Sunday, February 11, 2018

Nateh On Journey

Yeaay, aku travelling lagi. Senang sekali. Kali ini misiku ikut suami camping dengan agenda pelantikan siswa binaannya di ekskul pramuka.

Perjalanan di mulai setelah shalat ashar. Setelah packing singkat, aku dan suami berangkat ke lokasi. Motoran sejauh 25 km dari rumah. Di tengah perjalanan kami melewati medan berkelok-kelok, naik turun. Setiap jalan menurun yang panjang, kami mematikan gas motor sehingga hanya mengandalkan gaya gravitasi. Seru. Lokasi yang kami tuju adalah Desa Nateh, sebuah desa di Pegunungan Meratus yang termasuk dalam kecamatan Batang Alai Timur.



Tiba di pertigaan Desa Nateh, kami berbelok ke kiri. Medan yang sesungguhnya menunggu kami. Jalanan becek karena jalan berlubang dan habis hujan. Kebetulan pula, saat itu tanah baru diuruk untuk menutup lubang-lubang tersebut. Tambah becek. Lewat pun susah karena cipratan tanah yang baru diuruk belum padat dan bahkan di beberapa titik masih dalam proses pengurukan.

Sebenarnya aku bukan kali ini saja ke sini. Hampir setiap tiga bulan sekali aku bersama tim lapangan di kantor ke desa ini untuk mengambil sampel air sungai, tapi menggunakan mobil lapangan. Tak kusangka ternyata kalau pakai motor lewat di sini susah begini. Oya, bahkan di periode pengambilan sampel yang terakhir kami sempat kepecahan ban mobil karena ban mobil yang saat itu terlalu kencang terantuk batu-batu jalanan yang runcing. Jalannya beraspal sih, tapi rusak karena seringnya truk pengangkut pasir dan atau batu yang lewat di sepanjang jalan ini.

Ngomong-ngomong tentang pasir dan batu, Nateh memang memiliki sumber daya alam berupa kedua hal tersebut selain wisata alamnya. Di tepi kanan jalan terdapat sungai lebar yang berarus deras, pasirnya ditambang warga untuk dijual. Sekarang sih sudah pakai alat penyedot, dulu mungkin mesti nyelam langsung untuk ngambil pasirnya. Di sebelah kiri jalan terdapat gunung batu, ini adalah khas Desa Nateh. Gunung batu ini selain sebagai barrier alam, batunya juga ditambang oleh warga sekitar. Sejauh yang aku lihat metode penambangan batunya masih manual. Ya dipukul dengan alat berat menggunakan tangan. Aku sering kasihan melihat para pekerja tersebut, pasti tangan mereka sakit sekali. Sama dengan pasir, batu ini dijual sebagai bahan pondasi rumah beton.

Akhirnya kami sampai di tempat, yaitu sebuah lahan kosong di tepi sungai. Setelah kuingat-ingat, kayaknya aku sudah pernah ke sini waktu SMP saat darmawisata. Hal ini disebabkan saat aku melihat bagian sungai yang berkelok dan bagian belakang rumah orang di kejauhan. Pemandangan yang sepertinya pernah kulihat. Waktu aku cerita ke suami, dia bilang mungkin saja karena spot wisata sungai Nateh itu ya di sini. Fix berarti aku benar.

Sungai Nateh

Kami pun langsung mendirikan tenda dan persiapan memasak untuk makan malam. Secara bergantian, kami shalat. Lalu makan malam. Malam itu tidak cerah, tapi juga tidak hujan. Untung sekali karena sebelumnya seharian hujan. Karena hari gelap, cahaya apapun jadi terlihat terang. Kami yang hanya mengandalkan nyala senter dan api unggun terkagum-kagum dengan tarian kunang-kunang d atas sungai. Indah sekali. Sudah lama aku tak melihat kunang-kunang. Aku pernah baca hasil penelitian jika kunang-kunang masih bisa hidup di suatu tempat berarti tempat tersebut masih tidak tercemar udara dan airnya. Berarti Nateh masih aman dari kerusakan lingkungan, semoga selamanya begini. Mengingat adanya isu pertambangan di HST, sepertinya Nateh juga termasuk daerah yang akan menjadi area tambang. Hiks, semoga jangan.

Camping di tepi sungai

Setelah makan malam, kami mengobrol. Apa saja. Topiknya meluas kemana-mana. Yang paling seru sih topik tentang hantu kerena bikin halu. Di tempat terbuka di tengah hutan seperti ini pula. Para cowok sih anteng saja, nah kami para cewek agak sedikit merinding. Malam itu aku tertdiur sekitar jam 11 malam. Tidak terlalu nyenyak sih karena tanah yang menjadi tempat kami mendirikan tenda agak miring.

Pagi datang, rutinitas pagi dimulai. Kami para cewek agak susah menemukan tempat tertutup untuk buang air karena hari juga sudah mulai perlahan terang, oleh karena itu kami motoran ke masjid untuk menumpang toilet sekaligus shalat subuh. Yang menjadi catatanku adalah reaksi orang-orang desa yang berpapasan denganku di jalan saat ke masjid. Mereka terlihat tidak aneh saat melihat orang asing di desa mereka bahkan di pagi hari ketika mereka baru membuka mata. Kata suami sih karena mereka memang sudah terbiasa ‘dikunjungi’ orang luar yang berwisata ke Desa Nateh, baik yang ke sungai atau ke gunung, baik yang datang sehari saja atau bahkan berkemah seperti kami. Oh, kataku manggut-manggut.

Desa Nateh

Harusnya ada semacam kebijakan dari pihak desa ya waktu wisatawan masuk ke sana, entah bagaimana pengelolaannya tapi yang jelas arus masuk wisatawan dapat terkontrol sehingga dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Selain menambah keamanan dalam berwisata, hal tersebut juga dapat menambah income masyarakat. Ngomong-ngomong tentang masyarakat desa, ada seorang penduduk bernama Jalal. Umurnya mungkin di atasku beberapa tahun. Sejak kami datang sore itu, ia dengan akrabnya bergabung dengan anak laki-laki. Kata anak-anak yang pernah datang ke situ, di desa ia dikenal sebagai orang dengan gangguan mental. Tapi sungguh kami sama sekali tidak terganggu dengan kedatangannya karena sikapnya yang bersahabat, mau membantu, dan tentunya tidak mengganggu.

Sarapan di tepi sungai
Setelah sarapan di tepi sungai. Kami pun berkemas untuk menuju destinasi yang selanjutnya yaitu puncak gunung batu sebagai tempat pelantikan pramuka. Setelah menitipkan motor dan barang-barang di sebuah rumah kenalan, kami pun berjalan kaki menuju Gunung Nateh. Dengan bantuan Jalal, kami ke sana karena semuanya belum pernah sama sekali. Setelah sampai di tepi gunung, ternyata medannya terjal, licin karena habis hujan, dan puncaknya tinggi sekali.

Kami pun meminta Jalal untuk menunjukkan jalan menuju puncak yang lebih aman dan tidak terlalu tinggi. Akhirnya Jalal membawa kami ke Gunung Kukup. Kalau dilihat dari bawah, memang kurang tinggi daripada Gunung Nateh tapi mashaaallah curamnya sama saja. Bahkan di awal pendakian kami sudah beberapa kali terpeleset. Nyaliku yang biasanya gede, kali ini agak gugup dan was-was. Tapi dengan bismillah kami tetap melangkah menuju puncak.

Gunung yang akan kami daki

Di sebuah tanjakan curam lainnya nyali kami kembali diuji. Yang bikin ketar-ketir itu tanah yang kami injak longsor, terus gak ada pegangan. Sungguh kayak manjat gitu deh jadinya posisi kami saat naik. Aku bahkan melepas alas kaki karena merasa lebih percaya diri kalau kaki menjejak tanah langsung, alhasil kaos kakiku kotor karena tanah kuning. Setelah kupikir-pikir longsoran tanah ini sepertinya karena batu sebagai penguatnya sudah banyak ditambang orang sehingga tanahnya jadi longgar. Duh, mirip scene film 5 CM kalau diingat-ingat.

Kemiringannya segini lho, disempetin selfie biar keliatan curamnya

Setelah tanjakan maut, kukira puncak sudah dekat, ternyata masih jauh dan curam. Tapi sekarang sudah mulai banyak pegangan termasuk batu dan akar pohon. Noted jangan berpegang pada rumput, karena rumputnya bisa lepas. Anak kecil juga tahu ya, tapi kadang karena gak ada tempat lain untuk memegang maka yang ada di pikiran saat itu hanya berpegangan adalah rumput. Kami sempat istirahat dulu setelah menemukan tempat yang agak landai.


Pemandangan dari puncak Gunung Kukup

Ketika teman-teman yang sudah sampai di atas berteriak kalau puncak sudah dekat jadilah kami bergegas untuk menyusul. Sampai di puncak, subhanallah keren sekali. Kami bisa melihat sungai, hutan, rumah penduduk, puncak gunung sebelah, dan awan dari puncak ini. Terbayar rasanya perasaan lelah saat mendaki setelah menikmati pemandangan ekstra luas dari puncak ini.

Selfie bersama suami di puncak
Sekitar satu jam kami berada di puncak sambil melakukan beragam kegiatan, terutama upacara pelantikan dan foto-foto. Ketika kami memutuskan untuk turun, perasaan takutku muncul lagi. Jika mendaki di permukaan curam susah sepertinya turunnya jauh lebih susah karena berpotensi terpeleset tanpa pegangan.

Beruntunglah, para cowok berinisiatif memgikat tali tambang di beberapa titik rawan. Sehingga kami cukup terbantu untuk turun karena sudah ada pegangan. Yang unik, setelah orang terakhir turun, tali-tali tersebut tidak dilepas. Biarlah sebagai bantuan untuk orang-orang yang akan naik gunung ini selanjutnya, kata suami. Sampai di bawah, kami melihat bapak-bapak penambang batu. Lagi-lagi, aku kasihan melihatnya.

Bapak penambang batu

Kami lalu melanjutkan perjalanan ke rumah tempat kami menitipkan motor. Sampai di sana, kami langsung berkendara mencari spot sungai untuk membersihkan badan. Ya, mendaki Gunung Kukup ternyata membuat badan kami gerah dan yang jelas pakaian menjadi kotor karena bergesekan dengan tanah, akar, dan pohon.

Setelah beberapa kali mampir di sungai yang tidak sesuai dengan keinginan, kami pun akhirnya menemukan sungai yang lumayan enak untuk diceburi. Para cowok sih dengan gembiranya langsung nyebur ke tengah sungai, kami para cewek hanya menunggu di tepi sungai sambil membersihkan diri.

Mandi dulu

Karena saat itu hari sudah siang, bahkan sudah azan zuhur, kami agak kelaparan. Sebagai cemilan pengganjal perut, kami pun membuka mie instan untuk dimakan langsung. Ya, tanpa dimasak. Kalau istilah orang Banjar, mie bekaring. Sedapnya, makan mie bekaring di tepi sungai.

Setelah beres di sungai kami pun langsung berkemas untuk pulang ke rumah masing-masing. Pengalaman yang seru, gak rugi rasanya meski kulit jadinya gosong begini.

Artikel Terkait

26 komentar:

April Hamsa said...

Mbak kalau pasir dan batu ditambangin kira2 bikin erosi gk ya? Saya jg suka kasian kalau liat pekerja tambang gtu, kadang jg upahnya tak seberapa :(

Seru banget mendaki gtu ya. Saya paling kalau mendaki dah ngos2an hihihi

TFS

Hamba Hambada said...

Masyaallah indah alam nya. Saya sudah lama ga camping. Tapi memang ga pernah mendaki. Apalagi tebing curam. Pasti segar udara di sana y mbk.

Zefy Arlinda said...

Serunya, jalan-jalan rame-rame ada suami pula dalam rombongan. Ini nih namanya romantis mbak

Lendy Kurnia Reny said...

Rindaang...kuat banget staminanya.
Aku pernah ((mirip-mirip gini)) lalu sampai tengah jalan, nangis.

Alhamdulillah waktu itu pengantin baru...sama suami dikasih semangat.
Akhirnya tiba di puncak, legaaa rasanya.

Liza said...

melihat pemandangan alam Nateh mengingatkanku akan kampung halaman, Mbak. Persis, syukurnya sekarang jalanan ke kampungku enggak jelek lagi kayak Nateh, udah beraspal. Btw jalan desa Nateh kok engggak diperbaiki sampai bagus ya, kan udah ada dana desa kalau memang tidak ada proyek dari dinas PU

Bang Angga said...

Oh nice, tertantang rasanya.
Tapi tidak ada hal yang aneh kan dengan tempatnya? Secara semalam cerita hantu.
Pernah saya mengiring murid ke perkemahan. Kami masak tetapi tidak bisa matang ternyata spot tsb ada penunggunya. Pindah geser dua langkah bisa matang.
Halah. Halah

Peri Hardiansyah said...

Kalo sempet liat sungai gitu bawaan saya pasti pengen berenang, berendam plus mancing wkwkwkwk.
Camping bisa jadi alternatif yang bagus buat liburan, terus-terusan ke hotel kan bosen juga kan.

Dikki Cantona Putra said...

liburan travelling kepedesaan kayanya seru ya mba bisa refreshing sekaligus menyegarkan otak dan pikiran juga tapi, travellingnya jangan sendiri soalnya ga enak nanti ga kuat sendirian.

Desreza Arief Budiman said...

wahh jadi kangen masa2 SMA dulu pas masih sering-seringnya camping bareng temen

keninglebar said...

Duh, jadi kangen masa-masa masih aktif di Pramuka. Tendanya masih model jadul pula gitu. =D

Diah Kusumastuti said...

Masya Allah.. sungainya Mbak.... Bikin pengen nyemplung! Seru banget ya Mbak acara kemah plus naik gunungnya. Saya kapan bisa kayak gitu. Huhuhu. Mimpi dulu aja kali yaa :D

Tukang Jalan Jajan said...

Salut banget kak. Masih bisa nyelipin waktu tugas suami dengan traveling. Plus camping lagih. Pasti nyenangin banget. Banyak cerita seru dan yang paling penting bisa nikmatin alam. Asikkkk

Dwi Ananta said...

Wah enak banget ya naik gunung bersama suami gitu. Tapi sayang ya batunya ditambang gitu berpotensi longsor jadinya tapi mau bagaimana kalau sudah menjadi matapencarian orang ya. Susah juga jadinya.

Rindang Yuliani said...

Iya, bikin erosi, kasian yg di bawahnya Mbak.

Rindang Yuliani said...

Segar banget, Mbak.

Rindang Yuliani said...

Iya, jalan2 sekaligus pacaran.

Rindang Yuliani said...

Iya, sesekali begini biar olahraga sambil jalan2.

Rindang Yuliani said...

Oh, gitu ya Mbak. Ini memang kecamatan paling ujung sebelum berbatasan dengan gunung dan kabupaten tetangga.

Rindang Yuliani said...

gak ada sih yg anhe, alhamdulillah.

Rindang Yuliani said...

Iya, kalau ke hotel itu khusus cuci mata dan cuci uang. Kalau ke gunung free HTM, hehe

Rindang Yuliani said...

Iya, kalau ini mah harus rame2 Mas

Rindang Yuliani said...

Nostalgia ya

Rindang Yuliani said...

Iya, jadul banget ini biar bisa muat banyak.

Rindang Yuliani said...

Ayo Mbak, dicoba refreshing ke gunung.

Rindang Yuliani said...

Asyik banget.

Rindang Yuliani said...

Iya, serba salah jadinya Mbak Dwi.

Post a Comment

Terimakasih telah berkomentar dengan baik 🙆 Ditunggu kunjungan selanjutnya.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates