Menikmati Proses. Meladeni Obsesi. Mengakrabi Tuhan.

Ada Saatnya Kita Tidak Baik-baik Saja

1 komentar

 Ada Saatnya Kita Tidak Baik-baik Saja

Suatu hari gelasku penuh, sudah hampir tumpah. Masuklah sepotong kecil es batu, luberlah sebagian air ke sisi luar gelas. Bagi orang yang tidak melihat isi gelas itu, mungkin akan heran kenapa mejaku basah. Mereka tidak tahu kalau kapasitas penampungannya sudah penuh, karena selama ini aku dengan baik menutup gelas itu dan tidak memperlihatkan isinya.

 

Begitulah hidup. Ada kalanya genderang perang pecah seperti petir di siang bolong. Tidak tahu dari mana asalnya. Padahal, ada bagian-bagian tidak terlihat sebagai penyebab sudah menumpuk perlahan demi perlahan.

 

Sepanjang aku mengenal diriku sendiri, pengendalian diriku cukup bagus untuk hal-hal yang bersifat emosional. Namun dari beberapa kali pengendalian diri, mungkin tak terelakkan ada residu yang mengisi gelasku, hingga sekian lama kemudian residu tersebut tumpah menjadi tetes air yang membasahi meja, bahkan oleh sepotong es batu  yang terlihat sama sekali tidak akan membakar apapun di dekatnya.

 

Setiap pribadi punya gunung esnya masing-masing. Aku dan gunung esku, tersimpan rapi di bawah permukaan laut sana. 

 

Dan buuum! Pada suatu hari lainnya sebuah bom meledak di dekatku. Bukan seperti bom oppenheimer, bom ini sama sekali tidak direncanakan peledakannya. Namun seperti puncak apapun di dunia ini, semuanya pasti disusun dari kepingan-kepingan kecil yang mungkin tidak disadari oleh siapapun. Serpihan bom tersebut mengenai diriku, sedikit. Sekali. Efeknya tidak banyak tapi aku yakin situasinya tidak akan pernah lagi sama dengan sebelumnya.

 

Selama ini perpaduan antara slow living, minimalism, dan half stoic yang kujalani cukup membuat hidupku tenang. Tidak ada masalah yang berarti sejauh ini. Apalagi jika dibandingkan dengan orang-orang, masalahku mungkin hanya seujung kuku. Tapi sekali masalah tetap saja masalah, setiap masalah menuntut penyelesaian. Sebagaimanapun kecilnya masalah tersebut, barangkali itu adalah masalah yang besar bagiku atau setidaknya orang yang menganggapnya besar. Namun, aku tidak pernah mengumbar masalahku. Aku tidak suka. Kecuali pada orang yang kupercaya atau orang yang aku tahu bisa membantu mencari solusinya.

 

Aku memiliki semua hal yang dibutuhkan untuk hidup bahgaia. Kurang apa lagi? Selain menyelesaikan masalah-masalah yang mampir, sejak aku memulai perjalanan mengenal diri sendiri aku bertekad untuk lebih banyak membantu orang lain. Konon sebaik-baik manusia adalah ia yang bermanfaat bagi orang lain. Aku ingin menjadi menjadi orang itu.

 

Tanpa bermaksud jumawa dan tanpa mengenyampingkan kebaikan-Nya, aku rasa selain perpaduan tiga konsep di atas yang membuatku lebih tenang dan sedikit masalah dalam hidup adalah juga karena sikapku yang well planned. Aku suka merencanakan dan menjalankan rencana tersebut. Tidak masalah jika rencana yang kususun gagal, biasanya aku punya rencana cadangan. Jika hasilnya tidak sesuai dengan keinginan, aku tidak akan menyesal karena sudah berusaha melakukan yang kubisa.

 

Oh ya, hal yang sepertinya membuatku terdorong untuk menuliskan ini, padahal aku sudah lama tidak menulis dan berbagi adalah karena beberapa hari ini sistem pertahanan tubuhku melemah. Awalnya kerongkongan sakit, lama-lama batuk dan sedikit meler. 80% sebabnya aku yakin berasal dari faktor lingkungan yang saat ini tidak sehat, cuaca panas dan orang-orang kebanyakan sedang batuk pilek. Sedangkan pola hidupku selama ini sudah cukup sehat. Btw, sudah lama juga aku tidak sakit. Setahun lalu? Dengan momen yang kurang lebih sama.

 

Ada kalanya kita tidak baik-baik saja dan cara terbaik untuk menghadapinya adalah dengan menerimanya, tidak denial apalagi melawannya. []

Rindang Yuliani
Hi, I'm Rindang Yuliani. I'm a writer, a civil servant, and living in Barabai, South Borneo. I love reading and I'm interested in travelling. My first book is Escape, Please!

Related Posts

1 komentar

Posting Komentar