Sunday, December 28, 2014

Maulid Nabi Muhammad SAW

Sudah mulai memasuki bulan maulid lagi nih. Bulan ini termasuk salah satu bulan yang istimewa di daerah asalku. Bulan maulid atau nama "formal"nya adalah bulan Rabiul Awal adalah bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tepatnya pada tanggal 12 Rabiul Awal. Tahun ini, 12 Rabiul Awal jatuh pada tanggal 3 Januari 2015. Yeaay, tanggal merah lagi. Hehe

Mengapa bulan Rabiul Awal istimewa di daerahku? Karena pada bulan ini masyarakat yang beragama Islam akan bersuka cita merayakan hari kelahiran Rasullah tersebut. Perayaannya berupa selamatan dengan mengundang kerabat dan teman-teman keluarga. Yang membuat rame adalah selamatan ini biasanya diadakan oleh 1 kampung berbarengan. Jadi di setiap rumah pada waktu yang sama menjamu para tamu. Selain undangan makan untuk para tamu, acara maulid nabi juga ditandai dengan adanya syair-syair habsyi yang dinyanyikan oleh jamaah laki-laki untuk menyanjung Nabi Muhammad. Bahkan ada yang mengiringinya dengan tabuhan rebana.

ratibalhaddad.com

Sebenarnya ini adat saja. Tapi entah mengapa jadi seperti agenda wajib tiap tahun. Selain mengadakan selamatan atau maulidan, kita juga harus menghadiri undangan dari kerabat atau teman yang juga mengadakan maulidan. Aku kemarin kebetulan sedang pulkam ketika 1-4 Rabiul Awal, di ke-4 hari tersebut selalu ada undangan Maulid. Waktunya bisa pagi dari sekitar jam 8 hingga siang hari atau jam 4 sore sampai malam. Aku dan keluarga terkadang harus membagi diri untuk menghadiri undangan-undangan tersebut. Menurutku, selain menghidupkan kecintaan kita pada Rasulullah, acara ini juga efektif untuk menyambung tali silaturahmi.

Thursday, December 18, 2014

Meraih Sukses dengan Kecerdasan Emosi

Hari minggu yang lalu, tepatnya tanggal 14 Desember 2014, aku mengikuti Seminar Parenting yang bertajuk Meraih Sukses dengan Kecerdasan Emosi. Awalnya agak jengah juga ketika diajak teman untuk menghadiri sebuah seminar parenting, orang baru nikah juga. Punya ilmu sejak dini malah lebih baik, kata temanku. Lagipula dia yang mengajakku malah belum nikah. Berbekal tiket gratis, aku pun ke Aula SMKN 4 Banjarmasin, tempat dimana acara berlangsung.


Narasumber acara ini adalah Dra. Nina Ratna Maulina, M.Psi., seorang psikolog asal Bandung. Beruntungnya aku tema yang dibahas kali ini tentang kecerdasan emosi, sesuatu yang tidak hanya diperlukan saat mendidik anak, tetapi juga di berbagai bidang kehidupan lainnya. Dra. Nina sendiri merupakan seorang ibu dari 6 orang anak. Beliau bercerita tentang anak-anak beliau yang karakternya berbeda-beda. Beliau bersama suami mendidik mereka dengan agama sebagai dasarnya, SD-SMP mereka disekolahkan di sekolah Islam. Saat jenjang SMA mereka baru dibebaskan untuk memilih sekolah terbaik menurut mereka masing-masing.

Beliau memulai inti seminar dengan memaparkan berbagai macam kesuksesan, yaitu sukses sebagai anak, sukses sebagai orang tua, sukses sebagai pasangan, sukses sebagai pekerja, dan sukses sebagai masyarakat.
Anak yang sukses adalah anak yang cerdas secara emosi. Secara umum, anak yang cerdas adalah anak yang dididik mandiri oleh orang tuanya. Anak diberi kebebasan mengatur hidupnya sendiri, orang tua hanya sebagai pendamping. Sehingga di masa depan ia tidak tergantung dengan siapa pun.

Sukses sebagai pasangan, kita harus saling memahami, menyayangi, mendukung, menjaga, dll meskipun usia pernikahan sudah lama. Sebagai orang tua, kita harus cerdas dalam mendidik anak. Salah satu caranya adalah dengan fokus pada anak ketika bersama, tidak ada interupsi dari berbagai hal lain.

 
 
Sukses sebagai pekerja dan masyarakat adalah ketika kita mampu menyeimbangkan peran kita dimanapun kita berada, di lingkungan kantor, di komplek tempat tinggal, atau di rumah sebagai anak dan orang tua.

Kecerdasan emosi sendiri dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menyikapi pengetahuan emosional. Kita harus memberi nama emosi kita, misalnya marah, dan harus bisa mengelolanya agar tidak menimbulkan keburukan. Satu tips yang bisa diaplikasikan ketika marah adalah kendalikan mulut untuk mengeluarkan kata-kata positif. Salah satu bentuk kecerdasan emosi adalah sabar.

Mereka yang tidak cerdas secara emosi bisa disebut memiliki sifat buta emosi. Untuk mengatasinya, yang harus kita lakukan adalah menyampaikan perasaan kepada orang-orang di sekitar -jangan diam saja, dan mencoba berbicara pada orang yang sedang bermasalah tentunya dengan cara yang baik.

Setelah penyampai materi, ada sesi tanya jawab. Ada banyak sekali penanya yang tidak sempat menyampaikan pertanyaannya, termasuk aku, karena keterbatasan waktu. Sedikit kecewa juga sih. Tapi aku sudah beruntung bisa hadir di acara ini.

Wednesday, December 17, 2014

Kesturi dan Kepodang Kuning

Judul : Kesturi dan Kepodang Kuning
Penulis : Afifah Afra
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2013
Di gubuk tua peninggalan ayahnya di tepi hutan, Sriyani mencoba membangun kembali kehidupannya yang porak poranda. Bersama bayinya, Kesturi, mereka melebur dalam harmoni alam. Termasuk menjalin persahabatan yang indah dengan kepodang-kepodang yang rajin mendatangi gubuk mereka.

Persahabatan mereka menyedot perhatian Satrio, seorang peneliti sekaligus pecinta alam. Lelaki berhati lembut itu menyelusup dalam kehidupan mereka dan diam-diam mendentingkan kembali harapan di hati Sriyani. Akan tetapi, haraapan Sriyani nyaris terenggut oleh dua hal sekaligus; sesosok jelita yang selalu ditatap Satrio dengan penuh kekaguman, dan sebuah proyek pembangunan beraroma korupsi. Harmoni itu pun terancam pecah berkeping-keping.
**

Novel ini kombinasi antara tema lingkungan hidup, budaya, dan dunia politik. Setting yang dibangun terdapat di desa tepi lembah, kehidupan manusia yang harmonis dengan alam. Dengarkan saja tembang yang dinyanyikan oleh Sriyani setiap hari ini, menggambarkan betapa persahabatan manusia dengan alam itu sangat manis.

K’podang kuning
Ayo mabur, dolan kene
Bareng bocah ayu
Kinyis-kinyis duh Kesturi
Ayo mabur bareng karo widodari

Novel ini relatif ringan karena bisa dibaca sekali duduk namun sarat pesan. Pesan yang bisa diambil dari novel ini adalah bahwa keambisiuan jika tidak dibarengi dengan perilaku yang baik maka tidak akan berhasil baik. Hal ini terlihat pada tokoh Rajendra.

Selain itu, dalam novel ini juga digambarkan bahwa dunia politik tidak ada yang benar-benar bersih. Aku bergidik ngeri membayangkan betapa yang kaya semakin kaya dan yang miskin akan semakin terpuruk sekaligus bersama kebodohan.

Dari segi cerita, novel dengan ketebalan 312 halaman ini cukup menarik. Tokoh sentral kakak-beradik Satrio dan Rajendra yang bertolak belakang pemikiran dan kehidupan mereka membuat konflik terasa sangat runcing. Selain itu, tema lingkungan hidup yang diangkat oleh penulis mempunyai pesan tersirat betapa alam sebenarnya selama ini telah banyak memberi berkah pada manusia, hanya saja manusia terlalu tamak akan kenikmatan-kenikmatan lain yang didapat dengan cara kotor.

Latar belakang penulis yang merupakan sarjana sains biologi sepertinya memberikan andil yang cukup besar dalam penulisan novel ini. Wawasan lingkungan hidup dan istilah-istilah biologinya terasa kental dalam novel ini.

Setelah aku selesai membaca semua cerita, aku agak lama baru bisa menafsirkan kalau pada cerita pembuka yang bertemu itu adalah Rajendra dan Erlangga. Sedangkan yang dimaksud dengan Kepodang adalah proyek pembangunan dan Apel adalah uang. Tapi pertemuan itu kapan? Sedangkan Erlangga dan Rajendra tidak berada dalam satu kota, tapi mereka berdua sama-sama membawa mobil pribadi mereka. Pak Min juga pada cerita-cerita selanjutnya juga tidak diceritakan bahwa Rajendra memiliki supir.

Ending yang happy membuat novel ini semakin manis saja. Sedikit kekurangan terdapat pada sampulnya kurasa, seandainya lembah tempat Sriyani tinggal atau siluet burung kepodang digambarkan di sampul, maka cerita di dalam novel mungkin akan terasa lebih hidup. 

Sunday, December 14, 2014

Disleksia

Hari ini tadi ketika liqo, anak murabbiku berkata pada bundanya "Ummi, polkadot itu hanya boleh dipakai anak-anak ya? Seperti juz yang Keisha minum itu". Awalnya kami bingung, tapi ketika umminya bilang kalau yang dimaksud Keisha adalah juz alpukat, kami serentak tertawa. Sebelumnya kami memang membicarakan tentang motif polkadot yang ada di kerudung salah satu teman liqoku.

Ternyata, Keisha mengidap disleksia kata bundanya. Sama dengan kakaknya, Kirey. Dia malah pernah berkata begini sama bundanya, "Asyik ya mi berenai di sungang." =D Kata murabbi, gen disleksia ini mungkin diturunkan oleh abinya yang juga terkadang tertukar menyebutkan atau memaksudkan sesuatu.

Di satu sisi, aku merasa berada di dekat pengidap disleksia adalah hal yang menyenangkan. Kita bisa "menertawakan" ketidaktepatan -yang unik dan tak terpikirkan oleh kita, mereka katakan atau mereka lakukan. Di sisi yang lain, kasihan juga sebenarnya. Karena ini penyakit genetik yang tidak bisa disembuhkan dengan medis. 

www.bimba-aiueo.com
Begitulah, setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tinggal bagaimana cara memaksimalkan kelebihan dan meminimalkan kekurangan tersebut untuk meraih pahala optimal dari Allah.

Mbak murabbiku itu mengaku suami beliau susah menghafalkan ayat-ayat Al-Qur'an yang mirip-mirip karena ke-disleksia-annya. Tapi dia yakin bahwa Allah akan melipatgandakan pahala baginya karena dia mau berusaha dengan kekurangannya.

Friday, December 12, 2014

Mari Mendoakan Orang Lain

Pernahkah terlintas di pikiranmu bahwa orang-orang di sekitar kita yang tidak kita pedulikan keberadaannya ternyata adalah penyumbang terbesar atas keberhasilan kita?

Bagaimana bisa? Mungkin itu yang terlintas dalam benak kita. Bisa saja. Bagi orang-orang yang putih hatinya, mendoakan orang lain di sekitar mereka adalah sebuah kebiasaan. Mereka tak henti mendoakan kita yang mungkin terpikir saja pun tidak bagaimana kehidupan mereka. Karena bagi mereka, kebaikan seseorang di sekitarnya juga kebaikan bagi dirinya.

norhatekah.wordpress.com
Selama ini, mungkin kita terlalu egois dengan hanya melakukan hal-hal -bahkan doa, yang berkaitan dengan pribadi kita saja. Kita terlupa bahwa di sekitar kita ada orang lain, yang mau tidak mau pasti terhubung dengan kita lewat jalan hidup yang mana saja.

Sekali lagi, ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang putih hatinya. Mau mencoba? Silakan. Tak ada salahnya kita mendoakan orang-orang di sekitar kita, agar mudah hidup mereka, agar lapang jalan mereka, agar bahagia menyertai mereka. Terlebih jika kau mampu mendoakan kebaikan bagi orang yang (menurutmu) telah menyakitimu, sungguh putihnya hati niscaya telah kau miliki.

Wednesday, December 3, 2014

Promosi Promosi

Dijual buku-buku berikut di Rumah Buku Shady:

- Fiqih Sunah untuk Wanita (Abu Malik Kamal) Rp. 122rb
- Fotografi Digital itu Gampang (Giri Wijayanto) Rp. 20rb
- Newmoon (Stephenie Meyer) Rp. 50rb
- Sejuta Pelangi (Oki Setiana Dewi) Rp. 48rb
- Skenario Dunia Hijau (Sitta Karina) Rp. 20rb


- 99 Cahaya di Langit Eropa (Hanum Salsabila Rais) Rp. 70rb
- Bumi Cinta (Habiburrahman el-Shirazy) Rp. 70rb
- Twitografi (Asma Nadia) Rp. 50rb
- La Tahzan for Hijabers (Asma Nadia) Rp. 54rb
- Amelia (Tere Liye) Rp. 60rb
- Udah Putusin Aja! (Felix Y. Siauw) Rp. 57rb

Melayani penjualan buku online ke seluruh Indonesia. Info lebih lengkap bisa langsung hubungi owner via pin bb 7C9D6FED.

Tuesday, December 2, 2014

My Best Moment

Berikut adalah beberapa foto resepsi pernikahanku kemarin. Semoga cukup mewakili, karena ada beberapa teman yang tidak bisa berhadir di acara tersebut dan minta aku untuk mengupload foto-fotonya di media sosial.

Saturday, November 29, 2014

Memoar Sekar Prembajoen

Judul: De Liefde
Penulis: Afifah Afra
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Tahun terbit: 2010
Tak mudah menjalani pembuangan di sebuah negeri asing, meskipun negeri itu adalah negeri Belanda! Tempat ia pernah menyemai cita-cita menggali ilmu pengetahuan setinggi-tingginya. Sekar Prembajoen tertatih-tatih menyusuri kehidupan yang jauh dari dugaannya. Termasuk harus berurusan dengan Roesmini van de Brand, seorang perempuan indo yang dijual oleh “ayahnya” di rumah pelacuran dan menjalani affair dengan seorang anggota parlemen.

Tak mudah untuk tetap mempertahankan semangat juang, di saat badai menerpa dari segala penjuru. Membuat idealisme seperti barang tertawaan. Seperti yang dialami Everdine Kareen Spinoza, pengacara yang memperjuangkan nasib kliennya, Rinnah van de Brand yang ingin mendapatkan hak pengasuhan anaknya, meski ia hanya seorang nyai Belanda.

Sekar dan Everdine, di tengah perjuangannya melawan sistem hukum yang tak berpihak pada kaum inlander, harus pula memperjuangkan arti sebuah kesetiaan. Karena, cinta sejati memang begitu sulit diejawantahkan. Apakah Sekar, Everdine, dan yang lain berhasil meramu sebuah de liefde, cinta yang menginspirasi perjuangan mereka?

Dan, siapakah sebenarnya keluarga Van de Brand itu? Mengapa di satu sisi Richard van de Brand menjadi salah seorang yang sangat berkuasa di Hindia Belanda dan memiliki peluang menjadi gubernur jenderal, bahkan perdana menteri, namun di sisi lain ada Daalen van de Brand, kakaknya yang tergolek sebagai pecandu narkotika di salah satu kamar sempit di Rumah Bordir de Lente? Mengapa kakak-beradik yang sejak muda bermusuhan itu menempuh jalan hidup yang begitu berbeda? Dan apa hubungan mereka dengan Rinnah van de Brand yang gila dengan Roesmini van de Brand yang menjadi pelacur?
**

Fiuuh, membaca novel kedua dari tetralogi De Winst ini sangat menguras emosi. Ada terlalu banyak konflik yang tertera di sana. Meskipun judul kecil dari De Liefde ini adalah Memoar Sekar Prembajoen,  namun ada juga banyak cerita tentang kehidupan tokoh yang lain seperti Everdine dan Roesmini. Sedangkan tokoh utama dalam novel De Winst, Rangga Poeroehita, tidak diceritakan dalam buku ini.

Ada beberapa tokoh baru yang muncul dalam novel ini, seperti keluarga Van de Brand, John Piere Grijns, Garendi, dan Sophie. Secara pribadi aku menyukai tokoh baru yang bernama Joedhistira. Kehadirannya seperti jagoan-jagoan dalam film thriller.

Dalam novel ini terjawab rasa penasaranku tentang bagaimana reaksi ibunda Rangga ketika mengetahui suaminya memiliki anak di luar nikah. Meski bukan reaksi langsung, karena yang tertulis dalam novel ini adalah sang bunda memilih untuk merawat Pratiwi yang masih belum pulih total dari sakitnya. Entah karena kebesaran hati sang ibu atau karena rasa kesepian semenjak ditinggal meninggal sang suami dan Rangga, sehingga beliau memutuskan untuk hidup bersama anak tirinya tersebut di keraton.

Tema, setting, gaya penulisan, dan hal-hal teknis lainnya de Liefde masih sama dengan de Winst. Termasuk ketidkhadiran catatan kaki untuk istilah-istilah asing, seperti Tweede Kamer, ziekenhuis, dan ledhek. Namun perbedaan yang mencolok dari novel dengan tebal 454 halaman ini menurutku ada pada nuansanya. Nuansa cinta menghiasi hampir sebagian besar bagian dari novel ini. Nuansa cinta yang menggema dalam bilik-bilik hati para tokoh, pada Sekar, pada Joedhistira, pada Everdine, pada Garendi, pada Sophie, dan yang lainnya. Mungkin karena itulah novel ini berjudul de Liefde; cinta.

Thursday, November 27, 2014

Apa Kabar Masa Lalu?

Masih dalam suasana berduka -karena tidak bisa lulus sesuai target, aku ingin berjalan-jalan ke masa laluku. Tepatnya masa-masa ketika SMA.

Aku merasa masa-masa SMAku penuh tekanan. Ada terlalu banyak tugas sekolah yang tak bisa kuabaikan. Hari-hariku dijejali dengan berbagai macam ilmu pengetahuan sejak kelas X. Satu tingkat setelahnya, pelajaranku mulai berfokus pada lingkaran science. Bukannya lebih mudah, malah semakin rusuh. Catatan terjelek yang kuingat, aku pernah remedial matematika pada Bab Peluang dan dapat angka merah untuk pelajaran fisika yang membahas tentang gelombang.

Karena pada dasarnya hatiku rapuh, hal-hal semacam itu bisa membuatku terpukul. Tak ada yang bisa kulakukan untuk menghindari hal tersebut kembali terjadi selain mempelajari benar-benar tentang pembahasan yang terkadang ingin membuatku muntah. Belum lagi jika teringat kalau harus "bersaing" dengan teman-teman di kelas yang notabene pelajar-pelajar terpilih karena berhasil masuk SMA terfavorit di kabupaten.

ryo-internisti.blogspot.com

Dari 24 jam sehari, waktu terbanyak kuhabiskan untuk meladeni tugas-tugas sekolah dan menyerap materinya. Jam 7 pagi aku berangkat dan pulang jam 2 siang. Belum lagi kalau misalnya sore ada ekskul, aku memilih sekalian tak pulang karena jarak rumahku dari sekolah memakan waktu setengah jam di perjalanan. Menjelang UN, tekanan akademik semakin menggila. Aku harus les selesai jam pelajatan sekolah. Jadilah aku pulang maghrib dan kembali berangkat besok paginya. Rumah hanya menjadi tempat singgah untuk tidur dan makan malam.

Jika dihubungkan dengan keadaanku sekarang, pressure masa-masa sekolah tersebut kecil saja. Mungkin sama kadarnya saat-saat aku menjalani semester 1-6. Kuliah-praktikum-organisasi-laporan-UAS-LPJ. Waktu 24 jam sehari rasanya kurang.

Puncak dari semua-semuanya itu ya ketika aku mulai mengambil mata kuliah skripsi. Tekanan tidak hanya datang dari dalam, tapi juga dari luar. Tidak hanya "menderita" fisik, tapi juga batin. Bukan hanya harus tahan raga, tapi juga harus kuat mental. Setidaknya, kunci yang harus dipegang ketika berada di posisiku sekarang adalah sabar.

Sepertinya masa lalu yang berat telah disiapkan Allah untukku agar tidak terlalu kaget menghadapi hari ini. Terima kasih masa lalu, kau membuatku sekuat ini.

Wednesday, November 26, 2014

Apa Kabar Masa Depan? II

Dear masa depan,

Sekarang tanggal 26 November 2014, pukul 21.30 WITA. Aku merasa sendirian dan sepi, sehingga ingin menyuratimu.

Apa kabar aku di masa depan? Sekarang usiaku 22 tahun 8 bulan 20 hari. Hari-hariku disibukkan oleh skripsi. Hal ini sudah terjadi sejak April 2013 lalu. Hei, sudah satu setengah tahun ya?

Kabar baiknya, sekarang aku sudah menikah. Tepat satu bulan yang lalu, aku menikah dengan seorang lelaki yang penyabar dan penyayang. Meski satu minggu setelah hari pernikahan, aku harus kembali lagi menjalani rutinitas bersama skripsi. Meski juga sebenarnya target waktu menikahku adalah setelah lulus kuliah. Tapi apa daya, target kelulusanku selalu meleset. Oktober 2014 merupakan final dari toleransi targetku. Ketika akhirnya belum lulus juga, dengan berhusnuzan aku mantap untuk menikah sekarang.

Lagipula siapa yang bisa menjamin aku bisa lulus sebentar lagi? Sekarang saja, sepertinya aku terancam gagal ikut wisuda yang akan datang, Februari 2015. Deadline waktu sidang dari sekarang sangat mepet, sedangkan progress naskahku selambat siput. Tiga sahabat dekatku dapat dipastikan bisa mengikuti wisuda tersebut. Sempurna sudah kesedihanku. Apa aku punya pilihan lain, selain bertahan?

Kamu pasti penasaran apa gerangan yang memperlambat jalanku menuju sarjana. Kamu boleh berpikir apa pun, tapi yang jelas aku menolak untuk mengakui kalau yang kau tuduhkan keterlambatan ini karena kemalasanku. Aku hadir 5 hari seminggu di lab. Itu cukup menjelaskan kalau aku tak ingin berlama-lama menjadi mahasiswa angkatan tua. Selain itu, aku juga tak terima kalau dibilang kuliah lama sekali. Aku kuliah hanya 7 semester, sisanya hingga sekarang kuhabiskan untuk berkutat dengan makhluk 6 sks bernama skripsi ini.

Well masa depan, jika di sana nanti aku mengeluh karena sesuatu ingatkan aku kalau aku pernah menghadapi ujian hebat seperti ini. Cobaan yang bukan hanya menyedihkanku, tapi juga orang-orang di sekitarku. Jika aku berhasil melewatinya, bukan tak mungkin aku juga cukup kuat untuk menghadapi ujian-ujian yang lain.


Seandainya pula di masa depan nanti aku mendapat berkah berlimpah, juga ingatkan aku untuk selalu bersyukur. Bahwa kenikmatan tersebut tak mungkin tiba dengan suka rela. Mungkin saja ia hadir sebagai ganti dari kesedihan yang kualami sekarang.

Masa depan, sungguh aku penasaran denganmu di sana. Meski begitu, keinginan untuk mengetahui keadaanmu tetap tak bisa dikalahkan oleh keinginanku untuk tetap kuat berada di jalan yang seolah tak berujung ini.

Monday, November 24, 2014

Apa Kabar Masa Depan?

Kehidupan macam apa yang menanti kita di masa depan?

Pertanyaan tersebut kuajukan pada sahabat-sahabatku pada suatu kesempatan. Aku dan mereka sama-sama mengangkat bahu untuk menjawab pertanyaan tersebut. Bagaimana tidak, untuk kejadian satu hari ke depan pun sama sekali tidak bisa diprediksi 100% ketepatannya.


Pertanyaan tersebut terlontar karena kita sedang berada di ambang pintu keluar dari dunia kampus ke dunia nyata. Masing-masing dari kita penasaran dengan kehidupan seperti apa yang akan kita jalani di masa depan.
Aku pribadi sangat sangat sangat penasaran dengan Rindang 5 tahun ke depan. Bagaimana tidak, dengan segala kesulitan yang terjadi padaku sekarang (terutama mengenai skripsiku), aku curiga Allah akan memberikan kejutan yang sangat besar di depan nanti. Aku sih berharapnya kejutan tersebut berupa kebahagiaan. Karena bukankah setelah kesulitan terdapat kemudahan?

Meski begitu, pikiran suuzhonku juga ikut bereaksi tentang kira-mengira ini. Mungkin saja Allah akan memberikanku kesulitan yang lebih besar dari ini. Kesulitan sekarang merupakan bentuk latihan agar aku tidak kaget saat di "medan perang" nanti. Apa pun itu, aku selalu percaya apa yang terjadi adalah yang terbaik.

Demi apa pun yang paling kuinginkan di dunia ini, aku tak akan menukar hidupku dengan kehidupan orang lain yang mungkin terlihat lebih mujur dariku. Seperti yang pernah kukatakan, setiap orang membawa kehidupannya masing-masing. Berbahagialah dengan apa pun yang kamu punya sekarang ini. Masa depan? Mari kita bersabar untuk menunggu kedatangnnya.

Saturday, November 22, 2014

Dilema si Kurus

Berat badanku sebenarnya ideal saja kalau dibandingkan dengan tinggi badanku. Tapi dari penampilan aku terlihat kurus (sekali) kata teman-teman. Hiks. Sampai Maya (sepupuku umur 4 tahun) bilang, coba ka Rindang makan banyak-banyak supaya bisa gemuk. Wkwk. Rata-rata sih di keluargaku, anak-anak perempuannya bongsor semua. Aku saja yang terlihat agak kerempeng.

Tidak minder sih aku. Tapi kadang ngenes juga lihat tubuh sendiri di cermin. Kayak anak kurang gizi. Aku bilang masih sekolah SMA pun kayaknya bakal ada yang percaya. Di sisi lain aku merasa cukup beruntung, tidak terlalu pusing mikir untuk menurunkan berat badan. Secara topik obrolan teman-temanku tidak jauh dari diet dan pola hidup sehat karena menurut mereka gemuk itu memperburuk penampilan. Hihi.

Sadar aja sih aku, faktor utama badan kurusku adalah selera makanku yang kurang. Bagaimana ya, sejak kecil aku memang tak suka makan apalagi dengan porsi banyak. Terkadang waktu makan bisa menjadi siksaan tersendiri buatku. Meski begitu aku selalu berusaha untuk makan teratur. Bukan untuk menambah berat badan, tapi untuk menghindari penyakit maag yang jamak menyerang mahasiswa.

Sekarang targetku sih naikin berat badan sekitar 5 kg. Whoho. Semangat!

Thursday, November 20, 2014

Membangkitkan Idealisme Lewat Novel

Judul : De Winst
Penulis : Afifah Afra
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Tahun terbit : 2008
Usai menamatkan sarjana ekonomi dari Universiteit Leiden, RM Rangga Puruhita kembali ke Hindia Belanda, untuk mempraktekkan ilmu yang ia miliki demi kemajuan para pribumi. Akan tetapi, berbagai hal pelik harus ia hadapi. Mulai dari perjodohan paksa dengan Rr. Sekar Prembayun yang sulit ia lepaskan, hingga permasalahan ketidakadilan yang dialami para buruh pabrik gula yang digaji sangat rendah. Haru biru cintanya dengan Everdine Kareen Spinoza, seorang Belanda totok pun ternyata terancam kandas.

Lantas, muncul Kresna, pemuda misterius yang mengaku kekasih Rr. Sekar Prembayun. Dengan sikapnya yang berandalan dan cenderung kurang ajar, Kresna justru memprovokasi Rangga untuk bangkit melawan imperialisme Belanda. Bersentuhan ideologis dengan Kresna dan Sekar Prembayun, ternyata justru memunculkan benih-benih simpati Rangga kepada perempuan yang telah dijodohkan dengannya sejak kecil itu. Akankah Rangga memilih Sekar Prembayun sebagai pasangan hidupnya? Lantas, bagaimana dengan Everdine Kareen Spinoza? Apakah Rangga juga harus mengkhianati Kresna?
***

Ini adalah salah satu novel sejarah yang aku tak bosan membacanya. Bagaimana tidak, jalinan ceritanya seperti nyata, paduan yang apik antara fakta sejarah dan imajinasi penulis. Itu adalah salah satu kekuatan novel ini menurutku, penulis mampu meyakinkan pembaca bahwa cerita dalam novel ini sungguh terjadi. Seakan penulis memang pernah hidup di di zaman pra-kemerdekaan, setting waktu dalam novel ini.

Dengan tebal buku 336 halaman, penulis mampu merangkum peristiwa-peristiwa penting sekitar tahun 1930-1931 dengan Surakarta sebagai daerah yang paling mendominasi setting tempat dalam novel ini. Selain itu, selipan silsilah  keluarga kerajaan di Jawa yang sedang berkuasa saat itu juga merupakan informasi yang memperkaya wawasan sejarahku. Latar belakang penulis yang memang menyukai sejarah sepertinya ikut mewarnai novel ini. Kelihatan sekali novel ini ditulis dengan sepenuh hati.

Tema utama novel De Winst ini adalah tentang bagaimana keadaan Indonesia ketika Belanda berkuasa. Di novel ini digambarkan bagaimana sikap penjajah Belanda yang semena-mena dengan inlander –warga negara Indonesia yang dulunya bernama Hindia Belanda. Sikap para nederlander –warga negara Belanda, ini terutama sangat terlihat pada bumiputera yang miskin dan berpendidikan. Bahkan pada anak bangsawan atau pun para bumiputera yang berhasil sekolah, Belanda tetap menganggap bahwa inlander adalah warga golongan kelas tiga di dunia.

Amanat terselip yang ingin disampaikan penulis yaitu bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak terletak pada kekayaan sumber daya alam, tetapi terletak pada pendidikan yang maju. Selain itu, kegigihan para pejuang Indonesia pada masa penjajahan harus kita hargai. Besar sekali risiko yang mereka hadapi untuk mendapatkan kemerdekaan, diantaranya adalah dibuang ke pulau terpencil yang masih terisolir dengan dunia luar. Tidak salah sepertinya jika novel ini disebut sebagai novel pembangkit idealisme.

Namun melihat cita-cita yang sangat mulia dari para pendahulu kita, aku jadi risih sendiri. Pemuda zaman sekarang jangankan memperjuangkan nasib bangsa, yang peduli dengan lingkungan sekitar saja masih sedikit. Mereka (atau mungkin termasuk aku?) terlalu sibuk dengan dunia mereka sendiri. Hiks.

Cara penyampaian penulis yang mengalir membuat pembaca sangat menikmati novel ini Dibandingkan dengan novel sejarah yang pernah kubaca sebelumnya, seperti Mei Hwa dan Adriana, novel ini jelas lebih berat. Diperlukan riset yang tidak sembarangan untuk membangun setting yang bisa “dipercayai” pembaca seperti pada novel ini. Tidak heran jika novel ini disebut sebagai karya terbaik dari seorang Afifah Afra.

Kekurangan dari novel ini menurutku ada pada karakter Sekar dan Kresna. Bahwa mereka berdua adalah satu orang sudah terbaca sejak awal. Sehingga efek surprisenya tidak terasa ketika Sekar mengaku bahwa ia adalah Kresna. Kalimat yang membuatku langsung curiga terdapat pada halaman 51. Ada sedikit senyum congkak di sudut bibirnya yang indah –terlalu indah untuk seorang lelaki. Kalimat yang sama pun diulang kembali pada halaman 68. Tawa Rangga hampir meledak mendengar sapaan “anak muda” yang keluar dari bibir indah –terlalu indah untuk seorang laki-laki itu. “Petunjuk-petunjuk” yang lain juga terdapat di beberapa bab yang lain. Sayangnya juga setelah pengakuan Sekar, tidak dijelaskan meskipun sekilas bagaimana caranya Sekar yang dijaga ketat dalam keraton bisa seenak jidatnya beralih peran sebagai Kresna yang berkeliaran dengan santai.

Selain itu, dari segi cerita menurutku ada yang terlewat, yaitu bagaimana reaksi Ibunda Rangga yang mengetahui ternyata suaminya, KGPH Suryanegara, yang ia sangka setia tersebut ternyata mempunyai seorang anak –haram, dengan wanita lain. Keputusan Rangga untuk menikah dengan Kareen Spinoza juga cukup mengejutkan bagiku. Terlalu cepat.

Kekurangan teknis dari novel ini -yang kubaca terletak pada halaman peralihan antara halaman 73 dan 74. Ada kata atau kalimat yang hilang. Hal ini mungkin dikarenakan adanya penempatan foto yang ada di halaman 73. Well, meskipun ini hanya masalah tata letak tapi tetap mengganggu karena ada sedikit informasi yang terlewat. Beruntung, bagian yang terkena bukan bagian inti dari bab tersebut.

Oya, dari tata bahasa novel ini cukup banyak memuat istilah-istilah asing terutama dari Bahasa Belanda dan juga istilah-istilah dalam Bahasa Jawa. Kekurangan novel ini, tidak adanya catatan kaki tentang arti kata-kata tersebut pada kemunculan pertamanya dalam teks. Meskipun kalau dihubungkan dengan konteks, arti kata-kata tersebut sedikit-sedikit bisa dipahami.

Wednesday, November 19, 2014

Silent Killer

Berdasarkan pengalaman pribadi dan orang-orang di sekitar, aku menyimpulkan bahwa kesepian merupakan sebuah silent killer. Kesepian membuat seseorang tidak bersemangat dalam menjalani kehidupan. Sehingga jika bukan dalam arti sebenarnya, kematian juga akan datang pada hati orang yang kesepian.

hamzahankgis.wordpress.com
Bagaimana pun introvertnya seseorang, dia pasti tetap membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Sisi sosial kita membutuhkan hubungan-hubungan emosional dengan orang-orang di sekitar kita. Jika tidak terpenuhi, inilah yang berbahaya. Kesepian akan membunuh kita.

Betapa pun melimpahnya fasilitas kehidupan di sekitar kita, semua tak akan berarti tanpa kehadiran orang-orang yang kita sayang. Aku sendiri salut dengan orang yang hidup sebatang kara -tanpa keluarga, namun tetap eksis menjalani kehidupan dengan menjalin relationship yang baik dengan orang-orang di sekitar.

Kesepian itu bukan takdir. Bahkan jika kita tak punya siapa-siapa dalam hidup, kita masih tetap punya kesempatan untuk memilih orang(-orang) yang kita sayang untuk menemani sisa usia kita.

Wednesday, November 12, 2014

Rahasia Menjadi Bunda Bahagia

Judul: Happy Mom
Penulis: Fita Chakra
Penerbit: Gramedia
Tahun terbit: 2011
Kebahagiaan menjadi seorang ibu memang sebanding dengan kerepotan yang menyertainya. Begitu banyak tugas yang harus diselesaikan, begitu banyak masalah yang harus dihadapi, tapi begitu sedikit waktu dan dukungan yang didapat. Akibatnya, Bunda menjadi kelelahan, stress, dan tidak bahagia.

Bisakah Bunda berbahagia menjalani peran sebagai ibu? Bisakah Bunda terbebas dari stres? Bisakah Bunda kembali memiliki diri Bunda seperti dulu ketika belum direpotkan dengan urusan anak-anak dan rumah tangga?

Tentu saja bisa, Bunda. Buku ini akan mengajak Bunda menemukan kebahagiaan sebagai seorang ibu. Tips-tips dan ide-ide yang disajikan dalam buku ini dapat Bunda aplikasikan dengan mudah. Nah tunggu apa lagi, jadilah bunda yang berbahagia. Be a happy mom.
**

Ketika membeli buku ini aku sedikit ragu, apakah buku ini akan mudah kupahami dan menyenangkan ketika kubaca? Ternyata, satu bab, dua bab, tiga bab kubaca dengan cepat. Bab-bab selanjutnya sampai akhir kulahap dengan nikmat. Meskipun belum relevan dengan keadaanku saat ini -aku belum menjadi seorang ibu, tapi ternyata isi buku yang dibahas sangat menarik bagiku.

Di bagian awal, diceritakan bahwa menjadi seorang ibu itu sangat bahagia. Namun, ini sering terjadi hanya di awal. Pada fase selanjutnya, yang ada ibu tidak bisa lagi menikmati waktunya sendiri karena lebih sibuk memperhatikan anak(-anak). Belum lagi repotnya pekerjaan rumah tangga, membuat kebahagiaan ibu sepertinya hanya bersifat semu.

Di bagian selanjutnya dipaparkan apa-apa saja masalah yang menghinggapi seorang ibu, termasuk di dalamnya adalah terlalu banyak pekerjaan yang harus dikerjakan dalam waktu yang terbatas. Bisa dibayangkan ya bagaimana repotnya menjadi ibu yang tidak mempunyai asisten rumah tangga atau baby sitter, ditambah pula suami tidak membantu meringankan beban misalnya. Selain kerikil-kerikil tersebut, dalam buku ini juga disebutkan apa saja yang dibutuhkan oleh seorang ibu untuk menenangkan diri. Ada tiga hal, yaitu waktu untuk sendiri, kegiatan lain sebagai sarana aktualisasi diri, dan perasaan dicintai dan dihargai.

Pada bab selanjutnya yang berjudul Menjalin Hubungan yang Hangat dipaparkan bagaimana seorang ibu bisa menjadi supermom yang disayangi oleh anak-anak dan dicintai oleh suami. Satu cara yang baru kuketahui adalah one-on-one time, yaitu menyediakan waktu khusus untuk setiap anak. Cara ini adalah cara untuk mengatasi kecemburuan anak terhadap anak lainnya, jika ibu memiliki lebih dari satu anak. Menurutku cara ini cukup efektif untuk mendekatkan ibu dan anak, sekaligus mencegah kecemburuan tersebut terjadi.

Jalan menuju kebahagiaan dibahas pada bab selanjutnya. Ada lima cara untuk mencapai kebahagiaan seorang ibu, yaitu menajemen waktu, mengelola stres, menjadwalkan waktu me-time, menumbuhkan kepercayaan diri, dan biarkan diri ketika merasa lelah.

Pada bagian akhir yang berjudul Memeluk Kebahagiaan, ada beberapa poin yang kugarisbawahi.

Kebahagiaan itu ada dalam diri sendiri. Bahagia itu tergantung pada persepsi setiap orang. Kebahagiaan sejati itu ada dalam syukur dan doa.

Asli, aku jadi berasa lapang setelah membaca buku ini. Setidaknya, belum menjadi ibu pun kehidupan zaman sekarang yang dinamis memang menuntut kita harus menciptakan kebahagiaan dari dalam diri sendiri baru selanjutnya menularkannya ke orang lain.

Tuesday, November 11, 2014

Kado Ulang Tahun untuk Suamiku

Dear tata,

Selamat ulang tahun :* 

Tak ada kado istimewa yang bisa kutemukan untukmu lebih spesial dari ini. Sebuah catatan. Ya, sebuah tulisan. Kamu tak akan menemukan kado ini di toko manapun, karena aku khusus membuatnya untukmu.

Aku tahu, kamu akan berkata bahwa tahun ini kado ulang tahun terindah adalah hadirnya aku dalam hidupmu. Abaikan, kalau aku terlalu geer. Setidaknya dengan mengatakan begitu, berarti aku yakin dengan besarnya rasa cintamu padaku.

Tanyakan sekali lagi, apakah aku juga mencintaimu? Jawabannya, sangat. Aku jatuh cinta berkali-kali padamu di awal pernikahan kita. Serius. Akad yang kau ikrarkan di hadapan penghulu 19 hari yang lalu mampu membuatku luluh. Janji suci tersebut juga otomatis menjadi pengunci hatiku untuk cerita-cerita dari masa lalu. You're the one.

Sejak aku mengenalmu sewindu yang lalu, aku tahu kita sangat berbeda. Kontradiktif. Aku tak pandai mengontrol emosi, kamu begitu penyabar. Kamu sosialis, aku individualis. Aku introvert, kamu ekstrovert. Kamu supel, aku kaku. Aku seriusan, kamu humoris. Bahkan hingga sekarang, hitam-putih itu masih ada. Beruntungnya kita, perasaan 'ajaib' itu menambal gap antara kita.

Kamu boleh bilang perasaan itu cinta. Tapi bagiku yang pemikir ini, butuh waktu (sangat) lama untuk memastikan itu. Dulunya, kupikir perasaan ini sementara saja. Pun kurasa, ini hanya sekedar kekaguman junior terhadap senior. Setelah menikah, aku menyadari ternyata ini bukan sekedar cinta. Tapi juga komplikasi seluruh perasaan bahagia yang kupunya; sayang, rindu, damai, tenang.

Hampir tiga minggu usia pernikahan kita sekarang, kupikir aku masih perlu banyak belajar untuk menjadi istri yang baik. Lagipula sepertinya waktu 1 minggu bersama, jauh dari cukup untuk merangkum seluruh tentangmu (juga tentangku). Ada masih banyak sisi masing-masing dari kita yang harus dipahami dengan bersama. Namun untuk sementara, biarlah jarak berkuasa atas segala investasi rindu kita. Kesabaran pasti akan berbuah manis.

Jangan terkejut jika di tengah-tengah perjalanan nanti kamu menemukan sisi diriku yang lain. Seperti yang pernah kamu bilang, sepertinya aku berbakat menjadi bunglon. Berubah 'warna' kapan pun aku suka. Beberapa hal yang random juga sulit dipahami di balik sifatku yang orderly. Yang jelas, aku yang selama ini kamu kenal bukanlah 'pencitraan'. Hanya, karena memang aku tak mungkin menggambarkan siapa aku sama jelasnya dengan ketika kau melihatnya langsung.

Meskipun kita pernah berkata bahwa akan menerima apa adanya tentang masing-masing kita. Aku tak ragu jika aku aku harus 'berubah' untuk menyenangkanmu. Siapa lagi yang bisa kubuat bahagia dengan balasan surga, selain kamu imamku? Bahkan menurut syara, prioritasku terhadapmu lebih tinggi dari pada prioritasku terhadap ayah-ibuku.

Kanda, mungkin saat ini kamu terlelap dengan tubuh yang letih karena seharian bekerja. Semoga ketika fajar membangunkanmu, badanmu akan kembali segar. Baca kado ini pagi-pagi dan bawa semangatnya hingga malam kembali.

Love you

Rindang

Tuesday, November 4, 2014

2 0 1 4

Alhamdulillah, akhirnya aku bisa ngeblog lagi.  Ada terlalu banyak cerita yang kalian lewatkan tentangku. Hehe. Yang paling hits tentu saja adalah cerita tentang pernikahanku.


Tanggal 24 Oktober lalu aku resmi menjadi seorang Mrs. Tony. Alhamdulillah, halal. Tahun 2014 sepertinya memang tahun sakral bagiku. Lihat saja, tanggal pernikahanku pun terdiri dari unsur-unsur tahun tersebut, 24-10-2014.

Friday, October 31, 2014

Doa-doa untuk Pengantin

Judul : Doa-Doa untuk Pengantin
Penulis : Sita Simpati
Penerbit : Mizania
Tahun terbit : 2012
Selain buku Sebelum Aku Menjadi Istrimu, buku ini juga merupakan salah satu buku penuntunku menuju ke jenjang pernikahan. Ada banyak hal yang dibahas dalam buku ini, dari kiat menemukan pasangan hidup terbaik, tuntunan menjalani proses pernikahan yang halal dan berkah, sampai doa-doa untuk suami istri dalam menjalani pernikahan.Intinya buku ini bertujuan agar kita bisa membangun keluarga yang sakinah di dunia dan bahagia di akhirat.

Di bab pertama, yang berjudul Karena Aku Ingin Bahagia dipaparkan penjelasan bahwa menikah itu merupakan ibadah yang sangat tinggi nilainya. Ada banyak alasan mengapa kita harus menikah, antara lain karena menikah adalah separuh dari agama, menikah dapat menjauhkan kita dari buasnya nafsu syahwat, derajat orang yang menikah lebih tinggi daripada orang, menikah juga merupakan salah satu jalan agar Allah memberikan pertolongan, di setiap detik pasangan yang menikah bernilai ibadah jika diniatkan dan dilakukan dengan benar, menikah juga merupakan kunci untuk membuka pintu surga, menikah merupakan salah satu cara berjihad di jalan Allah, serta menikah merupakan jalan untuk mendapatkan limpahan rezeki.

Friday, October 17, 2014

Super Bride yang Mengalahkan Bidadari Surga

Judul : Sebelum Aku Menjadi Istrimu
Penulis : Deasylawati P.
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Tahun terbit : 2013
Buku ini merupakan salah satu buku yang kubaca sebagai “bekal” pernikahanku. Menurutku isinya lumayan lengkap, karena beberapa hal yang berhubungan dengan persiapan sebelum pernikahan, saat pernikahan, dan pasca pernikahan dibahas dalam buku ini. Termasuk serba-serbi kehamilan dan bagaimana cara mengasuh anak.

Pada bagian awal buku ini menjelaskan bagaimana caranya agar kita bisa bersaing dengan bidadari. Ya, bidadari surga yang akan merebut suami-suami saleh kita di akhirat nanti. Kita bisa saja mengalahkan mereka dalam "persaingan" merebut lelaki saleh di surga nanti jika kita bertakwa pada Allah dan taat pada suami kita saat di dunia. Gak kebayang kan betapa indahnya kalau kita bisa terus bersama dengan suami yang kita cinta di dunia dan di akhirat. Di bab selanjutnya, buku ini juga menegaskan bahwa lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik. Jika ingin mendapatkan pasangan hidup yang baik, maka kita perlu memperbaiki diri kita terlebih dahulu.

Di bab selanjutnya yang berjudul Ilmu Sebelum Amal dituliskan hal-hal apa saja yang perlu diketahui sebelum menjalani pernikahan. Seperti ilmu tentang pernikahan, ilmu manajemen keuangan buat calon istri, ilmu tentang bagaimana memahami kepribadian pasangan, ilmu tentang kehamilan, persalinan, dan menyusui, ilmu pendidikan anak, serta ilmu gizi. Whuaaa, keren kan? Pembahasan masing-masing ilmu tersebut cukup singkat tapi lengkap dan padat.

Lalu penulis juga mengajak kita para calon istri untuk siap-siap action. Ya, ilmu tanpa amal kan percuma. Action yang pertama adalah menyiapkan mental kita. Dalam pernikahan, kita dituntut dewasa dalam menjalani kehiduapan. So, persiapan mental sangat penting. Apalagi perubahan status dari seorang gadis menjadi seorang nyonya itu bukan perkara sepele. Selanjutnya adalah persiapan fisik. Yup, untuk menghadapi hari H kamu harus mempunyai fisik yang prima. Kebayang dong saat resepsi kita harus full tampil ekstra menarik dan murah senyum melayani tamu-tamu yang datang. Jangan sampai kita jatuh sakit. Malah kasihan keluarga yang menyiapkan segala sesuatunya.

Di bab lima, terdapat penjelasan tentang latihan-latihan penunjang yang harus dilakukan calon istri sebelum menghadapi pernikahan. Contohnya nih kita harus bisa beres-beres rumah, memasak, mengasuh anak, dan jahit menjahit. Di akhir bab, penulis mengajak kita untuk meluruskan niat agar kita menjadi super bride yang didambakan oleh para lelaki saleh.

Hal yang kusuka dari buku ini adalah pembahasannya yang teknis sehingga bisa diaplikasikan langsung dalam keseharian kita. Selain itu, bahasa yang digunakan penulis juga cenderung rame sehingga tidak membuat bosan pembaca.

Sejauh ini menurut seleraku, buku ini masih tanpa kekurangan. Jadi, aku tak segan untuk merekomendasikan buku ini agar dibaca oleh kamu-kamu yang bersiap melaksanakan separuh diennya. Ayo baca buku ini!


Monday, October 13, 2014

Sekaca Cempaka

Dua bulan yang lalu (hiks, late post banget ya), aku mengikuti diskusi novel karya Nailiya Nikmah yang berjudul Sekaca Cempaka. Sampai sekarang, aku belum baca novelnya sih. Tapi dari diskusi tersebut aku tahu inti cerita dalam novelnya.

Ada dua orang yang pernah menjalin hubungan percintaan, kemudian sama-sama menikah dengan orang lain. Di suatu ketika, setelah beberapa tahun umur perkawinan mereka masing-masing, si tokoh perempuan menemukan sebotol bunga cempaka di gudang rumahnya. Ia ingat yang memberikan sekaca cempaka tersebut adalah seorang "mantan"nya yang kini juga sudah menikah. Entah apa gerangan, kenang-kenangan tersebut membuatnya risau bermalam-malam. Dengan kebetulan yang sedemikian rupa, ia pun akhirnya bertemu dengan lelaki masa lalunya tersebut yang juga memiliki sekaca cempaka yang lain, pasangannya. 

Hubungan nostalgia pun terjadi, membuat rumah tangga kedua belah pihak terancam kandas. Apakah sepasang cempaka mempunyai nilai mistis serupa guna-guna? Dengan berbagai jalinan cerita akhirnya, kata yang pernah membaca, novel ini berakhir dengan win-win solution.

Sekaca Cempaka sendiri dalam kultur orang Banjar merupakan bunga cempaka yang dimasukkan dalam botol kaca yang berisi cairan-entah-apa, yang jelas bunga cempaka tersebut menjadi awet meskipun bertahun-tahun berlalu. Mitosnya, pasangan yang memegang sepasang cempaka ini hubungannya juga akan awet seawet cempaka dalam botol.

Novel ini berlatar belakang budaya Banjar, sehingga pantaslah jika menjadi pemenang lomba novel di Aruh Sastra -event sastra tahunan di Kalimantan Selatan. Selain itu, latar belakang penulis yang orang pahuluan asli juga menjadikan novel ini sangat kental dengan budaya Banjar.

Di diskusinya sendiri yang lebih banyak dibahas adalah bagaimana patriarki dalam kehidupan masyarakat Banjar. Novel ini -katanya, mencoba menentang "kebiasaan" orang Banjar yang biasanya perempuan yang nrimo, dalam novel ini perempuannya yang berselingkuh.


Aku sendiri berpendapat, meskipun belum membaca, novel ini cukup keren. Dengan setting tempat dan budaya di tempat sendiri, bukan tidak mungkin memperkaya khazanah wawasan pembaca bahkan untuk orang Banjar sepertiku yang mungkin tidak tahu detail budaya Banjar yang kaya.

Sunday, October 12, 2014

Bagaimana Hidupku Tanpa Internet?

Jangan tanya tanpa internet, jaringan internet lelet saja bisa membuatku badmood. Heuu. Nggak kebayang deh kalau beberapa bulan ke depan aku bakal lulus dan balik ke kampung halaman. Tahu sendirilah, sinyal di kampung tak ada sama sekali untuk kartu seluler yang kugunakan internetan. Untuk kartu yang kugunakan untuk telpon-sms saja byar pet.

Padahal aku bukan termasuk yang kecanduan internetan. Aku menggunakan internetan untuk hal-hal yang lebih penting dari sekedar sosmed-an. Jadwal internetanku pun tidak 24 jam sehari, hanya pada waktu-waktu tertentu. Tapi mengapa aku bisa menjadi badmoood kalau koneksi internet lelet, karena yang kuakses biasanya memang penting. Tahu sendirilah, di zaman sekarang internet sudah menjadi kebutuhan primer.

Kalau kamu bagaimana?

Thursday, October 9, 2014

Bedah Tikus


Tikus putih pada gambar di atas adalah objek observasi penelitian teman-temanku. Sebelumnya pada praktikum Struktur dan Perkembangan Hewan kami juga sudah pernah melakukan pembedahan mencit.

Pembedahan ini bertujuan untuk melihat secara utuh organ-organ dalam tikus/mencit, seperti hati, paru-paru, dan jantung. Tikus atau mencit yang digunakan berfungsi sebagai gambaran umum mamalia, khususnya manusia. Penelitian yang menggunakan tikus atau mencit biasanya adalah penelitian yang menguji-coba suatu senyawa atau obat-obatan apakah dapat bermanfaat atau bisa merusak organ dalam tubuh hewan. Ketika senyawa tersebut berpengaruh pada mencit, maka diasumsikan senyawa tersebut juga memiliki pengaruh yang sama pada organ tubuh manusia.

Gak kebayang kan kalau kita ingin meneliti kerusakan yang diakibatkan rokok pada hati manusia misalnya, kita menggunakan hati manusia beneran. Dalam kurun waktu satu tahun penelitian saja, ada berapa banyak manusia yang dikorbankan sebagai objek. Hiiiy. Mungkin saja sih menggunakan manusia sebagai objek penelitian, tapi itu jika si manusianya memang berniat menyumbangkan tubuhnya untuk ilmu pengetahuan (seperti di novel The Lost Symbol). Lagian, proses perizinannya tentu tidak semudah donor darah. Nyawa bray.

Untuk metode pembedahannya sendiri, kita harus menggunakan peralatan bedah yang biasanya ada dalam set, termasuk di dalamnya ada gunting, pisau, pinset, dan lain-lain. Ukurannya beragam tergantung objek yang kita bedah. Memulai bedahan biasanya dari bagian tubuh ventral bawah. Pertama-tama ditusuk sedikit agar kulitnya terbuka, baru dengan perlahan digunting hingga bagian atas dan arah guntingan ke dua arah sehingga bagian dalam tubuh bisa terlihat dengan jelas. Supaya tidak merusak organ tubuh yang akan diamati, mengguntingnya harus hati-hati. Mau mencoba? Jangan lupa pakai sarung tangan ya...

Wednesday, October 8, 2014

Manusia Setengah Robot

Kali ini aku bercita-cita ingin menjadi manusia setengah robot. Bolehlah semacam doraemon, punya kantong ajaib yang dapat mengeluarkan semua benda yang dipinta oleh Nobita. Tapi kali ini aku aku hanya berharap punya pintu bahagia yang selalu bisa kubuka ketika ada yang memerlukan rasa bahagia.

moneter.co

Benar, aku ingin menjadi robot pemberi rasa bahagia bagi orang-orang di sekitarku. Mengapa hanya setengah robot? Karena setidaknya masih kusisakan setengah rasa manusiaku untuk menikmati kehidupanku sendiri. Aku sadar, sesadar-sadarnya, selama ini keputusan-keputusan yang kuambil dalam hidupku hanya berdasar pada kebahagiaanku sendiri. Saatnya memberi kebahagiaan pada orang lain.

Bismillah.

Saturday, October 4, 2014

Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman

Judul : Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman
Penulis : Afifah Afra
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Tahun terbit : 2014
Membaca judulnya, Mei Hwa, tentu kita akan mencium bau-bau chinese dalam novel ini. Apalagi ada “penampakan” lampion berwarna ungu perlambang kebangsawanan di sampulnya. Ya, Mei Hwa memang seorang gadis berdarah tionghoa. Dia memiliki keberuntungan hidup yang berlimpah. Orang tua dan saudara-saudara laki-laki yang sayang padanya, kemapanan harta keluarga, kecerdasan otak, dan kecantikan fisik yang didambakan setiap gadis pada zamannya. Sayangnya, ia hidup di zaman yang salah. Di zaman ketika etnisnya dianggap musuh oleh pribumi.

Dengan tebal 368 halaman, novel ini sangat apik merangkum cerita dan sejarah dalam rentang waktu dari tahun 1936 hingga tahun 1999. Hingga pantaslah kalau si tokoh kedua, Sekar Ayu disebut sebagai Sang Pelintas Zaman.

Ada beberapa kata yang terdengar sangat scientist dalam novel ini, seperti katarsis dan neuron. Ini mungkin dipengaruhi oleh latar belakang penulis yang latar pendidikannya juga scientist. Meskipun terkesan "maksa" untuk ukuran novel yang berbalut sejarah, istilah-istilah tersebut menjadikan ragam bahasa yang digunakan semakin kaya, karena selain nyastra juga ada banyak istilah-istilah dalam Bahasa Jawa.

Penggambaran bagaimana orang yang terganggu kejiwaannya pun menurutku digambarkan baik oleh penulis. Bagaimana ternyata orang sakit jiwa itu melihat dirinya yang bisa berubah wujud menjadi burung kutilang, elang, atau bahkan kera sakti!

Membaca novel ini perlu kefokusan yang tinggi. Karena alurnya yang cepat dan perpindahan waktu dari zaman pra-kemerdekaan ke zaman reformasi berganti-ganti pada setiap bab. Jadi berasa main lompat-waktu. Deuuh. Perjalanan ceritanya juga sangat panjang. Sampai ke Negeri Sakura segala. Kalau novel ini dijadikan film, pasti seru.

Kekurangan novel ini dari segi cerita menurutku adalah tidak diceritakannya bagaimana kabar kakek-nenek Sekar Ayu dari pihak ibunya pasca kedatangan tentara Jepang. Jika bagian ini diceritakan, kemungkinan perubahan plot bisa saja terjadi. Kehidupan Sekar Ayu mungkin tak segetir yang ada di novel ini. Hiks, *efek terlalu menghayati.

Buku ini cocok dibaca oleh orang yang suka maupun tidak suka sejarah. Melalui novel ini, sebagian pelajaran sejarah Indonesia bisa terangkum dengan baik. Entah mengapa, kebetulan aku membaca novel ini juga di rentang waktu 30 September yang notabene adalah hari G30S-PKI yang juga merupakan salah satu poros sejarah dalam novel ini.

Pesan moral yang bisa kuambil dari novel ini adalah betapa perbuatan jahat manusia bahkan belum di akhirat, di dunia pun kita sudah menerima balasannya. Meski itu dalam bentuk sebab akibat atau karma. Itu pesan terpenting novel ini menurutku, amanat-amanat lain tentunya juga banyak. Kamu harus membaca sendiri untuk mendapatkannya.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates