Saturday, June 29, 2019

Proyek dan Target Menulis

Halo, semuanya. 

Aku ingin berbagi tentang proyek dan target menulisku dalam waktu dekat. Tidak pernah sebelumnya aku khusus menuliskan tentang ini, meski sejak dulu selalu punya proyek menulis (dan kebanyakan tidak selesai). Kali ini, rasanya aku ingin berbagi. Bukan ingin pamer, tapi hanya ingin merapikan kemelut rencana menulis yang ada di otak. Syukur-syukur bisa dijadikan inspirasi. Hehe.




Target menulisku hingga akhir bulan ini adalah menyelesaikan self editing calon buku solo pertamaku. Harusnya aku excited, karena goal menerbitkan buku solo adalah impianku sejak lama. Sejak bayi.

Namun, setelah proses menulis yang panjang dan berturut-turut (hampir 3 bulan) aku seperti ingin mengambil jeda dari naskah tersebut. Memberi jarak. Seandainya aku bisa percaya pada diri sendiri aku tentu akan menuruti keinginan tersebut, tapi tidak. Ini kalau kuteruskan pasti hanya akan menjadi naskah yang terbengkalai. Seperti yang sudah-sudah. Jadi aku harus tetap merampungkannya akhir bulan ini.

Lagipula, promotorku sudah memberikan waktu cukup lama untuk self editing. Satu bulan sejak awal Juni kemarin. Aku harus menepatinya agar lolos seleksi.

Mengapa aku memerlukan promotor? Jelas karena faktor ketidakpercayaanku pada diri sendiri setelah gagal berkali-kali dalam menulis naskah buku. Entah kehabisan ide. Entah bosan. Entah tidak punya 'feel' lagi terhadap tulisan tersebut.

Promotor membuatku harus mengabaikan hal-hal tersebut. Aku harus tetap menulis di saat aku muak atau malas. Memaksakan diri. Semoga ini menjadi kebiasaan, meski awalnya terbiasa karena terpaksa. Sehingga mimpiku bisa menjadi penulis produktif bisa terwujud. Amin.

Bagaimana kabar nge-blog? Yah sejak program Ramadan Challenge dari BP bulan lalu, aku belum mem-publish satu postingan pun. Ini semakin membuktikan bahwa aku memang harus ditantang untuk melakukan sesuatu. Harus ada faktor eksternal yang memotivasiku sehingga produktivitasku bertumbuh. 

Targetku setiap bulan minimal ada 8 postingan di blogku. Dua tulisan per minggu. Untuk bulan ini, saat proyek self editing ini berlangsung aku menguranginya yaitu satu postingan satu minggu. Namun, hingga tanggal 18 belum ada satu pun tulisan untuk blog yang kubuat.

Aku akan mengejar ketertinggalan ini. Janji. Baik untuk blog maupun naskah buku. Akan kuselesaikan sesuai target.

Oya, mengenai draft buku. Aku sebenarnya menemui kesulitan. Ini menambah kemalasanku membuka dokumennya. Setelah selesai mengejar target halaman aku baru sadar bahwa tulisanku seamburadul itu. Genre calon bukuku ini kan non-fiksi. Jadi aku menggabungkan berbagai sumber tulisan dalam satu dokumen, kata-kata yang kususun berbaur tidak rapi. 

Aku juga merasa konsepnya kurang fokus. Jadi sambil mengedit aku kembali brainstorming agar isi bukunya benar-benar seperti yang aku inginkan. Salahnya pada saat menulis dulu aku ingin memasukkan semua yang kudapat dari referensi ke dalam naskah. Jadilah kelihatannya seperti berjubel. 

Semoga aku kuat untuk merombak konsep agar lebih rapi dan nyaman dibaca. Kalau mengedit secara teknis sih mudah. Aturan Bahasa Indonesia yang baik dan benar sudah sering kupraktikkan dalam menulis. Jadi tantangan terbesarku saat self editing ini adalah merapikan konsep.

Target menulisku selanjutnya adalah mengumpulkan tulisan-tulisan di blog yang satu tema untuk dijadikan buku. Jumlah tulisanku di blog memang cukup banyak. Tapi merapikannya menjadi satu tema yang berkesinambungan dan memiliki 'isi' yang bermanfaat adalah tantangan tersendiri. 

Sekilas, aku melihat tema yang paling banyak nongol di blogku adalah tentang Ramadan. Iya, aku cukup rajin menulis tentang tema tersebut. Ada banyak hal berkesan yang bisa diceritakan tentang Ramadan. Mungkin suatu hari nanti aku bisa menerbitkan buku tentang Ramadan versi aku. Isinya tentu saja sangat personal, bukan berbentuk panduan atau artikel serius.

Selain itu, aku juga ingin membukukan tulisan-tulisanku tentang pengalaman travelling. Sudah ada banyak tulisannya di blogku, tapi ya mesti dirapikan lagi karena biasanya aku menuliskannya tanpa konsep dan sedikit self editing. 

Tulisan brainstorming-ku tentang suatu masalah juga sepertinya cukup banyak untuk dibukukan. Meski kuyakin perlu kerja keras untuk merapikannya menjadi satu buku karena temanya yang sangat beragam. 

Memiliki buku kumpulan cerpen dan puisi juga menjadi salah satu impianku dalam menulis. Ada beberapa cerita dan puisi yang ku-publish di blog. Sisanya mengendap rapi di folder komputer. 

Bagaimana dengan novel? Tentu saja aku sangat ingin sekali punya novel karya sendiri. Tapi tentu aku harus berlatih menulis fiksi lebih banyak lagi. Biar kualitasnya juga nggak malu-maluin. 

Sebagai penikmat novel, tahu standar bagaimana cerita yang bagus itu membuat beban menulis semakin berat. Aku sering ingin berhenti menulis di tengah jalan ketika membaca tulisan sendiri karena merasa tulisanku belum layak terbit. Well ya ini salah satu penghambatku dalam berkarya. 

Untuk meningkatkan kualitas dalam menulis, aku juga harus lebih sering ikut lomba atau mengirim tulisan ke media. Ini adalah salah satu cara menantang diri sendiri biar tulisan juga bisa dibaca oleh orang lain. 

Jadi kesimpulannya, aku terus harus menulis. Selesai mengejar target menulis satu proyek, lanjut ke proyek menulis selanjutnya. Begitu terus, toh aku tak akan bosan karena passion-ku memang di sini. Hanya saja, ketika aku bingung apa yang ingin kulakukan aku bisa langsung membaca tulisan ini. Bahwa sebenarnya ada banyak proyek dan terget menulis yang harus kutuntaskan.[]

Tuesday, June 4, 2019

Tujuh Persiapan Menyambut Lebaran

Lebaran sebentar lagi. Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan sebelum lebaran agar hari raya lebih bermakna. Simak tujuh hal berikut yang harus disiapkan menjelang lebaran.




Persiapan hati
Yup, ini yang paling perlu disiapkan nih. Persiapan hati artinya kita harus memahami benar-benar, apa sih esensi sebenarnya dari lebaran itu. Apakah benar kita sudah menang di lebaran kita kali ini? Apakah target-target ramadhan kita sudah tercapai semua? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang menggiring kita pada satu kesimpulan bahwa kita telah siap menyambut lebaran. Yang paling penting adalah kita harus berniat bahwa setelah Ramadhan tahun ini, kita harus menjadi pribadi yang lebih baik dari pribadi sebelum Ramadhan.

Monday, June 3, 2019

Doa di Penghujung Ramadan

Pada saat Ramadan, kemungkinan doa diijabah Allah sangat besar. Oleh karena itu melalu postingan ini aku ingin berdoa mumpung masih dalam kondisi berpuasa Ramadan.


Semoga bulan depan aku hamil. Semoga aku dan suami bisa terus bersemangat menjalankan program hamil dan tidak kecewa jika hasilnya belum sesuai ekspekstasi. Semoga kami berdua selalu bisa saling menguatkan.

Semoga kesehatan selalu menyertai aktivitas orang-orang di dekatku. Suamiku, ibuku, ayahku, adikku, kedua mertuaku, dan seluruh keluarga besarku semoga selalu sehat walafiat. Dengan sehat, segalanya bisa berjalan lebih lancar.

Sunday, June 2, 2019

Momen Paling Berkesan saat Ramadan

Ada beberapa momen yang paling berkesan di hidupku dan itu terjadi pada saat Ramadan. Apa sajakah momen itu? Yuk, simak ceritaku.


#1 I’m Born
Ya, aku terlahir pada bulan Ramadan. Tepatnya pada tanggal 2 Ramadan 1412 Hijriah. Kalau dihitung menurut kalender Hijriah, usiaku sudah lebih  3 minggu dari 28 tahun di Ramadan 1440 H tahun ini. Selisih satu tahun dengan usiaku di kalender Masehi. Pas tahun 1992, Ramadan ada di bulan Maret Gaes.

Meskipun aku sama sekali tidak ingat momennya, tapi karena orangtuaku menceritakannya berulang-ulang aku jadi selalu mengingat momen ini. Bagaimana pun ini adalah momen aku pertama kali muncul di dunia. Itu pasti juga sangat berkesan bagi kedua orangtuaku karena aku adalah anak pertama.

Saturday, June 1, 2019

Kuliner Hari Raya Idul Fitri Khas Barabai

Salah satu yang paling ngangenin di hari raya adalah kulinernya. Ada berbagai macam makanan tersedia saat lebaran. Rasanya lupa baru saja melaksanakan puasa sebulan penuh demi  melihat penganan-penganan tersebut.


Kali ini aku akan berbagi mengenai beberapa penganan yang sering hadir di rumah ketika Idul Fitri khususnya khas Kota Barabai. Simak ya.

#1 Kue Apam
Barabai memang terkenal dengan kuliner khas wadai (kue) apam. Namun, kue apam yang biasanya dijual di pasaran berbentuk bulat kecil. Di rumahku penganan ini saat lebaran dibuat dengan dikukus di atas loyang bundar.


Ketika disajikan baru dipotong kecil-kecil di atas piring. Rasanya tergantung yang membuat sih. Kue apam favoritku itu buatan ibu dan nenekku. Mereka satu resep kayaknya, sama-sama enak.

#2 Tapai (Tape) Beras
Tapai beras ini khas banget dibikin saat akan lebaran. Karena di rumah tidak ada yang bisa bikin tapai beras, jadi biasanya bikinnya ke orang lain. Keahlian membuat tapai beras ini cukup sulit loh. Tidak bisa sembarangan.


Seperti jenis tape yang lain, tapai beras ini juga membutuhkan proses fermentasi dalam memasaknya. Jadi harus dibikin beberapa hari sebelum lebaran. Karena rasanya yang cukup kuat maka tidak disarankan memakan tapai ini terlalu banyak karena bisa menyebabkan sakit perut.

#3 Ketupat
Ketupat biasanya dimasak oleh ibu mertuaku. Rasanya enak dan bikin nagih. Aku yang biasanya makannya kebanyakan langsung mules karena kuah santannya yang cukup kuat.


#4 Kue Rokok
Di daerah lain entah apa nama kue ini. Di sini dinamakan kue rokok karena bentuknya yang menyerupai rokok. Sebenarnya ada juga yang bentuknya tidak seperti rokok, tapi dilipat empat begitu dari adonan dasarnya yang berbentuk lingkaran. Kue ini renyah, kalau mulai memakan bisa lupa berhenti.


#5 Kue Bolu
Kue bolu ini biasanya kami bikin sendiri karena punya peralatannya di rumah. Dibikin bukan untuk dihias tapi untuk langsung dimakan. Sekarang-sekarang kami kadang tidak lagi menggunakan resep manual. Tinggal beli tepung yang hampir jadi itu, campur dengan telur. Langsung kukus atau panggang, jadi deh.


Dari kelima penganan tersebut, mana yang lebih kamu suka Gengs?
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates