Eksplor Tambang di Barito Timur

20 komentar
Hai, semuanya. Aku baru pulang traveling nih. Gak murni traveling sih sebenernya, tapi dalam rangka tugas lapangan. Tepatnya sampling udara ambient di dua perusahaan tambang bagian Rimau Grup. Lokasinya sendiri ada di Kabupaten Barito Timur, orang-orang biasanya menyebutnya Tamiang Layang karena itu adalah ibu kota kabupatennya. Padahal kota Tamiyang Layang sendiri kecil saja dan tidak seluas kabupaten yang kujelajahi selama 3 hari 2 malam ini.


Sebelumnya, aku belum pernah ke kabupaten ini. Makanya sejak direncanain kami berangkat ke sana aku merasa worth it banget meski tidak berani banyak berekspekstasi karena aku tahu Tamiang Layang sendiri adalah kota kecil dan Barito Timur adalah kabupaten pemekaran dari kabupaten Barito Selatan yang ibukotanya adalah Buntok.



Janji berangkat jam 7 pada tanggal 27 Desember 2017, terealisasi menjadi jam 9 pagi. Heuu. Setelah berbagai kendala akhirnya kita sampai di Kota Tamiang Layang dalam waktu 2,5 jam. Rute yang kami tempuh adalah Barabai-Ilung-Lampihong-Jalan tembus Lampihong-Kelua-Tamiang Layang. Oya, aku paling terkesan dengan Desa Jaar yaitu salah satu desa pertama yang kami lewati setelah memasuki perbatasan Kalsel-Kalteng. Karena penduduknya mayoritas kristen, pemandangan yang jarang di visualku. Hiasan natal di pintu rumah dan adanya rumah ibadah berupa gereja menjadi penyambutan yang unik bagi mata kami.


Dari Kota Tamiang Layang, kami diarahkan ke area tambang dan disambut di kantor Rimau Grup. Kita masuk di ruangan KTT (Kepala Teknik Tambang). Setelah induksi, kita langsung  mengadakan pengukuran udara di titik pertama yaitu di depan kantor mereka. Setelah itu kami diarahkan ke hotel, check in dan sebagainya lalu dijamu makan siang. Kali ini aku makan ayam bakar mentega dan es jeruk.  Nikmat.

Dari rumah makan, kami langsung menuju area tambang lagi. Di sebelah kantor Kemenag Barito Timur ada sebuah masjid besar, kami mampir di sana. Oh oh, ternyata masjidnya dikunci. Sepertinya belum bisa dipakai karena proses pengerjaannya belum selesai. Padahal kalau kuncinya dibuka kita tetap bisa shalat. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan dan mampir lagi di sebuah masjid di samping Kantor Polres. Alhamdulillah, kali ini masjidnya bisa dishalati.

Dari sana kami langsung ke area tambang PT. SEM tepatnya di Pit Janah Jari. Wih, aku langsung excited melihat hexa dan alat berat lainnya beroperasi. Setelah pengukuran selesai, kami langsung ke lokasi ke-3 di mana itu adalah menjadi lokasi terakhir kami hari itu. Tepatnya di depan kantor PT. SEM. Debunya banyak di sini rek, letaknya macam di bundaran jalan hauling gitu sih. Nah, di sini kita bisa numpang shalat.

Dari sana kami mampir lagi di kantor Rimau karena menitipkan alat-alat pengukur kualitas udara. Soalnya meski bak tertutup milik mobil yang kita bawa tapi tetap waspada kalau ada apa-apa selama parkir semalaman di hotel. Oya, hotel yang kita inapi ini namanya Wahyu Perdana.

Setelah membersihkan diri dan shalat, kami dijemput untuk makan malam ke sebuah rumah makan chinese. Di sini aku pesan mie goreng seafood spesial dan cappucino. Aku puas. Senangnya lagi, di sana kami bisa foto-foto karena ada hiasan pohon natalnya. Hehe.


Balik ke hotel dan masuk kamar. Aku ngobrol-ngobrol dengan teman sekamar. Susah banget tidur, padahal tubuh capek. Besok pun ada titik yang jauh. Tapi mata nggak bisa diajak kompromi pikiran juga terus melayang. Mungkin efek tempat baru kali ya.

Pagi harinya kami sarapan di hotel. Untunglah menu dan rasanya enak. Pagi itu aku makan capcay dan ayam tepung plus segelas kopi. Jam 8 kami berangkat. Oh iya, di Tamiyang berlaku zona waktu WIB seperti daerah Kalteng lainnya. Jadilah kami agak bingung menyesuaikan waktu, karena terbiasa di WITA. Pas kami sampai ke kantornya, jam masih menunjukkan pukul 7 wich is kepagian.

Setelah menunggu beberapa lama, kami pun memasukkan alat-alat (besar) ke mobil dan langsung berangkat ke lokasi 4 yaitu pit yang sedang beroperasi, aku lupa namanya karena pakai angka dan blok gitu. Karena semalam habis hujan, jadinya tanah becek sekali. Sepatu safetyku jadi berbalut lumpur semua.  Pulang dari sana, pemandu kita baik banget mempersilakan kita foto-foto di hexa yang berhenti. Ah, aku suka banget hexa jenis kepala anjing ini. Lehernya luwes banget gitu. Aslinya ternyata tinggi sekali, soalnya aku nyoba naik ke atasnya untuk pose terbaik. Haha.

Dari sana kami ke lokasi ke-5 yaitu Stock Room yaitu tempat penumpukan batu bara. Di sini kalau di lab, mungkin ruang mikro. Harus steril, ga boleh merokok dan buang  sampah. Dari sana kita langsung  mencari makan siang ke arah kota Tamiyang lagi. Kali ini si pemandu menantang temanku buat nyoba pedasnya ayam geprek zontour. Ish, aku yang memang gak suka pedas sama sekali gak tertarik. Jadi aku pesan ayam geprek level 1 saja plus teh hangat. Itu pun sudah pedas sekali di lidahku. Bagaimana yang level 50 ya seperti yang disantap oleh Pak Alfi dan Ka Mita? Ka Mita saja sampai tak berani menghabiskan karena takut sakit perut, sedang ternyata Pak Alfi ludes memakan semuanya.

Dari rumah makan ayam geprek kami ke hotel buat shalat zuhur. Dari sanalah sebuah petualangan baru dimulai, kami diajak ke pelabuhan karena di sanalah titik ke-6. Selama satu jam kami melewati jalan bergelombang tanpa aspal. Di kanan kiri jalan hanya hutan belantara dan rawa. Beberapa ada pondok dan sarang burung walet. Ada juga danau yang terbentuk di atas tanah berwarna putih. Wuah berasa di luar negeri. Sebelum sampai di tujuan kami berbelok dan sampai di hauling road, jalan seharusnya di mana kami lewat. Kalau kita lewat sana bisa memakan waktu hampir dua jam.

Sampai di kantor pelabuhannya kita langsung pengukuran sekalian shalat ashar. Di depan halaman kantor tersebut juga ada stock pile/room jadi lumayan bising dan aktivitasnya padat. Sayang banget sebenarnya kita sama sekali nggak melihat sungai barito dan pelabuhannya. Eh, tak disangka, aku ketemu sama temanku waktu SMP dulu. Dia jadi security di sana. Sudah punya istri dan anak katanya. Rumahnya juga di dekat pelabuhan. Wah, kebetulan yang tak diduga-duga.

Pulang dari sana kita lewat jalan yang sama dan mencuri waktu mampir di danau berwarna turqouise. Ah, aku mudah jatuh cinta sama pemandangan alam indah begini. Dari sana kita ke kantor Rimau lagi, nitip alat dan balik ke hotel.

Malamnya kita makan di rumah makan yang sama dengan makan siang hari pertama tapi beda cabang. Yang ini letaknya lebih ke kota. Kali ini aku pilih mie ayam hati dan jus alpukat. Astaga jusnya pahit sekali. Tidak enak. Hiks. Malam itu aku jauh lebih nyenyak tidur dibandingkan dengan malam pertama.

Hari ketiga tiba, kita ke kantor Rimau lagi. Seperti kemarin, kami kepagian. Mereka di sana Safety Talks dulu. Pihak dari PT. GEA yang jemput pun belum datang. Urusan administrasi kami bereskan saat itu juga sehingga kami bisa langsung berpamitan dengan pihak Rimau.


Perjalanan menuju PT. GEA ternyata seru sekali, meskipun lewat jalan kota, tidak jalan hauling. Rutenya adalah Pasar Panas-Bentot-Lalap. Nah, di Desa Lalap inilah kantor PT. GEA bersemayam. Tepat di tengah hutan dan di atas gunung!

Setelah induksi sebentar, kita makan siang. Karena waktunya juga sudah siang. Oya, di sini soal waktu lebih membingungkan lagi. Waktu kami tanya di resepsionisnya, jam di sini WITA atau WIB . Mereka jawab ngikut di Tamiyang (WIB) karena kami harus ngisi jam kedatangan di buku tamu, tapi waktu kulihat di jam tanganku jam 12 WITA mereka pun menyebutkan sekarang jam 12. Di ruang induksi, mereka di sana bilang jam di sini ngikut Tanjung (kota di Prov Kalsel yang terdekat dari sana yang artinya waktunya WITA). Secara administratif, gunung ini mungkin milik Kalteng tapi jarak dan waktu lebih mendekati Kalsel. Tipe-tipe desanya mungkin mirip Desa Juhu di Kabupaten HST.


Setelah makan siang, kami pun melakukan pengukuran udara di lokasi pertama yaitu di depan kantor GEA sambil bergantian shalat zuhur. Btw, yang cowok tidak bisa ikut jumatan waktu itu karena jarak ke masjid terdekat sekitar setengah jam. Satu jam kalau bolak-balik. Dan juga bis yang membawa mereka ke masjid juga sudah berangkat.

Lokasi kedua berada di Stock Pile. Hujan datang sebentar. Kami pun bergegas ke lokasi terakhir. Ternyata di titik inilah puncak kekagumanku tiba. Kami langsung masuk ke dalam pit nya! Yang berputar-putar itu loh jalannya! Wah, aku amaze banget. Nggak rugi didatengin jauh-jauh kalau pengalaman yang didapat bisa se wah ini. Sayangnya, di sana kami tak bisa bebas berfoto. Safety first.




Pulang dari sana kami kembali melewati hutan belantara dengan jalan hauling tanpa aspal becek dan di kanan kiri hutan belantara. Aku yang suka memerhatikan kiri jalan terkagum-kagum. Ada banyak spesies tumbuhan ynag familiar di masa kecilku. Namun, sebagian besar aku tak tahu namanya. Pokoknya kalau ke sini pas banget dijadikan tempat penelitian ekologi tumbuhan atau biokonservasi.

Setelah keluar dari Desa Lalap, kami masuk ke Desa Bentot yang masih satu kecamatan yaitu Petangkeh Tutui. Mengikuti rute yang disebutkan oleh driver PT. GEA kami pun melewati jalan lurus yang semuanya belum pernah kami temui. Ternyata kami keluar di Desa Kambitin yang sudah masuk kabupaten Tabalong, Kalsel. Sedikit menggunakan google map akhirnya kami tiba di masjid pasar Tanjung dekat taman kota. Dari sana kami menuju tugu obor, belok kanan, dan lurus hingga mampir di masjid Al-Akbar Paringin untuk shalat maghrib.

Setelah shalat kami pun melanjutkan perjalanan. Makan malam di warung makan itik panggang Ilung dengan menu teh panas dan itik panggang. Sedapnya. Karena kami mulai kelaparan. Karena rumahku sudah dekat, jadi aku minta jeput suami di warung makan tersebut setelah kami selesai makan. Setelah berpamitan dan berpisah dengan teman-teman, maka petualangan kami berakhir sejak saat itu.



Terima kasih Allah, sudah memberikanku kesempatana untuk merasakan pengalaman semenyenangkan ini.
Rindang Yuliani
Rindang Yuliani adalah seorang sarjana sains yang sedang menikmati proses sebagai bloger. Rindang juga sedang meladeni obsesinya untuk mendapatkan beasiswa S2 dan menerbitkan buku pertamanya. Wanita kelahiran 6 Maret ini juga selalu berusaha mengakrabi Tuhan melalui hobinya yaitu membaca, menulis, dan jalan-jalan.

Related Posts

20 komentar

  1. Wih itu apa nama kendaraan yang gede kuning di bagian akhir tulisan? Looks great xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga kurang tahu, kayaknya sih dump truck mbak.

      Hapus
  2. Ka Rindang setrooong... Perempuan di lokasi proyek gini menurutku keren banget.
    Ayahku dulu juga pertambangan di Batulicin, ka. Mendengarkan kisah-kisah beliau tentang kerasnya pekerjaan di lapangan membuatku takjub.

    Oh iya, salut juga sama tetap disiplin menjalankan sholatnya.

    Btw, kaka-kaka, kaya di banua mengiau. Wkwkwk

    BalasHapus
  3. Aku malah salfok sama mesjid yg dikunci dan cerita makan-makan nya 😅 memang yaa susah kalau kita mau shalat biasanya ada tempat2 trtentu yg mesjidnya dikunci itu menyulitkan kita utk ibadah,mungkin jg karena pengalamn yg kurang enak disana.salut dgn org yg wlwpun sedang ada pekerjaan ttp menyempatkn utk shalat.

    www.dinalangkar.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda daerah, beda kebiasaan ya Mbak. Meskipun termasuk dekat dari Barabai, kebiasaan orang di daerah sini ternyata cukup berbeda.

      Hapus
  4. Serunyaaa bisa keliling Kalselteng. Dan danaunya itu cantik banget ih 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dekat ini lokasinya dari Tanjung mbak Gita ...

      Hapus
  5. Duh rame banget kayanya mba rindang.. Kaya my trip my adventure aja.. Makanannya jg kayanya enak2 bgt slama dsana..

    Aku blm prnh ke pelosok kalimantan, next aku pengen coba deh heehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk, Lisa jalan-jalan ke pelosok Kalimantan. Banyak hal seru menunggu.

      Hapus
  6. Kerennya bisa jalan2 gini.. Aku pengen banget loh jalan sampe jembatan barito sendirian pake sepeda dan it blm kesampean.. �� next time kalo jalan2 ajak aku y mba..hihi..*elu siapa? ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dicoba sesekali Mbak, seru lho. Yuk, nanti kuajak yaaa

      Hapus
  7. Ternyata mba rindang ini, wanita yang strong sekali. Hutan belantara itu ada harimau nya ga mba? 😰

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haa, gak ada kok Ya. Sudah banyak manusia yang masuk hutan masalahnya.

      Hapus
  8. Aku ga pernah sama sekali perjalanan seperti itu dan aku iri sama org dgn perjalanan berdebu spt itu tetapi kulit tetap bersih kaya mbak Rindang. *eh aku gagal fokus ke kulitnya, emang naluri beauty blogger wkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beauty blogger sejati Rima memang. Jerawatan jua ai Rima aku kalau habis kerja lapangan kayak gini.

      Hapus
  9. Wah Rindang kerjanya di bidang tambang ya. Keren euy

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak sih ka, tapi bidang pemantauan lingkungan.

      Hapus
  10. Jadi kangen sama tambang. Di tengah open pit yang luas sekali dan panasnya ampun2an. Haul truck/Dump truck yang segede gaban dan kita bagai seonggok semut saja dibanding ban rodanya, hehe!

    Keep safe and have fun, mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kerennya Mbak lena pernah kerja di tambang. Bagian apa dulu mbak?

      Hapus

Posting Komentar