Monday, June 29, 2020

Bagaimana Rasanya Keguguran? III – Persalinan yang Tidak Diinginkan

Ini adalah tulisan ketiga dari serial tulisanku tentang keguguran yang kualami beberapa bulan yang lalu.

Sepulang dari rumah sakit, aku diperlakukan seperti orang selesai melahirkan namun tanpa bayi. Beberapa keluarga menjengukku dan itu membuatku terpaksa harus menceritakan kronologis kejadiannya sekali lagi.

Mama memasakkanku makanan khusus untuk ibu yang baru lahiran. Sebenarnya aku senang-senang saja, berarti aku free dari aktivitas perdapuran dong hingga beberapa waktu. Dan well, jangankan memasak aku juga dilarang mengerjakan aktivitas apapun. Padahal aku sendiri tidak merasa bermasalah dengan tubuhku, khususnya bagian perut. Secara fisik tidak terasa sakit.



Hanya saja aku harus minum obat pemberian dokter setelah makan malam. Di tengah tidur lelapku, aku mual dan muntah-muntah. Barulah saat itu aku merasa lemas. Untungnya aku masih bisa tidur lagi hingga pagi datang.

Menurut analisisku muntah tersebut adalah efek samping obat bius yang baru muncul. Karena kalau penyebabnya adalah obat, maka pasti akan muntah terus setiap malam karena aku rutin mengonsumsinya. Iya, muntahnya hanya sekali itu saja. 

Keesokan harinya, Kamis- hari pertama aku beristirahat di rumah. Aku hampir tidak betah, membosankan. Untungnya ada sepupu kecil yang menemaniku seharian di dalam kamar. Dia menggemaskan sekali, tahu kalau kakaknya ini sakit sehingga tidak mengganggu dengan mengajak bermain di atas kasur saja. Bahkan ia sampai ketiduran di kamarku. 

Hari Jumat, kebosananku semakin bertambah. Karena memang hanya bed rest yang bisa kulakukan. Untungnya, teman-teman kantor menjengukku ke rumah. Menyenangkan sekali. Mereka yang sudah tahu kronologis kejadiannya ikut menambahkan ketika aku bercerita.



Sabtu-Minggu aku di rumah saja. Orang-orang rumah ada sih, tapi ya ga bisa menemaniku full 24 jam. Entah karena pengaruh tekanan emosional, aku agak moody-an. Pengennya kesal saat dilarang melakukan sesuatu. Semua kegiatan yang bisa dilakukan dengan rebahan sangat membosankan menurutku saat itu. Padahal saat sibuk saja, aku selalu berharap bisa rebahan sejenak.

Jadi ketika Senin tiba aku bersikeras untuk masuk kerja. Dimarahin mama dong. Aku pun mengurung diri di kamar seharian karena balik marah. Mood swing-ku masih belum pulih. Meski mengaku tidak apa-apa karena telah kehilangan calon bayi, tapi sepertinya alam bawah sadarku tetap sedih dan muncul ke permukaan dengan melawan semua hal yang disarankan untuk kebaikanku.

Perasaanku jelas sedikit terguncang dengan kejadian buruk ini. Dan sebenarnya aku tidak butuh banyak hiburan dari luar yang ujung-ujungnya kadang malah menyudutkan posisiku. Kemarin bla bla bla ya makanya keguguran. Oh no aku tidak perlu itu. Aku hanya perlu sendiri bersama mereka yang benar-benar sayang padaku dan tanpa bertanya apapun yang kemudian akan menyudutkanku. Sudah kejadian ini dan aku cukup waras untuk mengevaluasi diri sendiri.

Selain itu, menurutku yang membuat perasaaanku goyah adalah ketika aku menyadari aku tidak bisa melakukan apapun. Segala macam mitos dan larangan yang dikatakan orang tentang perempuan setelah keguguran cukup membuat gerakku jadi terbatas. Perasaan tidak berdaya memang paling ampuh membuat orang jadi insecure dan akhirnya stres. Beruntungnya aku bisa manage, rasa sakit ini hanya bertahun paling lama satu minggu setelah kejadian. Selebihnya aku sudah bisa kembali bisa menjalani aktivitas seperti biasa.

Selasa, perasaanku mulai membaik. Aku tidak tahu bagaimana perasaan suamiku, karena kalau dipikir-pikir yang sedih di sini bukan hanya aku. Bolehlah aku mungkin menderita secara lahir batin, tapi siapa yang tahu bahwa mungkin ia pun merasakan kehilangan yang lebih besar sebagai calon ayah. Ia belum bisa merasakan pengalaman pertama istri melahirkan, di kesempatan pertama  kehamilan istrinya malah keguguran. 

Rabu akhirnya izin masuk diberikan mama. Teman-teman bilang harusnya  aku tinggal di rumah dulu saja. Aku mengerti mereka khawatir denganku. Setelah kupikir-pikir lagi sekarang, yang membuat aku ngotot ke kantor saat itu adalah aku ingin merasakan support mental yang sehat, jadi yang utama bukan pengen gerak secara fisiknya. 

Saat itulah aku baru merasa ternyata ada nyeri di perutku. Selama di rumah aja kan aku memang tidak banyak ngapa-ngapain, pas ke kantor jadi agak lebih sering bergerak. Jadi baru terasa. Saat itulah aku baru sadar aku memang harus bedrest lebih lama. Orang sakit ternyata selain harus mendapat pengobatan secara fisik, tapi juga harus mendapat dukungan mental yang sehat.

Kamis, aku ke RS untuk kontrol. Ada kesalahpahaman administrasi ketika aku ke poli kandungan sehingga aku jadi antri lebih lama. Ketika akhirnya dipanggil, aku bertemu dengan dokter yang menanganiku dari awal hamil kemarin. Tidak ada masalah yang berarti. Perutku sehat-sehat saja dan segala macam larangan dari keluarga kutanyakan dari sisi medis kepada dokter. 

Ajaib, dokter bilang dengan kondisi rahimku sesehat ini aku bisa melakukan atau makan apapun yang aku mau. Well, mitos dan fakta memang sering berlawanan.  Bukan hanya mitos tentang ibu hamil yang banyak, mitos setelah keguguran juga tak kalah banyak. Dan itu sempat membuatku kelimpungan. Faktanya dokter hanya menyarankan untuk menunda kehamilan lagi selama minimal 3 bulan sejak kuretase. 

Yeah, itu dia cerita panjangku tentang tragedi keguguran yang aku jalani. Sebuah proses kelahiran yang tidak diinginkan. Semoga semua pembaca bisa mengambil hikmah dari tulisanku ini. Amin.[]

Artikel Terkait

3 komentar:

maria8181 said...

Tetap semangat mba Rindang. Semoga disegerakan untuk mengandung kembali yah.

Ibrahim said...

Gak banyak orang yang mampu menceritakan kisah pilunya dengan niatan supaya bisa diambil hikmah dan pelajarannya. Makasih sudah berbagi cerita Mbak

Marita Ningtyas said...

I feel you mbak. Insya Allah Proses ini Akan lebih menguatkan. Artinya Kita dikasih waktu extra untuk mempersiapkan diri menjadi ibu lebih lama lagi.

Post a Comment

Say something nice, for a change.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates