Menikmati Proses. Meladeni Obsesi. Mengakrabi Tuhan.

Tanyakan Ini pada Hatimu

1 komentar
Jika kamu membaca draft kasar ini di awal-awal publikasinya, kamu beruntung. Karena tulisan ini dibuat tanpa konsep dan hanya sekadar memenuhi dorongan impulsif ingin menulis tentang hal ini saja. 

Padahal ada banyak tugas menulis lain dengan tema yang butuh pemikiran, tapi aku sedang ingin menulis ini. Maka kutulislah, mengabaikan deadline-deadline itu. Sebelum ia meledak di dalam kepala menjadi kepingan ide yang tak bisa diramu lagi secara utuh. Sebelum ia hanya membuat sakit kepala karena tak pernah bisa diungkapkan. Well, aku bukan tipe verbal oleh karena itu hanya dengan menulislah aku bisa mengosongkan isi kepala.



Aku akan menulis tentang seandainya semua orang bisa melihat dirinya sendiri dari luar, pasti ada banyak peristiwa dengan alasan pembelaan diri tak akan terjadi. Selain itu, pasti akan ada banyak lebih jiwa yang merasa lega karena menyadari mengapa dirinya merasa begitu atau berlaku begini. Tidak ada lagi pertanyaan, mengapa aku melakukan ini? Atau mengapa aku bertingkah begitu?

Contoh, ketika seseorang sedang sedih. Cobalah ia keluar dari dirinya sendiri lalu pandanglah dirinya yang sedih itu. Kulik, sebenarnya apa sih yang sedang dirasakan oleh 'orang ini'? Mengapa ia sedih. Apakah karena ia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Atau apakah ia juga menginginkan apa yang orang lain dapatkan. Atau ada orang lain merebut keinginannya. Atau entahlah.

Saat seseorang tersebut berlaku seperti tidak dirinya yang biasa, coba tengok dari luar jendela dirinya sendiri. Mengapa ia bisa begitu? Apakah karena ia ingin diperhatikan. Atau ia ingin tampak menonjol dari yang lain. Atau ia ingin membuktikan sesuatu pada seseorang. Atau karena ia ingin mendapatkan sesuatu yang mengharuskan ia berlaku begitu.

Ketika seseorang sedang tertarik pada seseorang, ia mungkin bisa menelisik apa sih yang sebenarnya yang ia suka dari orang tersebut? Apakah karena orang itu memberikan perhatian yang tak pernah diberikan oleh orang lain kepadanya. Apakah karena keindahan fisiknya. Apakah karena si dia membuat kita merasa dibutuhkan. 

Ketika kita merasa nyaman dengan orang lain, kita bisa melihat dari luar mengapa kita bisa merasa begitu? Meski padahal secara logis tidak masuk akal, mengapa kita terus saja memikirkan dia? Apakah karena kita membutuhkan sosoknya. Apa yang kita butuhkan? Perasaan tidak sendiri? Perasaan dihormati karena bisa bersama dengan orang seperti dirinya? Atau mungkin harta?

Sebaliknya ketika kita tidak menyukai orang lain, apa alasannya? Coba lihat dari luar, mungkin kita bisa berpikir lebih objektif. Apakah karena ia pernah menjelek-jelekkan kita atau keluarga? Atau karena semua perkataannya adalah omong kosong? Atau karena ia senang membicarakan hoaks? 

Jika tidak suka dengan perilakunya yang suka pamer, mengapa itu bisa mengganggu kita? Padahal mungkin sama sekali tak ada hubungannya dengan kita. Apakah karena kita merasa rendah saat melihat ia pamer. Atau kita juga ingin pamer tapi tak bisa seperti dirinya. Carilah alasan yang diamini oleh hatimu.

Jika kita senang melakukan sesuatu, lihat dari jauh mengapa kita bisa nyaman melakukan hal tersebut. Misal kita senang me time dengan menonton film atau membaca novel. Apakah karena jalinan ceritanya? Atau karena dunia yang ditawarkan fiksi lebih menarik daripada dunia nyata yang sedang kita jalani? Atau apa?

Lebih jauh, saat misal kita kecanduan game. Tanyakan pada diri kita sebagai orang lain. Sebenarnya apa yang membuat kita relaks saat memainkan permainan tersebut? Apakah karena kita bisa escape dari masalah kehidupan sehari-hari. Atau karena tantangan-tantangannya yang sangat memuaskan hormon adrenalin kita.

Saat kita menyadari bahwa kita tidak suka akrab dengan orang tua kita. Tanyakan mengapa hal itu bisa kita alami? Apakah ada momen traumatis. Atau ajaran dari orang tua yang membentuk kita seperti itu. Atau ada hal yang ingin kita sembunyikan dari orang tua.

Ya sebenarnya kita bisa menjawab semua pertanyaan yang berkelindan di kepala dengan jawaban dari kita sendiri. Jangan coba-coba bodoh untuk mengatakan semuanya pada orang lain. Beberapa rahasia kadang tetap lebih baik disimpan sendiri. Dengan memberi jarak yang tepat untuk diri kita sendiri, kita bisa melihat dengan jelas apa yang sebenarnya kita pikirkan dan rasakan. 

Karena menganalisa orang lain percuma, mengorek rahasia hati sendiri itu lebih berguna.

Mengulik lebih dalam apa sebab dari sebuah perilaku atau keadaan yang kita alami dapat memberi banyak keuntungan bagi kita. Salah satunya adalah kita lebih kenal dengan diri sendiri. Di kemudian hari kita dapat mendeteksi oh mengapa kita bisa berlaku seperti itu, lalu berdasarkan apa yang terjadi setelahnya kita bisa memutuskan respon apa yang seharusnya kita ambil.

Mungkin terdengar seperti mencari-cari kesalahan, tapi pikirkanlah ini dengan baik. Kita mungkin lebih sering dan dengan mudah menghakimi tindakan atau perasaan orang lain dengan spontan dan lantang. Padahal itu bisa jadi tak seperti yang kita kira. Lalu mengapa tak kita lakukan hal yang sama pada diri sendiri? Selama kita menjawab jujur pada pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan sendiri, maka kebenaranlah yang akan kita dapat. 

Sekali lagi hai orang-orang beruntung yang sedang membaca unek-unek ini. Terima kasih sudah membacanya sampai selesai. Fresh from the oven, tanpa editing. Tanpa kaidah SEO atau tata bahasa yang selama ini kupatuhi. Maafkan jika terdapat kalimat ambigu, berbelit, dan bahkan typo.

Tulisan ini jelas-jelas hanya sebagai pelampiasan semata. Ketika mata mengantuk, sedang tugas masih ada di depan mata. Aku bersyukur masih tidak cukup gegabah memposting tulisan instan ini di beranda media sosial. Lebih karena hanya ingin memfilter orang-orang yang benar-benar berminat membacanya saja. Selain itu karena arsipnya mudah ditelusuri dan tentu saja tabungan postingan di organik lumayan memberikan keuntungan di blog.

Well, sampai jumpa di ocehan selanjutnya. []
Rindang Yuliani
Rindang Yuliani adalah seorang sarjana sains yang sedang menikmati proses sebagai bloger. Rindang juga sedang meladeni obsesinya untuk mendapatkan beasiswa S2 dan menerbitkan buku pertamanya. Wanita kelahiran 6 Maret ini juga selalu berusaha mengakrabi Tuhan melalui hobinya yaitu membaca, menulis, dan jalan-jalan.

Related Posts

1 komentar

  1. Hai mba, aku malah suka sama jenis postingan organik yang ga pake konsep SEO gini :))

    BalasHapus

Posting Komentar