Mengenang Para Pahlawan Revolusi

1 komentar

Ada banyak pahlawan kemerdekaan yang dimiliki oleh Indonesia. Beberapa yang cukup berkesan bagiku adalah para pahlawan revolusi. Mungkin karena cara gugur mereka yang sadis sehingga para pahlawan ini bisa mendapat perhatian khusus dariku yang sebenarnya bukan pecinta sejarah ini. 


Dua tahun lalu, 30 September 2018, tepat 58 tahun setelah peristiwa kelam G30SPKI 1965, aku menonton filmnya. Film yang berjudul “Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI” itu sukses membuatku bersedih. 



Sebelumnya, aku tidak pernah mau menonton film ini. Alasan utamanya adalah karena aku enggan menyaksikan adegan mengerikan saat momen penculikan para jenderal dan perwira TNI-AD. Kali ini aku memberanikan diri untuk menontonnya. Bukan karena penasaran, tapi untuk menambah referensi tentang salah satu fakta kelam bangsa ini.


Film besutan sutradara Arifin C. Noer ini cukup jelas menggambarkan suasana kelam yang terjadi 60 tahun silam. Aku setuju jika ada yang mengusulkan untuk membuat ulang film sejarah ini. Bukan karena aku menganggap film yang beredar sekarang jelek, tapi sepertinya perlu untuk memperbaharui kualitas film sesuai perkembangan teknologi zaman sekarang. Apresiasiku terhadap film yang dibuat pada tahun 1984 ini sama sekali tidak berkurang meski mengharapkan film versi terbaru.


Tanpa mengubah isi dengan fakta sejarah, sepertinya jika ada film dengan kualitas teknis yang lebih bagus pasti akan lebih diminati oleh anak muda. Durasi film yang memakan waktu lebih dari 4 jam juga dapat dipastikan membuat mata penonton bosan, mungkin dapat dibagi menjadi dua atau mempercepat bagian yang kurang penting.


Seperti yang pernah kubilang, aku bukan orang yang tertarik dengan sejarah. Apalagi setelah mengetahui bahwa cerita sejarah juga dapat dipelintir demi kepentingan tertentu. Sejak itu aku malas mencari tahu karena hanya akan menemukan beberapa versi tentang suatu kasus. Padahal, sifat sejarah itu tunggal dan nyata. 


Namun pepatah Jas Merah (jangan sekali-sekali melupakan sejarah) juga benar adanya. Tidak mungkin ada bangsa yang besar tanpa sejarah perjuangan yang hebat. Dalam tulisan kali ini, aku hanya ingin membagikan pikiran dan perasaanku saja mengenai pengkhianatan PKI terhadap bangsa Indonesia. Jika ada fakta sejarah yang kutulis di sinni ternyata keliru, silakan dikoreksi.


PKI ini menurutku ideologi yang gila, bukan sekadar partai. Yang lebih gila lagi, ada saja para pengikut yang menyetujui ide gila ini. Bahkan jumlah anggota PKI sampai pernah menyentuh angka 20 juta orang. Di mana akal mereka saat bangsa Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan, mereka malah menusuk negara dari dalam.


Ketakutan berlebihan akan pembasmian PKI dari TNI-AD membuat mereka termakan fitnah dan melakukan aksi militer yang bengis kepada para jenderal. Entah siapa yang memulai fitnah atau isu mengenai para jenderal tersebut akan melakukan kudeta pada presiden dan menumpas kekuasaan PKI.


Berikut adalah nama-nama pahlawan revolusi yang menjadi korban kebiadaban PKI.

1. Jenderal Ahmad Yani

2. Letnan Jenderal R Suprapto

3. Letnan Jenderal M.T Haryono

4. Letnan Jenderal Siswondo Parman

5. Mayor Jenderal D.I Pandjaitan

6. Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo

7. Kapten Pierre Tendean

8. AIP Karel Satsuit Tubun

9. Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo

10. Kolonel Sugiono 


Semua perwira TNI-AD yang berhasil diculik kemudian dibawa ke markas PKI untuk disiksa dan dikuburkan dalam satu lubang. Biadab sekali. Sayangnya, di film yang kutonton tidak diperlihatkan bagaimana penumpasan para petinggi PKI seperti D. N. Aidit dan kawan-kawan. Padahal, seperti film pada umumnya aku ingin tokoh antagonis juga mendapat hukuman yang setimpal atas kejahatan mereka.


Yang perlu digarisbawahi adalah kekejian mereka bukan hanya terjadi pada tanggal 30 September 1965 itu saja. Jauh sebelumnya, pada tahun 1948 mereka juga sudah melakukan teror keji terhadap para ulama, tentara, dan warga di Madiun yang tidak sepakat dengan ideologi mereka. Gila, memang.


Di balik kewaspadaan kita yang harus ditingkatkan terhadap paham atau kelompok jaringan komunis, kita juga perlu berpikir logis. Jangan sampai ketakutan berlebihan terhadap isu yang belum benar adanya membuat kita tidak objektif dalam menilai sesuatu. Apalagi di tahun-tahun politik seperti sekarang ini. Jangan sampai termakan tipuan berita hoax apalagi ikut menyebarkannya. Ada banyak berita hoax yang disebarkan hanya untuk kepentingan tertentu.


Satu yang pasti, PKI tidak akan pernah bisa hidup dengan damai di Indonesia. Akan ada jauh lebih banyak orang yang menentang daripada yang mendukungnya. Tak akan ada orang yang ingin kembali mengulang sejarah kelam bangsa Indonesia dengan menerima kembali kebangkitan PKI di Indonesia.


Untuk mengenang para pahlawan revolusi ini dibangunlah Monumen Pancasila Sakti di derah Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur. Nama-nama mereka juga diabadikan sebagai nama jalan utama di semua kota besar Indonesia. Sebagai ungkapan rasa sedih warga negara Indonesia pada setiap tanggal 30 September dikibarkan bendera setengah tiang di setiap halaman rumah. Semoga para jiwa pahlawan tenang di alam baka. Doa untuk mereka semua. []

Rindang Yuliani
Rindang Yuliani adalah seorang sarjana sains yang sedang menikmati proses sebagai bloger. Rindang juga sedang meladeni obsesinya untuk mendapatkan beasiswa S2 dan menerbitkan buku pertamanya. Wanita kelahiran 6 Maret ini juga selalu berusaha mengakrabi Tuhan melalui hobinya yaitu membaca, menulis, dan jalan-jalan.

Related Posts

1 komentar

  1. Aku kayaknya belum pernah nonton juga film G30S itu sampai selesai. Horor duluan sama cerita yang dibilang orang. Heu

    BalasHapus

Posting Komentar