Pendidikan Harus Dimulai dari Rumah

22 komentar

Pandemi Covid-19 mempengaruhi seluruh lini kehidupan, termasuk pendidikan. Sekolah diliburkan sudah sekitar 3 bulan terakhir untuk mencegah penularan virus Corona. Pemerintah pun mengeluarkan beberapa kebijakan pendidikan agar anak-anak tetap dapat belajar meski dari rumah.

 

Kemendikbud membuat Program Belajar dari Rumah di TVRI. Ada berbagai program pembelajaran yang terdapat di saluran televisi pemerintah tersebut untuk berbagai jenjang kelas sekolah. Diharapkan tayangan-tayangan tersebut dapat membantu keluarga yang memiliki keterbatasan pada akses internet. Dengan begitu, semua anak bisa terus belajar di rumahnya masing-masing.



 

Pada sekolah-sekolah yang memungkinkan penggunaan teknologi internet, kelas-kelas dilakukan secara langsung via aplikasi video calling seperti Zoom atau Google Meet. Dalam level yang lebih rendah, kelas via grup WhatsApp juga bisa dilaksanakan. Para guru disarankan untuk tidak mengejar penyelesaian materi dalam kurikulum, tapi lebih menekankan pada pengembangan skill, kesehatan, dan rasa empati.

 

Untuk ujian atau ulangan, Google Form dapat digunakan sebagai sarana mengasah kemampuan siswa. Ngomong-ngomong tentang ujian, ‘berkat’ pandemi Covid-19 UN ditiadakan tahun ini. Satu tahun lebih cepat dari rencana awal Pak Nadiem Makarim yang akan menghapuskan UN tahun 2021. Selain itu, ada banyak hal-hal lain di sekolah yang juga berubah karena adanya pandemi ini.

 

Salah satunya dialami oleh adik sepupuku, ia kelas 9 tahun ini. Tidak ada selebrasi khusus apapun dalam merayakan kelulusannya dari SMA. Cuma foto-foto biasa saat pengambilan ijazah ke sekolah. Lagi-lagi hal ini dilakukan untuk mencegah kerumunan orang banyak.

 

Tips untuk Orangtua yang Menyelenggarakan Pendidikan dari Rumah

Selain stimulus yang dibuat pemerintah lewat tayangan belajar di televisi, belajar dari rumah juga harus diinisiasi oleh orangtua. Peran orangtua, terutama ibu, sebagai madrasatul ‘ula (sekolah pertama) bagi anak harus kembali digalakkan.

 

Mau tidak mau, para orangtua harus menengok bagaimana para penggiat homeschooling mempraktikkan proses belajar dari rumah selama ini. Jika ada hal-hal yang bisa ditiru atau dimodifikasi, tidak ada salahnya untuk diterapkan.

 

Setidaknya 6 tips berikut dapat diterapkan untuk orangtua yang menyelenggarakan pendidikan dari rumah. Semoga bisa diterapkan semuanya untuk mendapatkan hasil pendidikan yang maksimal.

 

1.  Menyusun Kurikulum dengan Penyesuaian

Orangtua harus menyusun kurikulum sendiri sesuai visi misi dan kondisi keluarga, selain mengacu kepada kurikulum nasional yang dibuat oleh pemerintah juga. Hanya orangtua sendirilah yang tahu bagaimana kurikulum yang tepat untuk anak-anaknya di rumahnya sendiri. Kurikulum untuk sekolah pun seharusnya disesuaikan dengan kearifan lokal sekitar.

 

Tidak bisa satu kurikulum untuk seluruh Indonesia. Anak-anak yang tinggal di gunung tidak harus belajar tentang pantai dan para siswa di kampung bisa memilih untuk tidak belajar tentang kondisi kota besar. Konteks kehidupan riilnya berbeda. Sampai di tangan guru atau pendidik, kurikulum nasional harusnya diadaptasi sesuai kondisi murid-muridnya.

 

Begitu juga kurikulum yang seharusnya dibuat untuk pendidikan di dalam rumah. Kurikulumlah yang harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan karakter anak. Jadi, tetapkan duluan tujuan pembelajarannya, baru mencari kendaraan (baca: cara) yang tepat agar bisa sampai pada tujuan tersebut. Dengan begini pendidikan jadi tepat guna, tidak bingung ketika lulus menentukan mau jadi apa.

 

2.  Perhatikan Potensi Anak

Tidak hanya dalam penyusunan kurikulum pembelajaran, dalam semua aspek belajar mandiri di rumah memperhatikan potensi anak harus dilakukan. Proses pendidikan yang berhasil akan membuat seorang anak mengeluarkan potensi terbaiknya. Mungkin memang akan hanya fokus pada satu bidang, namun dalam kenyataannya hidup memang begitu kan? Kita tidak bisa menguasai semua hal.

 

Orangtua tidak harus memaksa anak untuk menelan semua materi. Kita bisa memilih bidang-bidang tertentu yang membuat anak tertarik dan sesuai dengan bakatnya. Kita mendorong dan menstimulasi potensinya agar berkembang dan bisa dijadikan alat untuk berkarya. Dengan fokus pada hal yang sesuai potensinya, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang unggul. Bukan pribadi yang kebingungan dengan potensi dirinya sendiri saking bingungnya karena kebanyakan materi belajar yang masuk ke otaknya.

 

3.  Lakukan Lebih Banyak Praktik daripada Teori

Aplikasikan kurikulum yang dibuat sesuai dengan kemampuan anak dan orangtua. Jangan memaksakan hal yang susah untuk dilakukan. Jangan lupa, aktivitas dari kurikulum tersebut harus menyenangkan. Kalau bisa sambil bermain sehingga baik orangtua maupun anak tidak tertekan.

 

Jangan menghabiskan waktu untuk menghafal teori. Teori itu sifatnya wawasan agar saat praktik tidak kagok dan lebih dari sekadar trial and error. Dengan adanya teori, anak-anak akan belajar lebih cepat jika mereka terjun langsung dan tahu medan perangnya.

 

Pada konsep belajar mandiri di rumah, orangtua harus memperbanyak praktik daripada teori. Kenalkan anak pada dunia nyata, teori yang mereka dapat dibarengi oleh pembelajaran life skills yang mengajarkan mereka untuk mengaplikasikan apa yang mereka dapat ke dalam kehidupan mereka sehari-hari.

 

4.  Alokasikan Waktu Khusus untuk Belajar di Rumah

Meski tidak akan seketat sekolah formal pada umumnya, harus ada jam khusus untuk belajar di rumah. Minimal 5 jam pembelajaran dalam sehari.

 

5.  Utamakan Pendidikan Agama, Akhlak, Karakter, dan Kesehatan Mental

Semua hal di atas harus diutamakan sebelum materi ‘duniawi’ lainnya. Dengan penanaman materi-materi ruhiyah yang kuat, anak akan bisa tumbuh dengan lebih kuat. Pada masanya nanti, skill pengendalian emosi semacam ini akan memberikan manfaat luar biasa.

 

6.  Teladan dari Orangtua

Orangtua harus mencontohkan hal-hal yang baik kepada anak agar anak tidak sulit menerapkannya juga. Perilaku orangtua dalam keseharian itu lebih cepat dan lebih mudah dicontoh anak ketimbang nasihat yang disampaikan tanpa teladan langsung. Pepatah bahwa anak adalah cerminan orangtua itu benar sekali adanya.

 

Demikian 6 tips yang dapat diterapkan orangtua untuk menyelenggarakan pendidikan di rumah. Jangan lupa untuk melakukan evaluasi secara berkala. Tiga indikator utama dalam pembelajaran di rumah yaitu:


a.      Apakah pengetahuan anak bertambah?

b.            Apakah kemampuan anak makin terasah?

c.            Apakah anak bahagia menjalani kesehariannya?

 

Jika 3 hal tersebut di atas tercapai, maka proses pembelajaran di rumah kita berhasil. Jika ada salah satu indikator yang belum tercapai, maka perlu dilakukan perbaikan. Apakah visi pendidikan yang belum sesuai dengan kondisi anak, apakah strategi yang disusun belum maksimal.

 

Semuanya dikembalikan kepada orangtua sebagai guru atau pendidik di rumah. Semangat ya para ayah bunda dalam mendampingi putra-putrinya untuk belajar di rumah. Ingat, ini bukan untuk membantu menggantikan peran guru di sekolah tapi ini untuk membangun karakter dan kecerdasan anak.

 

Karena bagaimanapun waktu akan terus berjalan selama pandemi Covid-19 ini. Anak-anak harus tetap berkembang otaknya, jangan ikut mandeg karena imbas virus Corona. []

Rindang Yuliani
Rindang Yuliani adalah seorang sarjana sains yang sedang menikmati proses sebagai bloger. Rindang juga sedang meladeni obsesinya untuk mendapatkan beasiswa S2 dan menerbitkan buku pertamanya. Wanita kelahiran 6 Maret ini juga selalu berusaha mengakrabi Tuhan melalui hobinya yaitu membaca, menulis, dan jalan-jalan.

Related Posts

22 komentar

  1. Pada akhrinya rumah tidak hanya tempat pulang tapi, tapi juga tempat belajar. Madrasah pertama anak ya kak.
    Orang tua yang biasanya nungguin anak belajar, jadi ikut aktif belajar.

    BalasHapus
  2. IMO, sisi positif belajar di rumah karena pandemi ini membuka kesempatan untuk orang tua agar bisa turut serta berperan dalam pendidikan anaknya.

    BalasHapus
  3. Anak-anak yg pengen ngerasain home schooling, jd keturutan yaaa..
    dan doa2 para anak2 yg mau UN, terdengar. :)
    duh, padahal saya pengen ngerasain tanpa UN waktu itu.
    hehehehe

    BalasHapus
  4. Semoga semua keadaan setiap keluarga bisa melakukan hal ideal demikian ya kak :)

    Terkadang, beberapa keluarga (orangtua) sdh sibuk dg pekerjaannya untuk mencari sesuap nasi :(

    BalasHapus
  5. Namun secara fakta yang aku temuin, orang tua pada banyak yang ngeluh 🤭
    Karna orang tua msh ada yg gak ngerti gadget.

    BalasHapus
  6. Setuju banget dengan kak rindang, bahwa kita sebagai orang tua lah yang harus menjadi teladan yang baik untuk anak. Karena masa anak2 merupakan seorang peniru ulung, terutama meniru perilaku orang tuanya.

    BalasHapus
  7. Pas banget buat aku yg udah 3 bulan ini ngajari 3 anak di rumah.kurang efektif sih karena aku juga nyambi kerjaan rumah. Tapi alhamdulillah pihak sekolah fleksibel. Jadi benar2 terasa fungsi aku sbg madrasah pertama anak2ku

    BalasHapus
  8. di saat pandemi seperti ini para ibu benar-benar diuji ya kemampuannya mendidik anak jadinya.

    BalasHapus
  9. Setuju banget kalo pendidikan itu berawal dari rumah. Soalnya sebelum anak ketemu siapa siapa kan sama ortu jd yg pertama d tiru ya ortu hehe

    BalasHapus
  10. Sebenernya belajar di rumah ini punya tantangannya yang banyak banget. Apalagi dari segi orangtua. Yang awalnya ngelemparin tanggung jawab ke guru, sekarang jadi harus berperan aktif buat anaknya sendiri. Mudah-mudahan dua-duanya bisa belajar berkembang dengan baik ya :")

    BalasHapus
  11. Rumah adalah tempat meletakkan dasar. jadi emang semua harus dimulai dari rumah dan orang tua. Kalau jalan udah bener, rambu udah jalan kemana mana bakalan beres

    BalasHapus
  12. Sepakaaat.. tentu dgn demikian pendidika jg butuh kuota ya mbak.

    BalasHapus
  13. Alhamdulillah jadi semakin dekat dengan buah hati saat pandemi ini, tapi ternyata membuat anak fokus belajar di rumah sangat sulit ya :(

    BalasHapus
  14. Aku pernah mencoba alokasikan waktu tapi kayanya kurang efektif juga karena akunya kurang disiplin sama anak.huhuhu

    BalasHapus
  15. Terima kasih banyak tispnya. Di masa-masa kayak gini, menyesuaikan kurikulum emang penting banget supaya anak-anak tetap bisa belajar dengan nyaman.

    BalasHapus
  16. Challenging banget lho bikin kurikulum buat anak. Aku yang antusias dengan belajar dari rumah aja belum siap-siap banget kalo everything harus dilakukan di rumah.

    BalasHapus
  17. Mengalokasikan waktu khusus untuk belajar minimal 5 jam sehari ini yang sulit buatku. Huhu. Anakku empat dan masih kecil-kecil semua (yang udah sekolah ada dua), semua butuh perhatian dan waktunya kadang gak bisa ditebak. Tantangan tersendiri, nih.
    Ehhh maaf curcol :D

    BalasHapus
  18. Aku jadi teringat dulu sebelum sekolah diajarin baca dulu di rumah dan PR selalu tanya orangtua, memang kalau di dukung pendidikan d rumah anak jadi lebih maksimal dlm pendidikannya :D

    BalasHapus
  19. Sebenarnya proses belajar mengajar secara online lebih ribet ya. Kita sebagai orangtua malah harus 24 jam mengontrol anak dalam sistem pembelajarannya. Tapi mau tidak mau di masa Pandemi ini orangtua turut andil sepenuhnya ya.

    BalasHapus
  20. Selama pandemi ini. Terasa banget peran ortu dalam membimbing anak untuk belajar dan ini jadi ladang pahala

    BalasHapus
  21. Semoga semester ini belajar online nya bisa lebih lancar dan bikin anak dan ortu hepi ya, ada metode baru dari diknas..

    BalasHapus
  22. teladan itu nomor satu. makanya aku gak pantes banget jd guru, gak bisa ditiru, wkwk. Jambi Alhamdulillah zona hijau, kemungkinan dlm wkt dekat anak2 sdh sekolah lagi

    BalasHapus

Posting Komentar