Saturday, July 14, 2018

Arung Jeram Nateh


Di suatu hari Minggu, tanggal 1 Juli 2018 aku bersama teman-teman SMPku janjian untuk rekreasi ke Nateh. Fyi, Nateh adalah sebuah desa wisata di kabupatenku. Akhir-akhir ini desa ini jadi hits lagi karena ada wahana arung jeram yang bisa dijajal untuk yang sudah bosan berwisata alam biasa. Aku tentu antusias dong, ini kesempatan pertama kali buatku. Semua temanku juga sepertinya sama. Cuaca yang berubah menjadi gerimis saja tak menjadi halangan bagi kami untuk tetap menuju ke desa yang berada di lembah tersebut.

Kami berangkat pakai motor, otomatis ketika hujan menyapa di tengah perjalanan kita basah kuyup dan sempat berteduh sebentar. Saking lebatnya hujan, pakai jas hujan saja kita tetap kebasahan. Untung saja di dekat area wisata ada sebuah rumah keluarganya temanku. Jadi waktu sampai di Nateh, aku dan teman-teman dapat tempat berteduh yang cukup menyenangkan sembari menunggu hujan reda. Saat hujan tak jua berhenti, kami memutuskan untuk menyiapkan makan siang saja. Agar setelah berarung jeram kami bisa langsung makan siang karena waktu sudah menuju jam 11 siang. Setelah itu, kami langsung ke panitia penyewaan perahu karet. 


Well ya kita tetap harus menunggu karena antrian dari para wisatawan cukup banyak. Ternyata bukan kami saja yang terlalu antusias berwisata outdoor di rainy day seperti ini. Kami pun menunggu sambil ngobrol di parkiran yang melindungi kami dari derasnya air hujan. Oya, kita menyewa dua perahu karena jumlah rombongan kita cukup banyak yaitu 12 orang dewasa dan satu orang anak kecil. Satu perahu karet disewakan seharga 150K.

Hujan, mari berteduh

Akhirnya giliran kami tiba. Untuk menuju ke hulu sungai, kami diangkut terlebih dahulu menggunakan mobil Carry Pick Up. Berasa kembali jadi anak kecil, kami yang sudah dewasa ini antusias berebut naik ke bak belakang mobil. Dan catat, cuacanya sedang hujan lebat. Gila, sih.

Kondisi jalan menuju hulu sungai ternyata tidak ramah. Menanjak dan berlubang-lubang. Sehingga beberapa kali kami terpental dan kadang kepala harus merunduk agar tidak terkena ‘sabetan’ daun-daun dari ranting yang menjulur ke tepi jalan. Ini seru! Tantangan ternyata tidak sampai di situ. Setelah satu kilometer lebih berpegangan erat di dinding bak mobil agar bisa selamat, kami harus turun ke sungai yang ternyata agak jauh di bawah jalan. Dan karena sedang hujan, kondisi jalan menjadi sangat becek, licin, dan berbahaya.

Di tepi sungai telah tersedia dua perahu karet yang sebelumnya sudah diangkut terlebih dahulu menggunakan mobil yang sama. Di perahu sudah terdapat dayung dan live jacket. Sayang, nggak ada helmnya. Di SOP mestinya ada nih, iya aku berlebihan. Anaknya savety first soalnya. Oya, ternyata kami didampingi oleh dua orang petugas wisata di masing-masing perahu. Aman, para cowok jadi nggak perlu capek mendayung.

Ma best!

Beneran deh, waktu kupikir-pikir lagi saat aku menulis ini waktu itu kami lagi kesambet atau apa. Nekat banget berarung jeram di kondisi hujan badai. Pertama, rekreasi tentu menjadi tidak seasyik ketika cuaca sedang cerah. Namun, karena dijalani bareng teman-teman yang asyik, sehingga kemarin itu hujan tidak menjadi penghalang bagiku untuk menikmati rekreasi susur sungai. Dua, sebenarnya bahaya juga kalau sampai air sungainya meluap. Iya, debit air cukup tinggi saat itu, keuntungannya kami jadi tidak banyak tersandung batu-batu yang jika air sedang surut muncul di permukaan.

Gila? Biarlah.

Meski di sisi lain menurutku itu kurang seru sih. Arung jeram itu kan soal kita mengarungi jeram yang deras, ini definisi ala aku, jangan ditelan bulat-bulat. Hehe. Sungai yang tenang waktu itu membuat kita cukup menikmati berperahu menuju hilir. Bahkan, para cowok yang bosan ada yang terjun ke sungai hingga pinjam dayung berlagak menjadi nahkoda. Di beberapa titik berbatu kita otomatis berteriak karena perahu oleng dan kadang malah perputar-putar sebelum kembali melaju ke hilir.

Di sebuah spot yang bebatuannya cukup tinggi di tengah sungai, kami berhenti. Ngapain? Foto-fotolah, karena waktu itu hujan sudah mulai reda dan kamera-kamera yang takut air bisa keluar dari sarangnya. Tidak lama berhenti, hujan ternyata turun lagi. Beruntung, kami sudah hampir tiba di garis finish. Jadi bajuku basah bukan karena nyebur ke sungai, tapi karena kehujanan. Untuk yang satu ini aku berterima kasih kepada parka kesayangan karena telah melindungi tubuh bagian atasku sehingga tidak terlalu menggigil.

Turun dari perahu, teman-teman bukannya langsung balik ke rumah, mereka malah berenang sambil hujan-hujanan. Sudah terlanjur basah gini, alasan mereka. Akhirnya ketika tubuh tambah dingin dan perut mulai lapar, kita balik. Numpang bersih-bersih dan ganti baju di rumah keluarganya temanku. Habis itu kita makan. Sedap sekali, makan di cuaca dingin dan perut yang lapar.

Terima kasih, teman-teman.

Terima kasih teman-teman, berkat kalian aku jadi punya satu kenangan tambahan tentang hujan. Semoga ada ‘lain kali’ yang seperti hari ini.[]

Artikel Terkait

0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih telah berkomentar dengan baik 🙆 Ditunggu kunjungan selanjutnya.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates