Menikmati Proses. Meladeni Obsesi. Mengakrabi Tuhan.

Wisata Kiram Park dan Masjid Bambu

Posting Komentar

Tanggal 16 Mei 2022 bertepatan dengan libur Hari Raya Waisak, aku melakukan perjalanan ke Kiram Park. Tempat wisata yang satu ini sudah viral sejak beberapa tahun terakhir, tapi aku belum pernah mengunjunginya. Tidak ada trigger yang cukup kuat untuk melakukannya. Hari itu hanya karena rombongan jalan kami ingin ke sana sehingga aku dan suami ikutan. 

Pagi itu kami berangkat dari Kota Banjarbaru, lewat jalan Gunung Kupang. Btw, saat kuliah aku pernah ke daerah Gunung Kupang ini dalam rangka study tour TPU, tetapi aku sudah lupa lokasi tepatnya di mana. Bahkan ketika melihat papan penunjuk arah bertuliskan TPU Gunung Kupang, I have no idea about it. Tidak ada rekaman di kepala mengenai jalur yang dulu pernah kulewati, selain jalan berputar menuju area TPU yang luas.


kiram park


Alamat Kiram Park berada di Desa Kiram, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar. Iya secara administrasi dia termasuk ke dalam Kabupaten Banjar, padahal secara lokasi lebih dekat ke Kotamadya Banjarbaru. Tidak heran Kiram Park sering direkomendasikan sebagai objek wisata di Banjarbaru.


Jalan menuju Kiram Park ini mulus banget mungkin karena baru dibangun bersamaan dengan dibangunnya kawasan wisata di sekitar sini. Oleh karena itu ada selentingan bahwa pembangunan jalan ini merupakan proyek bisnis. Dapat dimengerti, karena pemilik lokasi wisata di sekitar Desa Kiram ini adalah orang-orang yang sedang berada di tampuk pemerintahan sekarang. Tidak heran banyak orang menyebut lokasi ini dengan nama Wisata Kiram Paman Birin, mengacu pada nama Gubernur Kalimantan Selatan saat ini.


Di sisi lain, sebagai pengunjung aku dapat mengerti kemalasan orang mendatangi objek wisata jika akses jalannya rusak. Objek wisata di kabupatenku misalnya, ada beberapa yang berlokasi di atas gunung. Akses ke sana sungguh sulit dan itu berpotensi untuk mengurangi jumlah pengunjung. Tidak banyak orang yang suka berjibaku dengan lubang dan teman-temannya.


Jalan menuju Kiram Park meski mulus tetapi berkelok-kelok dan turun naik mengikuti kontur tanah yang sudah mulai memasuki area perbukitan. Sebelumnya, mungkin jalan ini sudah ada tetapi hanya dilewati oleh para penyadap karet atau pemilik lahan di perbukitan sana. Beberapa rumah penduduk juga dapat ditemui saat kami lewat, menunjukkan bahwa di sana memang sudah ada perkampungan kecil sebelumnya. 


Kembali ke Kiram Park, karena sudah terlalu banyak orang membicarakannya beberapa tahun terakhir ini, aku jadi cukup berekspektasi. Aku yakin bakal menemukan sesuatu yang spesial dan terpesona dengan keindahan atau apalah yang bisa dieksplor di sana. Makanya sebelum berangkat aku tidak melakukan riset kecil-kecilan untuk melihat activity apa yang bisa dilakukan di sana atau sekadar di mana lokasi berfoto yang bagus.


Ternyata Kiram Park ...

Sampai ke sana aku merasa kecele. Kiram Park menurutku tidak cocok untuk kudatangi. Tempatnya sangat luas dan terkesan kosong melompong. Di sekitar area Kiram Park yang bersih itu dikelilingi oleh hutan yang rimbun. Kalau tidak berkeliling dengan mobil atau sepeda motor di sana, mungkin tidak akan puas menjelajah. Luas sekali. 


Sebagai orang yang berasal dari daerah berpohon rindang, pemandangan kelompok pepohonan tanpa banyak fasilitas bagiku cukup membosankan. Fasilitas yang paling menonjol terdapat di kawasan Kiram Park ini adalah beberapa kelompok villa yang disewakan oleh pengelola.


Tidak diragukan lagi tempat ini cocok didatangi oleh kelompok orang yang jenuh dengan keruwetan hidup di kota. Menghirup alam bebas dengan pengalaman menginap di sana mungkin akan menjadi pelarian yang menyenangkan. Harga penginapan Kiram Park dibanderol sekitar 300-750 ribu rupiah. Fasilitas umum lainnya ada gazebo dan coffee shop. Konon juga ada area bermain untuk anak, tapi hari itu kebetulan aku tidak ke lokasi tersebut. 


Alasan lain yang membuatku kurang cocok di sana adalah karena sepi. Memang sih ini agak kondisional tetapi mau bagaimana lagi, ternyata aku lebih menyukai keramaian di tempat wisata yang berlokasi jauh dari keramaian manusia seperti Kiram Park ini. Aneh, tapi ini menggangguku.


Ada satu dua orang yang sedang main sepeda listrik dan skuter saat kami tiba di parkir. Entah mereka pengelola atau sesama pengunjung juga. Awalnya aku pengen nyoba, tapi akhirnya malah malas entah karena apa. Karena sepi mungkin, aneh juga.


Akhirnya aktivitas yang kami lakukan di sana adalah nongkrong di sebuah warung biasa yang menghadap langsung ke puncak gunung yang bisa didaki dan bertuliskan Kiram Park raksasa. Di sana kami minum kopi sachetan dan ngemil kacang garing sambil ngobrol.


Seandainya aku datang dengan persiapan lebih atau kelompok berbeda, aku mungkin akan mendaki bukit di depan kami. Di atas sana selain tulisan besar Kiram Park, juga terdapat replika kapal Nabi Nuh yang tersangkut di atas bukit.


Lumayan sih katanya ke sana, lumayan lama dan lumayan capeknya. Cara alternatifnya adalah naik ojek dengan bayar 20 ribu sekali jalan. Jadi kalau PP naik ojek biayanya 40 ribu rupiah. Aku tidak yakin, tapi sepertinya jalur untuk pendaki dan motor naik ke sana berbeda.


Sekilas saat memutar perbukitan menuju parkiran, aku melihat jalur mulus yang dilewati motor. Cukup curam. Aku sepertinya tidak terlalu berani naik ke sana dengan membonceng ojek, ngeri jatuh woy karena di sisi kanan kirinya jurang.


Tidak lama setelah duduk-duduk kami pun beranjak pulang. Saking luasnya, dari parkiran menuju gerbang jaraknya lumayan jauh. Oh ya ornamen di luar pintu gerbang Kiram Park cukup unik yaitu jejeran replika tugu monas kecil-kecil di sebelah kanan dan kiri.


Di seberang jalan masuk menuju Kiram Park tersebut, masih ada jalan lainnya yang juga terlihat mulus. Suami menunjuk ke sana dan berkata bahwa di sana terdapat lokasi perkemahan tempat dia berkemah beberapa bulan yang lalu.


Uniknya Arsitektur Masjid Bambu

Suami pula yang mempromosikan betapa bagusnya masjid bambu yang terletak sebelum Kiram Park. Kami mampir ke sana sebelum ke Kiram Park. Awalnya kukira masjid ini termasuk bagian dari Kiram Park saat suami cerita pas ke sana, ternyata dia berada di luar area wisata.


masjid bambu kiram

Memang beneran bagus sekali masjidnya. Arsitekturnya bikin kagum. Hampir semua bagian masjid dibangun dari bambu. Cara para tukangnya merakit dan membentuk tiap komponen masjid ini keren. Meski aku nggak paham arsitektur, tapi aku tahu masjid ini juara.


Jadi berasa study tour ke bangunan-bangunan bersejarah di Jawa gitu. Secara keseluruhan konsep bangunan masjid ini perpaduan antara rumah adat dan anjungan jukung di bagian belakangnya. Bagian atapnya mirip dengan atap Masjid Sultan Suriansyah di Banjarmasin.


Masjid ini terdiri atas dua lantai. Lantai pertama merupakan tempat wudu, toilet, dan teras yang cukup luas. Di area tempat wudu dan toiletnya, adem banget karena dibangun dari batu alam. Nggak heran sih kalau duduk atau rebahan di lantai sekitar sini bisa ketiduran.


Di lantai kedua setelah menaiki tangga yang sangat estetik terdapat teras kecil, ruang salat, dan balkon menyerupai bentuk perahu. Ada terlalu banyak spot foto di sini saking estetiknya. Ke lantai dua selain lewat tangga lantai pertama juga ada akses khususnya dari tanah. Berupa tangga tanpa undakan berkelok, semacam lajur khusus yang bisa dilewati kursi roda.


Pulangnya kami tidak lewat jalan Gunung Kupang, tetapi lewat jalan Mandiangin. Terasa lebih dekat, mungkin karena tidak terlalu banyak belokan, hanya lurus dan belok kiri sekali. Keluarnya di Bundaran Banjarbaru. Aku sendiri cukup familiar dengan jalan Mandiangin ini karena sering ke arah sini saat jadi mahasiswa dulu. 


Demikian ceritaku tentang perjalanan wisata ke Kiram Park dan Masjid Bambu. Overall cukup oke untuk dikunjungi sebagai wisata Banjarbaru dan sekitarnya. Sampai jumpa di cerita perjalananku berikutnya. []

Rindang Yuliani
Hi, I'm Rindang Yuliani. I'm a writer, a civil servant, and living in Barabai, South Borneo. I love reading and I'm interested in travelling. My first book is Escape, Please!

Related Posts

Posting Komentar