Mengenang Para Pahlawan Revolusi

23 komentar

Ada banyak pahlawan kemerdekaan yang dimiliki oleh Indonesia. Beberapa yang cukup berkesan bagiku adalah para pahlawan revolusi. Mungkin karena cara gugur mereka yang sadis sehingga para pahlawan ini bisa mendapat perhatian khusus dariku yang sebenarnya bukan pecinta sejarah ini. 


Dua tahun lalu, 30 September 2018, tepat 58 tahun setelah peristiwa kelam G30SPKI 1965, aku menonton filmnya. Film yang berjudul “Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI” itu sukses membuatku bersedih. 



Sebelumnya, aku tidak pernah mau menonton film ini. Alasan utamanya adalah karena aku enggan menyaksikan adegan mengerikan saat momen penculikan para jenderal dan perwira TNI-AD. Kali ini aku memberanikan diri untuk menontonnya. Bukan karena penasaran, tapi untuk menambah referensi tentang salah satu fakta kelam bangsa ini.


Film besutan sutradara Arifin C. Noer ini cukup jelas menggambarkan suasana kelam yang terjadi 60 tahun silam. Aku setuju jika ada yang mengusulkan untuk membuat ulang film sejarah ini. Bukan karena aku menganggap film yang beredar sekarang jelek, tapi sepertinya perlu untuk memperbaharui kualitas film sesuai perkembangan teknologi zaman sekarang. Apresiasiku terhadap film yang dibuat pada tahun 1984 ini sama sekali tidak berkurang meski mengharapkan film versi terbaru.


Tanpa mengubah isi dengan fakta sejarah, sepertinya jika ada film dengan kualitas teknis yang lebih bagus pasti akan lebih diminati oleh anak muda. Durasi film yang memakan waktu lebih dari 4 jam juga dapat dipastikan membuat mata penonton bosan, mungkin dapat dibagi menjadi dua atau mempercepat bagian yang kurang penting.


Seperti yang pernah kubilang, aku bukan orang yang tertarik dengan sejarah. Apalagi setelah mengetahui bahwa cerita sejarah juga dapat dipelintir demi kepentingan tertentu. Sejak itu aku malas mencari tahu karena hanya akan menemukan beberapa versi tentang suatu kasus. Padahal, sifat sejarah itu tunggal dan nyata. 


Namun pepatah Jas Merah (jangan sekali-sekali melupakan sejarah) juga benar adanya. Tidak mungkin ada bangsa yang besar tanpa sejarah perjuangan yang hebat. Dalam tulisan kali ini, aku hanya ingin membagikan pikiran dan perasaanku saja mengenai pengkhianatan PKI terhadap bangsa Indonesia. Jika ada fakta sejarah yang kutulis di sinni ternyata keliru, silakan dikoreksi.


PKI ini menurutku ideologi yang gila, bukan sekadar partai. Yang lebih gila lagi, ada saja para pengikut yang menyetujui ide gila ini. Bahkan jumlah anggota PKI sampai pernah menyentuh angka 20 juta orang. Di mana akal mereka saat bangsa Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan, mereka malah menusuk negara dari dalam.


Ketakutan berlebihan akan pembasmian PKI dari TNI-AD membuat mereka termakan fitnah dan melakukan aksi militer yang bengis kepada para jenderal. Entah siapa yang memulai fitnah atau isu mengenai para jenderal tersebut akan melakukan kudeta pada presiden dan menumpas kekuasaan PKI.


Berikut adalah nama-nama pahlawan revolusi yang menjadi korban kebiadaban PKI.

1. Jenderal Ahmad Yani

2. Letnan Jenderal R Suprapto

3. Letnan Jenderal M.T Haryono

4. Letnan Jenderal Siswondo Parman

5. Mayor Jenderal D.I Pandjaitan

6. Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo

7. Kapten Pierre Tendean

8. AIP Karel Satsuit Tubun

9. Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo

10. Kolonel Sugiono 


Semua perwira TNI-AD yang berhasil diculik kemudian dibawa ke markas PKI untuk disiksa dan dikuburkan dalam satu lubang. Biadab sekali. Sayangnya, di film yang kutonton tidak diperlihatkan bagaimana penumpasan para petinggi PKI seperti D. N. Aidit dan kawan-kawan. Padahal, seperti film pada umumnya aku ingin tokoh antagonis juga mendapat hukuman yang setimpal atas kejahatan mereka.


Yang perlu digarisbawahi adalah kekejian mereka bukan hanya terjadi pada tanggal 30 September 1965 itu saja. Jauh sebelumnya, pada tahun 1948 mereka juga sudah melakukan teror keji terhadap para ulama, tentara, dan warga di Madiun yang tidak sepakat dengan ideologi mereka. Gila, memang.


Di balik kewaspadaan kita yang harus ditingkatkan terhadap paham atau kelompok jaringan komunis, kita juga perlu berpikir logis. Jangan sampai ketakutan berlebihan terhadap isu yang belum benar adanya membuat kita tidak objektif dalam menilai sesuatu. Apalagi di tahun-tahun politik seperti sekarang ini. Jangan sampai termakan tipuan berita hoax apalagi ikut menyebarkannya. Ada banyak berita hoax yang disebarkan hanya untuk kepentingan tertentu.


Satu yang pasti, PKI tidak akan pernah bisa hidup dengan damai di Indonesia. Akan ada jauh lebih banyak orang yang menentang daripada yang mendukungnya. Tak akan ada orang yang ingin kembali mengulang sejarah kelam bangsa Indonesia dengan menerima kembali kebangkitan PKI di Indonesia.


Untuk mengenang para pahlawan revolusi ini dibangunlah Monumen Pancasila Sakti di derah Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur. Nama-nama mereka juga diabadikan sebagai nama jalan utama di semua kota besar Indonesia. Sebagai ungkapan rasa sedih warga negara Indonesia pada setiap tanggal 30 September dikibarkan bendera setengah tiang di setiap halaman rumah. Semoga para jiwa pahlawan tenang di alam baka. Doa untuk mereka semua. []

Rindang Yuliani
Rindang Yuliani adalah seorang sarjana sains yang sedang menikmati proses sebagai bloger. Rindang juga sedang meladeni obsesinya untuk mendapatkan beasiswa S2 dan menerbitkan buku pertamanya. Wanita kelahiran 6 Maret ini juga selalu berusaha mengakrabi Tuhan melalui hobinya yaitu membaca, menulis, dan jalan-jalan.

Related Posts

23 komentar

  1. Aku kayaknya belum pernah nonton juga film G30S itu sampai selesai. Horor duluan sama cerita yang dibilang orang. Heu

    BalasHapus
  2. Begitulah salah satu sejarah kelam bangsa ini. Sedih sih, mengetahui betapa orang-orang bisa sedemikian menyeramkannya saat membela sebuah ideologi.

    BalasHapus
  3. Wah mantap tulisannya mbak...
    Jadi mengingat pelajaran sejarah aku...
    Aku jadi pgn main ke museum lubang buaya

    BalasHapus
  4. Anak2 millenials terutama pelajar jaman now harus banget menyelami sejarah bangsa ini ya.
    Senantiasa menghargai jasa para pahlawan.

    BalasHapus
  5. Ada banyak buku-buku sejarah soal ini yang bisa menjadi referensi. Saya juga pernah menulis panjang soal ini untuk media massa. Liputan ini mencakup para korban PKI maupun mereka yang pernah jadi anggota PKI. Orang yang pernah menjadi anggota PKI sendiri pada masa lampau ini sudah hidup damai dengan masyarakat sekitar. Mereka sendiri sebenarnya juga trauma karena isu ini selalu menjadi isu politis yang dibangkit-bangkitkan lagi. Padahal mereka sudah tidak lagi terlibat. Keberadaan organisasi itu sudah mati. Saya pernah ketemu cucu dari PKI, yang malah jebolan pesantren.

    Ada satu buku menarik yang ditulis oleh anak-anak jendral yang menjadi korban PKI dengan anak-anak para pelaku pembunuhan pada peristiwa G-30S PKI. Buku itu menceritakan bagaimana upaya mereka berdamai dengan masa lalu. Keluarga dari kedua pihak ini dipertemukan, dimediasi, dan mereka saling rekonsiliasi. Kemudian malah mendirikan semacam yayasan bernama FSAB (Forum Silaturahmi Anak Bangsa) untuk memulihkan trauma para korban peristiwa-peristiwa di masa lampau. Mengharukan sekali buku ini.

    Saya kira generasi sekarang juga cukup cerdas, bahwa Pancasila merupakan yang terbaik untuk bangsa yang beraneka ragam budaya dan religi ini. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, Mbak Nieke terima kasih banyak rekomendasi bukunya. Saya pasti akan suka baca buku2 di atas.

      Hapus
  6. Terima kasih berbagi ilmu tentang sejarah ini mbak rindang. Kemarin saya lihat di salah satu medsos teman saya, jadi para pahlawan revolusi yang gugur bercerita seolah olah mereka itu masih hidup. Padahal itu hanya foto lalu dibuat sedemekian rupa, mulut bisa berbicara. Saya terkesima mendengar cerita dibalut dengan kreatifitas menceritakan sejarah

    BalasHapus
  7. Kalau dari sisi PKI, aliran mereka ini termasuk membantu negara loo..
    Aku gak bermaksud berkata mendukung, tapi membaca sejarah, politik dan kaitannya dengan ideologi ini kuat sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Membaca sejarah ini membuatku teringat dengan masa-masa kelam dan luka yang dimiliki oleh bangsa ini.
      Semoga negara ini dijauhkan dari keburukan.

      Hapus
  8. Sama dong mbak rindang..aku juga enggan nonton film g30 ini...jadi aku baca review-nya aja kaaya di post mbak rindang hihi. Aku jdi mau ke museum lubang buaya pdhl dkt rumah hehe

    BalasHapus
  9. Waktu saya SD, fikm ini diputar di sekolah dan seterusnya selalu diulang tiap tahun di televisi, meski saya nggak pernah nonton utuh karena nggak tahan adegan kekerasan.
    Pelajaran dan mengingatkan pada orang2 yang nggak percaya komunis itu sadis dan menghalalkan segala cara untuk kekuasaannya

    BalasHapus
  10. Rasanya beberapa tahun lalu juga ada film dokumenter yang menceritakan bagaimana anggota PKI juga dibunuh sama pemerintah. Wallahualam ya tentang film dari sisi PKI ini. Yang jelas kita semua tahu kalau PKI merupakan salah satu sejarah kelam negeri ini

    BalasHapus
  11. Aku pernah berkunjung ke situs Lubang Buaya, itu aja udh berasa banget aura kekejaman PKI 😫 gak berani deh ntn film'y. Cukup baca tulisan mba aja. Hehe..

    BalasHapus
  12. Saya kalau nonton film itu juga takut dan ngeri sendiri, bagaimana melihat kekejaman mereka membunuh para Jenderal2 itu. Dulu nontonnya saat masih sekolah, sekarang sudah gak pernah nonton lagi.

    BalasHapus
  13. Mbak Rindang, saya rekomendasikan bukunya FSAB (Forum Silaturahmi Anak Bangsa), kisah mediasi dan rekonsiliasi antara anak-anak jenderal korban G30S dengan anak para pembunuhnya. Baguuusss banget isinya. Saya sampai terharu. Ohya, ada buku satu lagi yang bagus, bukunya sejarawan Harry Poeze. Saya dulu pernah wawancara Harry Poeze untuk liputan saya. :)

    BalasHapus
  14. aku paling takut mbak rindang kalau disuruh nonton film dokumenter ini, sampai sekarang belum coba lagi sih. ngilu banget sih ngebayangin perjuangan mereka para pahlawan, semoga khusnul khotimah ya aamiin.

    BalasHapus
  15. Selain menonton film ini saya juga membaca dari beberapa buku yang mengisahkan kekejaman PKI jauh sebelum peristiwa Lubang Buaya. Semoga saja tidak ada kebangkitan ideologi PKI di masa-masa sekarang ini. Sedih saya memikirkan nasih anak cucu saya kelak...

    BalasHapus
  16. Sebenarnya, yang perlu dicari tahu terlebih dahulu adalah korelasi antara kekejaman PKI dengan ideologi yang mereka anut. Apa yang dilakukan kepada para jendral TNI AD ini bisa saja tidak mewakili partai tersebut secara keseluruhan. Pernah nggak terbetik pemikiran, bahwa apa yang dilakukan ini bisa jadi rekayasa salah satu pihak di masa dahulu?

    Jujur saja aku takut ngeliat film jadul itu, hanya keseraman saja yang bisa ditangkap oleh indera. Pas banget loh itu jadi propaganda politik yang bahkan kita sendiri tak tau sebenarnya faktanya apa di jaman dulu.

    BalasHapus
  17. Saya pikir, orang-orang yang 'gila' ini karena mereka tidak mengakui kekuasaan Tuhan. Menghalalkan segala cara tak peduli penderitaan orang lain. Sayangnya, jaman sekarang pun banyak yang beragama tapi tak yakin Tuhan.

    BalasHapus
  18. Teringat pertama kali nonton film ini tuh pas masih SD, udah berapa puluh tahun yang lalu yaa itu :) Dulu sih diwajibkan sama sekolah, nonton bareng-bareng ke bioskop loh, barengan dengan anak-anak dari sekolah lain. Dijadwal banget tuh. Biar pada tahu dengan peristiwa sejarah gitu mungkin ya maksudnya.

    BalasHapus
  19. Saya jg beberapa waktu lalu main ke museum lubang buaya. Masih berasa banget perjuangan mereka dan rasanya haru. Apalagi ada reka adegan gitu jg kan. Ya Allah merinding. Semoga Allah memberikan tempat terbaik untuk semua para pahlawan. Aamiin.

    BalasHapus
  20. Film ini dulu semacam momok masa kecil. Dipaksa harus nonton tiap tahun padahal ‘horor’. Semoga ideologi yang menjadi hantu bagi Indonesia dan mengorbankan banyak nyawa nggak akan muncul lagi ya.

    BalasHapus
  21. Pahlawan revolusi ini gugur dalam perang melawan saudara setanah air karena perbedaaan ideologi. Sedih ya. Semoga perjuangan mereka menjadi pelajaran supaya nggak ada lagi kisah serupa terjadi di masa dapan.

    BalasHapus

Posting Komentar