Physical Distancing Tidak Semudah Itu, Gengs!

Posting Komentar

Di masa pandemi seperti ini kita dianjurkan untuk melakukan physical distancing dengan semua orang. Terdengar mudah tapi dalam praktiknya susah menurutku. Aku lebih memilih untuk tidak kemana-mana agar tidak perlu melakukan physical distancing ke banyak orang.

Dalam budaya timur, physical distancing terlihat tidak sopan dan terkesan sombong. Meski mungkin di masa pandemi seperti ini sebagian besar orang akan memaklumi, btw sehari-hari aku juga bukan orang yang terlalu ramah di kehidupan sosial. Tapi tetap saja rasanya kurang nyaman melakukan physical distancing. 



Physical Distancing di Kantor

Pernah suatu ketika di kantor ada pelanggan yang datang dari luar kota. Kemungkinan terpapar virus corona jauh lebih besar dong. Tapi tetap saja kami tak bisa mengabaikan beliau begitu saja. Kami tetap harus mengobrol dengan beliau meski menggunakan masker.

Tempat ruang tunggu tamu juga sudah disesuaikan sedemikian rupa agar berada di teras, tidak lagi masuk ke ruang tamu. Aku dan teman tetap harus keluar juga untuk menyambut si tamu. Tidak ada keharusan dalam SOP kantor di masa pandemi seperti sekarang ini, tapi hanya untuk beramah tamah sebentar. Setelah itu kami segera mencuci tangan sambil ngobrol bahwa tidak enaknya kami seandainya kami melakukannya kurang dari itu.

Temanku yang lain suatu hari kedatangan tamu yang ternyata temannya saat kuliah di kantor. Ketika temannya menyodorkan tangan ia dengan refleks menolak. Maaf katanya bukan tak sopan, tapi karena physical distancing. Untunglah temannya juga mengerti. Salaman memang tidak lagi kami lakukan bahkan dengan sesama rekan kerja.

Meski untuk berkumpul-kumpul dengan sesama teman kantor menurutku masih sulit untuk dihindari. Kantorku menerapkan half wfh sehingga saat giliran masuk hanya ada 4 orang di kantor. Nah 4 orang ini kadang nggak bisa kalau nggak bergerombol baik saat makan siang atau saat bersantai setelah beres kerjaan.

Saat awal-awal masa pandemi aku dan teman-teman kantor sempat ada acara di rumah sakit kabupaten. Di sana kursi tunggu disekat per satu kursi agar yang duduk bisa jadi lebih berjarak dengan yang lainnya. Tapi karena terbiasa bergerombol dan ngobrol dengan sesama teman, kami tetap saja berkumpul di satu titik tedekat dari kursi meski tidak bisa duduk. Sesusah itu memang.


Physical Distancing di Rumah

Di rumah, aku tentu saja tak bisa physical distancing dengan suami. Tidur sekamar ini. Dengan orangtua dan mertua lumayan bisa, kecuali ya harus sungkem saat pulang ke rumah.

Dengan anggota keluarga besar yang lain aku masih mudah physical distancing-nya. Kecuali dengan sepupu-sepupu kecilku yang memang masih bisa digendong dan terkadang harus disentuh saking lucunya. Kadang aku harus menahan diri kalau baru pulang dari kantor, takut saja aku sedang membawa virus sedang aku belum membersihkan badan.

Dengan orang lain atau orang asing physical distancing tentu lebih mudah, misal di pasar atau di toko aat aku membeli sesuatu, aku bisa dengan mudah menjaga jarak. Jika bukan mereka yang menjauh maka aku yang akan menjaga jarak dengan mereka. Untuk transportasi umum, aku tidak menggunakannya jadi lebih aman.

Oya di surau di RTku tempat biasa aku melaksanakan salat tarawih juga masih bersalaman, hanya mengurangi jumlah rakaat. Tidak salaman rasanya aneh. Jadi sesegera mungkin setelah pulang tarawih aku akan mencuci tangan. Di kampung kami memang masih terbilang aman, jaraknya 30 menit dari kota kabupaten. Makanya salat tarawih masih dilaksanakan di surau.

Well, itu tadi pengalamanku mempraktikkan physical distancing. Kalau kalian gimana, susah juga atau biasa saja? Cerita di kolom komentar ya. []
Rindang Yuliani
Rindang Yuliani adalah seorang sarjana sains yang sedang menikmati proses sebagai bloger. Rindang juga sedang meladeni obsesinya untuk mendapatkan beasiswa S2 dan menerbitkan buku pertamanya. Wanita kelahiran 6 Maret ini juga selalu berusaha mengakrabi Tuhan melalui hobinya yaitu membaca, menulis, dan jalan-jalan.

Related Posts

Posting Komentar