Peran Bloger dalam Melawan Berita Hoax

14 komentar
Dunia digital yang berkembang pesat menjadikan arus informasi seakan tak terbendung. Internet menjadi ladang berita tumbuh dalam hitungan detik. Peristiwa yang terjadi di belahan dunia barat secepat kilat dapat diketahui oleh orang-orang di belahan timur bumi.

Selain memberikan efek positif, kemajuan teknologi seperti ini juga dapat berdampak negatif. Karena tak semua berita yang tersebar itu benar, sebagian berita mengandung kebohongan atau fitnah. Berita jenis ini lazim disebut sebagai hoax.
Hoax dibuat oleh sekelompok orang dengan tujuan yang menguntungkan golongannya dan / atau untuk menjatuhkan kelompok lawan. Hoax kemudian disebarkan lewat media sosial yang menjadi target. Orang-orang yang percaya dan tanpa berpikir panjang akan kebenaran berita tersebut kemudian memperluas penyebaran berita ini.

Bahan berita yang paling rentan dijadikan hoax adalah berita yang memiliki isu politik dan SARA. Ketika seseorang membaca sebuah berita hoax yang menguntungkan golongannya, seringkali ia langsung menyebarkannya. Sebaliknya, jika ia menemukan sebuah berita yang menyudutkan pihak yang disanjungnya maka ia akan berteriak “Hoax!” tanpa menelusuri sumber berita tersebut terlebih dahulu.

Ada banyak efek negatif dari tersebarnya hoax ini, diantaranya yaitu dapat meresahkan masyarakat dan merugikan siapapun yang disudutkan dalam berita tersebut. Oleh karena itu, hoax perlu dilawan dengan cara yang tepat agar tidak terus tersebar dan membuat pengguna internet terjebak dalam lingkaran informasi yang tidak sehat.

Semua pengguna internet wajib berpartisipasi aktif dalam melawan berita hoax ini, termasuk bloger. Bloger sebagai garda terdepan penghasil konten memiliki tanggung jawab yang besar dalam melawan berita hoax. Mengapa bloger berpotensi besar dalam melawan hoax, menurutku berikut alasannya.

1. Konten yang dihasilkan oleh para bloger biasanya bersifat personal touch dan jujur karena ditulis berdasarkan pengalaman pribadi.

2. Sebelum menghasilkan sebuah konten, bloger biasanya akan melakukan analisa panjang terhadap sebuah masalah yang akan dibahas. Jika sebuah berita dinilai meragukan kebenarannya maka berita tersebut tidak layak disebarkan.

3. Seorang bloger yang baik akan banyak membaca sumber sebelum menuliskan pendapatnya dan ketika ia mengutip sebuah pendapat atau menuliskan sebuah peristiwa yang tidak banyak diketahui oleh umum, ia akan memasukkan sumber berita. Hal ini membuat sebuah berita dapat ditelusuri kebenarannya.

credit

Berdasarkan alasan-alasan tersebut, bloger dapat dikatakan sebagai penghasil konten yang jujur. Saya berharap dengan banyaknya konten yang dihasilkan oleh para bloger ini, berita hoax akan tersingkir. Syukur-syukur, link berita yang dibagikan di media sosial bersumber dari bloger untuk mengimbangi link dari sumber hoax yang meresahkan.

Lalu bagi para pengguna media sosial bagaimana cara yang ampuh untuk melawan hoax? Berikut dari tips saya pribadi.

1. Selektif dalam membaca berita. Ketika membaca pengantar berita dengan tema provokatif, sebaiknya abaikan atau baca dengan filter logika.

2. Cek sumber berita yang dirasa menarik. Jika penulis, situs, atau media yang membuat berita  tersebut tidak terpercaya kredibilitasnya maka jangan dibagikan.

3. Minimalisasi membagikan berita dari media sosial. Lebih baik membuat konten sendiri, seperti para bloger yang kini semakin kreatif membuat tulisan dilengkapi infografis dan bahkan video.
Semoga saja dengan adanya peran aktif dari para bloger dan para pengguna media sosial yang semakin cerdas, berita hoax dapat dikurangi keberadaannya. Sehingga dunia informasi digital pun menjadi kembali aman dan damai seperti seharusnya.

Rindang Yuliani
Rindang Yuliani adalah seorang sarjana sains yang sedang menikmati proses sebagai bloger. Rindang juga sedang meladeni obsesinya untuk mendapatkan beasiswa S2 dan menerbitkan buku pertamanya. Wanita kelahiran 6 Maret ini juga selalu berusaha mengakrabi Tuhan melalui hobinya yaitu membaca, menulis, dan jalan-jalan.

Related Posts

There is no other posts in this category.

14 komentar

  1. Setuju dengan membuat konten sendiri dengan sudut pandang sendiri, karena bebas dari "titipan" kepentingan kanan kiri. Semakin banyak tulisan yang bisa menghibur atau mendidik dengan sendirinya akan menggeser tulisan yang bermuatan negatif.
    Ulasan yang menarik :-)
    @ge1212y

    BalasHapus
  2. Memang sih seorang blogger berpikir dua kali kalau mau membuat hoax. Bisa-bisa dia hancur sendiri :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali Mas Nugroho, bloger harus jeli dan berhati2.

      Hapus
  3. Blogger harus ada di garda depan untuk melawan hoax, salah satunya Mba Rindang...

    BalasHapus
  4. sepakat jika memang para blogger dapat mengantisipasi berita hoax, itu bagi blogger profesional yang baik, lah blogger kaya saya malah kadang bikin tulisan hoax versi sendiri yang pastinya hoax-hoax-an gituh deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bloger pemula pun punya tanggung jawab meminimalisasi berita hoax. Salam kenal, Mang Lembu.

      Hapus
  5. Yg dilematis dr berita hoax adalah ketika dikemas dengan smooth dengan tujuan provokasi, dan menyasar masyarakat awam, semacam black campaign gettu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Masyarakat awam akhirnya percaya bahwa berita itulah yg benar dan klarifikasinya yang mengada2.

      Hapus
  6. betul sekali kita harus bijak dalam membaca berita kalau perlu cari sumber yg terpercaya, kuncinya jangan malas membaca

    BalasHapus
  7. benr bgt mba blm apa2 udah main hakim sendiri, blm apa2 udah ngebully padahal beritanya blm tentu benar alias HOAX dan sygnya kebanyakan org malah lbh bnyk percaya sama berita hoax yang dikemas apik sma si provokator :/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inilah yg harus kita minimalisir. Supaya kita dan org2 terdekat tdk mudah termakan berita hoax.

      Hapus

Posting Komentar