ini
    saat itu sedang di titik rendah
    tapi saat hidup membaik
    menikah. hidup berkecukupan hati jg membaik
    tak tahulah entah dulu itu krn khawatir ttg masa depan
    jadi hatinya tak karuan hehehe

    BalasHapus

Posting Komentar