Tuesday, March 10, 2020

Parijs van Borneo


Semangat #SaveMeratus di Kabupaten Hulu Sungai Tengah sedang dalam masa tertingginya pada tahun 2019. Hal ini disebabkan oleh dikeluarkannya Surat Keputusan oleh Menteri ESDM bernomor SK 441.K/30/DJB/2017 tentang Operasi Produksi untuk PT MCM di Kabupaten HST. Padahal sebelumnya tidak ada satu perusahaan tambang pun yang diperbolehkan masuk ke kabupaten HST karena alasan keselamatan lingkungan.


Sudah terbukti di kabupaten tetangga, yang memiliki perusahaan tambang, kotanya banjir karena daerah resapan airnya semakin berkurang. Paling miris adalah Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) yang berada di titik terendah di sekitar Pegunungan Meratus, ikut-ikutan terkena dampak banjir meski tidak memiliki kawasan tambang. Efek tambang di kabupaten tetangga, Tabalong dan Balangan.

Warga HST bersatu padu untuk menolak keputusan tersebut. Salah satunya dengan mengadakan acara Parijs van Borneo yang diinisiasi oleh Pemda HST pada 29-31 Agustus 2019. Berikut cerita-ceritaku selama mengikuti beberapa rangkaian acara Parijs van Borneo.

Barabai Parijs van Borneo Festival


Aku bukan penikmat seni budaya, sehingga ketika jauh-jauh hari acara ini diumumkan akan digelar aku merasa biasa saja. Sama sekali tidak bermaksud meremehkan, hanya aku saja yang interest-nya tidak di situ. Kecuali semangat #SaveMeratus-nya yang kugarisbawahi dari acara ini.


Apalagi waktu itu teman jalanku sedang berada di luar kota, semakin mustahillah aku bisa datang di acara ini. Beruntung teman-teman di kantor mengajakku mampir saat pulang, thank you Girls. Aku jadi bisa menonton opening ceremony Barabai Parijs van Borneo Festival ini.

Setelah mencari backdrop yang tidak tersedia, kami pun sepakat wefie dengan latar belakang panggung terbuka. Ada banyak rangkaian pertunjukan seni budaya di acara ini, rundown-nya ada di bawah ya. Seorang teman bloger dari luar kota bilang, gak bakal cukup satu postingan untuk menulis tentang event ini. Oke, dia mungkin seantusias itu untuk meliput acara ini 3 hari penuh.


Aku sendiri butuh waktu sangat lama untuk baru bisa mem-publish-nya di blog. Baru sempat. Selain itu dulu waktu acaranya berlangsung aku belum terpikir untuk menuliskannya di blog, belum sangat tertarik untuk menyaksikan semua rangkaian acara, serta tidak berminat riset.

Punya kebiasaan menulis komprehensif dan sistematis ternyata susah juga, kalau data dan informasi setengah-setengah apalagi bukan bidang yang diminati jadi susah menulis. Makanya waktu itu aku bikin catatan pendek di akun Instagram saja. Namun, lama kelamaan aku berpikir kok kayaknya sayang ya kalau nggak dijadikan satu postingan blog.



Btw, ejaan kata yang benar itu Parijs ya, bukan Parisj seperti yang menjadi judul resmi acara ini. Cmiiw. Se-masalah itu urusan ejaan bagiku, sehingga hal kecil begini nyempil di sini. Parijs merujuk pada Bahasa Belanda untuk menyebut Kota Paris. Julukan Barabai sebagai Kota Paris di Kalimantan memang sudah ada sejak Belanda masih menjajah Indonesia. Sepertinya di masa lalu, Barabai diidentifikasi seindah Paris oleh para kolonial Belanda.

Opening Ceremony

Salah satu hiburan pada saat opening ceremony Parijs van Borneo Festival adalah tarian aruh adat yang dibawakan oleh para ibu dan bapak dari Desa Patikalain. Jiwa jurnalistikku muncul setelah acara selesai. Aku kepo sama Desa Patikalain ini, aksesnya lewat mana?


Salah satu ibu menjawab, Patikalain itu ada di Kecamatan Hantakan. Aku pun mengejar, dekat dengan Air Terjun Kundan? Aku pernah ke sana dua kali dan kupikir itu sudah sangat pelosok. Dua jam berjalan kaki di antara hutan rimba dan menemukan perkampungan di dalamnya tentu bukan hal yang biasa.

Si ibu menjawab, bukan. Masih jauh ke atas lagi. Wow, fix Patikalain jadi masuk wish list destinasi travelku menemani Desa Juhu (di Kecamatan Batang Alai Timur) yang sudah ada terlebih dahulu. One day aku akan ke sana. Desa-desa adat di atas gunung seperti ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah. Mereka ada di sekitar kita tapi tidak dekat dan sulit diakses. Pemerataan pembangunan dan pendidikan akan menjadi PR yang utama.

Aruh Adat Patikalain


Aku belum pernah menyaksikan secara langsung prosesi aruh di balai adat milik masyarakat Suku Dayak. Meski pernah beberapa kali mengunjungi balai adat yang biasanya berlokasi di atas gunung dan di tengah hutan, aku tidak beruntung bisa datang di tanggal ketika mereka mengadakan 'selamatan' ini.


Sebagian besar aruh adat memang bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur terhadap hasil ladang mereka yang melimpah. Hari ini aku menyaksikan prosesinya di Lapangan Dwi Warna, Barabai. Meski tidak diadakan untuk aruh adat yang sebenarnya, tapi sebagai pertunjukan di acara pembukaan Barabai Parijs van Borneo.



Tariannya khas Suku Dayak, penuh kesan magis apalagi dengan iringan musik dan nyanyian yang tidak kupahami. Ada dua kelompok penari, yaitu kelompok laki-laki dan perempuan dengan wajah khas Suku Dayak. Tarian dipusatkan pada apa-ya-namanya, hiasan yang dibentuk sedemikian rupa dari daun kelapa yang masih muda. Para penari mengelilingi hiasan tersebut dengan gerakan tertentu.

Awalnya aku mengira akan ada satu atau dua orang yang kesurupan, tapi ternyata tidak. Entah karena lokasinya yang berbeda atau tujuan diadakannya memang bukan untuk 'dewa-dewa' mereka. Aku pernah membaca tentang tarian adat yang menyebabkan penarinya kesurupan, biasanya dalam prosesi pengobatan atau pengangkatan seseorang ke posisi tertentu dalam lingkup masyarakat Dayak.


Kesan lainnya yang kutangkap dari Tari Aruh Adat Patikalain ini adalah durasinya yang singkat. Entah karena aku yang terlalu asyik menonton atau aslinya memang begitu.  Oya ada band pengiring musik saat Tari Aruh Adat Patikalain ini berlangsung.

Karnaval Etnik

Aku bersyukur bisa menyaksikan karnaval etnik di hari kedua Barabai Parijs van Borneo Festival. Rasanya menyenangkan bisa melihat pakaian-pakaian etnik khas Suku Dayak dan Banjar diperagakan dengan totalitas. Sebagian besar peserta lomba karnaval ini menggunakan atribut bernuansa etnik yang tidak biasa untuk menarik perhatian dari juri. Kreatif.





 

Atribut-atribut yang ribet dan beberapa terkesan mengerikan itu ternyata memiliki filosofi budaya dan kehidupan di baliknya. Aku mendengarkan sekilas si pembawa acara membacakannya setiap peserta karnaval sedang tampil di depan para juri.

Selesai sesi penjurian, semua peserta karnaval melakukan pawai keliling Kota Barabai dan setelah itu kembali ke Lapangan Dwi Warna lagi. Aku jadi tidak perlu iri lagi dengan teman-teman di Tanjung atau Palangkaraya, yang biasanya mengunggah keseruan karnaval etnik semacam ini. Toh aku sudah puas bisa menyaksikannya langsung di kota sendiri. Semoga budaya pakaian tradisional seperti ini tetap lestari hingga nanti.

Stand Barabai Parijs van Borneo Festival


Selain berbagai pertunjukan budaya yang digelar oleh panitia, di festival ini juga terdapat beberapa stand. Stand-stand tersebut memamerkan kekhasan Bumi Murakata.



Mulai dari kuliner, wisata, hasil kerajinan, hingga benda-benda pusaka. Teman-temanku suka mampir ke stand kuliner untuk menyicipi makanan-makanan tradisional yang tersedia. Sedangkan aku lebih tertarik dengan stand-stand wisata.

Spot wisata di Hulu Sungai Tengah semakin bertambah banyak. Ini tentu menjadi kabar gembira bagi pejalan sepertiku. Eh tapi aku tidak melihat stand Wisata Pagat Batu Benawa (atau aku yang terlewat?) Padahal itu kan legend banget.



Semoga dengan adanya acara ini, wisata HST semakin maju dan para pengelola (baik pemerintah atau swasta) menjadi lebih aktif dalam mengembangkan dan mempromosikan tempat masing-masing.

Kuntau dan Tapung Tawar Naga


Di hari kedua acara Barabai Parijs van Borneo Festival backdrop sudah tersedia dan laris menjadi latar belakang foto para pengunjung. Hari itu salah satu agendanya adalah atraksi kuntau.


Kuntau adalah seni bela diri tradisional khas Banjar. Setelah penampilan beberapa anggota perguruan kuntau terbaik, di panggung utama diadakan drama singkat satu babak.



Ceritanya tentang kegigihan penduduk di sekitar wilayah Gunung Meratus untuk mempertahankan tanahnya agar tidak ditambang para pengusaha. Di ujung cerita, kedua pihak 'berperang' dengan metode kuntau.

Tari Mamingit Naga adalah pertunjukan selanjutnya. Diperagakan oleh 6 orang gadis penari berbaju kuning, tari ini ditutup dengan aksi tapung tawar naga. Tapung tawar dalam tradisi Banjar adalah cara untuk memohon keselamatan. Dalam hal ini entah yang dimintai selamat si naga atau naga yang harus dilindungi supaya selamat, yang jelas pihak pejabat yang mewakili memercikkan air kembang ke patung kepala naga.


Agenda pada malam hari sebenarnya cukup banyak, tapi aku tidak cukup tertarik untuk menonton. Yang luar biasa adalah pagelaran wayang Banjar sampai subuh. Btw, di hari ketiga pun aku tidak menonton karena dominasi acaranya bertema kuliner.


Bagaimana, apakah dapat insight baru setelah membaca cerita tentang Barabai Parijs van Borneo? Aku sih mendapat pengalaman cukup banyak dari acara ini. Berharap tahun-tahun depan acara etnik dan lingkungan seperti ini akan terus diadakan dengan pembaharuan konsep yang millenial friendly.

Salam lestari.[]

Artikel Terkait

20 komentar:

Travel Galau said...

Ah,kalau aku justru paling senang menikmati acara budaya seperti ini :D
Tapi terus terang aku ikut kebawa semangat #SaveMeratus -nya. Sedih aku tuh melihat semakin banyak bencana yang terjadi akibat keegoisan manusia.

Fandhy Achmad R said...

Pada akhirnya alam dikorbankan demi alasan pertambangan. Dan dampaknya selain dirasakan oleh manusia, ekosistem sekitar pun akan terkena dampaknya. Segalanya berkesinambungan, dan saling keterkaitan.

Semoga dengan adanya Festival Parijs van borneo ini, pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat diberi kesadaran tentang pentingnya menjaga alam.

Ya sekiranya adanya pertambangan, tentu pertambangan yang dilakukan dengan penuh aturan, agar selaras dengan alam,

irabooklover said...

Dulu Balangan itu satu kabupaten dengan Hulu Sungai Utara (dan kalau tak salah Tabalong juga), tapi sekarang mereka misah karena bisa "membiayai" hidup sendiri lewat tambang, dan setelah misah, HSU sekarang tinggal dapat banjirnya, hiks, sedihnya, *salahfokus*.

Rani Yulianty said...

Beruntung sekali bisa datang ke acara budaya seperti ini, Barabai parijs van borneo, melihat lamgsung yarian khas dsyak, melihat karnacal dengan beragam pakaian etnik, kalau saya suka melihat hal-hal berbau budaya seperti iji, rasanya jadi lebih kenal dengan masyarakat setempat

Nurul Fitri Fatkhani said...

Wah...kalau saya senang sekali menikmati acara kebudayaan seperti ini. Kadang ada tradisi atau adat istiadat daerah yang baru saya tau.

utari ninghadiyati said...

Ah andai dekat pasti saya samperin. Suka banget lihat acara seperti ini. Apalagi nonton karnaval, wah semangat deh.

Yesi Intasari said...

Aku termasuk yang seneng deh datang ke acara festival budaya kaya gini, soalnya pasti banyak dapat pengetahuan sama pengalaman baru gitu.. jadi pengen juga bisa datang ke Barabai Parijs Van Borneo ini

Ruli retno said...

Postingan pian ni nanti byk di cari klo thn depan di adakan lagi. Untuk referensi

Susindra said...

Seru sekali menyimak penuturan Mbak Rindang tentang Barabai Parijs van Borneo. Jadi banyak tahu, dn jadi berharap suatu saat bisa melihat sendiri keunikannya. Aamiin...

Marfa Umi said...

Namanya unik gini sih kak hihi :3 diadakan tahunan nggak sih ini? bisa jadi sekaligus menarik minat wisatawan ya, apalagi kalau nyobain kuliner yang khas ada di pameran sana :3

erinajulia said...

waaahh, seru banget ini ya acaranya, smoga suatu saat aku bisa ikutan acara ini hehehehe

Eko Prasetyo said...

Acaranya seru bgt kak, smpe ada tarian adatnya juga... Andai acaranya di jakarta kayak festival setiap daerah, sy bisa nonton live..

Diah Kusumastuti said...

Waw... Bener-bener festival seni dan budaya yang ramai banget nih.. banyak sekali ya spotnya.. juga berbagai atraksi yang digelar. Semoga tahun-tahun mendatang juga tetap semarak atau bahkan lebih baik.lagi ;)

April Hamsa said...

Wah ada festival gtu di sana seru yaaa. AKu pernah liat jg di Jkt di TIM tapi gak selengkap kalau aslinya di san a kyknya ya mbak
Haha sama saya tu kadang malah gak suka posting status lbh suka nulsi ya langsung di blog, eman kalau gak diceritain di blog ;D

@pohontomat | Triyatni Ashari said...

Acaranya seru ya Mbak, Pernah sekali ke barabai cuma buat ke tempat wisatanya dari arah tnajung. Belum pas ketemu festival gininya

Putri haneen said...

Harapan besar dengan adanya #savemeratus ini semoga meratus di kabupaten HST tetap terjaga dan tidak di eksploitasi oleh perusahaan tambang

Putri Santoso said...

Wah ada aruh adat kak? aku suka banget ada acara budaya gini.
Omnimburlaw yang sekarang banyak di demo di luar kok gk ada gaungnya ya disini?
Sebenernya serba salah kalau membahas tambang. Di tutup tapi berapa banyak yang bergantung dg pekerjaan tambang. Gk ditutup berapa banyak pula kerusakannya?
Setidaknya harusnya kita tidak hanya 'menambang' tp bisa lebih mengolahnya dg bijak dan tepat.

Melisa Carollina said...

Ramai juga ya acara budaya di barabai ini, terlihat kalau acara ini sudah disiapkan dari jauh hari.. Paling suka sih mampir ke standnya dimana bisa lihat lihat sambil berbelanja hehe

Ruli retno said...

Rame gak mbak pas acaranya itu? Aku pengen liat tapi kalau sangat meluap2 keramaian jadi agak takut juga bawa anak2, takut tepisah hahaha

Enny Ratnawati said...

Semoga acara adat kayak gini tetap terus ada.APalagi kayak kuntau sudah jarang sekali kita saksikan.Makasih sharingnya

Post a Comment

Say something nice, for a change.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates