Pentingnya Big Why dalam Menentukan Prioritas

Posting Komentar
Big why adalah alasan utama mengapa seseorang melakukan sesuatu. Pada tulisan kali ini aku akan menjabarkan bagaimana big why menentukan prioritas seseorang dalam hidup. Semakin kuat big why untuk satu urusan, maka semakin tinggi letaknya dalam skala prioritas.

Beberapa waktu terakhir, aku sering merasa overwhelmed. Maklum pekerjaan di kantor sudah mulai meningkat intensitasnya. Oleh karena itu aku membuat daftar hal-hal yang selama ini kugeluti dalam hidup dan berusaha menulisnya dalam bentuk urutan prioritas. 

Big Why Prioritas


Keluarga dan pekerjaan kantor menempati posisi dua teratas daftar prioritasku. Kebetulan, aku hidup di tengah keluarga yang menyenangkan. Sedangkan pekerjaan sendiri, karena saat ini aku memang sedang dalam tahap meniti karir jadi mana mungkin aku mengabaikannya.

Selanjutnya adalah pekerjaan-pekerjaan di dunia digital, seperti medsos, ngeblog, nulis di media, atau menulis novel online. Di bagian bawah daftar terselip me time berupa membaca dan menonton (video Youtube). 

Untuk saat ini hubungan-hubungan sosial menempati daftar paling bawah dalam prioritasku. Selain karena masih pandemi, ngumpul-ngumpul bersama orang-orang yang bukan dari circle utama juga agak sulit sekarang. Masing-masing orang sudah punya prioritas, sehingga waktu ngumpul bersama selalu hanya menjadi wacana belaka.

Pentingnya Menentukan Skala Prioritas

Aku berencana untuk membuat skala prioritas ini setiap bulan. Jadi dari sekitar 15 buah hal tersebut, aku akan mengutak-atik urutannya sesuai kepentinganku di bulan tersebut. Selain membuat daftar secara vertikal, aku juga memberi keterangan horizontal mengenai apa saja yang kufokuskan pada setiap hal. Misalnya untuk bulan ini di blog aku fokus untuk menulis postingan organik dengan menerapkan kaidah SEO. Dengan fokus di sana, aku mungkin tidak bisa untuk meluangkan waktu mengutak-atik segala macam hal yang bersifat teknis seperti merombak template untuk mempercantik tampilan blog. Bukan apa-apa, membagi waktu untuk banyak hal bukan hal yang mudah.

Multitasking dengan hasil maksimal itu mustahil. Mengenai hal ini, aku jadi berpikir ulang dengan keberadaanku di grup-grup WA yang semuanya terlihat penting. Padahal kalau kita mau memilih dan mampu jujur pada diri sendiri, kita bisa kok mengakui bahwa di beberapa grup kita hanyalah anggota pasif bahkan di bawah level silent reader. Jika memungkinkan, sebaiknya kita keluar dari grup tersebut. Untuk mengurangi arus informasi yang masuk dan membuat kita cenderung ‘kepenuhan’.

Membuat daftar prioritas dan memberi batasan pada setiap hal pada waktu tertentu juga membuatku dapat ‘mengerem’ keinginan untuk mengambil semua kesempatan pada satu waktu. Misal jika saat ini aku ditawari untuk menjadi pengurus atau admin di sebuah komunitas atau program, aku bisa dengan lega mengatakan bahwa aku sedang tidak bisa menerima amanah tersebut. Dulu, aku tipe yang ambil semua. Apalagi kalau ditawari, biasanya nggak enak nolak atau hatiku bilang ‘sayang kalau dilewatkan’.

Contoh lain, ketik ada kelas menulis yang pematerinya adalah penulis favoritku namun karena kursus menulisnya intensif aku bisa dengan tenang mengatakan pada diriku bahwa mungkin lain kali aku bisa ikut. Jika dipaksakan sekarang, mungkin saja aku tidak fokus. Baik mengikuti kelas maupun mengerjakan pekerjaan di dunia nyata yang sedang banyak-banyaknya dan itu bisa berakibat fatal bagi keduanya. Kalau dulu, hatiku pasti bilang ‘kapan lagi ada kelas menulis kayak gini?’ yang berujung pada keputusan mengambil kelasnya dan membuatku keteteran sendiri.

Ini adalah salah satu caraku untuk hidup lebih berkesadaran dan berusaha minimalis, baik dari segi pikiran maupun kegiatan.

Mengapa Ngeblog Menjadi Prioritas?

Seperti yang sudah kujelaskan di atas, prioritasku setelah keluarga dan pekerjaan kantor adalah pekerjaan di ranah digital. Dari berbagai bidang yang kugeluti di dunia maya, aku memprioritaskan ngeblog di atas yang lainnya. Big why-ku dalam ngeblog lebih besar daripada kegiatan yang lainnya.

Dengan sisa waktu luang yang kupunya, ngeblog adalah cara ternyaman mengaktualisasikan diri (dan kadang menghasilkan). Kembali ke big why, sejak awal membuat blog bahkan hingga sekarang alasan utamaku tidak berubah yaitu ingin membagikan pengalaman dan perasaan pribadi (baca: curhat).

Sesederhana itu alasanku. Masalah ketika tulisanku dibaca atau tidak, itu nomor sekian. Meski tentu aku lebih suka tulisanku banyak dibaca orang. Berharap mereka dapat mengambil hikmah dari tulisanku walau sedikit. Apalagi beberapa waktu terakhir aku juga sudah belajar SEO dasar blog, sehingga mulai kuterapkan agar postinganku di blog semakin banyak pembaca.

Big Why Tetangga Mungkin Lebih Hijau

Aku kadang merasa iri dengan pencapaian orang lain ketika mendengar kabar seperti si A baru saja menerbitkan buku, si B baru saja memenangkan lomba blog, si C tulisannya masuk media, dan pencapaian-pencapaian lain di bidang kepenulisan yang aku ikuti.

Aku bukan iri dengan hasil yang mereka peroleh, tapi iri dengan usaha mereka yang begitu gigih. Kadang, untuk ‘membenarkan’ diri sendiri aku sering menghibur diriku dengan berkata ‘mungkin karena waktu mereka lebih banyak untuk melakukan hal-hal tersebut.”

Padahal boleh jadi tidak juga, mereka mungkin lebih sibuk daripada aku di dunia nyata. Yang pasti big why mereka pasti lebih besar daripada big why-ku. Alasan mereka memperjuangkan pencapaian mereka mungkin diiringi oleh tekad yang kuat.

Sedang karena big why-ku dalam ngeblog hanya sesederhana memposting tulisan dan berharap ada orang membacanya, maka hasilnya juga akan seperti itu. Dan ya memang tercapai. Harusnya aku bangga dengan diriku sendiri, bahkan masih bisa menyempatkan ngeblog di tengah waktu yang sempit.

Milik orang lain, apapun, mungkin akan selalu lebih hijau di mata kita. Padahal mungkin karena big why mereka lebih besar, usaha mereka lebih ngos-ngosan, tidur mereka lebih kurang. Siapa tahu? Jangan iri, wahai diri.

Akan ada nanti waktunya aku lebih luang dan membuat prioritas baru dengan big why yang lebih besar. Mungkin waktuku bukan sekarang, masih ada hari esok ketika prioritas di dunia nyata sedang kendor. []

Rindang Yuliani
Rindang Yuliani adalah seorang sarjana sains yang sedang menikmati proses sebagai bloger. Rindang juga sedang meladeni obsesinya untuk mendapatkan beasiswa S2 dan menerbitkan buku pertamanya. Wanita kelahiran 6 Maret ini juga selalu berusaha mengakrabi Tuhan melalui hobinya yaitu membaca, menulis, dan jalan-jalan.

Related Posts

Posting Komentar