Tuesday, May 19, 2020

Merayakan Kegelisahan Bersama Novel Hujan


Tulisan ini merupakan kolaborasi antara curcol tentang keadaan chaos yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19 sekarang dan review novel Hujan karya Tere Liye. Aku membaca bukunya sudah agak lama, berminggu-minggu yang lalu. Baru tergerak akan me-review-nya setelah ngerasa relate antara kondisi pandemi yang sepertinya tak akan pernah berakhir dengan cerita yang ada di novel Hujan ini. Btw, review novelnya penuh spoiler agar hubungan yang kumaksud dengan kondisi sekarang bisa terlihat lebih jelas.



Novel Hujan

Sekali lagi aku tercengang dengan isi cerita dari penulis yang sama, selalu mengesankan. Terlebih ketika pandemi Covid-19 terjadi, aku merasa seperti dibawa kembali ke tempat dan waktu di dalam novel Hujan. Mirip meski tak serupa. Isu besar yang diangkat dalam novel ini adalah perubahan iklim akibat ketidaksabaran manusia.



Alur maju mundur digunakan pada novel ini. Berlatar ruangan kubus 16 meter persegi dengan segala peralatan medis tercanggih, sang tokoh utama menceritakan seluruh kisahnya tentang hujan. Bagaimana akhirnya si tokoh utama berakhir di ruangan tersebut bersama paramedis senior untuk menjalani terapi penghapusan ingatan, itulah yang ia ceritakan dalam 318 halaman. Isu pribadi yang dirasakan tokoh utama adalah bagaimana cara melupakan hal-hal menyenangkan sekaligus menyakitkan dalam hidup.


Judul: Hujan
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia


Lail dan Esok

Hal-hal penting dalam kehidupan Lail selalu terjadi saat hujan, termasuk saat ia kehilangan ibunya dan pertemuan pertamanya dengan Esok. Salah satu kenangan lain tentang hujan yang berkesan bagi Lail adalah ketika Esok menyelamatkannya (lagi) dari hujan asam. Hujan pertama yang terjadi setelah letusan gunung purba sangat berbahaya. Kadar asamnya sangat pekat, sangat berbahaya bagi makhluk hidup dan bahkan benda mati di permukaan bumi.

Untung Esok bisa membujuk Lail untuk berteduh. Lail awalnya memberontak karena masih ingin berada di dekat kejadian terkuburnya sang ibu. Esok membawanya bersepeda yang warna merahnya langsung pudar setelah kena air hujan. Mereka berlindung di bawah rumah-rumahan plastik berwarna oranye. Cukup membingungkan sebenarnya ketika semua rumah permanen rubuh tak bersisa akibat gempa, rumah-rumahan plastik tetap kokoh sebagai tempat berlindung.

Lail menjadi yatim piatu setelah bencana alam berupa meletusnya gunung purba dan gempa bumi yang diakibatkannya terjadi. Esok sendiri adalah satu-satunya anak yang selamat dari 5 bersaudara yang akan berangkat ke sekolah. Beruntung, ibu Esok masih bisa diselamatkan setelah tertimpa material bangunan karena ia sedang ada di toko roti miliknya saat bencana terjadi.

Soke Bahtera, nama lengkap Esok, adalah seorang pemuda genius yang berusia 2 tahun di atas Lail. Mereka berdua bertemu di tempat kejadian dan menyaksikan sendiri bagaimana gempa bumi menelan hidup-hidup tubuh keluarga yang mereka cintai. Sementara ibu Esok dirawat di rumah sakit, mereka berdua tinggal di bekas stadion yang berfungsi sebagai tenda pengungsian. Di tenda pengungsian, Esok dan Lail membantu para petugas, marinir, dan relawan melakukan apa saja yang mereka bisa agar kehidupan bisa berjalan dengan lebih normal. Kecerdasan Esok mulai terlihat saat itu, ia membantu banyak hal dengan kegeniusannya, pun perhatiannya kepada Lail mulai tampak.

“Aku tahu kenapa aku dipindahkan dari bagian mencuci ke memasak.” Lail terdiam, menatap celemek barunya, hadiah dari Esok. “Kamu yang meminta mereka agar aku dipindahkan, kan?” Ditanya begitu, Esok hanya nyengir, mengangkat bahu. (Hal 67)

Setahun kemudian setelah bencana letusan gunung skala 8 VEI dan gempa bumi yang diakibatkannya, 8 pusat pengungsian di kota mereka ditutup. Lail, seperti anak-anak lain yang kehilangan seluruh keluarganya, akan pindah ke panti sosial. Esok dengan keberuntungannya diangkat sebagai anak asuh di keluarga terpandang, Esok menyetujuinya karena mengingat kondisi ibunya yang sering jatuh sakit sejak bencana tersebut terjadi. Keluarga dermawan tersebut bersedia memberikan fasilitas terbaik untuk menunjang kesehatan ibu Esok dan tentu saja membiayai pendidikan Esok setinggi-tingginya.

Lail sedih karena mereka harus berpisah, meski ternyata kesedihannya tersebut tidak seberapa dengan kesedihannya ketika Esok harus tinggal di ibukota. Esok lulus sekolah dengan begitu cepat dan menerima beasiswa super prestisius. Selama di ibukota, Esok begitu sibuk. Terhitung, mungkin tidak sampai 5 kali pertemuan di novel ini sesudah mereka berpisah. Catat, hanya ada dua kali panggilan telepon, itu pun Esok yang menelepon. Lail seberapa pun inginnya, tak pernah menelepon lebih dahulu, takut mengganggu Esok yang sedang mengerjakan proyek mesin raksasa.

Lail mengisi waktunya dengan mengikuti kegiatan asrama di panti sosial yang super padat, sekolah, mengunjungi toko kue ibu Esok yang dibangun kembali, serta mengikuti pelatihan relawan. Maryam, sahabat sekamar Laili di asrama, sangat berperan penting di masa-masa pengalihan perhatian Lail ini. Ia yang mengajak Lail ikut mendaftar menjadi relawan, hingga mereka sukses menginspirasi relawan lainnya karena pada suatu musibah mereka berhasil menyelamatkan warga satu kampung dari banjir bandang dengan hampir mengorbankan nyawa mereka sendiri.

Sekolah sendiri tidak pernah terlalu penting bagi Lail. Setiap kali Esok bertanya, bagaimana sekolah. Lail akan menjawab, membosankan. Hingga pada suatu ketika Lail diterima di sekolah perawat, saat itulah ia merasa sekolah menyenangkan dan itu sejalur dengan kegiatan relawan yang selama ini ia ikuti.

Perubahan Iklim Dunia

Bukan hanya kehidupan Esok dan Lail yang berubah sejak bencana besar itu datang, tapi juga kehidupan dunia. Anomali iklim terjadi. Saat itu tahun 2050-an, segala jenis kecanggihan teknologi seolah dapat melakukan apa saja untuk mengubah bumi. Masyarakat yang tinggal di negara 4 musim meminta para ilmuwan untuk melakukan rekayasa cuaca agar kondisi sosial ekonomi yang terpengaruh oleh perubahan cuaca dapat pulih kembali.

KTT Perubahan Iklim Dunia berjalan dengan sangat alot untuk memutuskan hal itu. Para ilmuwan, meskipun bisa, mereka memilih untuk tidak melakukannya karena mereka tahun dampak buruk yang terjadi di masa depan. Suara-suara keberatan dari negara tropis atas intervensi lapisan stratosfer juga tidak diindahkan. Akhirnya karena desakan dan berbagai kepentingan terus menekan, akhirnya koalisi negara-negara subtropis secara resmi melepaskan 8 pesawat ulang-alik, menyemprotkan gas anti sulfur oksida di lapisan stratosfer. Bertahun-tahun kemudian, dampak buruknya dirasakan oleh negara-negara tropis, termasuk negara Lail dan Esok.

Awalnya menyenangkan dapat melihat salju di tanah yang biasanya hanya terjadi musim hujan dan kemarau. Namun ketika bertahun-tahun hanya turun salju, warga negara tropis pun melakukan desakan yang sama kepada para petinggi dan ilmuwan untuk kembali merekayasa cuaca di langit negara tropis. Bentrokan terjadi dimana-mana akibat kegoyahan ekonomi yang diakibatkan oleh nihilnya hasil pertanian akibat cuaca yang aneh.

Dengan memperhitungkan segala kemungkinan dan mempersiapkan solusi, termasuk si mesin raksasa, para ilmuwan pun melakukannya sekali lagi. Matahari kembali muncul, sebaliknya hingga berbulan-bulan kemudian hujan tidak turun sama sekali. Lail yang terbiasa dengan hal-hal yang penting saat hujan merasa kehilangan. Bumi hanya menunggu untuk hancur karena suhu panas yang ada bisa membuat es di kutub menjadi lebih cepat serta hal-hal destruktif lainnya akibat keseimbangan alam yang terganggu.

Lail yang khawatir bertanya pada Esok, bahkan bukan hanya tentang kondisi cuaca mengkhawatirkan, juga banyak tentang kondisi lainnya. Esok hanya berkata, teknologi selalu bisa mengatasi masalah apapun. Ya ampun, Esok. Cool sekali.

Desakan-desakan Tak Sabar

Meski Esok berkata akan selalu ada jalan keluar dari teknologi untuk mengatasi masalah dunia yang terjadi, tapi jika bisa memilih tentu sebaiknya melakukan langkah pencegahan lebih baik sebelum terjadi bencana akibat ketidaksabaran manusia. Pada kasus Lail dan Esok, seandainya para warga bisa bersabar menunggu alam pulih dengan sendirinya, maka perubahan iklim yang terlalu cepat dan ekstrem tidak akan terjadi. Alam selalu punya cara untuk me-recovery diri sendiri. Gas sulfur oksida yang dihasilkan oleh letusan gunung purba memang luar biasa banyak sehingga butuh bertahun-tahun agar atmosfer bisa kembali normal.

Kondisi pelonggaran PSBB dan kenekatan banyak orang yang mudik menjelang lebaran 2020 ini adalah contoh nyata aplikasi dari ketidaksabaran yang sama. Efek jangka panjangnya mungkin tidak akan langsung terasa, tapi tunggu saja jika tidak ada yang berubah. Bahkan semua yang tidak ikut melakukan pun akan terkena dampaknya. Ekonomi bisa dipulihkan kembali (atau mungkin kondisi the new normal malah akan membuat sistem ekonomi yang baru akan menjadi lebih kuat di bidang jaringan digital), tapi nyawa manusia tidak.

Pembukaan beberapa jalur transportasi umum oleh pemerintah memang akan membuat celah yang bisa ditembus oleh otak-otak tanpa empati. Kelesuan ekonomi secara nasional menjadi penyebab utama kebijakan dengan banyak ‘tapi’ ini diputuskan. Persis seperti desakan-desakan tak sabar dari warga negara Esok dan Lail. Langkah-langkah pencegahan memang akan terlihat atau terdengar konyol sebelum kejadian. Jika sudah kejadian semua kena batunya, tidak hanya menimpa orang yang menyebabkannya.

Mereka yang jengkel bahkan suudzon ada konspirasi herd immunity di balik kebijakan ini. Bukan tidak mungkin, mekanisme herd immunity terjadi dalam kondisi chaos seperti ini. Memanfaatkan kegelisahan orang-orang yang mulai bosan tinggal #dirumahaja, mereka yang tak peduli apapun asal mudik, dan mirisnya mereka yang tetap terpaksa harus berkeliaran karena desakan ekonomi, skenario herd immunity bisa jadi ‘jalan keluar’ yang bodoh. Akan ada banyak orang yang harus ditumbalkan. Hitungan kasar jika jumlah penduduk Indonesia berjumlah 267 juta jiwa, maka sebanyak 5% (hitungan teoritis) yaitu 13 juta jiwa lebih akan berujung pada kematian. Tengok negara Swedia yang mempraktikkan herd immunity ini.

Dengan skenario ini, pandemi memang akan lebih cepat selesai. Tapi ketika semua orang terpapar virus corona dalam waktu yang sama, sedang fasilitas dan tenaga medis kewalahan menanganinya, maka pilihannya hanya ada 2. Bertahan atau mati. Mereka yang punya imunitas kuat akan bisa sembuh, yang lemah akan meninggal. Mirip seperti seleksi alam di hutan rimba. Mengenaskan sekali, kita manusia yang punya banyak kehidupan dan tautan dengan sekitar. Meninggal dengan cara terpapar Covid-19 hanya akan membuat hidup rasanya sia-sia, belum lagi luka yang tidak akan mudah sembuh di hati orang-orang terdekat. Harga yang sangat mahal untuk sebuah kenekatan (atau ketidakpedulian?) yang tidak perlu.

Jangan tanyakan nasib tenaga kesehatan, hingga sekarang saja sudah banyak yang berjatuhan. Bukan karena penanganan medis yang lemah, tapi karena mereka kelelahan menghadapi lonjakan pasien. Dengan sistem imunitas yang menurun akibat lelah dan paparan virus corona dari pasien yang mereka tangani, mereka syahid dalam pandemi. Jika mereka sampai menyerah karena #IndonesiaTerserah, maka kemana lagi kita akan menggantungkan nasib penanganan kesehatan kita.

Pemusnahan Setengah Populasi Umat Manusia

Semua berawal dari bayi ke-sepuluh milyar yang lahir pada hari pertama ajaran baru sekolah Lail dan Esok, 21 Mei 2042. Tayangan wawancara di televisi dengan narasumber seorang profesor yang Lail lihat di dalam kapsul kereta menyatakan bahwa dunia ini sudah terlalu sesak dengan umat manusia. Alam punya cara sendiri untuk kembali menyeimbangkan jumlah populasi makhluk hidup di atasnya.

Profesor itu berkata, “Umat manusia sejatinya sama seperti virus. Mereka berkembang biak cepat menyedot sumber daya hingga habis, kemudian tak ada lagi yang tersisa. Mereka rakus sekali. Maka seperti virus, hanya obat yang paling keras yang bisa menghentikannya. Saya tidak bicara soal perang, atau epidemi penyakit, itu tidak pernah berhasil menghentikan umat manusia. Puluhan perang berlalu, belasan wabah penyakit mematikan muncul, umat manusia justru tumbuh berlipat ganda. Saya bicara tentang obat paling keras.” (Hal 16)

Bisa ditebak apa yang menjadi obat paling keras dalam novel ini. Dan demi apa, saat aku mengedit bagian terakhir tulisan ini, tanggal 21 Mei 2020, adalah tepat 22 tahun sebelum bencana besar tersebut akan terjadi. Skenario-Nya agar aku merasa takjub dengan cara menyibukkan urusan-urusanku setelah mem-publish draft awal tulisan ini pada 2 hari sebelumnya.

Mungkinkah pandemi Covid-19 ini adalah salah satu cara semesta menyeimbangkan diri? Apakah ini obat paling keras versi 2020?

Apa yang akan dilakukan Esok jika ia hidup sekarang? Jika kondisi bumi sudah tidak tertolong lagi ia dan timnya membuat mesin terbang, apakah ia akan membuat mesin pemupuk empati dan pemusnah kebodohan? Aku harap begitu. []

Artikel Terkait

8 komentar:

Izza said...

Duh merinding bacanya, saking relatednya dengan kondisi sekarang,

Yoharisna said...

Novel 'hujan' ini berkaitan dengan kegelisahan, ya? Kalo dipikir-pikir, perubahan itu pun mungkin disebabkan oleh rasa takut, kegelisahan (khawatir) atau kebingungam. Alami banget sih, asal kadarnya gak berlebih. Seperti yg diisyaratkan Esok di novel ini. Esok yg (mungkin) berarti harapan..

Jihan said...

Novel ini aku DAPAT di IBF tahun 2018. Sampe sekarang belum kubaca. Jadi penasaran nih mb Rindang. Cuman gegara aku ngga ngeh awal2nya itu bingung bacanya. Jadinya kutinggal deh. Otw deh habis niii

Zen said...

Berisi banget ya kalau Bang Darwis nulis novel ini. Walaupun aku nggak megang novelnya, tapi baca review ini aja udah ngerasa banget betapa novelnya itu "daging" banget. Nggak cuma "kulit" aja.

Syilviya Romandika said...

salah satu novel paling berkesan. Hujan mengajarkan banyak hal, terutama tentang keseimbangan. baik yang duniawi maupun yang tidak terlihat dan tersentuh.

Sugi Siswiyanti said...

Saya belum pernah baca Hujan. Relasi perenungan antara kisah di novel Hujan dan pandemi covid yang Mbak Rindang tulis membuat saya merenung juga. :)

Sultan Sulaiman said...

Kok bisa nyambung ya?

Milda Ini said...

I think the pandemi , this Allah love for us and in the word

Post a Comment

Say something nice, for a change.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates