Semakin bertambah usia, aku merasa ada satu hal yang berubah dalam cara pandangku terhadap produktivitas.
Dulu aku mengira sumber daya yang paling terbatas adalah waktu. Aku berpikir bahwa jika mampu mengatur waktu dengan baik, semuanya akan berjalan sebagaimana mestinya. Namun belakangan aku menyadari bahwa waktu bukanlah masalah utamanya, yang jauh lebih terbatas justru energi.
Aku masih memiliki dua puluh empat jam setiap hari seperti orang lain. Namun tidak setiap hari aku memiliki energi yang sama. Kadang pikiranku terasa ringan dan pekerjaan mengalir begitu saja. Tapi juga tidak jarang aku ketika membuka laptop saja membutuhkan usaha yang cukup besar. Perbedaannya bukan pada jumlah waktu yang kumiliki, melainkan pada sumber daya atau energi yang tersedia di dalam diriku.
Cara pandang itu membuatku mulai memperhatikan keputusan-keputusan kecil yang selama ini kuambil. Ternyata banyak di antaranya bukan sekadar soal memilih aktivitas, melainkan cara menjaga agar energiku tidak habis sebelum waktunya.
Caraku Menjaga Energi
Beberapa hal yang kulakukan untuk menjaga energi antara lain:
Membatasi informasi yang masuk. Aku tetap senang belajar banyak hal, tetapi aku memilih mana yang benar-benar layak mendapatkan perhatianku. Informasi juga membutuhkan energi untuk diproses. Say no to doom scrolling.
Lebih selektif mengatakan "ya". Setiap komitmen memerlukan energi untuk dijalankan. Tidak semua kesempatan harus diambil hanya karena aku mampu melakukannya. Di usia lebih muda aku sering melakukan ini dan akhirnya tubuhku kelelahan tanpa disadari.
Menjaga kualitas relasi. Aku lebih memilih menghabiskan waktu bersama orang-orang yang membuatku pulang dengan pikiran lebih jernih, daripada berada dalam lingkungan yang menguras pikiran sekaligus energi tanpa kusadari.
Menganggap istirahat sebagai bagian dari produktivitas. Aku tidak lagi melihat istirahat sebagai hadiah setelah bekerja. Tubuh dan pikiran yang dipulihkan justru membuatku mampu bekerja lebih baik keesokan harinya.
Membangun sistem, tidak hanya mengandalkan motivasi. Sistem yang kumaksud bisa berupa apa saja yang melingkupi, sebutlah environment. Aku berusaha menempatkan diriku dalam lingkungan yang membuatku nyaman untuk bertumbuh. Dari segi tempat, aku mengatur agar semuanya terlihat rapi, bersih, dan tenang agar mengurangi distraksi dan mendukung ketenangan berpikir. Aku juga menyusun jadwal yang realistis sesuai kondisi biologis badanku. Aku memilih waktu terbaik untuk mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan kemampuan berpikir dan menempatkan pekerjaan yang lebih banyak mengandalkan tenaga atau otomatis bisa kulakukan tanpa berpikir di jam-jam rawan ngantuk atau kurang energi. beberapa hal, aku sengaja membuat janji dengan orang lain agar lebih mudah menepati komitmen. Bukan karena aku tidak percaya pada diriku sendiri, tetapi karena aku mengenali bagaimana caraku bekerja.
Jika Satu Energi Tidak Terjaga, Maka Kacaulah Semuanya
Cara pandang ini membawaku pada Conservation of Resources Theory (COR Theory) yang dikembangkan oleh Stevan Hobfoll. Menurut teori ini, manusia secara alami terdorong untuk memperoleh, mempertahankan, dan melindungi hal-hal yang mereka anggap berharga, yang disebut sebagai resource atau sumber daya (Holmgreen et al., 2017).
Sumber daya di sini kusamakan dengan istilah energi dalam menjalani hidup. Selama ini ketika mendengar kata sumber daya, aku sering membayangkan uang, aset, atau barang yang dapat dihitung. Padahal sumber daya juga mencakup energi, kesehatan, perhatian, waktu, hubungan sosial, rasa percaya diri, hingga harapan. Semua itu sama berharganya karena menentukan bagaimana kita menjalani kehidupan sehari-hari.
Dari sudut pandang ini, stres tidak selalu muncul karena pekerjaan yang terlalu banyak. Bisa jadi yang sebenarnya terjadi adalah sumber daya kita sedang terkuras.
Tidur yang kurang membuat energi menurun. Energi yang menurun membuat konsentrasi ikut berkurang. Pekerjaan menjadi lebih lama selesai. Pekerjaan yang menumpuk memunculkan kecemasan. Kecemasan membuat kualitas tidur semakin buruk. Satu kehilangan kecil ternyata dapat memicu kehilangan-kehilangan berikutnya. Dalam COR Theory, kondisi seperti ini disebut sebagai loss spiral atau spiral kehilangan.
Kehilangan satu sumber daya membuat kita lebih rentan kehilangan sumber daya yang lain. Ketika energi mulai habis, kita membutuhkan usaha yang lebih besar untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya terasa sederhana. Jika keadaan ini berlangsung terus-menerus, kita bisa masuk ke dalam lingkaran yang semakin menguras diri.
Di era digital, spiral kehilangan ini sering kali dimulai dari hal-hal yang tampak sepele. Seseorang berniat tidur pukul 22.00, tetapi sebelum tidur ia membuka media sosial "hanya lima menit". Tanpa terasa, ia terus menggulir layar hingga lewat tengah malam. Keesokan paginya ia bangun dengan tubuh yang belum benar-benar pulih. Energi yang berkurang membuatnya lebih sulit berkonsentrasi saat bekerja atau belajar. Karena fokus menurun, pekerjaan yang biasanya selesai dalam satu jam kini membutuhkan waktu dua atau tiga jam. Tugas yang belum selesai memunculkan rasa bersalah dan kecemasan. Untuk mengalihkan perasaan tersebut, ia kembali mencari hiburan instan melalui media sosial atau video pendek. Akibatnya, waktu istirahat kembali berkurang dan siklus yang sama terulang keesokan harinya. Yang awalnya hanya kehilangan satu jam tidur perlahan berubah menjadi kehilangan energi, fokus, produktivitas, suasana hati, bahkan kualitas hubungan dengan orang lain.
Contoh lain yang mungkin terasa lebih akrab adalah kebiasaan berpindah-pindah perhatian sepanjang hari. Notifikasi pesan, email, media sosial, dan rapat yang datang silih berganti membuat seseorang sulit menyelesaikan satu pekerjaan secara utuh. Energi mental terkuras bukan karena pekerjaannya terlalu berat, melainkan karena otaknya terus dipaksa beralih fokus. Ketika hari kerja berakhir, ia merasa sangat lelah meskipun daftar tugas belum banyak berkurang. Rasa lelah itu membuatnya enggan berolahraga, memilih makanan yang praktis tetapi kurang sehat, dan menunda tidur karena merasa "butuh me time". Keesokan harinya ia memulai hari dengan energi yang lebih rendah daripada hari sebelumnya. Tanpa disadari, kehilangan perhatian berkembang menjadi kehilangan energi, kehilangan kesehatan, dan akhirnya kehilangan produktivitas.
Pemahaman ini membuatku melihat istirahat dengan cara yang berbeda. Aku tidak lagi menganggapnya sebagai lawan dari produktivitas, melainkan salah satu cara mempertahankan sumber daya agar tetap mampu menjalani hari-hari berikutnya.
Produktivitas bukan hanya soal mengatur waktu. Ia juga tentang menjaga energi yang membuat kita mampu menggunakan waktu dengan baik.
Menjaga Hubungan, Menjaga Energi
Cara pandang ini juga mengubah bagaimana aku memandang relasi. Orang-orang di sekitar kita ternyata juga merupakan sumber daya.
Ada orang yang membuatku lebih tenang setelah berbicara dengannya. Ada orang yang membuatku lebih semangat belajar. Ada orang yang membuatku lebih mudah menepati komitmen yang kubuat. Sebaliknya, ada pula situasi atau hubungan yang tanpa kusadari menguras energi, meskipun hanya berlangsung beberapa menit.
Dengan kesadaran ini pula, aku tidak merasa harus mempertahankan setiap hubungan atau selalu hadir dalam setiap dinamika sosial. Bukan karena ingin membatasi diri, melainkan karena setiap hubungan juga membutuhkan sumber daya dalam bentuk waktu, perhatian, emosi, dan energi. Hubungan yang dipenuhi prasangka, konflik, atau drama yang berulang sering kali membuat kita menghabiskan begitu banyak energi untuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak membawa kita ke mana-mana. Sebaliknya, berada di dekat orang-orang yang tepat justru terasa seperti mengisi ulang energi. Bersama mereka, aku tidak perlu menghabiskan banyak tenaga untuk menjelaskan diri, menebak-nebak maksud ucapan, atau khawatir akan penilaian yang tidak perlu. Energi yang seharusnya habis untuk mengelola drama akhirnya bisa digunakan untuk belajar, berkarya, beristirahat, atau sekadar menikmati hidup dengan lebih tenang.
COR Theory menjelaskan bahwa sumber daya tidak berdiri sendiri, melainkan saling menguatkan dalam kelompok yang disebut resource caravans. Energi yang terjaga akan membantu kita berpikir lebih jernih. Hubungan sosial yang sehat dapat memperkuat harapan dan rasa percaya diri. Sebaliknya, ketika satu sumber daya hilang, sumber daya lainnya juga menjadi lebih rentan ikut terkuras.
Aku jadi mengerti mengapa menjaga tidur ternyata membantu menjaga suasana hati. Mengapa membatasi informasi membantu menjaga fokus. Mengapa memilih lingkungan yang tepat membantu menjaga semangat. Mengapa mengatakan "tidak" pada beberapa kesempatan justru membuatku bisa mengatakan "ya" pada hal-hal yang lebih penting.
Semuanya ternyata bukan keputusan yang berdiri sendiri. Mereka adalah cara untuk memastikan bahwa sumber daya yang kumiliki tidak habis lebih cepat daripada kemampuanku memulihkannya.
Pada akhirnya aku merasa bahwa selama ini aku terlalu sibuk belajar mengatur waktu. Padahal yang lebih penting adalah belajar menjaga sumber daya yang membuat waktu itu bisa digunakan dengan baik.
Sebab hidup bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil kita kerjakan. Hidup juga tentang apakah kita masih memiliki cukup energi untuk menikmati setiap proses yang sedang kita jalani. []
Holmgreen, L., Tirone, V., Gerhart, J., & Hobfoll, S. E. (2017). Conservation of resources theory: Resource caravans and passageways in health contexts. Dalam C. L. Cooper & J. C. Quick (Eds.), The handbook of stress and health: A guide to research and practice (hlm. 443–457). John Wiley & Sons.





Posting Komentar
Posting Komentar