Menikmati Proses. Meladeni Obsesi. Mengakrabi Tuhan.

Catatan Segala Rupa

24 komentar

Selasa, 4 Oktober 2022


Aku sedang ingin menuangkan segala hal yang sedang memenuhi kepalaku akhir-akhir ini. Mari kita mulai dengan cerita perjuanganku yang selalu digagalkan. Perjuanganku penuh harap, sehingga ketika tidak mendapat hasil yang diinginkan tentu saja kecewa. Aku menjadi akrab dengan kekecewaan meski belum bisa berdamai.


Bagaimanapun, di dunia kita yang tidak sempurna ini, harap dan cemas tidak dapat dipisahkan. Sebuah harap yang disertai cemas adalah hal yang pasti.


Gagal, coba lagi. Gagal, coba lagi. Mudah untuk diucapkan, tetapi pada faktanya mental breakdown adalah hal yang sulit dihadapi sebelum bangkit secara teknis. Mental breakdown pulalah yang membuatku sempat vakum beribu tahun hingga mau mulai mencoba lagi seperti sekarang.




Aku tidak siap kalah, aku tidak siap gagal setelah mencoba. Mungkin itu poinnya. Aku harus melatih mental terlebih dahulu sebelum berjibaku untuk terus mencoba. 


Namun, untuk sementara ini kurasa aku masih bisa diselamatkan. Mungkin setelah kegagalan berkali-kali, membuatku sedikit lebih kuat. Aku menikmati prosesnya, aku mempelajari banyak hal terkait yang perlu kuketahui. Untuk satu dan dua alasan, kesibukan ini juga dapat mengalihkanku dari badai dopamine yang cukup berbahaya jika tidak kukendalikan sendiri.


Big Plan

Selain itu yang sedang membuat penuh ruang pikirku adalah sebuah planning besar. Ini seru juga sih, meski besar dan terlihat sulit untuk diwujudkan. Tetapi karena sifatnya lebih ke teknis, jadi terlihat lebih mudah dikendalikan, bukan yang ada unsur prerogatif pihak lainnya gitu.


Meski rencana ini cukup menyita pikiran, tetapi sekali lagi aku bersyukur karena hal ini dapat mengalihkanku dari hal-hal absurd yang tak perlu. Akan ada banyak tantangan yang melingkupi rencana ini, tetapi aku cukup bersemangat dan oleh karena itu rasa beratnya kurasa akan sanggup kuhadapi.


Seperti yang biasa kulakukan jika sedang merencanakan sesuatu baik hal kecil maupun hal besar, planning di atas kertas adalah tahap yang mengasyikkan bagiku. Beberapa hal harus segera kutuliskan di atas kertas agar semakin jelas dan tergambar secara garis besar apa yang kubutuhkan dan apa yang harus kuusahaakan.


Mau Aktif Nulis Lagi

Sudah berapa lama aku vakum? Yang jelas terlihat adalah 3 bulan terakhir. Tapi prosesnya kalau bisa kubilang sudah sejak awal tahun 2022 kali ya. Hiks sedihnya. Aku mau coba aktif lagi nih. Sudah begitu lama aku tenggelam dengan berbagai kesibukan di dunia nyata. Meski kesibukanku sendiri tidak juga berkurang, tapi dengan menulis aku sepertinya punya tempat pelarian yang mengasyikkan. Aku jadi lebih produktif juga.


Ada beberapa lomba dan antologi penulisan yang juga sedang akan kuikuti, semoga aku bisa menulis dengan kualitas yang maksimal. Apakah aku bisa menulis proyek novelku yang mandeg nggak kira-kira? Seharusnya bisa. Aku perlu fokus. 


Belum lagi personal branding sebagai penulis yang seharusnya kubranding di media sosial, itu adalah PR besar yang mendukung kegiatanku di dunia tulis menulis. Keduanya harus berjalan beriringan. Semoga aku bisa menyeimbangkan dan memasukkan semuanya dalam agenda keseharianku. Sekali lagi dengan menyibukkan diri pada satu hal, aku jadi bisa mengalihkan pikiran-pikiran negatif menjadi lebih positif.


Manajemen Waktu dan Energi

Ini selalu menjadi isu yang tidak pernah selesai di hidupku. Untuk beberapa hal manajemen waktu dan energiku masih kacau dan berantakan. Meski di hal lain terutama yang berhubungan dengan pihak eksternal aku selalu bisa menghandlenya.


Sejak mata membuka di pagi hari, semangat dan energi seharusnya sudah purna. Tidak dapat dipungkiri seharusnya memang sudah dimulai sejak sebelum tidur malam. Alarmku sih selalu jam 10 harus tidur, tapi kadang aku ngeyel. Seringnya karena kelamaan scrolling media sosial. Sungguh wasting time. Sedih banget aku belum bisa mengontrol diriku sepenuhnya.


Karena bangun tidak tepat waktu, aku juga jadinya termehek-mehek untuk kegiatan pagi lainnya. Padahal di waktu pagi itulah kita benar-benar memiliki waktu untuk diri sendiri, di luar waktu bersiap-siap berangkat ke tempat aktivitas ya. 


Di siang, sore, serta malam hari, dominannya kita harus merespon atau menangggapi hal-hal yang dilemparkan ke kita olehlingkungan sekitar. Kendali kita tidak bisa digunakan lagi sepenuhnya. Oleh karena itulah orang-orang ramai membuat morning routine secara lebih maksimal karena hanya saat pagi kita dapat mengatur waktu sepenuhnya untuk diri sendiri.


Sarapan, makan siang, dan makan malam adalah hal lainnya dalam isu pengaturan waktu dan energi yang kuhadapi. Dalam ketiga waktu makan tersebut, saat ini aku tidak menerapkan meal plan. Seharusnya sih iya. Aku ingin. Terutama untuk hal-hal yang masih bisa dikendalikan.


Ini sangat berguna untuk mengetahui jenis menu, asupan nutrisi, biaya, dan to do list. Ada banyak manfaat sebenarnya. Tetapi aku terlalu banyak alasan, terutama menunggu kondisi ideal dulu sebelum memulainya. Aku sadar itu tidak baik. Mulai aja dulu dengan kondisi seadanya. Seharusnya.


Pengaturan waktuku di kantor cukup oke, energi saja yang masih jumpalitan. Bayangkan aku sekarang sudah tidak sungkan lagi tidur di kantor, bahkan di dekat atasanku sendiri. Di tempat sebelumnya, mana pernah aku begini. Mungkin karena alasan jarak juga ya.


Aku mengatur waktu bekerja menjadi dua sesi. Pagi sebelum ishoma dan siang setelah ishoma. Target maksimal sih harus terkerjakan 3 to do list dalam satu hari, dua pagi satu siang.


Sebenarnya di kantor, distraksiku sangat banyak. Aku mudah goyah dengan rangsangan dari luar, lebih karena aku nggak bisa fokus sama diriku sendiri sih kalau sudah berinteraksi dengan orang lain. Tetapi di lain pihak, berinteraksi dengan orang lain sebenarnya bagus untukku yang introvert. Di kantor itu benar-benar waktunya aku bersosialisasi, karena selain itu aku nggak ada interaksi sosial lagi selain sama orang rumah. Jadi yah fifty-fifty.


Sepulang kerja, waktuku sebenarnya cukup lowong, toh aku tidak lagi mewajibkan diri sendiri untuk menyiapkan makan malam. Paling seringnya aku beli lauk yang sudah siap hidang. Jadi, tinggal masak nasi selesai. Kalau dulu rasanya bebanku berat sekali karena aku memaksa diriku untuk masak dan membersihkan dapur sekaligus. Sekarang, aku lebih ke tutup mata sih kalau lihat kondisi dapur. Biarlah berantakan, asal hatiku masih rapi. Itu lebih aman.


Pulang kerja itu idealnya aku olahraga. Kalau nggak lembur ya, karena di tempat kerjaku lembur sering terjadi. Aku membuat janji dengan diriku sendiri untuk mengatur waktu agar bisa berolahraga saat pulang kerja. Pulang kerja sebenarnya capek, tapi kalau waktunya dipakai hanya untuk scrolling layar smartphone rasanya kok sayang sekali.


Berikut adalah planningku: Senin sore sepeda, Selasa sore zumba, Rabu sore sepeda, Kamis sore senam, Jumat pagi jogging di lapangan, Sabtu pagi sepeda, Minggu pagi senam. Semoga bisa terlaksana. Amin.


Setelah maghrib juga sebenarnya aku punya waktu lowong seandainya tidak terlalu lelah lahir batin (makanya kubilang ini berhubungan dengan manajemen energi). Adalah sebuah PR besar bagiku agar selalu bisa mengondisikan mood dalam keadaan baik-baik saja agar selalu semangat. Waktu tersedia, tetapi mood tidak, itu percuma.


Sebaiknya kugunakan untuk apa di waktu setelah maghrib ini? Faktanya aku sering ketiduran di waktu ini terutama ketika pulang lembur karena secara fisik dan psikis cukup capek, tergantung kegiatan hari itu. 


Tapi aku bertekad sekarang aku ingin menggunakan waktu ini untuk makan malam. Semoga dengan rutin berolahraga, pengaturan energiku juga semakin bagus. Waktu makan malam kurencanakan sekitar mulai pukul 19.00 sampai 20.00, nggak usah lama-lama. Dulu atau beberapa waktu yang lalu, aku selalu menargetkan diriku untuk selesai di dapur pada pukul 20.30. Aku sampai membuat alarmnya setiap hari dengan keterangan ‘stop’. Enggak terlalu berjalan mulus, karena kadang aku keterusan, tetapi sebagian besar karena aku memutuskan untuk tidak lagi bekerja di dapur ketimbang lelah mental. Bukan hal yang patut dibanggakan sih.


Setelah beres di dapur, seharusnya aku salat isya. Nah baru setelah itu bisa lanjut mengerjakan aktivitas pribadi jika tidak ada rangsangan dari luar. In my case, persiapan untuk acara mendadak besok hari. Aku berharap sih tidak sering seperti itu. 


Dulu, di jam-jam seperti ini aku biasanya mengerjakan artikel, baik blog atau job yang berkaitan dengan tulis menulis. Seru juga kalau diingat-ingat masa itu, aku tidak punya banyak pikiran yang melayang-layang karena aku sudah punya kesibukan yang harus diurus. Itu zaman ketika aku mencari kesibukan sih, kalau sekarang kesibukan sudah datang duluan makanya aku nggak lagi perlu mencarinya di luar jadwal ordinary.


Baru setelah itu baca buku atau pillow talk atau kedua-duanya dengan catatan waktu tidur sebaiknya berada di sekitar jam 10. Besok harinya dapat dipastikan hariku dapat berjalan sesuai dengan rancanganku sebelumnya.


Decluttering

Terkait pembagian waktu dan energi sudah kuceritakan sebelumnya, aku juga sedang memikirkan aktivitas yang membuatku merasa penuh jiwa raga yaitu decluttering. Dulu bahkan aku punya jadwal declutter selama 30 hari. Setiap hari, akan ada satu tempat atau hal untuk dideclutter. Seru banget. 


Dulu aku memasukkannya di waktu setelah pulang kerja, tapi sekarang kan kujadwalkan sebagai waktu olahraga. Jadi mungkin aku akan memasukkannya ke waktu di malam hari kali, sebelum tidur sesudah aktivitas di dapur. 


Decluttering ini lumayan bikin satisfying sih. Berasa lebih lega karena sudah membuang hal yang tidak lagi berguna, sekaligus juga merasa berharga kalau dari hasil declutter itu kita bisa ngasih ke orang lain.


Ingin Mencoba Hal Baru

Seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya, entah kenapa dorongan  untuk melakukan atau mendalami hal-hal yang sebelumnya terasa asing di hidupku terasa sangat kuat sekarang. Hal-hal itu sekarang dominannya adalah seni seperti menyanyi, bermusik, menggambar, mewarna, dan lain-lain. Semoga aku bisa merealisasikannya. Rasanya ada yang kurang kalau nggak dituruti.


Sekali lagi seharusnya aku melakukan hal ini di usia 20-an. Apa aku dulu terlalu takut untuk keluar dari zona nyaman? Sepertinya tidak juga, toh juga banyak hal yang sudah kucoba, tetapi kuakui sih tema atau topiknya tidak jauh dari passion utamaku. Sedang hal-hal yang ingin kucoba sekarang ini adalah hal yang agak jauh dari hobiku. 


Catatan lainnya adalah entah sepertinya karena aku sekarang merasa berada di lingkungan yang nyaman sehingga membuatku tidak perlu menyembunyikan diri dan membuatku tidak merasa terancam dengan melakukan hal-hal bodoh. Sepertinya itu juga bisa menjadi salah satu faktor penentu. Toh hal-hal yang ingin aku coba ini kan benar-benar keahlian yang tidak aku kuasai, seharusnya aku harus bersiap malu jika disaksikan oleh orang-orang terdekat. 


Amanah

Oh aku teringat dengan satu hal yaitu amanah yang mempunyai tenggat waktu. Duh ada dua pula. Aku harus lebih aktif. Semoga bisa. Aku ingin mengaktifkan diri agar juga bisa menggerakkan hal lain yang ada di ruang lingkup amanahkuAku sudah menyusun beberapa plan di catatan yang berbeda, tinggal merealisasikan.


Terakhir

Ini adalah renungan untuk diriku sendiri karena aku merasa agak terkekang dengan prinsipku sendiri. Dalam rangka personal branding di media sosial, sebenarnya aku ingin berbagai banyak hal di medsosku. Entah kenapa tapi selalu ada pikiran bahwa terlalu menghamburkan pemikiran atau hal tentang diri sendiri itu tak elok. 


Aku kebanyakan berpikir, bagaimana tanggapan orang tertentu terhadapku ketika aku menunjukkan sisi terbukaku. Di lain pihak, aku juga nyaman dengan bersembunyi, tapi sayangnya itu membuatku terpendam. Seperti ada yang hendak berontak keluar. Beneran aku masih pusing untuk menyikapi hal ini.


Bahkan sisi produktifku sebagai penulis juga meresahkan hal ini. Aku jadi tertahan untuk berkarya karena memikirkan apa yang bakal dipikirkan oleh orang tertentu kepadaku jika aku menghasilkan karya seperti ini. Ah aku memang manusia yang butuh validasi.


Oleh karena itu sebenarnya aku agak sedikit paham dengan orang yang memiliki akun media sosial untuk alter egonya, karena dengan begitu mungkin mereka bisa menjadi dirinya sendiri tanpa takut dibatasi oleh judging orang lain yang kenal dengan mereka secara pribadi ataupun sekilas lalu. Bagaimana pendapat teman-teman tentang hal ini? Yuk, kita diskusi.


Astaga panjang juga curhatanku ya. Di draft ini sudah tertulis hampir 2000 kata microsoft word. Wew, aku kalau nulis curhat nggak beraturan begini bisa jadi lepas selepa-lepasnya. Bentuk healing yang menyenangkan rasanya. Meski setelah ini aku harus editing lagi sebelum publish di blog. 


See you di curhatanku selanjutnya ya. []

Rindang Yuliani
Hi, I'm Rindang Yuliani. I'm a writer, a civil servant, and living in Barabai, South Borneo. I love reading and I'm interested in travelling. My first book is Escape, Please!

Related Posts

24 komentar

  1. Nulis freestyle ga perlu mikir keyword, SeO dll tuh paling assoyyyy ya mba.ehh tau tau udah 2000 kata 😆 healing murah meriahhh

    BalasHapus
  2. wiiiiihhhh aku sampe penasaran dong ama decluttering.... ini apaan sih? bikin penasaran dan ternyata adalah kegiatan menyortir barang-barang yang dimiliki sesuai dengan funginya guna membuat keadaan rumah menjadi lebih nyaman. Aku juga sering ngelakuin tapi ngga tahu namanya hahahaha

    BalasHapus
  3. decluttering ini memang penting banget ya dan bisa jadi salah satu refreshing juga buat saya sambil merapikan banyak barang tak terpakai, bisa sampai berjam-jam asik dan apalagi betul kalau hasilnya bisa bermanfaat untuk orang lain

    BalasHapus
  4. Curhat bikin tenang ya Mbak..rasanya lepas begitu apa yang kependam di dada
    Senang sekali ada banyak rencana yang akan dieksekusi, semoga lancar jaya, dimudahkan dan terwujud ya. Semangat dan semoga selalu sehat!

    BalasHapus
  5. Sedikit banyak kok jadi mirip aku sekarang yah. Namanya ngeblog emang up n down banget. Ada kalanya males banget. Aku juga lagi pengen persoal branding di medsos tapi terkendala dengan banyaknya 'what if' pikiran orang tentangku yang malah menghambatku berkarya. *lho ko jadi sama2 curhat :p

    BalasHapus
  6. Setiap orang punya fase hidup dan rencananya masing-masing. Sama seperti mbak Rindang, saya juga punya segudang impian dan rencana yang harus segera di tapaki lagi. Setelah baca tulisan ini, saya jadi lebih termotivasi untuk ikut merapikan diri dan hidup demi mencapai impian saya.

    BalasHapus
  7. Gapapa mba, curhatan panjang bagus untuk menyeimbangkan jiwa dan raga. Meskipun jadinya pembahasan kemana-mana, sudah lega bisa mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini mengganjal. Insya Allah setelah membaca kembali tulisan curhat ini, semangat bisa kembali membara dan sanggup menyelesaikan banyak hal yang dirasa masih tertunda

    BalasHapus
  8. Yuk kak Rindaaaang, ditunggu comebacknyaa hehe..
    Bener, lama banget ngga lihat kak Rindang seliweran yaah di dunia perbloggingan. ditunggu updateannya lagi yaa kak

    BalasHapus
  9. Welcome back mbak, dunia blog selalu merindukan tulisanmu. Setidaknya dari situ kami tau kabarmu. Tapi mbak, aku sepakat demgan rasa terkekang dgn personal branding. Akhirnya aku memutuskan utk cuek dengan apa yg ku posting, eh ujung2nya aku kehilangan bbrp job, wkwkwkwk..

    BalasHapus
  10. Selalu merindukan tulisan kak Rindang yang humble seperti ini.
    Rasanya aktivitas yang banyak tetap gak bisa menghalangi ketika ingin produktif menulis. Dari mulai menuliskan keresahan hingga goals yang ingin dicapai.
    Ini keren banget sih..

    Kalau olahraga malam, biasanya memilih olahraga apakah?
    Indoor or outdoor?

    BalasHapus
  11. Tak hanya di rumah, di kantir pun distraksinya banyak yaaa hehe.
    Emang manajemen waktu penting ya mbak. Akupun merasakannya kalau gak ditarget suka terlena sendiri dengan keadaan.
    Apalagi kalau udah syebuk yang lain kadang suka bingung menetukan prioritas
    Semangat aja deeh yaaa hehe.

    BalasHapus
  12. Wah seperti ini ya ternyata drama blogger. Bersyukur aku selalu aktif menulis karena memang hobi. #nulisnyakalauadajobdoang wkwkwk

    BalasHapus
  13. Semangat bangkit lagi mba rindang. Yuk bisa yuk... kangen nih sama tulisan-tulisannya.
    Plong ya mbak kalau sudah diutarakan. Salah satu self healing ya menulis emang :D

    BalasHapus
  14. Semangat kak. Semangat buat berkarya lagi. Aku juga kadang balik lagi je sesi memanjat padahal udah jalan lama buat nulis

    BalasHapus
  15. Benar banget mba. nulis curhat nggak beraturan begini bisa jadi lepas selepas-lepasnya. Bentuk healing yang menyenangkan rasanya. Meski setelah ini aku harus editing lagi sebelum publish di blog.

    BalasHapus
  16. Semangat mbak, yuk rajin menulis lagi
    Manajemen waktu dengan baik, agar setiap aktivitas bisa kita jalankan dengan baik

    BalasHapus
  17. Membaca ini aku jadi ingin nulis juga. Buat healing biar bisa lepas beban. Tentang hari-hari saja.

    BalasHapus
  18. semangat mbak aku juga sedang memulai kembali menulis di BLOG... Salah satunya memiliki big plan

    BalasHapus
  19. Kunci dari selesainya semua amanah ini adalah waktu yaa..
    Jangan terlalu tergesa-gesa serta menyiapkan skala prioritas di masing-masing waktunya akan sangat membantu sekali dalam membuat hari-hari semakin produktif.

    BalasHapus
  20. terharu bacanyaaaa...mbak Rindang masih bisa olga ya hbs pulang kerja, apa kbar aku yg jarang olga yak hihi.tetap semangat, semoga kita bisa menemukan hal-hal baru yg berfaedah ya..

    BalasHapus
  21. Saya pun dulu adalah orang yang tidak siap kalah dan gagal (versi saya). Namun dari kegagalan dan kekecewaan saya banyak belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa didapatkan dengan mudah. Mba Rindang tetap semangat ya. Semangat untuk semua hal pasti ya.

    BalasHapus
  22. Poin paling ngena disini adalah manajemen waktu dan energi karena ternyata sesulit itu ya untuk mengatur keduanya, untuk bisa sesuai dg target yg udah kita buat,

    BalasHapus
  23. saya juga sedang di fase menurun produktifitas menulis di blog. mungkin karena terlalu lelah dengan kerjaan kantor. jadi di rumah maunya rebahan sambil nyari hiburan yang bikin rileks atau tidur. pokoknya sekarang mah tak ngoyo karena yang penting waras dan bahagia itu yg utama

    BalasHapus
  24. Emang paling nikmat nulis pengalaman pribadi, nggak ribet mikirin SEO, pokoknya ngalir aja. Persoalan menyenangkan hati sendiri bisa jadi bahan empuk penyemangat hidup esok

    BalasHapus

Posting Komentar