Tuesday, October 17, 2017

[Review Novel] Heart of Thunder

Hai, semuanya ...

Lama gak posting. Lama gak nulis review buku. Lama gak baca. Lama gak nyemplung di dunia baca tulis lagi bikin aku kangen. Jadi, sekarang aku mau posting review novel lama yang kupinjam dari perpustakaan kotaku. 

Kebanyakan kerjaan di dunia nyata (alasan) membuatku hampir lupa bagaimana asyiknya membaca sambil goler-goleran seperti dulu. Kebanyakan pengantar, nih. Yuk, langsung review novelnya.

Judul novel yang kubaca kali ini adalah Heart of Thunder. Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, ini novel terbitan lama dan setting waktu yang digunakan penulis pun jauh kembali ke masa lalu. Aku berasa terbawa ke abad 18 di mana saat itu, di Benua Amerika sedang terjadi demam emas. Saat di mana alat transportasi utama adalah kuda dan kereta kuda, sehingga untuk perjalanan jauh memerlukan waktu berbulan-bulan. Kondisi padang pasir di Amerika yang menjadi setting tempat di novel ini pun membayang di khayalanku, betapa kosong tanpa gedung bertingkat seperti sekarang.

Novel ini bercerita tentang dua orang yang sama-sama keras kepala dan gengsi mengakui bahwa mereka saling jatuh cinta. Konflik utama dalam novel ini adalah usaha Hank Chevez untuk mendapatkan kembali rumah dan tanah milik keluarganya yang dirampas oleh pemerintah Meksiko. Namun, ternyata tanah tersebut sudah dibeli oleh ayah Samantha Kingsley -tokoh perempuan utama dalam novel ini. Dari sanalah interaksi antara Hank dan Samantha bermula. Kebencian di antara keduanya membuat rumit perasaan cinta yang mulai tumbuh.

Meski terlihat ringan, tapi menurutku tema yang diangkat dalam novel ini cukup sadis -yaitu usaha untuk mengambil/mempertahankan hak dengan berbagai macam cara. Entah karena memang kultur zaman dahulu yang memang penuh kekerasaan atau penulis memang sengaja mengangkatnya agar menjadi alasan yang memperkuat setiap langkah yang diambil tokoh-tokoh utama.

Plot cerita dalam novel ini apik dan natural. Tak heran, karena penulisnya adalah Johanna Lindsey, The #1 New York Times Bestselling Author. Menurutku, ia piawai sekali menulis novel bergenre fiction historical romance ini. Terdapat dua sesi utama dalam novel ini, yaitu perkenalan dan konflik tokoh di Meksiko dan proses penyelesaian konflik yang dimulai dengan pelarian diri Samantha ke Inggris. Kedua sesi utama tersebut terjalin dengan rapi sehingga membentuk plot yang bagusnya juara.

Karakterisasi kedua tokoh utama sangat kuat sehingga mengendalikan jalan cerita di keseluruhan cerita. Meskipun sama-sama keras kepala, tapi emosi yang berasal dari hati juga kadang mempengaruhi keputusan pasangan ini. Penggambaran karakter yang mampu mengungkapkan apa yang ada di kepala masing-masing tokoh membuat cerita dalam novel ini terasa nyata.

Judul: Heart of Thunder (Cinta yang Tersisa)
Penulis: Johanna Lindsey
Penerbit: Dastan Book
Tahun terbit:2011

Di balik 'kesempurnaan' novel ini, ada beberapa kesalahan ketik nama yang kutemukan pada versi terjemahan ini. Misalnya pada halaman 308. Tertulis, "Aku memaksa. Dan itu alasan yang cukup bukan?" Samantha menyeringai. Seharusnya yang menyeringai adalah Hank pada konteks pembicaraan tersebut.

Ada beberapa hal yang menjadi favoritku dalam novel ini. Salah satunya adalah ungkapan-ungkapan Bahasa Spanyol, yang terlihat cantik dibaca. Seperti kata Gatita,  Dios Mio, Querida, dan Amigo.

Aku juga suka scene di halaman 377 saat Hank tidak percaya pada penjelasan Lorenzo betapa Samantha mengkhawatirkannya, bahwa Hank sangat berarti bagi Samantha. Hank hanya bisa berkata, "Sialan!" Bukan karena ia merasa Samantha mengasihaninya tapi karena ia akhirnya menyadari bahwa binar cinta yang sama juga tumbuh di hatinya.

Bagian lain yang juga menjadi favoritku adalah ketika akhirnya Samantha mengkonfrontasi Hank di halaman 465 dan keduanya berbicara panjang lebar mengenai perasaan gila merek. Hingga mereka akhirnya memutuskan untuk hidup bersama.

Ya, novel dengan tebal 476 halaman ini memiliki pesan jika cinta mampu mengalahkan ego, keras kepala, dan gengsi sepasang kekasih. Pikiran negatif juga perlu disingkirkan sebelum mempengaruhi keputusan atau menjadi sesal karena ternyata kenyataannya berbeda. Dan yang terpenting, kalau cinta ya bilang saja. ^^

Monday, October 9, 2017

Pengobatan Benjolan di Leher (5)

Baca cerita sebelumnya di Pengobatan Benjolan di Leher (4)

Sabtu, tanggal 9 September aku ke puskesmas untuk minta surat rujukan ke rumah sakit untuk kontrol sebelum pengobatan bulan ke-9 berakhir. Terlalu cepat sih sebenarnya, karena di surat rujukan balik sebelumnya tertulis aku hanya harus periksa ke RS lagi dua minggu sebelum pengobatan berakhir yang jatuh pada akhir September. Tujuanku cepat begitu supaya gak terlalu keteteran dengan jadwal-jadwalku. Singkat cerita, dokter di puskes ngasih aku surat rujukan ke RS.


Aku pun langsung menuju rumah sakit. Sekitar jam 10-an, antri. Sekitar jam 12.30 aku dipanggil. Kali ini kena giliran dr. Nanda. Sebenarnya aku pengen konsultasi dengan dokter Priha, tapi tahu kesempatanku bisa ke RS cuma Sabtu aja ya terpaksa aku okelah sama dr. Nanda.

Sudah bisa ditebak kalau dengan dr. Nanda aku bisa tanya macam-macam dan dia pun bisa menjelaskan macam-macam. Sama seperti sebelumnya, dia lebih recomended benjolanku di biopsi daripada di FNAB, karena benjolannya masih ada sedikit meskipun kalau gak diraba benjolan tersebut sudah tidak kelihatan. Tapi aku memutuskan untuk di FNAB lagi, kalau yang ini gak berhasil bolehlah kubilang dibiopsi.

Hasil FNAB

Rabu, tanggal 20 September barulah aku bisa untuk FNAB karena kesibukan kerjaku dan beberapa hal lainnya. Aku dan suami pun berkendara selama satu jam dari rumah ke klinik tempat FNAB.

FNAB kali ini agak susah karena benjolannya sudah semakin kecil tapi akhirnya ditemukan juga jaringannya. Dari hasil analisis sementara memang masih ditemukan bakteri TB. Fiuhh, aku harus sabar.

Jumat, 22 September, sms pemberitahuan kalau hasil laboratorium FNABku sudah selesai. Tapi aku baru bisa mengambilnya tanggal 3 hari kemudian. Senin, tanggal 2 Oktober aku konsultasi lagi ke rumah sakit. Kali ini jadwalnya dr. Priha. Yes! Lama ga ketemu beliau, sekali aku duduk di depan beliau beliau langsung bilang. “ Wah, jerawatan, ya? Pasti karena efek OAT. Nanti kalau minum obatnya sudah berhenti jerawatnya akan hilang sendiri, kok.”

Antri sambil baca buku
Aku senyum-senyum saja menanggapi komentar beliau dan berdialog dalam hati. Oh, pantes aku belum pernah berjerawat sehebat seperti sekarang ini sebelumnya. Ternyata karena efek samping obat yang kukonsumsi ya. Astaga, aku malah menyalahkan masker air mawar yang pernah kupakai menjadi penyebab jerawat bruntusanku ini. Aku ingat sekali, dulu sekitar bulan Maret jerawat ini mulai muncul di wajahku.

Inti dari konsultasiku dengan dr. Priha adalah aku disuruh lanjut pengobatan lagi. Yeah, berarti aku setahun menjalani pengobatan ini. Hokeh, 2017 berarti bagiku adalah tahun OAT. Semoga aku bisa menjalaninya hingga akhir tahun nanti dan yang terpenting bisa sembuh. Biar bisa lanjut proyek yang lainnya.

Rabu, aku pun kembali mendatangi puskesmas. Para pegawai medis di puskesmas salut dengan program pengobatan yang kujalani. Asal jangan bosan lihat wajahku aja kubilang karena sering mampir ke sini. Waktu itu aku dikasih 3 kaplet OAT biar sampai 3 bulan ga perlu ambil lagi. Oke deh, selamat berjuang bagiku melawan TB hingga akhir tahun nanti.

Baca cerita selanjutnya di Pengobatan Benjolan di Leher (6)

Tuesday, October 3, 2017

Review September 2017

Bulan September berlalu dengan sangat cepat di kehidupanku. Iya, aku sesibuk itu sekarang. Jika kalian memperhatikan jumlah blogpost aku satu bulan ini, maka kalian akan mengerti betapa tidak teraturnya hidupku akhir-akhir ini. Hiks. Kalau tidak bisa dibilang mengenaskan ya, karena ini seperti ‘bukan Rindang banget’.

Keluarga

Nenek tercinta
Hari Raya Idul Adha jatuh tepat pada tanggal 1 September. Namun, bapa dan adik tidak bisa pulkam dengan alasan pekerjaan. Adikku memang sedang tidak bisa cuti. Bapa menunda kepulangannya satu minggu kemudian. Qadarullah,  nenekku dari pihak bapa meninggal pada tanggal 9 September 2017 saat bapa tiba di rumah. Aku berduka tanpa bisa mengekspresikannya, karena almarhumah tidak berada di dekatku. Nenek sedang ada di Samarinda, di rumah uwa –kakaknya bapa.

Setelah berdiskusi jarak jauh, bapa dan kedua saudaranya sepakat untuk memakamkan nenek di Samarinda. Hal tersebut membuat mama dan bapa harus ke Samarinda, hari itu juga. Pukul 5 sore uwa mengabari via telepon, pukul 7 petang mama dan bapa sudah stand by menunggu bus tujuan Samarinda.  Samarinda berjarak 12 jam dari tempat tinggal kami. Setelah mengalami perjalanan panjang yang tertunda karena permasalahan teknis bus, mama dan bapa baru tiba di Samarinda pukul 1 siang. Orang-orang baru saja pulang dari prosesi pemakaman nenek. Ya, bapa tidak bertemu dengan orangtua satu-satunya pada saat terakhir. Fyi, bapa ditinggal meninggal kakek pada saat masih berada di dalam kandungan. Aku tidak tahu persis bagaimana perasaan bapa, meski katanya beliau sudah mengikhlaskan kepergian nenek. Oya, aku tidak tahu usia nenek dengan pasti tapi kalau boleh diperkirakan sekitar 100 tahun kurang sedikit.

Mama di depan makam nenek

Aku dan adik juga tidak bisa ikut ke Samarinda karena alasan pekerjaan di hari Senin. Lagipula, hari Minggu tanggal 10 itu ada acara arisan keluarga sekaligus acara aqiqah si kecil Davin di rumah kakek dari pihak mama. Aku harus sedih dan gembira dalam waktu yang bersamaan.

Di akhir bulan tanggal 30 September, ada resepsi pernikahan sahabatku waktu SMA. Untungnya diadakan hari Sabtu, sehingga aku bisa benar-benar mengosongkan waktu sehari itu untuk ke sana. Sekalian reuni dengan para sahabat yang lain, mumpung lagi ngumpul dengan para bridesmaid ala-ala.  

Vhaancoex Girls

Pekerjaan
Satu bulan terakhir, banyak jadwal sampling. Untung tubuhku kuat. Tetek bengek pendaftaran CPNS juga bikin kalang kabut. Tanggal 15 aku ikut tes CPNS periode pertama oleh Kemenkumham di Banjarbaru. Meski gak sampai tahap SKB, aku lega karena kemampuanku masih ‘lumayan’. Peringkat 605 dari 17.000 lebih peserta. No problem. Seenggaknya, nilaiku memenuhi passing grade dan paling unggul di antara yang lain saat sesi ujianku. Meski kalau diperingkat se-Indonesia ya aku nggak masuk 39 besar. Di periode kedua nanti aku akan mencoba lagi.

Pengumuman seleksi


Kesehatan
Alhamdulillah, aku sehat terus. Kabar buruknya, pengobatan TB-ku harus dilanjutkan lagi karena meskipun benjolannya sudah hampir hilang tapi bakterinya masih ada berdasarkan hasil FNAB. Nah, ngurus pengobatan ini termasuk yang bikin aku tambah sibuk juga, karena aku harus bolak-balik ke puskes, RS, dan klinik yang jauhnya satu jam perjalanan lebih dari rumah. Tetap semangat sembuh, Rindang!

Kursus menjahit
Bulan ini karena kesibukanku, aku full gak masuk kursus yang hanya 8 kali pertemuan dalam sebulan itu. Hiks.

Buku
Karena bulan ini aku punya kesempatan ke Gramedia, jadi aku beli buku dan sudah membaca salah satunya yaitu ‘Mimpi Punya Bisnis Sukses di Usia Muda’. Isinya keren banget, buat aku ingin beli dan baca buku kembarannya dari penulis yang sama –Stella Olivia, judulnya Mimpi Punya Karier Cemerlang di Usia Muda. Kemarin itu aku cuma beli satu karena jelas, aku lebih tertarik dengan dunia bisnis daripada jadi ‘karyawan cemerlang’. Ternyata isinya jauh lebih general daripada sekadar bicara dunia bisnis. Nanti aku review buku-buku kece ini ya.

Gramedia on action

Traveling
Akhirnya bisa jalan-jalan cantik lagi bulan ini. Destinasi tujuanku kali ini adalah Kampung Pelangi Banjarbaru. Yihaa. Kawasan yang sebelumnya hanyalah bantaran Sungai Kemuning ini sukses membuatku sibuk berfoto ria dan jadi model sehari. Haha.

Selamat datang di Sungai Kemuning

Blogging
Bloggingku masih tidak teratur. Kacau. Ikut lomba pun tidak lagi. Aku bertekad sejak awal Oktober ini mulai aktif lagi. Aamiin.

Nah, segitulah ceritaku di bulan September. Singkat, ya? Padahal saat menjalaninya aku gelabakan banget nget nget. Sampai ketemu di ceritaku bulan depan, ya.
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates