Ibuku Bukan Malaikat

21 komentar
Saat itu usiaku 21 tahun. Aku duduk di depan sebuah kamar operasi. Novel tebal di tangan menjadi tameng kewas-wasanku. Di dalam ruangan sana, ibuku sedang tidak sadarkan diri menjalani operasi mata.

Aku tidak tahu secara medis, penyakit mata apa yang sedang diderita oleh ibu. Aku sendiri bahkan baru sadar selama ini salah satu mata beliau bermasalah. Tapi jika sampai memerlukan tindakan operasi, itu berarti kondisinya cukup parah. 

Hanya aku yang menemani ibu saat itu di rumah sakit berjarak ratusan kilometer dari rumah kami. Bukan kami tak punya anggota keluarga yang lain, tapi karena memang ibu merahasiakan operasi ini untuk tidak membuat anggota keluarga yang lain khawatir. Hanya aku, adik, dan papa yang tahu kabar ini. Dua laki-laki terakhir sama-sama sedang sibuk dan berada jauh dari rumah.

Ibu Dirawat di Rumah Sakit

Saat itulah aku baru menyadari bahwa ibu sangat berarti bagiku. Di saat ia lemah seperti saat itu, ada perasaan takut kehilangan yang kurasakan. Pada waktu yang sama bayangan bahwa selama ini aku sering komplain terhadap sikapnya, menusukku dalam-dalam.

Ibuku Bukan Malaikat

Berhenti membayangkan bahwa ibuku adalah seorang yang halus tata bahasanya dan selalu memiliki energi positif. Beberapa ibu mungkin memang terlahir sebagai manusia biasa dan ibuku adalah salah satunya. Ia punya kekurangan yang memberiku sedikit luka pengasuhan.

Tidak, ia tidak pernah memukulku. Ia juga tidak pernah mempermalukanku di depan umum. Dua kesalahan orangtua pada anak yang menurutku paling tidak bisa ditolerir. 

Ibuku ‘hanya’ sering memarahiku ketika salah. Caranya marah sering membuatku balik marah. Bukan marah anggun versi ibu yang stok sabarnya melimpah. Ibu juga cenderung suka menyalahkanku jika terjadi ketidakbenaran pada sesuatu.

Energi negatif dari cara ibu mendidikku akhirnya membuatku tumbuh menjadi anak yang perfeksionis. Meski sebenarnya secara verbal ia tak pernah memintaku untuk melakukan itu. Anak lain mungkin akan abai dengan kritik pedas dari orangtua, tapi aku tidak. Aku cenderung ingin membuktikan bahwa aku bisa melakukan yang terbaik di bidang yang aku mau.

Kesalahan ibu lainnya yang belakangan kusadari adalah ia tidak memujiku ketika aku berhasil meraih suatu pencapaian, seolah itu memang normal dan harus untukku. Sebaliknya jika aku melakukan kesalahan kecil di matanya, itu akan menjadi perkara panjang yang bisa disebut-sebut hingga beberapa waktu ke depan.

Masa Lalu Ibu

Beberapa tahun terakhir, setelah banyak belajar tentang mental health, aku akhirnya dapat menemukan dari mana sebenarnya sifat buruk ibu berasal. Yup, dari luka pengasuhan juga!

Ibu ‘hanya’ meneruskan luka yang ia derita tanpa sadar. Ibu terlahir sebagai sulung dari 5 bersaudara, membuatnya tak pernah benar-benar merasa diperhatikan secara sempurna. Jangan bayangkan ia dielu-elukan sebagai anak pertama dalam keluarga. 

Dulu, punya anak bukan sesuatu yang mewah bagi keluarga baru. Dengan keadaan ekonomi pas-pasan dan kurangnya kesadaran tentang pentingnya menjaga kualitas hubungan, mempunyai anak boleh dibilang bisa menjadi beban dalam keluarga. Entah di usia ke berapa aku tahu, jika cedera mata ibu itu didapat saat ia masih kecil karena kelalaian pengasuhan. Jadi bukan penyakit bawaan dari lahir. 

Sebagai sulung meski masih kecil, lazim hukumnya di zaman itu seorang anak bertugas menjaga adik-adiknya. Jadi masa kecil ibu dihabiskan bukan untuk dijaga, tapi menjaga para paman dan bibi yang masing-masing sudah berkeluarga sekarang. Orangtua ibu, terutama kakek juga punya temperamen yang sulit dekat dengan anak-anak bahkan cenderung keras. Anak-anak bukannya segan, malah takut.

Dengan latar belakang tersebut, wajar jika akhirnya ibu tumbuh menjadi pribadi yang keras. Jangan tanya ilmu parenting, ia tidak tahu. Ia hanya meneruskan tata cara turun-temurun yang berlaku di masyarakat dalam mendidik anak.

Kemarau Panjang ala Ibu

Kemarau panjang dihapus oleh hujan sehari. Pepatah itulah yang bisa kucatut untuk menggambarkan perasaanku pada ibu. Kebaikan ibu seperti kemarau panjang, saking lamanya hingga tak kusadari aku selalu mengalaminya. Sedangkan sifat buruk ibu adalah hujan sehari yang dapat menghapus segala kebaikannya yang seumur hidup telah kuterima.

Ibu cukup memanjakanku dengan memperbolehkanku untuk hidup sesuai dengan yang aku suka. Bukankah itu suatu berkah yang sangat besar, jika dipikir-pikir. Tak banyak anak yang bisa bebas memilih jalan hidupnya sendiri. Dengan dalih tak ingin menentang restu orangtua banyak anak tak bahagia dengan cara hidup yang dipilihkan orangtua mereka.

Ibu membiarkanku menghabiskan waktu dengan belajar dan membaca, alih-alih memaksaku untuk memasak. Ibu mengizinkanku membeli buku daripada barang-barang lain. Itu menurutku luar biasa di lingkungan yang minim literasi, well bahkan beliau sendiri pun tidak suka membaca.

Ia tidak ribut mengajariku jenis kecantikan seperti apa yang harus dimiliki oleh seorang perempuan. Ia membebaskanku untuk menjadi diri sendiri.

Ibu bersama ayah selalu memprioritaskan biaya untuk pendidikanku. Mereka memfasilitasiku maksimum sebisa mereka dan minimum sejumlah wajibnya. Konon kata ayah, langit pun akan mereka gulung jika anak yang meminta.

Dan kemarau panjang paling penting ala ibu adalah ia paling paham sikap burukku. Layaknya ibu, aku juga bukan malaikat. Ketika aku bersikap buruk, ibu paling tahu bagaimana cara meredakannya.

Kado Terindah bagi Seorang Ibu

Suara brankar yang didorong terdengar di belakang tubuhku. Aku berdiri, menghampiri tenaga medis yang mendorong ranjang beroda tersebut ke arah kamar inap yang kami tempati. Operasinya sukses, tapi ibu belum siuman.

Setelah aku ditinggal berdua saja dengan ibu yang masih dalam kondisi tak sadar di ranjangnya, kembali perasaan menyesal pernah mengeluhkan sifatnya hadir. Rasanya segala perlakuan buruk ibu tidak berarti apa-apa asal ia sehat walafiat. Doa meluncur deras dari hatiku dan dengan kebaikan-Nya ibu siuman tak lama kemudian. Betapa leganya aku.

Satu malam lagi kami lewati di kamar perawatan itu. Keesokan paginya aku baru tahu kalau malam itu ibu ke toilet sendiri tanpa membangunkanku dengan kondisi masih pakai infus. Satu lagi kemarau panjang ala ibu, ibu tak pernah merepotkanku selama ia sendiri masih bisa. Ia tahu aku ratu tidur terbaik, sulit bangun jika sudah nyenyak. 

Pada saat itulah aku sadar mengapa ibu hanya mengajakku untuk menemaninya operasi, ia percaya padaku bahkan dengan segala kekuranganku. Aku akhirnya bisa berbangga akan satu hal, aku dapat diandalkan sebagai seorang anak. 

Seorang teman yang baru punya bayi pernah berbisik padaku, 

sebenarnya bukan hanya anak yang butuh ibu tapi ibu juga membutuhkan anak. 

Saat itu aku tertegun. Aku belum tahu bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Tapi aku dapat membayangkan bagaimana senangnya punya anak yang bisa diandalkan.

Setelah menjalani pengorbanan tak mudah menjadi ibu, sosok anak yang dapat diandalkan adalah hadiah terbaik yang bisa didapatkan oleh seorang ibu. []
Rindang Yuliani
Rindang Yuliani adalah seorang sarjana sains yang sedang menikmati proses sebagai bloger. Rindang juga sedang meladeni obsesinya untuk mendapatkan beasiswa S2 dan menerbitkan buku pertamanya. Wanita kelahiran 6 Maret ini juga selalu berusaha mengakrabi Tuhan melalui hobinya yaitu membaca, menulis, dan jalan-jalan.

Related Posts

21 komentar

  1. Aku baru tahu bener pengorbanan seorang ibu tuh saat aku melahirkan. Rasanya pengen peluk ibuk sambil nangis karena berat banget perjuangannya.

    BalasHapus
  2. Masya Allah mbak. Terharu saya bacanya.

    BalasHapus
  3. Sebenarnya IBU yg butuh anak, setuju banget dgn kalimat ini, mba
    kan ngga mungkin kita dipanggil "ibu/emak/bunda/mami" kalo ngga ada anak.

    semogaaaa kita bisa menjadi sosok ibu sekaligus anak yg baik yak

    BalasHapus
  4. Sehat selalu ibu... Saya punya orang tua tinggal ibu sebelah lagi. Beliau sudah minta ke saya anyar untuk cek mata dan ganti kacamata. Hikz! Sampai sekarang saya blm bisa mengabulkannya. Anak masih UTS, suami juga tidak bebas kemana-mana

    BalasHapus
  5. Apalagi jika sudah menjadi seorang ibu mba, akan makin terasa betapa pengorbanan ibu luar biasa. Yang pasti, pola pengasuhan memang diturunkan. Untuk memperbaiki, semua tergantung dari diri sendiri. Salut untuk ibu mba rindang. Semoga sehat selalu dan panjang umur. Aamiin...

    BalasHapus
  6. Sedih aku mbaaak. emang kadang orang tua itu tidak pernah memandang pengorbanan untuk anaknya sekalipun berdarah darah ya

    BalasHapus
  7. Aku nangis, kak...baca tulisan ini.
    MashaAllah~

    Aku doakan teruntuk para Ibu dimanapun berada.
    Semoga Allah ampuni segala khilaf. Yakin bahwa manusia tak luput dari kesalahan.

    I love you, mom.

    BalasHapus
  8. Bikin kangen sama almarhumah ibu nih mbak. Kebetulan aku dapat kesempatan untuk merawat beliau selama bertahun2, tapi kok rasanya tetap kurang. Sebagai anak tuh nggak pernah bisa membalas semua yang sudah diberikan ortu, terutama ibu. Ibuku juga tegas dan disiplin, tapi satu yang buat saya angkat topi.

    Saat aku sudah jadi orangtua dan belajar parenting, aku ceritakan dong apa itu luka pengasuhan dan materi lainnya. Ibu dengan legawa bilang minta maaf untuk luka2 yang tanpa sengaja tertoreh di hatiku. Duh rasanya saat itu... adeeeem. Dari beliau aku belajar, sebagai ortu nggak boleh gengsi minta maaf kalau salah.

    BalasHapus
  9. Ananda Rindaaaangngngng ...! Kok pengalaman kita mirip, ya. Sering komplain dengan Ibu. Di lain pihak saya sangat menyayangi beliau, dan sangat takut kehilangan dia. Pernah suatu saat Ibu sakit muntaber. Aduhh, Tak henti-hentinya saya berdoa semoga Allah menyembuhkan penyakitnya. Terima kasih telah berbagi kisah.

    BalasHapus
  10. Mbak rindang tulisannya menyentilku bahwa aku juga bukan Ibu yang sempurna untuk anak-anakku tapi aku berharap menjadi ibu yang sempurna bagi mereka. Duh malah jadi kangen ibuku yang setahun lebih belum bertemu selama pandemi ini.

    BalasHapus
  11. Subhanallah... saya baca ini sambil berkaca-kaca. Kisah Mbak mirip sama saya. Setelah jadi ibu, saya jadi sadar bahwa enggak akan pernah ada orang tua yang sempurna di mata anak, tetapi orang tua sesungguhnya berupaya memberikan yang terbaik dari apa yang ia bisa (bahkan menoreh dagingnya kalau perlu:( ).

    BalasHapus
  12. Mbak Rindang, saya sepakat dengan ini: sebenarnya bukan hanya anak yang butuh ibu tapi ibu juga membutuhkan anak. Saya sekarang dalam kondisi menjaga ibu saya.

    Saya mengalami tipikal parenting mirip dengan mbak Rindang. Sepertinya tipikal ortu zaman sebelum baby boomers ya seperti itu ya. Keras dan komunikasi satu arah.

    Saya sendiri belajar agar tidak meneruskan pola yang sama ke keturunan saya.

    Di luar itu, saya belajar memahami bahwa mungkin di matanya itu cara yang ia tahu dan ia pikir baik.

    Salam untuk ibundanya. Semoga mbak Rindang, ibunya, dan keluarga sehat selalu.

    BalasHapus
  13. huhu merembes bacanya..ibu kita bukan malaikat, kita pun bukan malaikat ketika jadi ibu. semoga kita bis amembasuh luka pengasuhan ini ya mbak rindang

    BalasHapus
  14. Kadang nggak semua orang beruntung memiliki ibu yang tahu bagaimana cara mengasuh anak dengan baik, yaa. Akibatnya banyak banget di antara kita mengalami apa yang namanya luka pengasuhan yang bisa berpengaruh sama cara kita mengasuh anak nantinya.

    BalasHapus
  15. All9h qku nangis baca nya sedih pejgen peluk ibuuku juga masyaalloh

    BalasHapus

  16. Duh, ketampar tampar terus akutu mbak. Masih sulit banget jadi ibu yang baik.
    Huaaa.. mewek.. semoga aku bisa stok sabar seperti ibu. Bismillah semoga aku jadi ibu yang marahnya karena Allah, bukan karena hawa nafsu.

    BalasHapus
  17. Dimana-mana ibu itu sama yah. Jadi, ingat ibu yang menyimpan penyakitnya agar tetap terlihat baik-baik saja dan tidak menjadi beban anak-anaknya.

    BalasHapus
  18. Ternyata kita punya luka yg sama, dan ini kyknya sulit disembuhkan, tp aku berusaha nggak menularkan ini pd anakk2 kelak, bagus mba itu bukunya, sukses ya..

    BalasHapus
  19. Betul... Seorang ibu hanya manusia biasa. Pasti ada sisi kekurangannya.

    Tapi, ketika seorang ibu tidak tahu apa itu parenting, lalu membuat anaknya tahu tentang parenting, di situlah kesuksesan terbesar seorang ibu.

    BalasHapus
  20. apalagi kalau sudah jadi ibu, kita jadi tau knp org yg durhaka pd ortu dosanya melimpah. tulisan ini mengingatku pd ibu mertua, beliau jg keras menurut cerita suami. kmd beliau sendiri cerita gmn wkt kecil dipukul kepalanya, aku jd ngeh dr mana mertuaku dapat karakter itu

    BalasHapus
  21. Ada banyak warna dalam hubungan ibu dan anak, cuma sayangnya seringkali anak tidak bisa membaca apa yang tersirat. Kita nyatanya butuh masa hingga dewasa untuk bisa memahami semuanya.

    BalasHapus

Posting Komentar