Tuesday, December 26, 2017

Sibling Rivalry

Aku ini tipe pemikir. Semua-mua dipikirin. Gak heran, banyak yang ngatain aku serius. Dengan berpikir, goalku cuma satu. Gimana solusi yang tepat untuk masalah yang sedang kupikirkan. Iya, aku kayaknya kena hero sindrom yang ingin semua masalah di dunia ini bisa diselesaikan. Karena sindromku ini, aku sering diwanti-wanti suami. Gak bisalah, kata dia, dunia ini tanpa masalah. Kadang, masalah tidak harus diselesaikan agar kita bisa tetap hidup normal.


Kalau sudah brainstorming dengan suami dan hasilnya ternyata aku belum atau tidak mampu untuk membantu mengatasi masalah tersebut, pelarianku ya nulis gini. Kalau kata suami, oke deh aku (dan/atau dia) bisa ikut terjun berkontribusi untuk menyelesaikan masalah tersebut maka aku akan action.

Jadi gini waktu makan malam tadi mama cerita tentang tetangga yang rumahnya yang tidak terlalu dekat dengan kami. Mama diceritakan oleh kerabatnya bahwa di rumah tetangga tersebut terjadi ketidakakuran antara dua saudara. Padahal jarak antar saudara tersebut kurang lebih 10-15 tahun, rasanya terlalu jauh untuk saling cekcok ya. Tapi faktanya ya memang begitu, si adik ini yang katanya 'kurang ramah' terhadap sang kakak. Keduanya sudah sama-sama menikah dan punya anak, tapi masih tinggal di rumah yang sama yaitu di rumah orangtua mereka.

Entah apa penyebab awal ketidakharmonisan di antara keduanya. Yang jelas, solusi paling tepat untuk masalah keduanya menurutku adalah pisah rumah. Kalau perlu, keduanya pindah dari rumah orangtua mereka.

Dalam dunia psikologi, keadaan ini disebut sibling rivalry. Aku heran dengan keadaan yang menyebabkan kakak beradik bisa bersengketa, mungkin karena latar belakang keluargaku yang mengajarkan bahwa perlakukan saudara kita sama dengan kita memperlakukan diri kita sendiri. Tak perlu iri dengan mereka jika mereka lebih kaya/kuat/beruntung. Sebaliknya, ketika saudara kita berada dalam kondisi lebih miskin/lemah/kurang beruntung dibandingkan kita ya tugas kitalah untuk merangkulnya.

Aku juga jadi teringat dengan cerita seorang bloger yang masa lalunya diwarnai dengan sibling rivalry sehingga mengharuskan dia tinggal di rumah neneknya. Mau tak mau sibling rivalry tersebut juga telah mengubah dan menentukan masa depannya yang sedang dijalaninya saat ini.

Menurutku kasus sibling rivalry ini tidak sedikit dialami oleh keluarga di dunia. Ada banyak penyebab, terutama finansial, kondisi fisik, dan buruk sangka. Peran orangtua paling utama dalam menghindari terjadinya pertentangan antar saudara seperti ini sangat penting. Semoga kita bisa selalu berprasangka baik terhadap saudara-saudara kita dan kita pun bisa menanamkan konsep yang baik tentang saudara kepada anak agar sibling rivalry akan semakin kecil terjadi. Aamiin. [R]

Pengobatan Benjolan di Leher (6)

Baca cerita sebelumnya di Pengobatan Benjolan di Leher (5)

Tanggal 20 Desember 2017 aku pergi konsultasi ke dokter, sesuai jadwal yang kudapat saat terakhir kali aku periksa. Satu minggu sebelum pengobatan berakhir aku harus cek lagi. Dan tahu apa yang kualami teman-teman? Setelah 2,5 jam nunggu (aku antrian pertama di poli bedah), aku akhirnya bisa masuk ke ruang konsultasi.

Bukan dr. Priha yang sedang duduk di sana, aku sudah bela-belain datang hari kerja Senin-Rabu sesuai praktik beliau. Namun, yang kutemui di sana pada hari itu juga bukan dr. Nanda yang sebisa mungkin kuhindari di hari praktiknya yaitu Kamis-Sabtu. Sebelumnya aku pernah dua kali konsultasi dengan dr. Nanda. Pertama, di suatu hari Kamis yang sebenarnya aku harus datang hari Rabu. Tapi karena kota lagi banjir saat itu, jadi kutunda hingga keesokan harinya. Kesempatan kedua di hari Sabtu, karena mau tak mau aku harus konsultasi di sekitar minggu itu juga sedangkan hari kerjaku padat sekali. Aku tak bisa kabur di hari Senin-Rabu minggu-minggu itu.


Dokter yang duduk di hadapanku kali ini lebih tua dan dari name tag di seragam dokternya kuketahui nama beliau adalah dr. Asnal. Rupanya dari yang aku curi dengar, dr. Priha sedang cuti akhir tahun. Setelah aku bilang aku sudah hampir 1 tahun mengonsumsi OAT, dr. Asnal ngomel. Sungguh, aku berasa jadi tertuduh di sini. Padahal kan ya dr. Priha yang merekomendasikan.

Begini ternyata nggak enaknya konsultasi di rumah sakit, dokternya bisa berbeda di kesempatan yang berbeda. Sedangkan pandangan atau diagnosis setiap dokter pada gejala yang sama juga kadang berbeda. Inilah yang aku alami. Ini pula salah satu alasan aku menghindari dr. Nanda agar bisa konsisten konsultasi dengan dr. Priha.

Kabar baiknya, aku setuju untuk stop minum OAT sesuai saran dari dr. Asnal. Jika hari itu aku konsultasi ke dr. Priha, boleh jadi aku akan mendapat advice yang berbeda. Lanjut pengobatan lagi, misalnya. Hiii. Rabu malam itu sebenarnya jadwal minum obat, tapi aku stop langsung. Alarm minum obat pun sudah kuhapus dari hp ku. Wih, satu tahun penuh lho aku nggak lepas dari OAT. Berat sebenarnya. Apalagi aku disiplin minum sesuai jadwal. Itulah kenapa aku harus lebih banyak minum air putih tahun ini.

Kumpulan bungkus OAT

Benjolannya gimana? Benjolannya masih ada, tapi ukurannya sudah kecil banget kalau nggak diraba nggak bakal ketahuan kalau masih ada benjolan. Bahkan dr. Asnal jadi sangsi kalau penyebabnya adalah bakteri TB karena ternyata setelah diberi pengobatan benjolannya tidak hilang-hilang. Sampai aku mengeluarkan hasil uji FNAB dari dr. Barliana pun beliau masih ragu. Sama seperti dr. Nanda, beliau menyarankan untuk diambil massanya dengan cara operasi.

Oh NOOO!

CASE CLOSED

Ya segitu aja ternyata ending pengobatan benjolan di leherku. Hingga saat ini aku belum berminat untuk melanjutkannya dengan cara operasj. Alasanku:
1. Benjolannya sudah mengecil
2. Tidak ada keluhan rasa sakit
3. Tidak ada efek terhadap kesehatanku secara umum
4. Aku tidak dioperasi karena alasan kecil, FNAB sudah cukup

Ketiganya tersebut sudah memenuhi kriteria sembuh bagiku. Karena di awal pengobatan, poin no 1 dan 3 terasa mengganggu. Meski mungkin menurut dokter indikator TB kelenjar sudah sembuh adalah benjolannya harus hilang sama sekali. Eh, btw aku penasaran dengan hasil lab uji sputumku di puskesmas. Lupa terus menanyakannya saat aku ngambil obat di sana. Lagi pula kurasa tindakan lanjut dari puskesmas kurang pro untuk kasus TB, mereka terkesan hanya mendistribusikan OAT.

Bye, ruang bedah.

Meski hasil akhir pengobatan ini sedikit mengecewakan. Apalagi bonusnya aku jadi jerawatan (banyak), ini kata dr. Priha sih. Jerawatku adalah efek samping OAT. Aku tetap bersyukur sudah menjalani pengobatan ini. Seenggaknya aku lebih menghargai kesehatan sekecil apapun itu masalahnya. Kudoakan semoga para pembaca yang juga sedang menjalani terapi TB segera sembuh dan tetap semangat. Aamiin. []

Wednesday, December 13, 2017

Review Novel : Heart and Salsa

Novel terjemahan ini bercerita tentang seorang cewek remaja bernama Cat yang bosan dengan kehidupannya di Boston. Pada suatu libur musim panas, ia pun mendaftarkan diri pada program Students Across The Seven Seas (SASS) sebagai bentuk pelarian diri yang formal. Pertama, karena di sana ia akan bertemu dengan Sabrina –best friend forevernya saat masih tinggal di Scottsdale, Arizona. Kedua, ia bisa menghindar dari waktu ‘mengakrabkan diri’ dengan Tedd –ayah tiri barunya.


Judul : Heart and Salsa
Penulis : Suzanne Nelson
Penerbit : Wortel Books Publishing
Tahun terbit : 2010

Di Oaxaca, Meksiko tempat Cat belajar selama libur musim panas ternyata ia menemukan banyak pengalaman baru, teman baru, dan bahkan pemikiran baru tentang sesuatu yang sama. Bagian menariknya tentu saja proyek bukan-kencannya bersama Aidan. Cowok asal Manhattan yang juga peserta program SASS membuat Cat benar-benar menyadari sisi feminisnya. Apalagi saat mereka berdua berjalan di atas awan, ya benar-benar di atas awan karena mereka berjalan di atas jembatan di antara kanopi pohon-pohon di hutan awan sebuah perbukitan Sierra del Norte.
 
Selain Aidan, Izzie saudara angkatnya selama tinggal di rumah orangtua asuhnya di Meksiko juga memiliki sistem penyambutan yang menakjubkan. Cat awalnya selalu merasa was-was. Bahkan ia menulis kekhawatirannya di buku harian yang menjadi blurb di bagian belakang sampul novel ini.

sumber foto : google

Selain bertemu orang-orang baru, ia juga bertemu dengan Sabrina. Meski itulah tujuan utama Cat mengikuti program ini namun semuanya tak berjalan lancar. Ada Brian pacar baru Sabrina di antara mereka dan benar saja cowok itu ternyata mampu membuat persahabatan mereka berdua sekarat. Ah, satu semester yang seru apalagi selama itu mereka juga terus berjalan-jalan ke tempat yang penuh edukasi dan di akhir perjalanan mereka disuruh mengumpulkan esai dalam bahasa Spanyol. Keren. Aku jadi bermimpi akulah yang mengikuti program tersebut. 

Dulu saat SMP aku memang pernah bermimpi untuk ikut program pertukaran pelajar seperti ini. Beruntungnya aku bisa membaca ceritanya hampir persis seperti yang kuinginkan.

Judulnya sebenarnya tidak terlalu menggambarkan isinya. Kecuali jika yang dimaksud dengan Heart itu adalah kebimbangan hati seorang Cat tentang keluarganya, tentang prestasi loncat indahnya dan domisilinya di Boston. Sedangkan Salsa itu dengan jelas menggambarkan novel ini berlatar Meksiko. Meski bagian menari Salsa hanyalah ada bagian akhir novel.

Novel 348 halaman ini sangat ringan dinikmati, tidak berat. Amanatnya pun bagus yang tentang mensyukuri kebahagiaan yang dipunya, kecintaan siswa pada akademik, lingkungan, sejarah, dan nasionalisme. Sasaran pembaca jelas untuk para remaja. Tampilan covernya pun ringan dan menggoda.

Secara umum, novel ini cocok untuk dibaca sebagai hiburan. Terutama aku yang cinta banget sama novel terjemahan ini, terlebih setting tempat yang digambarkan novel ini sangat jelas di imajinasiku. Sehingga membuatku merasakan alam tropis Meksiko yang sebenarnya.

Monday, December 4, 2017

Review November 2017

November bahagia, mungkin itu frase yang bisa kusematkan pada bulan ini. Ada beberapa cerita bahagia yang terjadi. Langsung aja ya simak ceritaku bulan ini.

Keluarga
Di bulan ini, keluargaku bisa ngumpul lengkap. Alhamdulillah. Kami merayakannya dengan jalan-jalan ke Banjarbaru. Berasa de javu ke masa aku kecil dulu, bedanya sekarang adik yang jadi driver dan bapa duduk di samping sebagai penumpang.

Pekerjaan
Pekerjaan lancar jaya meski jumlah sampel semakin membengkak, jadwal sampling juga ada terus. Intinya sih mungkin karena aku ngerasa nyaman dengan lingkungan kerjaku yang ‘sehat’ tanpa drama.


Traveling
Banjarbaru lagi. Gak bosan memangnya aku ke sana? Gak lah, kotanya adem dan bahkan sudah kunobatkan menjadi 'rumah keduaku'. Kali ini aku jalan-jalan dengan keluargaku, tempat yang kudatangi sebenarnya sudah pernah sebelumnya aku datengin. Jadi ya kali ini anggap saja aku sebagai tour guide, haha. Mereka kuajak ke Hutan Pinus, Kampung Pelangi, dan Danau Seran.

Pulang dari sana kami mampir ke makam wali di Sekumpul dan Pelampaian. Akhir bulan, tepatnya tanggal 30 November aku ke Banjarbaru lagi untuk menghadiri rapat di dinas provinsi. Pulang dari sana mampir dulu ke Banjarbaru Book Fair. Senangnya bisa ke sana pas suasana lengang gitu, jadi lebih afdol milih bukunya.



Kesehatan
Aku sehat, alhamdulillah. Padahal cuaca lagi pancaroba gini. Orang-orang juga lagi banyak yang sakit. Tentu saja hal tersebut membuatku semakin waspada untuk menjaga kesehatan.

Kursus menjahit
Akhirnya aku masuk kelas menjahit satu kali di bulan ini. Yeaay, pencapaian. Meski cuma satu kali pertemuan, tapi lumayan bikin aku udah mulai semangat lagi.

Buku
Di bulan November ada dua buku yang selesai aku baca. Pertama, Sketsa novelnya Ari Nur Utami. Lagi nyari sekuelnya nih di perpustakaan kota, sayang belum nemu karena katalognya di sana gak rapi. Buku kedua berjudul Jadi Penulis Fiksi? Gampang Kok! Bukunya asyik meski sudah jadul, nantikan reviewnya ya. 


Oya, di book fair aku beli 4 buku. Nambahin timbunan di rak buku. Hehe. Btw, aku baru beresin rak buku. Sekalian dipindah tempatnya. Rempong, untung ada adik sepupu kecilku yang bantu prosesnya. Senang, rak bukuku jadi lebih bersih dan rapi.



Blogging
Bloggingku masih seret. Banyak yang berhenti di draft, kendalanya sih waktu posting yang harus jam kantor karena memanfaatkan internet cepat. Padahal, akunya juga sibuk di jam kerja. Semoga nanti aku bisa membagi waktu lebih baik lagi.

Laporan bulananku sudah selesai. Saatnya cerita tentang bullet journal yang baru aja kubikin terhitung sejak 1 Desember. Sungguh, ternyata bullet journal berguna banget untuk aku yang kadang keteteran karena hal-hal kecil. Aku mungkin harus cerita di satu postingan khusus. Tapi seenggaknya aku mau laporan dulu bahwa di akhir November ini waktuku banyak kuhabiskan untuk survei bullet journal milik orang lain dari internet. Alhamdulillah, 1 Desember kemarin, bullet journalku sudah bisa digunakan. Yeaaay. Tunggu ceritaku bulan selanjutnya ya.
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates