Friday, February 28, 2014

Ruang Hidup

25 Agustus 2012
Bagiku, ada 4 ruang kehidupan di dunia ini. Ruang pertama bernama kemustahilan. Aku tak pernah memasuki ruang ini meski pun ingin. Tapi seingin-inginnya aku, tak sekalipun mencoba memasukinya. Ruang ini ada hanya karena ada selukis kekaguman.

Ruang impian adalah ruang yang kedua. Di ruang ini aku bebas masuk-keluar, tapi hal itu tidak terjadi secara nyata. Aku tak pernah benar2 berusaha memasukinya. Berdiri dan menatap dari pintu depan, adalah usaha terberat yang kulakukan untuk memasuki ruang ini.

Ruang ketiga bernama kenangan. Hey, aku bisa kapan pun kembali ke ruangan ini kalau aku mau. Karena aku memang pernah berada di sana. Meski tentu, aku tak akan bisa selamanya berada di sana.

Kenyataan adalah nama ruang hidupku terakhir. Aku nyaman berada di sini. Yeah, ruang ini adalah tempat aku tinggal setelah keluar dari ruang kenangan. Meski seperti kau tahu, kenyataan tak selalu yang kau harapkan. Ada pahit-manis, suka-duka, pro-kontra, etc. Aku cukup senang berada di sini. Karena tak satu pun penghuni ruang lain yang membuatku benar-benar ada selain penghuni Ruang Kenyataan.
12 Mei 2013
Aku menambahkan ruang baru dalam hidupku
Kuberi nama labirin
Karena jelas tak ada yang bisa masuk ke sana tanpa tersesat
Bahkan aku sendiri

Labirin, bagiku adalah tempat pelarian
Tempat ternyaman ketika aku terlempar
Ketika aku tersudutkan
Tempat ketika aku tak dimaafkan oleh lingkungan

Tak seperti ruang lain punya sekat nyata
Yang membatasi masing2 mereka dari yang lainnya
Labirin lebih kompleks
Lebih gila (dan keren)

Hanya saja, yang berbahaya
Adalah ketika aku melarikan diri ke sana
Dan merasa nyaman di dalamnya
Dan tak ingin kembali
Hingga obsesi menaklukkannya


Thursday, February 27, 2014

Balada Insomnia

Tadi malam adalah insomnia terparah yang kualami selama karir tidurku. Arrgh, hingga aku mendengar ayam berkokok, pertanda dini hari menggantikan status malam, kesadaranku belum juga hilang. Ada banyak hal terlintas selama kondisi on otakku tersebut. Sekalinya tertidur, aku malah bermimpi menemukan karakter aku yang sama sekali bukan Rindang. Arrgh, menyiksa sekali.

Pagi ini ketika kesadaranku pulih lagi, aku searching dan menemukan artikel tentang penyebab dan cara mengatasi insomnia. Berikut beberapa hal yang kutangkap dan kaitannya dengan kasus insomniaku.

Penyebab insomnia biasanya adalah stress (ini kuakui merupakan penyebab utama insomniaku), masalah kesehatan, obat dan alkohol, serta gangguan lain (dengkuran orang di sebelah, suasana kamar yang tidak mendukung).

liniberita.com

Cara mengatasi insomnia, yaitu sebagai berikut:

1. Mendengarkan musik
Astaga, kenapa tadi malam aku tidak menyetel musik ya? Nggak kepikiran, atau mungkin aku sudah terlalu bosan mendengarkan lagu yang itu-itu saja dari list MP3 hp-ku akibat keseringan memutar musik tiap malam dalam satu bulan terakhir, bawaan insomnia.

2. Membuat tempat tidur senyaman mungkin
Tak perlu diragukan lagi, kasur adalah kerajaanku di dunia. Jadi, aku tak akan ada masalah dengan ini.

3. Meditasi dan pernapasan latihan
Nah, ini yang mungkin perlu kucoba. Tapi belajar sama siapa? Aku perlu guru...

4. Hindari kegiatan di tempat tidur
Terkait dengan point no 2, tempat tidur adalah tempat ternyamanku di dunia. Tentu saja, aku melakukan segalanya di sana. Mungkin ini masalahku, membaca, menulis, bahkan jika aku mau, makan pun di sana. Apa perlu aku membuat tempat tidur kedua, ya?

5. Berolahraga yang teratur
Satu bulan terakhir, aku memang sedang menjalankan program lebih-sering-olahraga, aku tak peduli dengan kata "teratur"nya. Yang kutahu adalah ketika tubuhku kelelahan, insomniaku akan kalah dengan sendirinya.

6. Jangan minum kopi
Ini kesalahanku, kemarin sore minum kopi dengan kadar kafein tinggi. Menambah level insomniaku saja, selain mengaduk-aduk lambungku yang tak terbiasa dengan "minuman keras".

7. Menghindari stress
Mungkin ini cara tersulit yang harus kuhadapi. Bagaimana tidak, si stress hobi sekali mengikutiku kemana pun aku pergi. You know about what I mean lah ...

8. Tidur lebih "pagi"
Ini cara tersering yang kulakukan. Tapi, tetap saja jam mulai tidurku sama dengan orang begadang.


Ada yang mau menambahkan cara lain untuk mengatasi insomnia?

Wednesday, February 26, 2014

Catatan Cinta Mualaf dari Negeri Matahari Terbit

Judul: Hikari No Michi
Penulis: FLP Jepang
Penerbit: Lingkar Pena Publishing House
Tahun Terbit: 2009
Ketika hidayah merengkuh, maka jalan cahaya pun terbentang meniti surga ...

Jepang, negeri unik dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat, tapi di sisi lain, tradisi dan budayanya masih sangat kental. Lantas, bagaimana perkembangan islam di sana? Saat kaum muslimin, perlahan tapi pasti semakin meningkat jumlahnya, termasuk dari warga Jepang asli.

Seperti apakah perjalanan hidayah para mualaf dalam meniti dien Islam? Bagaimana perjuangan mereka di antara pergulatan modernitas dan tradisi yang masih mengakar kuat tersebut?

Buku ini merangkum beragam kisah yang mengharukan, inspiratif, juga mencengangkan. Mengajak kita menelusuri jalan cahaya -hikari no michi- di Negeri Matahari Terbit.
**

Terdapat 22 kisah mualaf di buku ini yang ditulis oleh anggota FLP Jepang, yaitu Ani Bowolaksono, Bainah Sari Dewi, Banyumili, Ellnovianty Nine Hifizah Nur, Lia Octavia, Lisman Suryanegara, Lizsa Anggraeny, Mulla Kemalawaty, Rose FN, Tethy Ezokanzo, Sri Zein, dan Takanobu Muto. Secara umum, ke-22 kisah tersebut menceritakan tentang perjuangan para mualaf asli Jepang untuk menegakkan agama Islam di Negeri Matahari Terbit tersebut.

Menjadi tantangan tersendiri memang ketika berhijrah di negeri mayoritas non-muslim. Jangankan mereka yang mualaf, kita yang muslim sejak lahir pun pasti menemui kesulitan hidup sebagai muslim di sana. Beragam cerita disajikan oleh para penulis di buku ini. Ada mualaf yang sudah terbiasa dan tenang dengan status keislamannya. Ada pula yang masih berjuang berat untuk menjalani kehidupan sebagai muslim. Juga tidak dapat dimungkiri bahwa ada mualaf yang belum benar-benar kuat dalam memegang dien Islamnya.

Menyusuri jalan cahaya memang tidak semudah kelihatannya. Ada banyak rintangan yang menghadang jalan orang-orang yang benar. Namun, ketika kita menemukan cahaya itu rasanya jauh lebih membahagiakan daripada memiliki limpahan materi. Diceritakan di salah satu cerita yang terdapat dalam buku ini tentang perjalanan seorang mualaf yang sangat menginspirasi. Ketika ia remaja, ia menyadari bahwa ia tengah hidup diantara orang-orang yang sakit. Orang-orang yang selalu cemas akan masa depan. Orang-orang yang selalu berusaha melindungi diri mereka dari orang lain. Pada saat itu, mualaf tersebut juga merasa merupakan salah satu bagian dari mereka. Hingga ia memutuskan melakukan pencarian atas kebenaran hakiki. Lewat apa saja ia lakukan, tapi tak ada ia dapatkan. Hingga ia berkenalan dengan seorang muslim, sejak itulah hidupnya berubah. Berubah ke arah yang lebih terang, jalan cahaya.

Membaca buku ini membuatku sadar, bahwa memiliki agama adalah kebutuhan semua orang. Beragama itu menenangkan hati, dan aku sangat bersyukur telah terlahir sebagai muslim dari orang tua yang juga muslim. Hanya saja, rasa malu setelah membaca buku ini tidak terelakkan. Bagaimana tidak malu, mereka para mualaf di negeri mayoritas non-muslim berjuang sangat berat untuk mengeksistensikan keislaman mereka. Sedangkan kita di negeri muslim, segala kemudahan beragama ada di sini, malah terkadang cuek dengan agama sendiri. Astaghfirullah.

Diceritakan dalam buku ini, bagaimana teman-teman muslim di sana susah sekali menemukan tempat shalat. Jumlah masjid yang ada di sana masih sedikit. Ketika waktu shalat tiba, mereka sudah terbiasa shalat di mana pun saat itu mereka berada. Asal tempat shalat tersebut tidak mengganggu kegiatan umum. Ketika di ruangan terbuka, mereka biasanya shalat di taman. Itu pun dengan tatapan aneh orang-orang yang berada di sana. Jika mereka ada di dalam ruangan, baik di kantor, bandara, museum, atau pun mall, mereka meminta izin terlebih dahulu kepada satpam yang sedang bertugas jaga untuk memastikan tempat yang mereka pakai untuk shalat tidak mengganggu aktivitas orang lain. Subhanallah.

Selain cerita-cerita tentang para mualaf yang berhijarah di Jepang, buku ini juga menyajikan perkembangan agama Islam di sana dan tips hidup sebagai muslim di Jepang. Tips tersebut sangat membantu sekali bagi muslim yang baru saja menginjakkan kakinya di Jepang. Selain itu, juga terdapat informasi mengenai toko yang menjual bahan makanan atau pun restoran yang menjual makanan siap saji yang terjamin kehalalannya.

Kesimpulan yang dapat kuambil dari buku ini adalah bahwa hidayah adalah rahasia Allah. Namun, adalah kewajiban kita juga untuk meraihnya, untuk mencarinya. Atau pun menunjukkan kepada orang yang belum mendapatkannya, karena hidayah tidak akan datang sendiri tanpa sebab. Hidayah itulah yang akan mengawali perjalanan setiap orang untuk menyusuri jalan cahaya, hikari no michi.

Tuesday, February 25, 2014

Perjalanan Mata, Hari, dan Hati

Judul: 23 Episentrum
Penulis: Adenita
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: 2012
"Seseorang yang merasa sudah melakukan pencapaian dalam hidupnya, biasanya akan terus bersemangat untuk melakukan pencapaian lainnya. Tularkan energimu... energi besar yang kamu miliki. Hidupkan impian orang lain, bangunkan dari mati suri... Jangan biarkan dia mati!"

23 Episentrum adalah buku 2 in 1. Berisi novel yang bercerita perjalanan 3 orang anak muda untuk mengejar profesi yang dicintainya. Perjalanan Matari, Awan, dan Prama dalam mengejar ambisi dan eksistensi. Mengungkap makna hidup dan menemukan kebahagiaan hingga akhirnya menemukan "23 Episentrum" dalam perjalanannya. Perjalanan mata, hari, dan hati.

Dan sebuah buku suplemen yang berisi tentang cerita 23 orang anak muda yang memilih melakukan pekerjaannya sesuai dengan apa yang mereka cintai. 23 orang membagi kisahnya. Kisah kecintaan atas apa yang mereka lakukan. Karena mereka percaya, sesuatu yang dilakukan dengan hati akan selalu menghasilkan energi yang tak pernah mati.


Buku ini pada awalnya direkomendasikan seorang kakak yang memiliki bimbingan belajar dimana aku mengajar. Katanya buku ini sangat cocok dibaca saat galau mengerjakan skripsi. Tepat seperti kondisiku saat ini. Katanya lagi, buku ini cukup membuat kita bersemangat mengerjakan skripsi dan mampu membunuh rasa malas. Atas rekomendasi kakak tersebut, aku mulai membaca buku ini. Kupikir, buku ini bercerita tentang perjuangan mahasiswa tingkat akhir melalui masa skripsinya.

Ternyata perkiraanku meleset, perjuangan yang sang tokoh lakukan ternyata jauh lebih berat dari yang kubayangkan. Jauh lebih sulit dibandingkan meladeni masalah skrpisi. Adalah Matari, tokoh sentral dalam novel ini yang berjuang bekerja untuk melunasi utang-utangnya. Utang-utang tersebut ia gunakan untuk membayar uang kuliah yang menjadikan ia sarjana. Ya, gelar sarjananya masih tergadai, masih ngutang. Bukan permasalahan sepele, ketika kita memiliki utang apalagi dalam jumlah yang tidak sedikit. Tekanan batin, itulah yang Matari selalu rasakan tiap detiknya. Ia bahkan belum berani memimpikan apapun sebelum utangnya lunas. Jangankan bermimpi, tidur saja matanya susah sekali terpejam karena memikirkan utang. Bahkan ketika di dalam pesawat, dia takut sekali pesawat tersebut jatuh dan ia meninggal dengan keadaan masih membawa utang.

Tokoh utama kedua bernama Awan, dia bermasalah dengan pekerjaannya yang tak sesuai dengan panggilan hatinya. Dia terjebak doktrin keluarga, terutama ibunya bahwa bekerja itu harus menghasilkan uang secara kontinu. Perjuangannya untuk meyakinkan ibunya bahwa pekerjaan impiannya meski tidak menjanjikan secara materiil tapi akan membuatnya bahagia, sangat berat. Hari-harinya penuh dengan keterpaksaan. Pagi selalu ia lalui dengan omelan ibunya bahwa kerja itu adalah ibadah. Ibadah itu harus ikhlas. Sedangkan ia sendiri sama sekali tidak bisa menikmati kerjanya. Dia bekerja hanya membawa raga, hati dan pikirannya tidak di sana. Tak ada ikhlas yang terselip di sana.

Tokoh ketiga hadir dengan hati yang kosong, di tengah gelimang materi yang ia punya. Sejak awal hidupnya, Prama selalu mencapai target dalam hidupnya. Ia lulus S2 dan telah bekerja di bidang impiannya. Sukses dan mapan, itulah yang orang lihat tentangnya. Tetapi jauh di sudut hati, ia merasa sepi. Ada yang hilang, ia merasa ada yang salah dari jalan yang kini diambilnya. Hatinya gundah dan ingin menemukan sesuatu yang hilang dengan melakukan perjalanan hati.

Membaca buku ini, membuatku sadar bagaimana bahagianya seseorang yang bisa memenuhi impiannya, mengerjakan sesuatu yang ia sukai, dan mendapatkan ketenangan hati. Satu yang perlu digarisbawahi, bahwa uang bukan segalanya. Bukan uang yang membuat kita mencapai impian, meladeni passion kita, dan membahagiakan hati. Bukan, uang hanyalah salah satu alternatif. Faktor-faktor utama untuk mencapai semuanya adalah tekad yang kuat, keberanian untuk out the box, dan membagi yang kita punya pada orang lain.

Novel ini juga satu paket dengan 23 Suplemen Perjalanan Mata, Hari, dan Hati. Di dalam buku ini terdapat kisah nyata orang-orang yang berhasil di bidangnya, di dunia yang mereka cintai. Perjuangan bagaimana mereka mendapatkan pekerjaan impian tersebut sangat menginspirasi. Dua puluh tiga orang tersebut berbagi bagaimana mereka memperjuangkan dan mencapai pekerjaan impian mereka, mulai dari pemilik kafe, pilot, guru, pemilik blog, dosen, hingga peneliti. Perjalanan mereka melalui banyak rintangan, yang tidak mudah dilalui jika mereka tidak bertekad kuat, berani untuk beda, dan membagi yang mereka miliki meskipun sedikit. Perjalanan mereka adalah perjalanan mata, hari, dan hati dengan bahan bakar yang sama, cinta.

Monday, February 24, 2014

Cooking Project

Agak lebay mungkin bagi orang kebanyakan kalau baca judul tulisanku kali ini. memasak kok disebut proyek? Tapi bagiku, tidak. Memasak adalah sesuatu yang langka dalam daftar kegiatanku selama 21 tahun hidup. Dan demi pekerjaan muliaku masa depan nanti, menjadi Ibu Rumah Tangga, tentu saja aku harus bisa memasak ^^

Tahu Tempe Goreng

Begitulah, sejak dua minggu yang lalu, aku mulai mencoba memasak. Dari masakan yang simpel-simpel dulu. Beberapa kali, aku sempat mengesms mama, bertanya beberapa resep masakan yang kusuka. Aku tahu, meskipun mama tak mengatakannya, tentu saja beliau senang sekali akhirnya anak gadisnya insyaf mau belajar masak =D

Tahu Goreng & Mie Sayur

Orak-arik Telur-Buncis

Dan, lihatlah beberapa hasil masakanku. Demi menyemangati diri sendiri, aku rajin memoto setiap masakan yang berhasil kubuat. Rasanya? Tidak kalah dengan masakan yang sering kubeli diluar, menurut lidahku sih. Hihi

Sambal Goreng Kentang

Sunday, February 23, 2014

Kenapa Biologi?

Ini pertanyaan klasik yang diterima oleh mahasiswa baru jurusan biologi, khususnya yang di Fakultas MIPA –bukan di keguruan.  Aku sendiri kalau ditanya begitu dulu –sekarang pun terkadang masih ada yang suka nanya, biasanya menjawab dengan persentase keseriusan yang minim. Yah, jawaban standar. Seperti ‘karena aku suka biologi’, ‘karena hatiku senang’, ‘karena ingin memperdalam ilmu biologi’.

Paparan-paparan berikut mungkin akan lebih memperserius jawabanku, kenapa masuk biologi. Dibandingkan bidang ilmu lain, sebenarnya IPA (termasuk di dalamnya adalah biologi) mempunyai nilai paling rendah di raportku sejak SD dulu. Jadi dulu itu, aku sempat jatuh cinta dengan matematika. Lumayanlah kemampuanku di bidang yang satu ini. Kemampuan dasar, tentunya. Sedikit menghitung dan permainan logika. Tapi dari yang kulihat, matematika semakin ke sini (makin tinggi tingkat akademik, maksudnya) kok angka-angkanya mulai hilang ya? Diganti dengan karakter-karakter yang kalau melihatnya aja bikin sakit kepala @.@. Makanya, lebih baik cari  aman dengan menguasai matematika sebatas aljabar dan statistika ^^

Kalau ilmu bahasa, entah kenapa aku nggak pernah ada niat untuk berkecimpung total di dalamnya. Yah padahal aku (ngakunya) pecinta literasi. Nilai-nilai di bidang ini juga lumayan, tertinggi di antara bidang lainnya. Kecuali bahasa asing, kemampuanku masih pasif =.= Cukuplah sepertinya, bahasa sebagai ilmu sampingan dalam hidupku.

Agak naif sepertinya kalau aku mengutip perkataan seorang teman yang mengatakan ini sebagai jawabannya ketika ditanya “kenapa biologi?”. “karena nilai dan pengetahuan biologiku paling rendah di antara ilmu yang lain”. Terlalu berisiko dengan mempertaruhkan hidup kita pada bidang yang penguasaan kita lebih cetek dibandingkan dengan ilmu lain.

Jawaban yang lebih logis dan bersumber dari hati sepertinya ini. Aku menyukai ilmu aplikatif, biologi adalah salah satunya. Biologi menurutku adalah ilmu yang pas bagi pecinta kehidupan yang normal. Segala sesuatunya di dunia ini sebenarnya sudah seimbang tanpa campur tangan manusia. (Sebagian) manusia pun sebenarnya bermaksud baik, mengubah alam untuk membuatnya lebih baik. Tapi karena sebagian yang lain juga merusaknya, maka alam yang terbentang di depan kita ini adalah alam yang timpang. Dimana pondasi-pondasi penyangganya sudah dirayapi oleh satu-satunya makhluk hidup yang mempunyai akal. Kok jadi ceramah ya aku? ^^

Back to topic, mengapa aku memilih biologi. Menurutku biologilah, salah satu ilmu yang bisa dipakai untuk menyeimbangkan alam kita ini lagi. Ilmu yang lebih simpel diaplikasikan dibandingkan 2 ilmu alam lainnya (fisika dan kimia). Belajar biologi berarti mempelajari makhluk hidup, dimana kita sendiri termasuk di dalamnya. Bukankah kita memang harus mengerti diri kita sendiri sebelum mengerti tentang hal lain? Belajar biologi berarti mempelajari alam, tempat dan lingkungan dimana kita berada. Biologi juga ilmu yang multiaspek, penerapannya bisa ke berbagai bidang lain. Setidaknya permukaan ilmu-ilmu dari jurusan dan fakultas lain menggunakan biologi. Pertanian, Kehutanan, Perikanan, Teknik Lingkungan, Teknik Pertambangan, atau bahkan Kedokteran. FYI, concernku adalah bidang lingkungan (ekologi) –ilmu makro yang juga harus mengerti mikrobiologi, zoologi dan botani.
Ah sepertinya ada satu bidang ilmu yang ketinggalan kubahas, yaitu ilmu kesehatan. Seperti yang kubilang tadi, aku menyukai ilmu yang aplikatif. Semua orang juga tahu, ilmu kesehatan sangat berguna bagi kehidupan. Aku pun tahu, aku menyukai ilmu ini. Bahkan dulu, pilihan pertama jurusan yang kutuju saat SBMPTN adalah bidang kesehatan. Tapi Allah lebih tahu, aku menyukai berinteraksi dengan makhluk hidup selain manusia. 


Saturday, February 22, 2014

Yuk, Mengenal Bapak Pandu Sedunia!

Pantes tanggal 22 Februari terasa tidak begitu asing, tanggal ini ternyata hari lahirnya Baden Powell, Bapak Pandu Sedunia. Zaman aku SD dulu, anak pramuka selain wajib hafal nama lengkap plus gelar beliau yang bikin lidah mati gaya, juga harus ingat di luar kepala tanggal lahir dan wafatnya beliau -lengkap dengan tahun dan tempatnya.

Baden Powell, atau sering disingkat BP -bipi terlahir dengan nama lengkap Robert Stephenson Smyth Baden-Powell di London pada tanggal 22 Februari 1857. Smyth merupakan nama gadis ibunya, kata Baden-Powell sendiri adalah nama ayahnya yang seorang Pendeta. Hingga remaja, BP lebih akrab dengan panggilan Stephe Powell.

Dalam sajak singkat yang ia tulis, ia menjelaskan bagaimana mengucapkan namanya:
Man, Nation, Maiden
Please call it Baden.
Further, for Powell
Rhyme it with Noël.

BP kemudian mendapat gelar kebangsawanan Inggris, sehingga namanya kerap disebut sebagai Baron Baden-Powell atau Lord Baden-Powell. Secara lengkap nama dan gelarnya yang sering disebut dalam dunia pramuka adalah Lord Robert Baden Powell of Gilwell. Gilwell sendiri adalah nama daerah tempat dia bermukim. Taman Gilwell adalah tempat latihan Pemimpin Pramuka Internasional. Nama yang terakhir inilah yang membuat lidah SD-ku kram mendadak gegara harus hafal jika ditanya senior saat latihan. Selain gelar tersebut, masih terdapat 29 gelar lain dari negara-negara asing yang diberikan padanya.

BP dikenal sebagai letnan satu umum di tentara, pendiri Gerakan Kepanduan or Pramuka, dan penulis. Pada awalnya, BP diminta menjadi pembina organisasi The Boys’ Brigade, yang didirikan oleh Sir William Alexander Smith. Kemudian, karena popularitasnya semakin meningkat serta tulisannya tentang petualangan-petualangan di alam terbuka, banyak pemuda yang mulai membentuk kelompok kepanduan dan BP mendapat banyak tawaran untuk menjadi pembina kelompok-kelompok itu. Mulai saat itulah Gerakan Kepanduan (Scout Movement) berkembang dengan pesat.

BP mendapati buku panduan ketentaraannya Aids to Scouting telah menjadi buku terlaris, dan telah digunakan oleh para guru dan organisasi pemuda. Kembali dari pertemuan dengan pendiri Boys' Brigade, BP memutuskan untuk menulis kembali Aids to Scouting agar sesuai dengan pembaca remaja.


Buku pertamanya tentang kepramukaan berjudul Scouting for Boys. Buku tersebut ditulis berdasarkan buku-buku sebelumnya yang bertema militer, yang ternyata banyak dibaca oleh anak laki-laki. Scouting for Boys diterbitkan tahun 1908 oleh Pearson, untuk pembaca remaja. Selama menulis, ia menguji gagasannya melalui perjalanan berkemah di Pulau Brownsea dengan Brigade Pemuda dan anak tetangganya yang dimulai pada 1 Agustus 1907, yang kemudian dianggap sebagai awal dari Kegiatan Kepanduan.

Musim panas 1907, Baden-Powell melakukan promo dan bedah buku Scouting for Boys. Di buku sebelumnya, Aids to Scouting, ia lebih banyak menulis tentang materi kemiliteran. Di buku Scouting for Boys, aspek kemiliterannya diperkecil dan digantikan dengan teknik-teknik non-militer (terutama survival) seperti pioneering dan penjelajahan. Ia juga memasukkan prinsip edukasi yang inovatif, disebut Scout method (metode kepramukaan). Ia juga berkreasi dengan membuat game-game menarik sebagai sarana pendidikan mental.

Scouting for Boys awalnya diperkenalkan di Inggris pada Januari 1908 dalam 6 jilid. Pada tahun yang sama, buku tersebut dicetak dalam bentuk satu buku utuh. Sampai saat ini, buku tersebut berada di peringkat ke empat dalam daftar buku bestseller dunia sepanjang masa! Wuihh, keren yak?

Dalam mengembangkan ilmu kepramukaan, ia didukung oleh istrinya, Olave St. Clair Soames, dan adiknya, Agnes Baden-Powell. Mereka berdua terutama sangat aktif memberikan bimbingan terhadap Gerakan Kepanduan Putri. Pandu Puteri didirikan pada tahun 1910 di bawah pengawasan Agnes Baden-Powell.

Walaupun dia sebenarnya dapat menjadi Panglima Tertinggi, BP memutuskan untuk berhenti menjadi tentara pada tahun 1910 dengan pangkat Letnan Jendral menuruti nasihat Raja Edward VII, yang mengusulkan agar ia lebih baik melayani negaranya dengan memajukan gerakan Pramuka.

Tidak lama selepas menikah, Baden-Powell berhadapan dengan masalah kesehatan, dan mengalami beberapa serangan penyakit. Ia menderita sakit kepala terus menerus, yang dianggap dokternya berasal dari gangguan psikosomatis dan dirawat dengan analisis mimpi. Sakit kepala ini berhenti setelah ia tidak lagi tidur dengan Olave dan pindah ke kamar tidur baru di balkon rumahnya. Pada tahun 1934 prostatenya dibuang, dan pada tahun 1939 dia pindah ke sebuah rumah yang dibangunnya di Kenya, negara yang pernah dilawatinya untuk beristirahat. Dia meninggal dan dimakamkan di Kenya, di Nyeri, dekat Gunung Kenya, pada 8 Januari 1941.

Dibawah usaha gigihnya pergerakan pramuka dunia berkembang. Pada tahun 1922 terdapat lebih dari sejuta pramuka di 32 negara; pada tahun 1939 jumlah pramuka melebihi 3,3 juta orang. Pertanyaannya, berapakah jumlah anggota pramuka pada tahun 2014? ^^

Tanpa Pramuka, Saya Tak Ada

Pramuka adalah salah satu sisi kehidupan saya. Pramuka merupakan bagian tak terpisahkan dari seorang Rindang. Bahkan ketika status non-aktif dari kegiatan pramuka melekat setelah masa SMA, pramuka tetap menjadi salah satu keping pelengkap puzzle diri saya. Jadi, rasanya tidak terlalu lebay jika saya menulis kiasan ini. Tanpa pramuka, saya tak ada.


Sejarah singkat perjalanan saya dan pramuka berawal ketika saya masih duduk di kelas 4 SD. Waktu itu ada Perkemahan Jum'at Sabtu Minggu (Perjusami), entah sekecamatan atau sekabupaten di kota kecamatanku. Sejak perkemahan itulah, cintaku pada kepanduan bermula. Berlanjut hingga SMP, yang alhamdulillah kegiatan ekstrakurikuler pramukanya aktif. Sebagian besar masa remaja saya, saya habiskan bersama teman-teman yang juga mencintai pramuka. Ini sangat berarti, karena mungkin saja jika tidak ada pramuka, energi masa remaja saya habis untuk hal-hal yang sia-sia.

Bersama member of  DKR Batang Alai Utara Tahun Baheula ^^

Pun ketika masa SMA tiba, saya aktif di ambalan SMA. Sayangnya, ekstrakurikuler pramuka di SMA saya kurang aktif waktu itu dan kalah pamor dengan ekstrakurikuler Drum Band dan Paskibra. Akhirnya saya juga ikut GAREPA (Galangan Aktivitas Remaja Pecinta Alam), untuk memenuhi rasa dahaga saya dengan kegiatan outdoor. Kebetulan pula, saat itu sedang dibuka pendaftaran anggota Satuan Karya (Saka) Wirakartika di bawah naungan TNI AD di Komando Distrik Militer (Kodim) di kota kabupaten saya berdomisili. Di sanalah saya memanfaatkan waktu luang jika tidak bersekolah. Agak ekstrim dulu memang, mama sampai sempat melarang saya ikut kegiatan Saka Wirakartika karena seringnya saya absen di rumah. Beruntung saja, nilai sekolah saya masih tetap terlihat excellent di mata beliau sehingga tuntutan itu akhirnya dicabut =D

Bersama Anak-anak GAREPA setelah Latdas

Selain itu, ketika SMP dan SMA saya juga aktif di Dewan Kerja Ranting (DKR) di kecamatan. DKR ini melakukan dan mengawasi kegiatan kepramukaan dalam lingkup kecamatan. Setelah lulus SMA, saya menyatakan status maya bahwa saya tidak aktif dalam kegiatan pramuka lagi. Karena perkuliahan menuntut saya jauh lebih fokus mencintai akademik dibandingkan saat sekolah dulu. Meski begitu, seperti yang sudah tulis di atas bahwa pramuka tetap di hati saya. Sampai kapan pun.

Bersama Kesatuan Saka Wirakartika Kodim 1002/Barabai

Mungkin ada yang bertanya, mengapa saya begitu terpikat dengan pramuka. Pertama, karena ilmunya sangat bermanfaat di kehidupan nyata. Sebut saja cara survival, membaca dan menggunakan peta dan kompas, sandi morse dan turunannya, tali temali, skill berkemah, dll. Kedua, karena dasar-dasar pramuka sangat prinsipil dan sesuai dengan ajaran agama yang saya anut. Seperti mencintai alam, kasih sayang sesama manusia, ikhlas menolong, dll. Silakan baca Tri Satya dan Dasa Dharma. Ketiga, pramuka sangat memenuhi passion saya yakni eksakta dan alam. Lihatlah, bagaimana saya bisa memutuskan mengambil konsentrasi ilmu Biologi di Fakultas MIPA dengan bidang minat environmental biology jika tidak menyukai dua hal tersebut. Terakhir, karena pramuka saya mempunyai banyak link dengan dunia. Bahkan untuk orang bertipe introvert seperti saya, pramuka tetap cocok dengan praktikum ilmu sosialnya yang tidak membuat bosan.


Sekali lagi, saya akan menggaungkan pernyataan bahwa tanpa pramuka, saya (yang sekarang) tak akan ada.

Krisis 20-an



Krisis ini jamak dialami oleh anak manusia ketika berusia sekitar 20-23 tahun. Di rentang usia tersebut, setiap orang memiliki kegelisahan masing-masing. Tidak seperti masa remaja yang labil, masa ini gelisahnya lebih serius. Gelisah, gamang dengan tujuan yang akan dituju selanjutnya. Beberapa orang di masa ini bingung mengambil keputusan karena baru saja lulus kuliah (fresh graduate), belum bisa menentukan akan melakukan apa di masa pancaroba ini dan setelahnya. Sebagian yang lain, berstatus mahasiswa tingkat akhir tetapi kerjaannya seperti pengacara (pengangguran banyak acara). Karena banyak waktu luang yang tersedia, tetapi tidak bisa cepat kabur meninggalkan kampus karena berbagai alasan (tersandung Tugas Akhir terutama). Sebagian yang lain-lain entah sedang mengkhawatirkan apa. Yang jelas, di awal 20-an secara psikologi kegelisahan itu pasti ada. Terdapat batas yang tak terlihat, yang memisahkan masa remaja dan dunia dewasa.

R. Shaffar dalam sebuah bukunya menyebutkan keadaan ini dengan istilah Quarter-Life Crisis. Krisis ini ditandai dengan salah satu atau beberapa gejala di bawah ini:
- Merasa tidak pernah melakukan sesuatu dengan baik
- Frustasi akibat hubunganmu dengan orang lain, dengan dunia di sekitarmu
- Bingung mencari jati diri
- Merasa tidak aman dengan masa depan
- Merasa belum puas dengan yang sudah didapat, ingin selalu melakukan dan mendapatkan lebih
- Sering bernostalgia (masa2 SD, SMP, SMA, atau kuliah)
- Cenderung keras kepala
- Sensitif
- Bosan dengan interaksi sosial
- Merasa kesepian

Nah, apakah kalian termasuk yang mengalami krisis ini, teman? Jika ya, saya juga =D


Friday, February 21, 2014

Diary Sunyi

Lagi Ry, wajahnya memenuhi ruang pikirku. Tak terelakkan. Sejak setahun lalu rasanya masih sama. Tak sehari pun pikiranku tanpa bayangnya, hariku tanpa namanya, dan perasaan ingin selalu bertemu itu selalu membuatku hampir limbung. Membuat azzamku ingin move on tanpa memikirkannya rasanya seperti niat tanpa tekad.

Tadi siang, tak sengaja aku bertemu dengannya di parkiran kampus. Dia, yang sepertinya tak sengaja menoleh ke arahku, otomatis melemparkan senyum. Alamak, bagaimana tembok pertahanan yang barusan seminggu yang lalu kubangun tidak hancur? Apa aku harus menghindari ke kampus pada jam-jam dia ada di kampus ya? Supaya ini bisa menjadi lebih mudah. Berbalik 180 derajat dengan apa yang kulakukan sejak aku terinfeksi virus ini. Menstalking jadwal kuliahnya, dan tepat di jadwal itu pulalah aku akan berada di kampus.
##
Ry, kenapa hidup begitu sulit ya? Terkadang ketika kita mengharapkan sesuatu, kita tidak mendapatkannya. Namun ketika kita tak lagi mengharapkannya, sesuatu itu malah menghampiri kita. Tadi pagi, ketika aku menuju kelasku, seseorang memanggil namaku. Astaga, dia! Setelah mendekatiku, dia bertanya mengenai seorang dosen jurusanku yang sedang dia cari. Aku menjawab seperlunya dan ia kembali berlalu. Meninggalkanku yang hampir sesak napas, karena lupa menghirup oksigen selama satu menit dia di depanku.

Mengapa baru sekarang kesempatan berbicara dengannya tiba? Saat aku (sedang berusaha) melupakannya, menghilangkan rasa sakit yang tercipta akibat rasa abstrak gila ini. Awalnya, ketika aku magang di sebuah kantor IT di kotaku. Aku berkenalan dengannya yang juga magang di sana. Walaupun satu fakultas dan satu angkatan, hanya beda jurusan, aku baru bertemu dengannya saat magang. Minggu kedua, aku mulai terinfeksi virus itu. Membuat temanku selalu sirik setiap kusebut namanya, setiap wajahku memerah ketika ia lewat dan tersenyum pada kami. Duh, rasanya kantorku berwarna pink semua. Selama satu bulan setengah magang, kulalui dengan keping-keping merah jambu.
##

Saat ini aku sedang online, satu kebiasaan yang (tak sengaja) ia wariskan padaku yang masih bertahan. Meski tidak menulis status, karena kebiasaan aku setidaknya harus online sesaat sebelum tidur. Meski hanya melihat status facebook teman-teman di dunia maya. Terkadang, aku juga menulis catatan galau. Tentang siapa lagi, selain dia.

Awalnya karena setelah waktu magang berakhir, aku sedikit patah hati. Tentu saja, karena aku tak bisa bertemu dengannya lagi setiap hari. Beruntung, dunia canggih sekarang. Sehingga aku bisa stalk tentangnya via media sosial. Hal inilah yang membuatku -yang awalnya apatis di dunia maya, menjadi hiperaktif online tiap waktu hanya untuk membaca status facebook atau tweet yang dia posting.
##

Ry, seperti yang sebelumnya kuceritakan padamu seminggu lalu. Aku mulai resmi patah hati dan kembali (bertekad) bangkit setelah memikirnya lebih dalam selama 24 jam penuh. Hanya karena dia tidak mencantumkan relationship di profil facebooknya, aku yakin dia belum punya wanita spesial. Seminggu yang lalu, seperti biasa aku ngestalk facebooknya. Foto yang terupload via akunnya menampilkan seorang gadis manis sedang membaca buku. Di ujung kanan bawah foto tersebut tertulis my heart. Kata itulah yang membuatku mundur teratur.

Ini salahku, terlalu cepat mengambil kesimpulan. Awalnya kupikir masalah terbesar adalah ketika waktu magang habis, aku tidak bisa melihat senyum manisnya setiap hari. Masalah terbesarku ternyata adalah aku terobsesi. Rasa sukaku itu merupakan sketsa abstrak tanpa realita. Bukan salahnya, karena aku pun tak pernah terus terang. Meski tidak ada kitab yang menyalahkan perempuan untuk menyatakan rasa terlebih dahulu, aku tetap tak bisa melakukan itu. Hingga foto itu muncul, meruntuhkan segalanya, memadamkan obsesiku.

##
Hari-hari move-onku sangat berat Ry. Apalagi satu minggu pertama, karena aku terbiasa memikirkannya. Apalagi sekarang entah kenapa beberapa kebetulan bertemu dengannya, membuatku benar-benar harus berpegangan erat pada tekad untuk berhenti meracuni diri atas nama obsesi.

Sekarang, satu bulan setelah deklarasi resmiku ingin memindahkan hatiku darinya. Aku yakin ini belum sepenuhnya sembuh. Namun jelas lebih baik daripada perlahan terbunuh sendirian karena perasaan. Aku lebih memilih sunyinya dirimu, Ry dibandingkan riuhnya hatiku yang bermonolog sakit jiwa tentangnya.

B10_Genesis

Hah, apaan tuh B10_Genesis? Kayak nama sebuah teori aja. Yup, nama tersebut memang awalnya diambil dari hukum Biogenesis yang dicetuskan oleh Louis Pasteur. Kemudian, diberi modifikasi sedikit dan tarra... jadilah B10_Genesis, golden generation, nama angkatanku. Secara harfiah, B10 artinya jurusan Biologi angkatan 2010. Sedangkan genesis sendiri adalah asal kejadian atau awal mula, pemprakarsa. Secara istilah, B10_Genesis adalah generasi emas yang terlahir dari generasi-generasi sebelumnya dan akan melahirkan generasi-generasi selanjutnya. Ya kurang lebih seperti itulah ^^



Fyi, aku berkuliah di jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Ada yang tidak tahu kampusku? Kalau tidak, coba search di Google sekarang deh :) Jumlah mahasiswa di angkatanku ada 36 orang dan yang masih bertahan sekarang ada 33 orang, terdiri atas 12 orang cowok, dan sisanya cewek. Dimana-mana, cewek emang lebih mendominasi ya. Hihi.



Sekarang, tahun keempat kami kuliah. Sebagian sudah pada sibuk nyekripsi. Sebagian lagi asyik ngerekost (ngulang mata kuliah) dan berinteraksi dengan adik-adik tingkat. Asli, berasa tuwir banget deh kalau kita ngampus, ada banyak anak-pinak yang memanggil kita kakak. Bayangkan saja, udah ada tiga angkatan di bawah kami. Bagaimana bisa ngelak kalau udah ga muda lagi? Wkwk.



Pada tahun pertama dan kedua, B10_Genesis sering ngadain acara ngumpul bareng. Rapat dan segala macam bentuk pertemuanlah. Yang paling asyik itu adalah acara B10_Genesis Award. Bentuk acaranya ngumpul di rumah salah seorang anggota, masak-masak, sharing, evaluasi, penyelesaian masalah (kalau ada), dan pemberian penghargaan ke anggota yang paling ter di segala hal. Acara yang terakhir itu yang paling rame. Dalam dua tahun berturut-turut, ada beberapa orang yang mendapatkan award yang sama. Sedangkan yang lain, awardnya ada yang pindah ke tangan teman yang lain. Dan yang paling fenomenal itu adalah satu orang bisa mendapatkan award paling banyak. Wuihh, keren nggak? Ngeborong cuy.



Tapi, masa-masa rame seperti dua tahun yang lalu nggak bisa kita adain lagi sekarang. Karena masing-masing udah pada sibuk dengan fokus ke studi masing-masing. Ya, karena sejak tahun ketiga, perbedaan pengambilan mata kuliah pilihan semakin tajam. Jadi bisa saja, seseorang hanya bertemu dengan orang lainnya satu minggu sekali saja yaitu pada perkuliahan mata kuliah wajib.



Tahun keempat ini, anggota-anggota B10_Genesis yang cowok katanya makin lengket. Sebelumnya pun mereka sudah lengket duluan, karena sering latihan futsal bareng. Sekarang sebabnya beda lagi. Mau tahu apa? Game PES. Wah wah wah. Menurut pengakuan salah satu dari mereka, PES itu bisa menyebabkan kecanduan. Hal ini tentu saja membuat cewek B10_Genesis yang punya pacar cowok B10_Genesis, kesal dan sering marah. Xixi. Oya, di angkatanku memang ada beberapa pasangan. Sejak tahun pertama udah ada yang jadian, ada yang masih lengket sampai sekarang, ada yang udah putus. Tapi meski begitu mereka masih berteman (semoga). Ada juga beberapa dari mereka yang baru menemuka true choicenya di tahun ketiga kuliah. Lama nyadarnya yak? Hehe, peace ^^



Ga mau kalah, cewek-cewek B10_Genesis pun ingin membuat klub yang sama solidnya dengan klub PES cowok. Klub apakah itu? Klub arisan ibu-ibu B10_Genesis! Eitss, jangan ketawa dulu. Selain fungsinya sebagai tempat menabung, klub arisan ini juga diadakan dengan tujuan mempererat hubungan kita meskipun nanti sudah ada yang lulus duluan. Karena, dihitung-hitung oleh panitianya, waktu arisan ini memakan waktu selama dua tahun ke depan. Wah, lama juga yak. Oke deh ibu-ibu, semoga program arisannya lancar jaya. Aamiin.




Mau tahu siapa aja anggota B10_Genesis ini? Check at Members of B10_Genesis di postingan selanjutnya ya ^^

Thursday, February 20, 2014

Nasi Oh Nasi

          Seorang temanku bilang, aku benar-benar orang Indonesia asli. Apa pasal? Karena katanya aku tak bisa makan tanpa nasi. Awalnya aku tertawa, tapi setelah dipikir-pikir itu benar juga. Aku selalu bilang aku belum makan kalau belum makan nasi. Apalagi aku termasuk orang yang disiplin makan tiga kali sehari, dan tentu saja sejak sarapan hingga makan malam menu utamanya harus nasi. Temanku hanya bisa menggeleng. Ckck...


           Meskipun tahu bahwa sumber karbohidrat tidak hanya dari nasi, tetap saja aku tidak tahan kalau tidak makan nasi. Begitulah, sistem pencernaanku juga sepertinya sudah terbiasa dengan kehadiran si nasi. Jadi ketika nasi tidak hadir, dia akan ngambek dengan alasan gangguan pencernaaan agar aku segera mengisinya dengan nasi. Astaga.
             
              Bagaimana kalau aku keluar negeri ya, yang makanan pokoknya bukan nasi. Kolaps duluan mungkin sebelum aku bisa berdaptasi. Hehe.

               Nah teman-teman, adakah yang bisa memberiku saran bagaimana menyikapi masalah kecil tapi besar ini?

Wednesday, February 19, 2014

Menyeduh Kenangan

Tak ada aroma melati atau vanila
Ketika kuseduh kenangan pagi ini
Lebih mirip aroma kopi hitam
Sejenak kunikmati secangkir kenangan
Bersama pemanis yang kububuhkan berupa relita menyenangkan
Campur aduk rasanya
,jika tak bisa kubilang abstrak

pict source
Selalu, kenangan punya rasa yang berbeda
tidak purna memang
Tapi selalu memanggilku pulang
Kembali mencicipi aneka rasa
Yang bergema dari masa lalu

Monday, February 10, 2014

Jalan-jalan ke Bumi Etam, Samarinda

            Sebenarnya aku sangat jarang mengunjungi kota Samarinda. Bahkan, akhir-akhir ini aku hanya ingat 2 kali pernah ke sana. Setidaknya setelah aku pindah dari Bumi Etam tersebut ke Kalimantan Selatan, tempatku sekarang berdomisili. Ketika itu aku masih balita. Tak banyak kenangan yang berhasil ku ingat.
Jika aku ke ibukota provinsi Kalimantan Timur ini alasanku hanya satu, yaitu mengunjungi keluarga uakku, kakak ayahku. Tiga tahun yang lalu, terakhir aku ke sana aku berkesempatan jalan-jalan ke beberapa tempat wisata di sekitar Kota Samarinda.

DESA BUDAYA PAMPANG
Bersama sepupuku, aku berboncengan naik sepeda motor menuju ke desa budaya ini. Desa ini tidak terlalu jauh dari pusat Kota Samarinda, cukup berkendara sekitar 45 menit dari rumah sepupuku di kelurahan Sempaja. Sayang sekali ketika kami sampai, pertunjukan tarian adatnya sudah selesai. Padahal niat utamanya adalah menonton itu dan memang suguhan utama Desa Budaya Pampang ini adalah tarian adat yang diadakan setiap hari minggu pukul 14.00- 15.00.

Ukiran khas Suku Dayak di dinding Rumah Lamin

Walaupun begitu suasana di sana masih rame. Setidaknya aku tidak sendirian ketika datang dan melihat-lihat Rumah Lamin, rumah panggung tempat pertunjukan tarian diadakan. Tentunya, sambil foto-foto juga.

Di depan Rumah Lamin

Oya, mengenai foto-foto, ada beberapa anak kecil yang berpakaian tarian adat yang bersedia untuk foto bareng tapi dengan ongkos 20 ribu rupiah per foto. Weww. Entah karena selain aku merasa kemahalan waktu itu atau obsesiku memang hanya ingin berfoto dengan nenek-nenek yang punya telinga panjang (dan tidak kesampaian), jadi aku menolak halus tawaran anak-anak kecil nan cantik itu. Setelah puas melihat-lihat dan foto-foto, aku membeli beberapa cendera mata untuk sahabat-sahabatku.

Cendera mata -entah dari gigi taring hewan apa, dari Desa Budaya Pampang

AIR TERJUN TANAH MERAH
Awalnya sih horor dengar kata “tanah merah”. Kutanya sepupuku, apa arti tanah merah itu. Dia menjawab simpel, itu nama daerahnya. Yah, padahal aku berharap mendengar cerita. Sayang sekali, aku salah orang. Bertanya dengan sepupuku yang satu ini memang tidak memuaskan hati bagi orang yang selalu ingin tahu seperti aku. Sepupuku ini orangnya pelit bicara :p
Air terjun tanah merah penampakannya sama saja dengan air terjun seperti biasa yang kita lihat. Terjun dari ketinggian 15 meter, airnya bermuara di sebuah ceruk menyerupai danau di bawahnya. Kusebut danau bukan sungai, karena seingatku air tersebut tidak mengalir kemana-mana. Di danau tersebut layaknya kolam renang, banyak pengunjung  yang berenang atau hanya berendam. Sepertinya tidak terlalu dalam, karena ada orang tua yang berani membawa anak kecilnya bercebur ke sana. Pertunjukan yang cukup menghibur di sana adalah aksi beberapa orang pemuda dan remaja yang terjun bebas dari puncak air terjun. Alamak, berani sekali mereka. Mau begitu juga kah, tanya sepupuku. Eh nggak ding, jawabku. Ngeri. Untuk menju puncak air terjun, telah dibuatkan undakan menyerupai tangga dari tanah di sebelah kiri air terjun.

Air Terjun Tanah Merah

Air terjun ini terletak di Dusun Purwasari, Kecamatan Samarinda Utara, masih satu kecamatan dengan rumah sepupuku. Udara di sana cukup sejuk kalau tidak boleh dibilang dingin. Sangat cocok bagi yang ingin menikmati segarnya hawa pegunungan. Aku dan sepupuku pun hanya duduk menikmati suasana yang jarang bisa ditemui di perkotaan ini. Oya jalan masuk menuju air terjunnya dari tempat parkir lumayan jauh lho. Cukup membuat pegal kaki yang jarang berjalan jauh.

ISLAMIC CENTER SAMARINDA
Selanjutnya aku pergi ke masjid megah di pusat Kota Samarinda, namanya Islamic Center Samarinda. Alhamdulillah, aku sempat menunaikan shalat (zuhur kalo ngga salah di sana) di sana trus foto-foto juga. Disebut-sebut masjid ini adalah masjid termegah dan terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Masjid Istiqlal. Kalau dilihat dari Jembatan Mahakam, keren sekali. Strukturnya yang besar terlihat mencolok dibandingkan bangunan lain di sekitarnya.

Miniatur Islamic Center Samarinda

"Penampakan" Islamic Center Samarinda dari jalan masuk

Di salah satu sudut bangunan Islamic Center Samarinda


JEMBATAN MAHAKAM
Jembatan yang terbentang di atas Sungai Mahakam ini termasuk salah satu objek wisata Kota Samarinda. Aku sendiri belum pernah sengaja mampir untuk menikmati pemandangannya. Tapi jika pas lewat di atasnya, biasanya sepupuku yang mengendarai mobil atau motor akan memperlambat jalan kendaraan untuk memberikan kesempatan padaku menikmati pemandangan Sungai Mahakam dan Kota Samarinda dari atas jembatan.
Jembatan mahakam sendiri ada tiga. Jembatan yang sering kulewati adalah jembatan Mahakam Kota (Mahkota) I. Jembatan ini menghubungkan Kota Samarinda dengan Kota Samarinda Seberang. Jembatan Mahkota II terletak di sebelah hilir jembatan Mahkota I. Pada akhir November 2011, beberapa bulan setelah aku berkunjung ke Samarinda, terdengar kabar bahwa jembatan ini putus dan menelan banyak korban jiwa. Jembatan yang ketiga adalah Jembatan  Mahakam Ulu (Mahulu). Aku pernah sekali melewati jembatan ini sepulang dari Kota Balikpapan. Saat itu pembangunan jembatannya baru selesai, jembatannya masih terlihat sangat kinclong. Arsitekturnya juga unik, berbeda dengan dua Jembatan Mahakam lainnya yaitu bentuk baja setengah lingkaran terbentang di sepanjang jembatan tersebut.

Jembatan Mahakam Ulu Samarinda


Sunday, February 9, 2014

Reuni Dadakan, Momen Satu Malam Penuh

Ceritanya waktu aku jalan-jalan ke Kodim 1002 Barabai, tempat dimana beberapa tahun lalu aku menimba ilmu kepramukaan Saka Wirakartika. Niatku ingin melihat perkemahan di sana tapi eh ternyata banyak senior yang datang. Wajah-wajah senior tersebut adalah wajah-wajah ynang jarang sekali kutemui jadilah kuputuskan menginap saja di perkemahan setelah mendapat ijin dari mama. Tidak sampai sepuluh memang, tapi bisa dikatakan, yang hadir-hadir saat itu adalah beberapa orang yang pada periodenya memang benar-benar aktif. Seperti biasa, dalam ajang reunian aku selalu dibilang kurusan. Aku sih cuma senyum menanggapi muka prihatin dari beberapa teman J

Dari sore jam 4 hingga maghrib, kegiatan kami hanya nongkrong dan bicara-bicara saja. Sambil melihat upacara pembukaan yang dilaksanakan oleh adik-adik junior. Tahu tidak, ternyata ini udah gelombang ke-8. Bayangkan, betapa banyaknya kami sudah punya junior. Fyi, aku termasuk dalam gelombang pertama.

Setelah maghrib, beberapa dari kita (termasuk aku) memutuskan untuk makan di luar. Kita memutuskan makan di sebuah warung seafood terkenal di Kota Barabai. Makannya sih sebentar saja, bercerita-ceritanya itu lho yang lama. Biasalah kebiasaan waktu reuni, kita pasti bertukar cerita. Terutama karena sekarang latar belakang pendidikan kta berbeda-beda. Ada yang sedang kuliah di IPDN, Fakultas Kesehatan Masyarakat, bahkan sedang menjalani pelatihan sebagai polisi air. Keren-keren betul teman-temanku memang. Ga terasa kita makan memakan waktu satu jam dan senangnya lagi karena dibayarin sama salah satu dari kita. Yee, makan gratis.

Akhirnya bisa ngumpul di markas lagi seperti dulu

Pulangnya, kita nggak langsung ke kodim. Tapi mampir dulu di Dwi Warna, lapangan kebanggaaan warga Barabai. Jarang sekali aku bisa merasakan momen seperti ini, mampir di Dwi Warna, nongkrong dengan teman-teman lama, malam minggu pula. Gara-garanya cuma satu, salah satu temanku lagi “ngidam” pentol goreng. Di kota tempatnya kuliah ga nemu jajanan nongkrong ini katanya. Kali ini tema yang dibahas udah beda, selain beberapa kali nostalgia tentang pengalaman kita di masa lalu. Kita juga bercerita tentang masa depan, tentang pekerjaan apa yang kira-kira akan kita ambil, tentang politik, tentang semuanya. Wih, udah beda banget kita dibandingkan tiga tahun lalu. Sekarang keliatan, siapa yang serius, siapa yang nggak dengan kehidupannya masing-masing. Tsahh ^^

Puas nongkrong, kita balik ke kodim. Eh, ternyata ada penambahan jumlah senior yang nginap. Alhamdulillah, tambah rame. Selesai menunaikan shalat isya. Kami kembali ngobrol-ngobrol dengan membentuk lingkaran di dalam sekretariat. Kemudian memantau kegiatan adik-adik yang saat itu agendanya adalah pemberian matei. Materinya tentang kompas. Mengingat dulunya aku masuk dalam krida Navigasi Darat, aku jadi ikut pasang telinga baik-baik saat ka Hafiz, salah seorang senior menjelaskan tentang kompas. Malu juga, udah banyak bagian yang terlupakan. Wah, nostalgia lagi.


Jam 1 pagi aku memutuskan untuk memejamkan mata, teman-teman yang lain masih rame ngobrol-ngobrol. Memang tidak ada habisnya cerita dengan teman-teman pas reuni. Jam 3 dini hari, aku bangun. Kedinginan dan digigit nyamuk. Mendekatlah aku ke kumpulan teman-teman yang masih kuat begadang. Ada-ada saja yang mereka bicarakan, bahkan pembina kami pak Barep Sumarah juga ikut nimbrung. Beberapa kemudian ada yang nyelutuk “laper”. Akhirnya beberapa dari kita pergi ke pasar subuh Barabai. Ini pengalaman pertama bagiku bisa menyaksikan transaksi di pagi buta. Rame. Meskipun kota masih sangat sunyi, namun dipasar subuh kegiatan penjual dan pembeli tak ubahnya seperti pasar pada siang hari.

Jam 2 lewat, adik-adik junior dibangunkan. Aku ikut “beraksi” juga. Hehe. Tapi sayang, sebentar saja acaranya. Padahal aku masih semangat. Selanjutnya istirahat menjelang subuh. Nah pada waktu ini banyak yang tidur. Aku juga ketiduran sebentar sebelum azan subuh membangunkanku kemudian. Selesai shalat subuh, kita duduk-duduk di aula. Nunggu beberapa orang teman yang pulang tadi malam. Karena kita janjian mau jogging pagi ini di Dwi Warna.


Ya, di Dwi Warna sekarang memang sedang digalakkan acara car free day tiap pagi minggu. Mirip di Murjani. Senangnya. Aku berniat minggu-minggu selanjutnya aku bakal datang ke sini lagi kalau aku ada di Barabai. Oya, di Barabai sekarang juga ada sepeda hias seperti di Jogja. Eh, jadi kangen Jogja J

Foto bareng setelah jogging

Puas foto-foto, kita balik ke kodim. Aku pun dengan berat hati harus pulang untuk menjalani aktivitas selanjutnya dengan mata yang ngantuk. Hehe. Semoga momen-momen seperti ini datang lagi. Aamiin.
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates