Menikmati Proses. Meladeni Obsesi. Mengakrabi Tuhan.

Konflik Itu Tidak Menakutkan

Posting Komentar

Dulu aku mengira konflik itu menakutkan. Bagiku saat itu, hubungan yang baik adalah hubungan yang minim konflik. Kalau ada ketidaknyamanan, cara paling aman adalah diam, mengalah, dan menunggu keadaan membaik dengan sendirinya.

Cara pandang itu tidak muncul begitu saja. Aku pernah berada di lingkungan yang cenderung menghindari konflik. Kalau ada masalah, sebisa mungkin tidak dibicarakan, apalagi kalau dampaknya belum terasa langsung. Masalah kecil dibiarkan. Hal yang mengganggu dipendam. Percakapan-percakapan sulit terus ditunda, kadang sampai tidak pernah benar-benar terjadi.

Tapi kalau masalah yang tidak dibicarakan sebenarnya tidak hilang, lalu apa yang sebenarnya sedang kita jaga ketika kita menghindari konflik?


Konflik mungkin sudah dimulai sebelum kita menyadarinya

Menurut Pondy (1967), konflik bukan hanya saat dua orang sudah bertengkar. Konflik bisa dipahami sebagai sebuah proses yang berkembang dari kondisi yang masih laten hingga menjadi konflik yang tampak dari kondisi yang belum disadari, kemudian dipersepsikan dan dirasakan, sampai akhirnya muncul dalam perilaku.

Jadi, masalah yang muncul tiba-tiba sebenarnya mungkin tidak benar-benar tiba-tiba. Sebelumnya mungkin sudah ada ketidaksetujuan yang tidak disampaikan, kebutuhan yang tidak tersampaikan, rasa tidak nyaman yang dibiarkan, atau masalah kecil yang terus-menerus ditumpuk. Konflik yang terlihat mungkin hanya puncak dari sesuatu yang sudah berlangsung jauh lebih lama.

Menghindari konflik ternyata tidak selalu menghilangkan konflik

Dari situ, tanpa sadar aku belajar bahwa konflik sama dengan sesuatu yang sebaiknya dihindari. Diam terasa lebih aman. Mengalah terasa lebih dewasa. Tidak membicarakan masalah terasa seperti sedang menjaga hubungan.

Tapi ada perbedaan antara menghindari konflik dan mengelola konflik. Menghindari konflik mungkin membuat situasi terasa tenang untuk sementara, tapi belum tentu menyelesaikan sumber masalahnya. Tidak adanya pertengkaran tidak selalu berarti tidak adanya konflik.

Lalu aku bertemu dengan cara berkonflik yang berbeda

Kemudian aku melihat pola komunikasi lain. Ada orang-orang yang ternyata tidak takut berkonflik. Mereka berani berbeda pendapat, berani mengatakan "aku tidak setuju," berani menyampaikan ketidaknyamanan dan mempertanyakan sesuatu secara terbuka. Awalnya itu terasa asing bagiku.

Tapi setelah berkonflik ternyata mereka tetap duduk bersama, mendengarkan, membicarakan masalahnya, mencari tahu sumber persoalan, dan mencari jalan keluarnya. Konfliknya ada. Tapi hubungan tidak harus ikut rusak.

Mungkin yang selama ini menakutkan bukan konfliknya. Aku hanya belum pernah melihat cara berkonflik yang sehat.

Konflik tidak otomatis buruk

Konflik tidak otomatis baik, tapi juga tidak otomatis buruk. Yang menentukan adalah apa sumber konfliknya, bagaimana konflik itu dikomunikasikan, bagaimana masing-masing pihak merespons, apakah ada ruang untuk mendengarkan, dan apakah ada upaya memperbaiki keadaan.

Aku bisa tidak setuju dengan teman tanpa harus berhenti menjadi temannya. Aku bisa mengatakan bahwa sesuatu membuatku tidak nyaman tanpa itu berarti aku sedang menyerang orang tersebut. Aku bisa berbeda pandangan dengan orang lain tanpa menjadikan perbedaan itu sebagai bukti bahwa hubungan kami gagal.

Yang sebenarnya perlu dipelajari adalah mengelola konflik

Sekarang aku belajar untuk lebih berani menyampaikan ketidaksetujuan, membicarakan masalah sebelum sempat menumpuk, memilih waktu yang tepat untuk bicara, membedakan masalah dari serangan personal, mendengarkan perspektif orang lain, tidak menjadikan konflik sebagai ajang mencari siapa yang salah, dan mengenali kapan harus mencari solusi, kapan cukup memberi ruang.

Tapi tidak semua konflik harus dipertahankan

Belajar berkonflik bukan berarti aku harus mengonfrontasi semua hal. Ada hal yang memang bisa dilepaskan. Ada perbedaan yang tidak perlu diperdebatkan. Ada situasi ketika memberi waktu justru lebih bijaksana daripada memaksakan percakapan. Dan ada hubungan yang memang tidak aman untuk dijadikan ruang konflik yang sehat. Jadi, kemampuan berkonflik juga mencakup kemampuan memilih konflik mana yang layak dihadapi.

Hubungan sehat bukan hubungan tanpa konflik

Sekarang aku mulai belajar bahwa hubungan yang sehat bukan hubungan yang selalu tenang. Karena tenang bisa berarti dua hal yaitu kita memang baik-baik saja, atau kita tidak pernah membicarakan apa yang sebenarnya terjadi. Keduanya bisa terlihat sama persis dari luar.

Konflik bisa menjadi kesempatan untuk mengatakan sesuatu yang sebenarnya, mengetahui kebutuhan satu sama lain, memperjelas batas, memahami perspektif yang berbeda, memperbaiki pola hubungan, dan menemukan solusi. Bukan berarti konflik selalu menghasilkan semua itu, tapi konflik membuka ruang untuk itu, ketika dikelola dengan baik.

Dulu aku mengira konflik itu menakutkan. Sekarang aku pikir, mungkin yang lebih menakutkan adalah konflik yang tidak pernah diberi kesempatan untuk dibicarakan. Perbedaan pendapat sebenarnya tidak selalu menghancurkan hubungan. Kadang, yang justru perlahan menjauhkan dua orang adalah hal-hal yang terlalu lama disimpan sendiri.

Sebagai penutup ini adalah 5 poin rangkuman yang semoga bisa menjadi takeaway dalam pembahasan ini:

1. Konflik yang dipendam tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah dari yang laten menjadi manifest, menunggu momen untuk meledak, bukan menghilang dengan sendirinya (Pondy, 1967).

2. Menghindari konflik bukan hal yang sama dengan menjaga hubungan. Diam yang terus-menerus sering kali hanya menunda percakapan yang sebenarnya perlu terjadi.

3. Konflik yang sehat bukan soal tidak pernah berbeda pendapat, tapi soal bagaimana perbedaan itu dibicarakan. Boleh tidak setuju, boleh menyampaikan ketidaknyamanan, selama caranya tetap membuka ruang, bukan menutupnya.

4. Hubungan yang tenang belum tentu hubungan yang baik-baik saja. Kadang tenang bukan berarti semua memang aman, kadang karena hanya tidak ada yang berani bicara.

5. Yang perlu dipelajari bukan cara menghindari konflik, tapi cara mengelolanya. Termasuk mengenali kapan sebuah perbedaan layak dibicarakan, dan kapan cukup dilepaskan.

Mungkin tujuan komunikasi bukan supaya kita tidak pernah berkonflik, tujuannya adalah agar ketika konflik datang, kita tahu bagaimana tetap saling mendengarkan, tetap saling menghargai, dan mencari jalan untuk melewatinya bersama. []


Referensi: Pondy, L. R. (1967). Organizational Conflict: Concepts and Models. Administrative Science Quarterly, 12(2), 296–320.

Rindang Yuliani
Hi, I'm Rindang Yuliani. I'm a writer, a civil servant, and living in Barabai, South Borneo. I love reading and I'm interested in travelling. My first book is Escape, Please!

Related Posts

Posting Komentar