Menikmati Proses. Meladeni Obsesi. Mengakrabi Tuhan.

Apa Kabar Masa Lalu?

Posting Komentar
Masih dalam suasana berduka -karena tidak bisa lulus sesuai target, aku ingin berjalan-jalan ke masa laluku. Tepatnya masa-masa ketika SMA.

Aku merasa masa-masa SMAku penuh tekanan. Ada terlalu banyak tugas sekolah yang tak bisa kuabaikan. Hari-hariku dijejali dengan berbagai macam ilmu pengetahuan sejak kelas X. Satu tingkat setelahnya, pelajaranku mulai berfokus pada lingkaran science. Bukannya lebih mudah, malah semakin rusuh. Catatan terjelek yang kuingat, aku pernah remedial matematika pada Bab Peluang dan dapat angka merah untuk pelajaran fisika yang membahas tentang gelombang.

Karena pada dasarnya hatiku rapuh, hal-hal semacam itu bisa membuatku terpukul. Tak ada yang bisa kulakukan untuk menghindari hal tersebut kembali terjadi selain mempelajari benar-benar tentang pembahasan yang terkadang ingin membuatku muntah. Belum lagi jika teringat kalau harus "bersaing" dengan teman-teman di kelas yang notabene pelajar-pelajar terpilih karena berhasil masuk SMA terfavorit di kabupaten.

ryo-internisti.blogspot.com

Dari 24 jam sehari, waktu terbanyak kuhabiskan untuk meladeni tugas-tugas sekolah dan menyerap materinya. Jam 7 pagi aku berangkat dan pulang jam 2 siang. Belum lagi kalau misalnya sore ada ekskul, aku memilih sekalian tak pulang karena jarak rumahku dari sekolah memakan waktu setengah jam di perjalanan. Menjelang UN, tekanan akademik semakin menggila. Aku harus les selesai jam pelajatan sekolah. Jadilah aku pulang maghrib dan kembali berangkat besok paginya. Rumah hanya menjadi tempat singgah untuk tidur dan makan malam.

Jika dihubungkan dengan keadaanku sekarang, pressure masa-masa sekolah tersebut kecil saja. Mungkin sama kadarnya saat-saat aku menjalani semester 1-6. Kuliah-praktikum-organisasi-laporan-UAS-LPJ. Waktu 24 jam sehari rasanya kurang.

Puncak dari semua-semuanya itu ya ketika aku mulai mengambil mata kuliah skripsi. Tekanan tidak hanya datang dari dalam, tapi juga dari luar. Tidak hanya "menderita" fisik, tapi juga batin. Bukan hanya harus tahan raga, tapi juga harus kuat mental. Setidaknya, kunci yang harus dipegang ketika berada di posisiku sekarang adalah sabar.

Sepertinya masa lalu yang berat telah disiapkan Allah untukku agar tidak terlalu kaget menghadapi hari ini. Terima kasih masa lalu, kau membuatku sekuat ini.
Rindang Yuliani
Hi, I'm Rindang Yuliani. I'm a writer, a civil servant, and living in Barabai, South Borneo. I love reading and I'm interested in travelling. My first book is Escape, Please!

Related Posts

Posting Komentar