Saturday, September 22, 2018

[Review] Dilan: Penyesalan Seorang Pembaca

Sebenarnya aku sudah lama selesai membaca novel Dilan 1, 2, dan 3. Marathon, karena sangat penasaran dengan isi ceritanya. Namun, menuliskan reviewnya ternyata tak semudah menamatkan novelnya. Mengapa? Karena aku hang over parah dengan ending cerita antara Dilan dan Milea. Setiap kali membaca atau menonton sebuah cerita, aku memang punya sifat yang terlalu berempati dengan tokoh-tokoh di dalamnya.



Novel Dilan sendiri sudah lama booming di kalangan milenial, apalagi setelah film Dilan 1 keluar. Aku sendiri sudah membaca ketiga novelnya. Novel pertama, Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 menceritakan bagaimana awal mula Dilan dan Milea bertemu hingga akhirnya jadian. Novel kedua, Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 menceritakan berbagai konflik yang akhirnya membuat pasangan ini berpisah. Novel terakhir, Milea: Suara dari Dilan adalah penuturan dari sudut pandang Dilan, menambal plot hole di novel pertama dan kedua.

Sebenarnya cerita dengan akhir tragis bukanlah tipe cerita yang aku suka. Khusus untuk novel Dilan ini, meski sejak awal tahu bakal sad ending, aku tetap ngeyel membacanya. Penasaran! Selain itu juga karena kusuka dengan bahasa dan gaya penulisan novel ini, ringan dan storytelling banget. Efek negatifnya ya itu tadi, aku jadi hang over sampai berbulan-bulan. Setiap mendengar novel Dilan, atau lagu-lagu yang menjadi ost filmnya, jadi teringat bagaimana perasaan Milea atau Dilan.

“Cinta itu indah, jika bagimu tidak, mungkin kamu salah milih pasangan.”

Akan kedengeran lebay ya bagi orang yang enggak terbiasa terlalu menghayati sebuah cerita. Menurutku, ketidakberhasilan hubungan mereka berdua sangat tragis sih. Penyebabnya sepele sekali, efeknya seumur hidup. Dan, karena ini review novel penuh gejolak hati jadi mohon dimaklumi akan sangat banyak unsur subjektivitasnya.

Sumber: https://dilan.kwikku.com/read-1482950

Aku sendiri tidak akan membahas novel ini dari segi penulisan, tapi lebih ke isi ceritanya. Boleh dong ya. Hehe. Jadi, postingan ini lebih ke kesan aku terhadap isi cerita novel trilogi Dilan. Daripada me-review satu persatu, lebih baik aku langsung menumpahkan unek-unekku dalam satu postingan sekaligus.

Beberapa pertanyaan yang mengawang-awang di benakku selama hang over.
Mengapa Milea memutuskan hubungannya dengan Dilan? Jika ia cinta mati dengan Dilan, maka seharusnya ia lebih dekat untuk mencegah Dilan melakukan keinginannya. Bukan mengancamnya dengan putus. Sampai pada buku kedua aku masih menuding Milea sebagai inisiator perpisahan mereka.

“Tujuan pacaran adalah untuk putus. Bisa karena menikah, bisa karena berpisah.”

Mengapa Dilan terlalu gengsi untuk memperjuangkan Milea kembali. Meski sudah mendapatkan jawabannya di buku ketiga, tetap saja aku tidak puas. Bahkan, tokoh yang dicemburui Dilan, tak pernah disebutkan Milea dalam kedua bukunya.

Kenapa keduanya senang berpraduga bahwa masing-masing sudah punya pacar lagi sehingga membuat pertemuan mereka terbatas dan menekan keinginan untuk bersama lagi.

Namun, meskipun banyak memuat kisah yang akan membuat air mata akan menggenang, di buku ini juga banyak adegan lucu. Penulisnya lucu, karakter Dilannya juga. Selain itu, ada beberapa hal positif yang terdapat pada novel Dilan, yaitu:
Kedua tokoh utama sangat dekat dengan orangtua dan berkomunikasi dengan baik. Tentu saja, orangtua favoritku adalah bunda(hara).

Setting lokasinya sangat kuat. Sehingga membuatku ingin berkunjung ke Bandung, ‘hanya’ untuk mengunjungi jalan Buah Batu dan teman-temannya. Setting waktunya pun luar biasa hidup. Meski aku bukan penduduk Bandung, tapi aku percaya kondisi Bandung sekarang tidak sama dengan yang ada di novel Dilan. Itulah kenapa, versi filmnya lebih susah diterima karena sulitnya penggambaran setting waktu ini. 

Entah dari mana pemikiran ini berasal, tapi aku memilih untuk tidak percaya kalau cerita ini asli. Biarlah aku katakan ini fiksi saja. Karena kalau ini kisah nyata, aku bakal enggak bangun-bangun. Terpuruk dalam kesedihan membayangkan Dilan dan Milea sekarang yang hidup dalam bayang-bayang. Meskipun keduanya mengaku telah merelakan masa lalu, tapi kuyakin penyesalan di sudut hati masih ada.

“Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu.”[]

Artikel Terkait

0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih telah berkomentar dengan baik 🙆 Ditunggu kunjungan selanjutnya.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates