Tuesday, September 25, 2018

[Review] The Destinasean: Menjelajah Kisah di 10 Negara

The Destinaseans adalah buku antologi bergenre travelling. Ditulis oleh 10 orang traveller yang berjalan-jalan di sepuluh negara Asean. Setiap orang menuliskan dua pengalamannya. Semua ceritanya kusuka, terutama cerita oleh Puti Karina. Bahasanya unik dan isinya hangat. Setelah membaca dua tulisan ini, aku jadi kepo dan stalking IG dan blog penulis ini. Masih aktif menulis ternyata, keren.

Salah satu kutipan dari tulisan Puti Karina yang berjudul “Ketika di Ayutthaya”:
“Karena Tuhan yang aku percaya menciptakan segalanya; maka Dia tahu jalan terbaik untuk memusnahkannya.”(hal 129)

Tulisan lainnya yang kusuka dari buku ini adalah tulisan yang berjudul “Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sum-pah Gue Pusing”. Yup, Indonesia juga termasuk di dalam sepuluh negara yang menjadi destinasi dalam buku ini. Tulisan yang ditulis oleh Adis Takdos ini bercerita tentang pengalamannya keliling dua provinsi Sumatra. Selain isi tulisannya yang berkesan, bahasa yang ia gunakan juga mengesankan. Kocak tapi berisi.



Judul: The Destinasean
Penulis: Ariev Rahman
Penerbit: B-First
Tahun terbit: 2013

Buku ini dibagi menjadi 4 bagian utama, yaitu People-Culture, City, History, dan Nature. Bagian yang agak menakutkan ada di History karena kebanyakan destinasi yang dikunjungi adalah tempat-tempat saat perang yang memiliki kisah mengerikan. Seperti Chi-Chi Tunnels yang menjadi tempat persembunyian warga Vietnam selama 20 tahun di masa perang. Selain itu juga ada kuburan massal mengerikan di Phnom Penh, Kamboja.  

Gaya bahasa yang digunakan di buku ini berbeda-beda, tergantung penulisnya. Namun, rata-rata menggunakan bahasa yang ringan dan agak gaul. Sehingga waktu membaca buku ini aku merasa sedang tamasya saja. Meski memuat berbagai fakta sejarah dan kebudayaan beberapa negara. Kecuali, ketika membaca tulisan yang berjudul “Contemplation in a Harsh Land” oleh Adam Poskitt. Ini agak merenung dikit, english version soalnya.

Aku membaca buku ini dengan metode melompat-lompat, tidak berurutan sesuai halaman tapi sesuai penulisnya. Enggak tahu kenapa, rasanya ingin saja. Mungkin karena aku ingin kesan gaya bahasa satu penulis jangan hilang ketimpa penulis yang lain.

Pesan utama buku ini adalah berjalan-jalanlah, maka kamu akan mendapatkan banyak pengalaman dan pembelajaran baru.
“You can’t swim in a town this shallow – you will most assuredly drown tomorrow. (hal 5)”

Artikel Terkait

1 komentar:

ChieLittleStory said...

aku juga suka baca buku soal kisah nyata ato pengalaman travelling gini, tp aku ngerasa kok susahya dapetinnya... hehe

Post a Comment

Terimakasih telah berkomentar dengan baik 🙆 Ditunggu kunjungan selanjutnya.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates